{"id":18927,"date":"2025-05-28T21:36:43","date_gmt":"2025-05-28T13:36:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18927"},"modified":"2025-05-29T09:57:51","modified_gmt":"2025-05-29T01:57:51","slug":"pengaruh-pembelajaran-ulumul-quran-dalam-membentuk-pemahaman-agama-dikalangan-masyarakat-gen-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pengaruh-pembelajaran-ulumul-quran-dalam-membentuk-pemahaman-agama-dikalangan-masyarakat-gen-z\/18927\/","title":{"rendered":"PENGARUH PEMBELAJARAN ULUMUL QUR\u2019AN DALAM MEMBENTUK PEMAHAMAN AGAMA DIKALANGAN MASYARAKAT GEN Z"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Ani Marlia<sup>1<\/sup>, Airin Wulandari<sup>2<\/sup>, Kheysya Suci Andini<sup>3<\/sup>, Risti Amelia<sup>4<\/sup>, Muhammad Nabil Pratama<sup>5<\/sup><\/strong><br \/>\nProgram Studi Pendidikan Agama Islam<br \/>\nUniversitas Islam Negri Raden Fatah Palembang<br \/>\nEmail: <a href=\"mailto:animarlia_uin@radenfatah.ac.id\">animarlia_uin@radenfatah.ac.id<\/a>, <a href=\"mailto:airinwulandari25@gmail.com\">airinwulandari25@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:kheysyaandini@gmail.com\">kheysyaandini@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:ristiamelia262@gmail.com\">ristiamelia262@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:muhammadnabilp8@gamil.com\">muhammadnabilp8@gamil.com<\/a><\/p>\n<p><strong><em>Abstract<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>This study aims to analyze the influence of Ulumul Qur&#8217;an learning in shaping religious understanding among Generation Z (Gen Z) society. In today&#8217;s digital era, Gen Z grows up with wide access to information but is vulnerable to shallow religious understanding. Ulumul Qur&#8217;an as a branch of science that discusses important aspects in the study of the Qur&#8217;an plays a strategic role in strengthening religious understanding comprehensively and critically. This study uses a qualitative approach with field study methods and interviews with Gen Z groups who participate in Ulumul Qur&#8217;an learning in various educational institutions and Islamic communities. The results of the study show that Ulumul Qur&#8217;an learning is able to increase religious awareness, form critical thinking patterns towards the holy text, and encourage more moderate and tolerant religious attitudes. Thus, Ulumul Qur&#8217;an learning has a significant contribution in shaping a strong, contextual, and relevant understanding of religion among Gen Z.<\/em><\/p>\n<p><strong><em>Keywords:<\/em><\/strong><em> Ulumul Qur&#8217;an, Religious Understanding, Generation Z, Islamic Education, Digital Era.<\/em><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembelajaran Ulumul Qur&#8217;an dalam membentuk pemahaman agama di kalangan masyarakat Generasi Z (Gen Z). Di era digital saat ini, Gen Z tumbuh dengan akses informasi yang luas namun rentan terhadap pemahaman agama yang dangkal. Ulumul Qur&#8217;an sebagai cabang ilmu yang membahas aspek-aspek penting dalam studi Al-Qur&#8217;an berperan strategis dalam memperkuat pemahaman keagamaan secara menyeluruh dan kritis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan dan wawancara terhadap kelompok Gen Z yang mengikuti pembelajaran Ulumul Qur&#8217;an di berbagai lembaga pendidikan dan komunitas Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Ulumul Qur&#8217;an mampu meningkatkan kesadaran beragama, membentuk pola pikir kritis terhadap teks suci, serta mendorong sikap keagamaan yang lebih moderat dan toleran. Dengan demikian, pembelajaran Ulumul Qur&#8217;an memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk pemahaman agama yang kuat, kontekstual, dan relevan di kalangan Gen Z.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci: <\/strong>Ulumul Qur&#8217;an, Pemahaman Keagamaan, Generasi Z, Pendidikan Islam, Era Digital.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nEra modern penuh dengan kemajuan teknologi digital yang pesat, namun pemahaman agama di kalangan Generasi Z menghadapi tantangan dan peluang yang berbeda. Sebagai generasi yang tumbuh dengan akses mudah terhadap informasi melalui perangkat digital, mereka cenderung menggunakan aplikasi dan platform online untuk mengakses Al-Qur\u2019an dan sumber-sumber keagamaan lainnya. Sebuah kajian menunjukkan bahwa banyak remaja sekarang lebih memilih membaca Al-Qur\u2019an melalui aplikasi di ponsel pintar ketimbang menggunakan mushaf cetak.<\/p>\n<p>Akses digital terhadap Al-Qur\u2019an melalui aplikasi memang memberikan kemudahan. Namun, hal ini berisiko menyebabkan pemahaman yang dangkal karena kurangnya pengetahuan tentang aspek-aspek keilmuan Al-Qur\u2019an, seperti Ulumul Qur\u2019an, yang membahas mengenai proses wahyu, penyebab turunnya ayat, penafsiran, serta pengumpulan Al-Qur\u2019an dengan cara yang sistematik. Ilmu Ulumul Qur\u2019an sangatlah penting, karena memberikan umat Islam pemahaman yang kontekstual dan ilmiah mengenai kitab suci, menghindarkan mereka dari tafsir yang salah atau ekstrem.<a href=\"#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Ulumul Qur\u2019an Sangat penting untuk mengeksplorasi bagaimana Ulumul Qur\u2019an itu dapat diterapkan dalam pendidikan agama yang relevan untuk Generasi Z, agar mereka tidak hanya memahami teks secara harfiah, tetapi juga secara mendalam dan kontekstual. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana pemahaman Ulumul Qur\u2019an dapat memperkuat pemahaman agama yang lebih mendalam di kalangan Generasi Z, karakteristik keagamaan yang mereka miliki, dan cara pembelajaran Ulumul Qur\u2019an yang efektif untuk mereka. Tujuan penulisan jurnal ini adalah untuk menjelaskan konsep Ulumul Qur\u2019an, menganalisis karakteristik keagamaan dari Generasi Z, serta merumuskan strategi pengajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dan praktik agama yang moderat dan kontekstual di era digital saat ini.<\/p>\n<p><strong>METODE<\/strong><\/p>\n<p>Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menerapkan studi pustaka (library research). Penelitian ini menggunakan sumber data berupa buku-buku tentang ulumul Qur&#8217;an, artikel dan jurnal ilmiah, serta buku-buku sejarah Islam dan studi ulumul Qur&#8217;an. Penelitian pustaka yaitu serangkaian penelitian yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka atau penelitian yang objek penelitiannya digali melalui beragam informasi kepustakaan. Data penelitian kualitatif dapat disajikan dalam bentuk kata-kata, kalimat atau gambar, bukan dalam bentuk angka.<\/p>\n<p>Peneliti setelah disajikan harus melakukan pengambilan data dari sumber pustaka. Data-data tersebut ditampilkan sebagai temuan penelitian. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka,<\/p>\n<p>penelitian ini dapat memahami bagaimana ilmu Al-Qur&#8217;an dipahami dan dipraktikkan pada konsep iman dan kufur dalam Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\n<strong>A. Pengertian Ulumul Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nUlumul Quran adalah gabungan dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu &#8216;ulum dan Alquran. Menurut Munawwir, kata jama &#8220;ulum&#8221; berasal dari kata &#8220;alima-yalamu &#8220;ilman, yang berarti memahami dan mengetahui. &#8220;Ilmu&#8221; adalah mashdar, yang berarti &#8220;pemahaman&#8221; dan &#8220;pengertian.&#8221; &#8220;Al-fahmu wa al-idrak&#8221;, yang berarti pemahaman dan pengetahuan, memiliki makna yang tepat untuk pengetahuan ini. Setelah itu, pemahamannya membahas ke berbagai topik dengan standar ilmiah. Menurut Al-Qattan, kata &#8220;ilm&#8221; juga berarti &#8220;idrak al-syai&#8217;l bi haqiqatih&#8221;.<\/p>\n<p>Menurut Munawwir Alquran berasal dari kata qaro &#8216;a-yaqrou-giro&#8217;atan, yang berarti membaca, dan dari bentuk kata mashdar qur-anan, yang berarti mengumpulkan (al-jam&#8217;u) dan menghimpun (aldhammo) huruf dan kata-kata secara teratur. Selain itu, alquran berarti kalamullah, yang diturunkan kepada Nabi terakhir, Rasulullah, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Sebagai pedoman bagi kehidupan manusia, dan mereka yang membacanya akan diberi pahala.<\/p>\n<p>Ulumul Qur&#8217;an adalah Ilmu yang membahas tentang segala hal yang berkaitan dengan Al-Qur&#8217;an, entah itu dari Proses turunnya, cara penafsiran, pengumpulan, penulisan dan kandungan, serta pembagiannya dalam Al-qur&#8217;an.<br \/>\nAda beberapa para ulama yang mendefinisikan ulumul Qur&#8217;an, antara lain:<br \/>\n1. Imam al-Zarqani mendefinisikan Ulumul Qur&#8217;an yaitu kumpulan wacana yang berkaitan dengan Al-Qur&#8217;an alkarim, wahyunya, urutannya, kumpulannya, penulisannya, bacaannya, tafsir, mukjizat, nasikh-mansukh, serta hal-hal yang mencurigakan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penolakan.<\/p>\n<p>2. Manna\u201f al-Qaththan mendefinisikan Ulumul Qur\u201fan yaitu ilmu yang meliputi pembahasan terkait Al-Qur&#8217;an mengenai alasan diturunkannya, kumpulan Al-Qur&#8217;an dan perintah-perintahnya, ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah, ilmu Nashik Mansukh, Muhkam, Mutasyabih, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p>3. Ali ash-Shabuni mendefinisikan Ulumul Qur\u201fan yaitu pembahasan kitab mulia ini berlangsung dari segi silsilahnya, kumpulannya, susunannya, pembukuannya, dan pengetahuannya tentang sebab-sebab silsilahnya, Makiyah dan Madaniyah, Nashik Mansukh, Muhkam dan Mutasyabih dan diskusi terkait Quran lainnya.<\/p>\n<p>Dari definisi-definisi tersebut terlihat jelas bahwa Ulumul Qur\u2019an merupakan gabungan dari rangkaian pembahasan ilmiah yang semula berdiri sendiri-sendiri. Pembahasan ilmiah tersebut erat kaitannya dengan Al-Qur\u2019an, baik dari segi keberadaannya sebagai Al-Qur\u2019an maupun dari segi pemahaman isinya sebagai pedoman bagi manusia dan pedoman hidup. Oleh karena itu, dapat dikatakan Ulumul Qur\u2019an ini memberikan cakupan pembahasan yang sangat luas. Dalam hal pemahaman Ulumul Qur\u2019an, lebih ditekankan pada keilmuan yang membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan Al-Qur\u2019an dari sudut pandang Al-Qur\u2019an atau dari sudut pandang kepemimpinan dan ijaz. Oleh karena itu, Ulumul Qur&#8217;an menekankan pada konteks Diniyah dan tema-tema yang terkandung dalam kitab suci tersebut<\/p>\n<p>Ada beberapa pengertian ulumul Qur&#8217;an menurut para ahli, antara lain:<\/p>\n<p>1. Menurut Manna Al-Qaththan definisi \u2018Ulumul Qur\u2019an yaitu ilmu yang mencakup berbagai pembahasan mengenai Al-Qur\u2019an, termasuk pengetahuan tentang Asbabun Nuzul, kodifikasi Al-Qur\u2019an, Makkiyyah dan Madaniyyah, Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabbih, serta aspek-aspek lain yang berkaitan dengan Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>2. Sedangkan menurut Muhammad Abdul \u2018Adzim Az-Zarqani definisi \u2018Ulumul Qur\u2019an, yaitu berbagai pembahasan mengenai Al-Qur\u2019an Al-Karim, baik dari segi turunnya, kodifikasi, bacaan, tafsir, kemukjizatan, nasikh dan mansukh, serta untuk membantah tuduhan-tuduhan keji terhadapnya dan aspek-aspek lainnya.<\/p>\n<p>Pengertian &#8216;Ulumul Qur&#8217;an adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek yang berkaitan dengan Al-Qur&#8217;an, termasuk penafsiran, sebab-sebab turunnya ayat, dan kodifikasi, nasikh dan mansukh, makkiyyah dan madaniyyah, muhkam dan mutasyabbih, yang bertujuan untuk memahami dan menerapkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>B. Pengertian Gen Z<\/strong><br \/>\nGenerasi Z atau disebut sebagai Gen Z merupakan generasi yang terlahir diantara tahun 1997 sampai dengan tahun 2012. Sedangkan Hellen Chou P. memberikan pengertian bahwa Generasi Z merupakan generasi muda yang tumbuh dan berkembang dengan sebuah ketergantungan yang besar pada teknologi digital. Generasi pascamilenial ini menempati 27,94% dari total komposisi penduduk di Indoensia&#8217;. Mereka terlahir, hidup, dan beraktifitas di zaman serba teknologi sebagaimana yang terjadi pada masa ini. Mereka cenderung melakukan segalanya dengan teknologi, bahkan kemampuan generasi ini dalam menggunakan teknologi sama alaminya layaknya mereka benafas&#8221;.<\/p>\n<p>Generasi yang berinteraksi langsung dengan teknologi, smartphone tidak lagi dilihat sebagai perangkat tetapi lebih ke cara hidup. Smartphone yang mereka genggam setiap hari menghadirkan banyak inovasi yang dapat memudahkan segala aspek kehidupan, termasuk untuk beribadah kepada Allah SWT melalui aplikasi islami yang terpasang di dalamnya. Aplikasi Islami menyediakan banyak fitur yang dapat digunakan pengguna untuk mendukung aktivitasnya dalam beribadah kepada Allah SWT. Misalnya adalah ibadah dengan melafazkan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an. Ditengah kesibukan duniawi, padatnya aktivitas, kapanpun, dan dimanapun penggunanya dapat tetap berinteraksi dengan Al-Qur&#8217;an. Aplikasi Muslim Pro menyampaikan sebagian besar orang lebih memilih online atau menggunakan aplikasi seluler untuk membaca Al-Quran hingga Alkitab atau sumber daya religius lainnya daripada menggunakan cetakan tradisional.<\/p>\n<p><strong>C. Karakteristik Gen Z Dalam Konteks Keagamaan<\/strong><br \/>\nMenurut Jalaluddin, ciri-ciri kehidupan beragama Generasi Z dalam beberapa aspek adalah sebagai berikut:<br \/>\na. Sifat kritis terhadap ajaran agama<br \/>\nKemampuan untuk memahami masalah-masalah yang abstrak, perkembangan kemampuannya belum sempurna sebelum mencapai usia 12 tahun. Kemampuan untuk menarik kesimpulan abstrak dari fakta-fakta baru mulai berkembang saat usia 14 tahun. Oleh karena itu, pada saat itu, remaja dapat menolak saran-saran yang tidak dapat mereka pahami dan mulai dapat mengkritik pandangan tertentu yang tidak sejalan dengan kesimpulan yang mereka buat. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai muncul, dan selain hal itu, mereka juga mulai tertarik pada isu-isu budaya, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya. Di sisi lain, agama yang bersifat lebih konservatif lebih berpengaruh terhadap remaja untuk tetap mematuhi ajaran agamanya. Sedangkan agama yang tidak terlalu kaku dan agak liberal dapat memicu pengembangan pola pikir dan mental remaja, sehingga banyak yang meninggalkan ajaran agamanya.<\/p>\n<p>b. Berkembangnya perasaan dan emosi<br \/>\nBeragam perasaan mulai muncul dalam diri remaja, seperti perasaan sosial, etis, dan estetis, yang mendorong mereka untuk memahami kehidupan dalam masyarakat yang mengelilinginya. Adapun perasaan remaja terhadap Tuhan adalah sesuatu yang tidak tetap dan dapat berubah, tergantung pada emosi mereka yang sering berubah, terutama pada masa awal remaja. Rasa kebutuhan akan Tuhan kadang-kadang tidak terasa saat jiwa mereka dalam keadaan aman dan damai. Namun, ketika mereka merasa gelisah, terancam, atau takut gagal, kebutuhan terhadap Tuhan menjadi sangat mendesak, termasuk ketika mereka merasa berdosa. Keadaan iman yang berfluktuasi ini bisa disebut sebagai ambivalensi dalam perasaan keagamaan.<\/p>\n<p>c. Memiliki kesadaran sosial dalam masyarakat<br \/>\nKesadaran sosial seseorang biasanya meningkat saat remaja. Pada fase ini, remaja sangat memperhatikan bagaimana mereka diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka merasa sangat sedih ketika tidak mendapatkan tempat di dalam pergaulan atau tidak dipedulikan oleh orang-orang di sekitarnya. Terkadang, remaja memilih untuk menjauh dari masyarakat, acuh tak acuh terhadap aktivitas keagamaan, dan bahkan kadang menunjukkan tindakan yang berlawanan dengan adat kebiasaan serta nilai-nilai yang diyakini oleh orang dewasa. Hal ini biasanya muncul karena mereka merasa tidak memiliki posisi yang jelas dalam masyarakat. Seringkali, mereka dipandang sebagai anak-anak, sehingga pendapat dan keinginan mereka diabaikan, terutama dalam konteks aktivitas keagamaan.<\/p>\n<p>d. Perkembangan moral<br \/>\nPerkembangan moral remaja berfokus pada perasaan bersalah dan usaha untuk mencari perlindungan. Tipe moral yang muncul pada remaja juga mencakup:<\/p>\n<p>1. Self-directive, mematuhi ajaran agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi<br \/>\n2. Adaptive, mengikuti situasi di lingkungan tanpa melakukan kritik<br \/>\n3. Submissive, merasakan keraguan terhadap ajaran moral dan agama<br \/>\n4. Unadjusted, belum yakin akan kebenaran ajaran agama dan moral<br \/>\n5. Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta moral masyarakat. Perkembangan moral ini sangat berpengaruh penting dalam aspek keagamaan. Beberapa orang berpendapat bahwa moral dapat mengendalikan perilaku remaja menjadi lebih baik sehingga mereka tidak melakukan tindakan yang merugikan dan bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat.<\/p>\n<p>e. Dapat menunjukkan sikap secara psikologis<br \/>\nEsensi dari sikap memiliki beberapa elemen fungsi mental yang beroperasi secara rumit dalam menentukan pandangan seseorang terhadap sesuatu. Ketiga elemen tersebut, yaitu: Pertama, elemen kognisi memberikan penjelasan mengenai apa yang dipikirkan individu mengenai objek. Kedua, elemen afeksi berkaitan dengan apa yang dirasakan individu terhadap objek, seperti perasaan senang, marah, benci, cinta, dan lain-lain. Ketiga, elemen konasi yaitu kesediaan individu terhadap objek, apakah menerima atau menolak keberadaan objek tersebut.<br \/>\nKetiga elemen ini saling berhubungan dan memengaruhi satu sama lain. Selain itu, pengalaman memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap seseorang, karena sikap seseorang muncul saat individu mengenal sesuatu atau objek, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Ketika seseorang berada di lingkungan yang berbeda, dapat dipastikan bahwa sikap hidupnya akan terpengaruh oleh lingkungan tersebut.<\/p>\n<p><strong>D. Analisis Keterkaitan Antara Materi Ulumul Qur\u2019an Dengan Pemahaman Agama Gen Z<\/strong><\/p>\n<p>Materi Ulumul Qur&#8217;an memiliki keterkaitan erat dengan pemahaman agama Gen Z karena menjadi fondasi dalam memahami Al-Qur&#8217;an secara mendalam, kontekstual, dan kritis kebutuhan yang sangat sesuai dengan karakter Gen Z. Ulumul Qur&#8217;an membahas aspek-aspek penting seperti asbabun nuzul, makkiyah-madaniyah, qira\u2019at, dan tafsir yang dapat membantu Gen Z memahami pesan Al-Qur\u2019an sesuai konteks sosial dan zaman. Dengan karakter Gen Z yang cenderung rasional dan haus akan penjelasan logis, materi Ulumul Qur\u2019an memberikan landasan ilmiah untuk memahami bagaimana ayat diturunkan, mengapa terjadi perbedaan bacaan, dan bagaimana menafsirkan ayat secara objektif. Hal ini membantu menghindarkan mereka dari pemahaman agama yang sempit, ekstrem, atau hanya berdasarkan potongan-potongan ayat yang viral di media sosial. Oleh karena itu, integrasi Ulumul Qur&#8217;an dalam pendidikan agama digital menjadi penting untuk menumbuhkan pemahaman keagamaan Gen Z yang utuh, moderat, dan kontekstual.<\/p>\n<p>Ulumul Qur&#8217;an adalah ilmu yang membahas berbagai aspek terkait Al-Qur&#8217;an, seperti pengertian, ruang lingkup, sejarah turunnya ayat, sanad, qiraat, tata cara membaca, makna kata-kata, serta konteks dan sebab turunnya ayat (asbab an-nuzul). Pokok-pokok bahasan ini membantu memahami Al-Qur&#8217;an secara mendalam, baik dari sisi tekstual maupun kontekstual. Pemahaman agama Generasi Z, yang tumbuh di era digital dan keberagaman, cenderung memahami agama melalui pendekatan yang inklusif, kreatif, dan interaktif, dengan pemanfaatan teknologi digital seperti media sosial untuk mendukung keterlibatan dan relevansi pembelajaran agama. Mereka juga menghadapi tantangan spiritual dan karakter di era modern yang kompleks.<\/p>\n<p>Keterkaitan antara materi Ulumul Qur&#8217;an dengan pemahaman agama Generasi Z dapat dianalisis sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Pendalaman Kontekstual dan Historis: Ulumul Qur&#8217;an menyediakan pemahaman konteks turunnya ayat dan latar belakang historis yang membantu Generasi Z memahami pesan Al-Qur&#8217;an secara lebih mendalam dan kontekstual, bukan sekadar teks literal.<\/p>\n<p>2. Pemahaman Bahasa dan Makna: Dengan mempelajari aspek bahasa dan makna dalam Ulumul Qur&#8217;an, Generasi Z dapat menghindari kesalahpahaman dan tafsir yang keliru, yang penting dalam era informasi digital yang cepat dan terkadang tidak akurat.<\/p>\n<p>3. Pendekatan Interaktif dan Inklusif: Materi Ulumul Qur&#8217;an yang komprehensif dapat disajikan dengan metode pembelajaran yang inklusif dan kreatif sesuai kebutuhan Generasi Z, misalnya melalui diskusi, media digital, dan pendekatan yang menghargai perbedaan pandangan.<\/p>\n<p>4. Penguatan Spiritualitas dan Karakter: Selain Ulumul Qur&#8217;an, tasawuf atau pemikiran spiritual Islam juga relevan untuk membentuk karakter Islami Generasi Z, membantu mereka menghadapi tantangan modern dengan landasan spiritual yang kuat. Pemahaman Ulumul Qur&#8217;an yang mendalam dapat menjadi fondasi bagi pengembangan spiritual ini.<\/p>\n<p><strong>E. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Pengaruh Pembelajaran Ulumul Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nFaktor pendukung utama adalah adanya kerjasama yang baik antara guru, siswa, dan orang tua dalam proses evaluasi. Keterlibatan aktif semua pihak dalam memberikan umpan balik dan refleksi tentang proses pembelajaran dapat meningkatkan kualitas evaluasi yang dilakukan. Selain itu, ketersediaan alat evaluasi yang beragam, seperti tes tulis, tes lisan, dan penilaian berbasis proyek, juga mendukung pelaksanaan evaluasi yang komprehensif.<\/p>\n<p>faktor penghambat yang dapat menghalangi proses evaluasi. Salah satunya adalah kurangnya pemahaman guru tentang metode evaluasi yang tepat untuk kurikulum berbasis Ulumul Qur&#8217;an, yang dapat menyebabkan ketidaksesuaian dalam penilaian hasil belajar siswa. Selain itu, perbedaan kemampuan dan latar belakang siswa juga menjadi tantangan dalam melakukan evaluasi yang adil dan objektif. Keterbatasan waktu untuk melaksanakan evaluasi secara menyeluruh sering kali menjadi kendala, terutama di tengah padatnya jadwal pembelajaran.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nUlumul Qur\u2019an adalah cabang ilmu yang mempelajari semua aspek yang berhubungan dengan Al-Qur\u2019an, mencakup sejarah wahyu, penyebab turunnya ayat (asbabun nuzul), pengelompokan ayat Makkiyah dan Madaniyah, cara pembacaan (qira\u2019at), hingga cara dalam menafsirkan. Tujuan dari ilmu ini adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang Al-Qur\u2019an sebagai pedoman hidup bagi umat Islam.<br \/>\nGenerasi Z adalah kelompok yang tumbuh di era kemajuan teknologi digital, memiliki sifat yang rasional, berpikir kritis, cepat beradaptasi, dan sangat akrab dengan informasi yang cepat serta bersifat visual. Dalam hal agama, Gen Z menunjukkan ketertarikan yang tinggi pada pendekatan agama yang logis, relevan dengan konteks, dan mudah dijangkau melalui media digital.<\/p>\n<p>Ulumul Qur\u2019an dan pemahaman agama pada Generasi Z sangat kuat hubunganya. Dengan sifat Gen Z yang cenderung ingin memahami ajaran agama secara logis dan kontekstual, Ulumul Qur\u2019an menjadi alat penting untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Materi dalam Ulumul Qur\u2019an membantu Gen Z untuk memahami Al-Qur\u2019an tidak hanya secara tekstual, tetapi juga dari perspektif sejarah dan sosial yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Ini menjadi suatu benteng yang penting untuk mencegah pemahaman agama yang dangkal, ekstrem, atau disalahgunakan.<br \/>\nPraktik pembelajaran Ulumul Qur\u2019an menghadipi sejumlah faktor-faktor yang dapat mendukung atau menghambat. Faktor pendukung termasuk keterlibatan aktif dari guru, siswa, dan orang tua, serta tersedianya berbagai metode evaluasi. Sedangkan faktor penghambat mencakup kurangnya pemahaman guru tentang metode pengajaran dan evaluasi yang berbasis Ulumul Qur\u2019an, latar belakang siswa yang bervariasi, dan terbatasnya waktu untuk proses pembelajaran. Oleh karena itu, untuk membangun pemahaman agama yang moderat, mendalam, dan kontekstual di kalangan Generasi Z, diperlukan penggabungan antara ilmu Ulumul Qur\u2019an dan metode pengajaran yang kreatif, adaptif, serta pemanfaatan teknologi digital secara maksimal.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nAfdahalurrahman, &amp; Hasibuan, A. A. (2025). Pradigma Wahdatul Ulum dan Pemahaman Integritas Ilmu dan Agama pada Pandangan Gen Z di Era Digital. Jurnal Home Page, 5(1), 128.<\/p>\n<p>Anggela, B. (2024). Peran Ulumul Qur\u2019an dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Jurnal Studi Al-Qur\u2019an dan Keislaman, 8(1), 161\u2013162.<br \/>\nAnshori, L. (2016). Ulumul Qur&#8217;an: Kaidah-Kaidah Memahami Firman Tuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo.<\/p>\n<p>Chou Pratama, H. (2012). Cyber Smart Parenting. Bandung: Visi Anugerah Indonesia.<\/p>\n<p>Fiqri, H., Putri, H., &amp; Septiana, P. (2023). Pengaruh Globalisasi terhadap Identitas Keagamaan dalam Kalangan Pemuda Muslim. Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 5, 94\u201395.<\/p>\n<p>Ghazali, H. (2019). Islam untuk Gen Z: Mengajarkan Islam dan Mendidik Muslim Generasi Z \u2013 Panduan bagi Guru PAI. Jakarta: Wahid Foundation.<\/p>\n<p>Habibah, E. P. N., &amp; Iksan. (2024). Islamic Teaching for Generation Z: Inclusive and Creative Approaches in the Book Islam for Gen Z. Jurnal Studi dan Pendidikan Agama Islam, 7(3), 203\u2013204.<\/p>\n<p>Hamali, S. (2016). Karakteristik Keberagamaan Remaja dalam Perspektif Psikologi. Jurnal Al-Adyan, 11(1), 8.<\/p>\n<p>Ilyas, Y. (2019). Kuliah &#8216;Ulum Al-Qur\u2019an. Yogyakarta: Itqon Publishing.<br \/>\nJalaluddin. (2016). Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali.<\/p>\n<p>Khatimah, K., &amp; Azizah, H. N. (2024). Konsep Ulumul Qur\u2019an sebagai Ilmu Pengetahuan Al-Qur\u2019an. Jurnal Ilmiah Keagamaan Pendidikan dan Kemasyarakatan, 15(1), 3\u20134.<\/p>\n<p>Munawwir, K. (1997). Kamus Al-Munawwir: Makna \u2018Ilmu dan Al-Qur\u2019an. Surabaya: Pustaka Progressif.<\/p>\n<p>Muslim Pro. (2021, April 13). Kini Orang Lebih Suka Baca Alquran dari Aplikasi. Diakses pada 23 Mei 2025<br \/>\nhttps:\/\/www.cnnindonesia.com\/teknologi\/20210413150400-185-629333\/muslim-pro-kini-orang-lebih-suka-baca-alquran-dari-aplikasi<\/p>\n<p>Nur al-Qaththan, M. (1973). Mabahits Fii \u2018Ulum Al-Qur\u2019an. Surabaya: Al-Hidayah.<\/p>\n<p>Ramayulis. (2011). Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia.<\/p>\n<p>Rastati, R. (2018). Media Literasi bagi Digital Natives: Perspektif Generasi Z di Jakarta. Jurnal Kwangsan, 6(1), 60.<\/p>\n<p>Susiyati, R., Putri, R. S., Fadhilah, N., &amp; Aini, S. (2024). Manajemen Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Ulumul Qur\u2019an. Jurnal Ilmu Al-Qur\u2019an, Tafsir, dan Pemikiran Islam, 5(3), 974.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ani Marlia1, Airin Wulandari2, Kheysya Suci Andini3, Risti Amelia4, Muhammad Nabil Pratama5 Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negri Raden Fatah Palembang Email: animarlia_uin@radenfatah.ac.id, airinwulandari25@gmail.com, kheysyaandini@gmail.com, ristiamelia262@gmail.com, muhammadnabilp8@gamil.com Abstract This study aims to analyze the influence of Ulumul Qur&#8217;an learning in shaping religious understanding among Generation Z (Gen Z) society. In today&#8217;s digital era, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-18927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18927"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18927\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}