{"id":18924,"date":"2025-05-28T20:16:41","date_gmt":"2025-05-28T12:16:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18924"},"modified":"2025-05-28T20:18:46","modified_gmt":"2025-05-28T12:18:46","slug":"ilmu-qiraat-sebagai-instrumen-pelestarian-bacaan-al-quran-dalam-kajian-ulumul-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ilmu-qiraat-sebagai-instrumen-pelestarian-bacaan-al-quran-dalam-kajian-ulumul-quran\/18924\/","title":{"rendered":"Ilmu Qira\u2019at sebagai Instrumen Pelestarian Bacaan Al-Qur\u2019an dalam Kajian Ulumul Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Ani Marlia<\/strong><a href=\"#_bookmark0\"><strong><sup>1<\/sup><\/strong><\/a><strong>Verdi Dino Pradana<sup>2<\/sup>, Alim Billah<sup>3<\/sup> , Almuafi Dzakiyah<sup>4<\/sup>, Diah Mutmainnah<sup>5<\/sup><\/strong><br \/>\nAni Marlia Animarlia <a href=\"mailto:uin@radenfatah.ac.id\">uin@radenfatah.ac.id<\/a><br \/>\n<sup>2<\/sup> Verdi Dino Pradana <a href=\"mailto:verdidinopradana@gmail.com\">verdidinopradana@gmail.com<\/a> <sup>3<\/sup> Alim Billah <a href=\"mailto:alimbillah375283@gmail.com\">alimbillah375283@gmail.com<\/a> <sup>4<\/sup> Almuafi Dzakiyah <a href=\"mailto:almuafidzakiya@gmail.com\">almuafidzakiya@gmail.com<\/a> <sup>5<\/sup>Diah Mutmainnah<br \/>\n<a href=\"mailto:diahmutmainnah786@gmail.com\">diahmutmainnah786@gmail.com<\/a><\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><br \/>\nIlmu Qira\u2019at merupakan cabang ilmu dalam kajian Ulumul Qur&#8217;an yang membahas perbedaan bacaan Al-Qur&#8217;an yang sahih dan mutawatir. Keberadaan ilmu ini menjadi instrumen penting dalam menjaga keaslian dan otentisitas bacaan Al-Qur&#8217;an dari generasi ke generasi. Melalui sanad yang jelas dan metode transmisi yang ketat, ilmu Qira\u2019at berperan sebagai alat pelestarian bacaan yang telah diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Kajian ini bertujuan untuk menguraikan peran ilmu Qira\u2019at dalam menjaga keutuhan bacaan Al-Qur\u2019an serta menelaah bagaimana variasi bacaan tersebut tetap berada dalam kerangka wahyu yang otentik. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, pembahasan ini menunjukkan bahwa ilmu Qira\u2019at tidak hanya sebagai warisan keilmuan, tetapi juga sebagai sistem pelestarian bacaan Al- Qur&#8217;an yang integral dalam studi Ulumul Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Kata Kunci:<br \/>\n1; Ilmu Qira\u2019at<br \/>\n2; Sanad<br \/>\n3. Mutawatir<\/p>\n<p>Qira&#8217;at science is a branch of science in the study of Ulumul Qur&#8217;an that discusses the differences between authentic and authentic readings of the Qur&#8217;an. The existence of this science is an important instrument in maintaining the authenticity of the reading of the Qur&#8217;an from generation to generation. Through clear sanad and strict transmission methods, Qira&#8217;at science plays a role as a tool for preserving the readings that have been taught directly by the Prophet Muhammad SAW to his companions. This study aims to describe the role of Qira&#8217;at science in maintaining the integrity of the reading of the Qur&#8217;an and examine how variations in reading remain within the framework of authentic revelation. With a descriptive qualitative approach, this discussion shows that Qira&#8217;at science is not only a scientific heritage, but also a system for preserving the reading of the Qur&#8217;an that is integral to the study of Ulumul Qur&#8217;an.<\/p>\n<p>Keywords:<br \/>\n1; Qira\u2019at Science<br \/>\n2; Sanad<br \/>\n3. Mutawatir<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an sebagai kitab suci umat Islam memiliki keautentikan dan kemurnian yang terjaga sejak pertama kali diturunkan hingga saat ini. Salah satu aspek penting dalam pelestarian Al-Qur&#8217;an adalah keberagaman cara membacanya yang dikenal dengan istilah Ilmu Qira\u2019at. Ilmu ini tidak hanya membahas ragam bacaan, tetapi juga menjadi bagian integral dari kajian Ulumul Qur\u2019an yang memperkuat legitimasi bacaan Al-Qur\u2019an sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya.<\/p>\n<p>Ilmu Qira\u2019at mencerminkan kekayaan tradisi lisan dalam pewarisan wahyu, yang disampaikan melalui sanad-sanad terpercaya hingga generasi saat ini. Dalam konteks ini, Qira\u2019at bukan sekadar variasi fonetik, tetapi mencerminkan keluasan makna dan fleksibilitas bahasa Arab dalam menyampaikan pesan ilahi. Oleh karena itu, keberadaan ilmu ini menjadi instrumen penting dalam menjaga orisinalitas dan otentisitas bacaan Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Melalui kajian Ulumul Qur\u2019an, Ilmu Qira\u2019at diposisikan sebagai salah satu cabang ilmu yang tidak hanya memiliki dimensi linguistik, tetapi juga historis dan teologis. Maka, pemahaman mendalam terhadap Ilmu Qira\u2019at tidak hanya penting bagi para ahli Al-Qur\u2019an, tetapi juga bagi umat Islam secara umum sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga kemurnian firman Allah SWT.<\/p>\n<p><strong>METODE PENELITIAN<\/strong><\/p>\n<p>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kepustakaan (<em>library research<\/em>). Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian adalah untuk mengkaji konsep dan peran ilmu Qira&#8217;at dalam menjaga keaslian dan pelestarian bacaan Al- Qur&#8217;an berdasarkan kajian Ulumul Quran.<\/p>\n<p>Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari literatur primer dan sekunder, seperti:<\/p>\n<ol>\n<li>Kitab-kitab klasik dan modern yang membahas ilmu Qira\u2019at dan Ulumul Quran,<\/li>\n<li>Tafsir, buku-buku keislaman,<\/li>\n<li>Artikel ilmiah, jurnal, serta dokumen lain yang<\/li>\n<\/ol>\n<p>Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis), yaitu menelaah dan memahami isi teks untuk menemukan makna, peran, serta kontribusi ilmu Qira&#8217;at dalam pelestarian bacaan Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p>Langkah-langkah penelitian meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li>Pengumpulan data literatur yang<\/li>\n<li>Klasifikasi data berdasarkan tema: sejarah ilmu Qira&#8217;at, macam-macam Qira&#8217;at, dan<\/li>\n<li>Analisis kontribusi ilmu Qira\u2019at terhadap pelestarian bacaan Al-Qur\u2019an dalam perspektif Ulumul Quran.<\/li>\n<li>Penyimpulan hasil temuan secara sistematis dan<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>A.\u00a0\u00a0\u00a0 Konsep Ilmu Qira\u2019at<\/strong><br \/>\n<strong>1. Pengertian Ilmu Qira\u2019at<\/strong><\/p>\n<p>Ilmu Qira\u2019at adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Al-Qur\u2019an yang secara khusus membahas tentang cara membaca Al-Qur\u2019an yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dengan sanad yang shahih, baik perbedaan dalam pengucapan huruf, panjang pendek bacaan (mad-qashr), cara berhenti (waqaf), cara memulai bacaan (ibtida\u2019), imalah, tafkhim, tarqiq, dan berbagai aspek lain yang berkaitan dengan bacaan.<a href=\"#_bookmark1\"><sup>2<\/sup><\/a><\/p>\n<p>Ilmu ini lahir karena adanya perbedaan dialek di kalangan bangsa Arab saat Al-Qur\u2019an diturunkan. Allah SWT menurunkan Al-Qur\u2019an dalam beberapa qira\u2019at (bacaan) sebagai kemudahan bagi umat manusia. Rasulullah SAW bersabda:<\/p>\n<p>&#8220;Sesungguhnya Al-Qur\u2019an ini diturunkan atas tujuh huruf bacaan, maka bacalah sesuai yang mudah bagi kalian.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)<a href=\"#_bookmark2\"><sup>3<\/sup><\/a><\/p>\n<p>Dari sinilah para ulama merasa perlu untuk mengkodifikasikan bacaan-bacaan tersebut agar tidak terjadi kekacauan dalam membaca Al-Qur\u2019an, sekaligus menjaga keasliannya sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Maka, muncullah Ilmu Qira\u2019at yang mempelajari segala aspek perbedaan cara membaca tersebut secara sistematis dan bersanad sampai ke Rasulullah SAW<a href=\"#_bookmark3\">.<sup>4<\/sup><\/a><\/p>\n<p><strong>2. Sejarah Perkembangan Ilmu Qira\u2019at<\/strong><\/p>\n<p>Pada masa Nabi Muhammad SAW, Al-Qur\u2019an diajarkan langsung oleh beliau kepada para sahabat. Mereka mendengar langsung bacaan Rasulullah dan menghafalkannya sesuai dengan qira\u2019at yang beliau ajarkan. Karena keberagaman suku Arab yang memiliki berbagai dialek, maka Allah memberikan keringanan dalam bacaan melalui turunnya Al-Qur\u2019an dalam tujuh huruf (sab\u2018atu ahruf).<\/p>\n<p>Setelah wafatnya Nabi, sahabat terus menjaga bacaan Al-Qur\u2019an tersebut. Pada masa Khalifah Abu Bakar, mushaf Al-Qur\u2019an pertama kali dibukukan, sedangkan pada masa Khalifah Utsman bin Affan dilakukan standarisasi mushaf dan pengiriman mushaf ke berbagai daerah Islam. Meskipun tulisan mushaf diseragamkan, cara membacanya tetap memperbolehkan perbedaan qira\u2019at yang sah.<\/p>\n<p>Ilmu Qira\u2019at mulai berkembang pesat pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah. Pada masa ini muncul banyak ulama qira\u2019at yang mengajarkan dan meriwayatkan bacaan-bacaan Al- Qur\u2019an sesuai dengan sanad yang mereka terima dari para sahabat.<\/p>\n<p>Tokoh penting dalam sejarah perkembangan ilmu ini adalah Ibnu Mujahid (w. 324 H), yang menulis kitab as-Sab\u2018ah fil Qira\u2019at, kitab pertama yang menghimpun qira\u2019at tujuh imam yang mutawatir. Setelah itu, banyak ulama lain yang meneruskan tradisi ini, menulis kitab, dan mengajarkan berbagai riwayat qira\u2019at secara sistematis.<\/p>\n<p>3. Macam-macam Qira\u2019at (Sab\u2018ah, \u2018Asharah, dan Lainnya)<br \/>\nSecara garis besar, macam-macam qira\u2019at dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan jumlah imam yang meriwayatkannya dan tingkat keabsahannya:<\/p>\n<p><strong>a. Qira\u2019at Sab\u2018ah (Tujuh Qira\u2019at)<\/strong><\/p>\n<p>Merupakan tujuh qira\u2019at yang diriwayatkan dari tujuh imam besar qira\u2019at dan telah mencapai derajat mutawatir. Ketujuh imam tersebut adalah:<\/p>\n<p>1. Nafi\u2019 al-Madani<br \/>\n2. Ibn Katsir al-Makki<br \/>\n3. Abu \u2018Amr al-Bashri<br \/>\n4. Ibnu \u2018Amir asy-Syami<br \/>\n5. Ashim al-Kufi<br \/>\n6. Hamzah al-Kufi<br \/>\n7. Al-Kisa\u2019i al-Kufi<\/p>\n<p><strong>b. Qira\u2019at \u2018Asharah (Sepuluh Qira\u2019at)<\/strong><br \/>\nMerupakan tambahan tiga qira\u2019at dari imam qira\u2019at yang juga mutawatir, yaitu: 8. Abu Ja\u2019far al-Madani 9. Ya\u2019qub al-Hadhrami 10. Khalaf al-\u2018Ashir.<\/p>\n<p><strong>c. Qira\u2019at Syadz (Ganjil\/Minor)<\/strong><br \/>\nMerupakan bacaan yang diriwayatkan dengan sanad lemah, tidak memenuhi syarat maqbul, atau bertentangan dengan rasm mushaf Utsmani. Qira\u2019at ini tidak digunakan dalam shalat dan ibadah formal, namun sering dijadikan bahan kajian dalam tafsir dan ilmu qira\u2019at untuk mengetahui ragam bacaan yang pernah ada.<\/p>\n<p><strong>4. Kriteria Qira\u2019at yang Maqbulah (Diterima)<\/strong><br \/>\nPara ulama qira\u2019at menetapkan bahwa suatu bacaan atau qira\u2019at dikategorikan maqbulah (diterima) jika memenuhi tiga syarat utama:<\/p>\n<p><strong>a. Sanadnya Mutawatir<\/strong><br \/>\nYaitu diriwayatkan oleh banyak perawi terpercaya dalam tiap tingkatan sanad, sehingga mustahil terjadi kebohongan atau kesalahan. Bacaan tersebut bersambung hingga kepada Rasulullah SAW.<\/p>\n<p><strong>b. Sesuai dengan Rasm Mushaf Utsmani<\/strong><br \/>\nBacaan tersebut harus sejalan dan tidak bertentangan dengan penulisan Mushaf Utsmani yang disusun pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Meskipun penulisan Mushaf Utsmani menggunakan gaya tulisan Arab gundul (tanpa titik dan harakat), cara bacanya harus dapat ditoleransi dalam bentuk tulisan tersebut.<\/p>\n<p><strong>c. Sesuai dengan Kaidah Bahasa Arab<\/strong><br \/>\nBacaan itu harus sejalan dengan tata bahasa Arab yang fasih dan tidak menyalahi kaidah nahwu dan sharaf. Karena Al-Qur\u2019an adalah mukjizat dengan keindahan bahasa Arab, maka qira\u2019at yang diterima harus tetap mempertahankan keaslian bahasa Arab yang benar.<\/p>\n<p>Jika ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka qira\u2019at tersebut dikategorikan sebagai syadz dan tidak dipakai dalam ibadah maupun qira\u2019at resmi.<\/p>\n<p><strong>5. Tokoh-tokoh Penting dalam Ilmu Qira\u2019at<\/strong><br \/>\nDalam sejarah ilmu qira\u2019at, terdapat banyak tokoh besar yang berperan penting dalam penyebaran dan pelestarian bacaan Al-Qur\u2019an yang benar. Di antaranya:<\/p>\n<p>a. Imam Nafi\u2019 al-Madani (w. 169 H)<br \/>\nImam qira\u2019at dari Madinah, terkenal melalui dua perawinya: Qalun dan Warasy.5<br \/>\nb. Imam Ibn Katsir al-Makki (w. 120 H)<br \/>\nImam qira\u2019at dari Makkah, dua perawi utamanya adalah Al-Bazzi dan Qunbul.<br \/>\nc. Imam Abu \u2018Amr al-Bashri (w. 154 H)<br \/>\nTokoh qira\u2019at dari Basrah, terkenal dengan dua perawinya: Ad-Duri dan As-Susi.<br \/>\nd. Imam Ibnu \u2018Amir asy-Syami (w. 118 H)<br \/>\nImam qira\u2019at dari Syam, perawi utamanya adalah Hisham dan Ibn Dzakwan.<br \/>\ne. Imam \u2018Ashim al-Kufi (w. 127 H)<br \/>\nImam qira\u2019at dari Kufah, bacaan \u2018Ashim sangat populer karena salah satu perawinya, Hafs, yang qira\u2019at-nya paling banyak digunakan di dunia Muslim saat ini.<br \/>\nf. Imam Hamzah al-Kufi (w. 156 H)<br \/>\nJuga dari Kufah, perawi utamanya Khalaf dan Khallad.<br \/>\ng. Imam Al-Kisa\u2019i al-Kufi (w. 189 H)<br \/>\nImam qira\u2019at dari Kufah yang terkenal ahli dalam nahwu dan qira\u2019at.<br \/>\nSelain itu ada Ibnu Mujahid yang berjasa dalam menulis kitab pertama tentang Qira\u2019at Sab\u2018ah. Tokoh-tokoh seperti Abu \u2018Amr ad-Dani, As-Syatibi, dan Ibnu al-Jazari juga berperan besar dalam pengembangan dan kodifikasi qira\u2019at di masa setelahnya.<\/p>\n<p>B. Urgensi Ilmu Qira\u2019at dalam Ulumul Qur\u2019an<br \/>\nIlmu Qira\u2019at merupakan cabang penting dalam Ulumul Qur\u2019an yang membahas tentang berbagai cara membaca Al-Qur\u2019an yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW melalui sanad-sanad yang mutawatir. Ilmu ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan membaca Al- Qur\u2019an secara fasih dan benar, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur\u2019an serta memberikan dampak besar terhadap penafsiran makna ayat dan penetapan hukum-hukum syariat. Keberadaan Ilmu Qira\u2019at sangat vital karena Al-Qur\u2019an tidak diturunkan hanya dalam satu dialek saja, melainkan dalam beberapa dialek Arab untuk memudahkan penerimaan masyarakat Arab yang berasal dari berbagai suku dan wilayah.<br \/>\nDalam konteks Ulumul Qur\u2019an, urgensi Ilmu Qira\u2019at dapat dilihat dari tiga aspek penting, yaitu:<\/p>\n<p><strong>1. Hubungan Ilmu Qira\u2019at dengan Ilmu-ilmu Al-Qur\u2019an Lainnya<\/strong><br \/>\nIlmu Qira\u2019at memiliki hubungan yang erat dengan berbagai cabang keilmuan dalam Ulumul Qur\u2019an. Keberadaan Ilmu Qira\u2019at tidak dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu Al-Qur\u2019an lainnya karena masing-masing saling mendukung dan melengkapi dalam memahami Al- Qur\u2019an secara komprehensif. Beberapa hubungan tersebut antara lain:<\/p>\n<p>a. Dengan Ilmu Tajwid: Ilmu Tajwid adalah cabang ilmu yang berkaitan dengan tata cara pengucapan huruf-huruf Al-Qur\u2019an sesuai dengan sifat dan makhraj-nya. Ilmu Qira\u2019at menjadi dasar bagi Ilmu Tajwid karena setiap qira\u2019at memiliki aturan bacaannya masing-masing. Tanpa memahami Ilmu Qira\u2019at, seseorang akan kesulitan menerapkan hukum-hukum Tajwid yang benar sesuai dengan riwayat yang sahih.<\/p>\n<p>b. Dengan Ilmu Tafsir: Dalam menafsirkan Al-Qur\u2019an, seorang mufassir perlu memahami berbagai macam qira\u2019at karena perbedaan bacaan bisa menghasilkan perbedaan makna.<\/p>\n<p>Qira\u2019at yang berbeda kadang memberikan penekanan makna atau pemahaman tafsir yang berbeda terhadap suatu ayat. Misalnya, perbedaan bacaan dalam kata tertentu bisa menunjukkan perbedaan subjek atau objek dalam suatu kalimat.<\/p>\n<p>c. Dengan Ilmu Asbabun Nuzul: Sebagian qira\u2019at memiliki keterkaitan dengan sebab turunnya ayat (asbabun nuzul). Dengan mengetahui berbagai macam qira\u2019at, seorang ulama dapat lebih memahami konteks turunnya ayat dan bacaan mana yang berkaitan dengan situasi tertentu pada masa Rasulullah SAW.<\/p>\n<p>d. Dengan Ilmu Nasikh wa Mansukh: Dalam menentukan ayat-ayat mana yang telah di- nasakh dan mana yang masih berlaku, Ilmu Qira\u2019at sangat membantu. Sebab, terkadang perbedaan qira\u2019at menunjukkan perbedaan kandungan hukum, sehingga perlu dipastikan bacaan mana yang paling kuat riwayatnya dan apakah terdapat ayat lain yang menghapus hukum tersebut.<\/p>\n<p>e. Dengan Ilmu Balaghah: Ilmu Balaghah yang mempelajari keindahan bahasa Arab juga sangat berkaitan dengan Ilmu Qira\u2019at. Perbedaan qira\u2019at bisa menambah kekayaan keindahan bahasa Al-Qur\u2019an dan memperkuat makna ayat dari sisi retorika, gaya bahasa, dan keagungan susunan kalimat.<\/p>\n<p>Dengan demikian, Ilmu Qira\u2019at tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi pilar penting bagi berbagai ilmu yang berkaitan dengan studi Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p><strong>2.\u00a0Fungsi Ilmu Qira\u2019at dalam Menjaga Orisinalitas Bacaan<\/strong><br \/>\nSejak diturunkannya Al-Qur\u2019an, Rasulullah SAW menyampaikan wahyu kepada para sahabat dengan berbagai cara bacaan (qira\u2019at) yang telah diizinkan Allah SWT. Hal ini dilakukan untuk memudahkan umat Islam dari berbagai kabilah yang memiliki dialek berbeda dalam membaca dan menghafal Al-Qur\u2019an.<a href=\"#_bookmark5\"><sup>6<\/sup><\/a><\/p>\n<p>Ilmu Qira\u2019at berperan penting dalam menjaga orisinalitas bacaan Al-Qur\u2019an, yaitu:<\/p>\n<p>a. Menjaga kemurnian bacaan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Melalui Ilmu Qira\u2019at, para ulama dapat memastikan bahwa bacaan yang sampai kepada umat Islam saat ini adalah bacaan yang telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah SAW tanpa adanya penambahan maupun pengurangan.<a href=\"#_bookmark6\"><sup>7<\/sup><\/a><\/p>\n<p>b. Menghindari terjadinya penyimpangan bacaan. Dengan adanya sistem sanad dan riwayat bacaan yang kuat, Ilmu Qira\u2019at mampu menyeleksi bacaan mana yang benar- benar berasal dari Rasulullah SAW dan mana yang tidak memiliki dasar yang Hal ini menjaga Al-Qur\u2019an dari bacaan-bacaan yang salah atau tidak sesuai dengan ketentuan.<a href=\"#_bookmark7\"><sup>8<\/sup><\/a><\/p>\n<p>c. Menjadi pedoman dalam pengajaran Al-Qur\u2019an. Ilmu Qira\u2019at memberikan standar baku bagi para guru, qari, dan ulama dalam mengajarkan Al-Qur\u2019an sesuai dengan qira\u2019at yang sahih. Sehingga bacaan Al-Qur\u2019an tetap terjaga keasliannya dari generasi ke <a href=\"#_bookmark8\"><sup>9<\/sup><\/a><\/p>\n<p>d. Menjaga keautentikan mushaf Al-Qur\u2019an. Melalui kajian Ilmu Qira\u2019at, mushaf-mushaf yang ditulis dan disebarluaskan di berbagai daerah Islam tetap berada dalam koridor bacaan yang sahih, baik bacaan Hafs dari Ashim yang populer saat ini, maupun qira\u2019at- qira\u2019at lainnya yang mutawatir.<a href=\"#_bookmark9\"><sup>10<\/sup><\/a> Karena itu, Ilmu Qira\u2019at merupakan instrumen penting dalam melestarikan bacaan Al- Qur\u2019an agar tetap orisinal hingga akhir zaman.<\/p>\n<p><strong>3. Implikasi Perbedaan Qira\u2019at terhadap Tafsir dan Hukum Islam<\/strong><br \/>\nPerbedaan dalam qira\u2019at bukan hanya perbedaan teknis dalam cara membaca, tetapi juga memiliki implikasi besar terhadap makna ayat, tafsir, dan ketentuan hukum Islam. Beberapa implikasi tersebut antara lain:<\/p>\n<p>a. Perbedaan makna dalam tafsir: Bacaan yang berbeda bisa menunjukkan makna yang berbeda pula. Hal ini memperkaya penafsiran ayat-ayat Al-Qur\u2019an karena satu ayat bisa dipahami dari berbagai sisi makna sesuai dengan perbedaan qira\u2019atnya. Misalnya:<br \/>\nDalam surat Al-Fatihah ayat 4:<\/p>\n<p>\u2022 Bacaan Maliki yaumiddin (Pemilik hari pembalasan)<br \/>\n\u2022 Bacaan M\u0101liki yaumiddin (Raja hari pembalasan)<br \/>\nKedua bacaan ini memberikan pemahaman tentang sifat Allah sebagai Pemilik Mutlak sekaligus Penguasa Tertinggi di hari kiamat.<\/p>\n<p>b. Perbedaan dalam penetapan hukum: Beberapa perbedaan qira\u2019at dapat berimplikasi langsung terhadap hukum syariat. Misalnya:<br \/>\nDalam surat Al-Baqarah ayat 184:<\/p>\n<p>\u2022 Bacaan fa-fidyatun tha\u2018\u0101mu misk\u012bn (memberi makan seorang miskin)<br \/>\n\u2022 Bacaan lain fa-fidyatun tha\u2018\u0101mu mas\u0101k\u012bn (memberi makan beberapa orang miskin) Perbedaan ini berdampak terhadap ketentuan jumlah fidyah yang wajib dikeluarkan oleh orang yang tidak bisa berpuasa.<\/p>\n<p>c. Memperkaya pemahaman hukum Islam: Perbedaan qira\u2019at membuat para ulama fiqih dan tafsir memiliki ruang ijtihad yang lebih luas dalam memahami ketentuan hukum berdasarkan Al-Qur\u2019an. Qira\u2019at-qira\u2019at yang sahih menjadi dasar bagi berbagai pendapat dalam fiqih yang semuanya tetap berada dalam koridor kebenaran syariat.<\/p>\n<p><strong>C. Ilmu Qira\u2019at sebagai Instrumen Pelestarian Bacaan Al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nAl-Qur\u2019an sebagai wahyu Allah SWT kepada umat manusia diturunkan dalam bahasa Arab yang memiliki kekayaan bahasa, dialek, dan ragam pengucapan. Untuk menjaga kemurnian bacaan dan maknanya hingga akhir zaman, maka Allah SWT menetapkan sistem yang kokoh melalui Ilmu Qira\u2019at. Ilmu Qira\u2019at bukan sekadar ilmu membaca, tetapi juga instrumen pelestarian bacaan Al-Qur\u2019an yang terjaga sejak masa Rasulullah SAW hingga hari ini. Instrumen tersebut meliputi aspek lisan, sanad, peran lembaga pendidikan, serta dokumentasi tulisan hingga media digital. Berikut penjelasan masing-masing poinnya:<\/p>\n<p><strong>1. Peran Qira\u2019at dalam Menjaga Lisan dan Makna<\/strong><\/p>\n<p>Sejak Al-Qur\u2019an diturunkan, bacaan Al-Qur\u2019an dipelihara tidak hanya secara tulisan tetapi yang lebih utama melalui hafalan dan lisan. Qira\u2019at merupakan ilmu yang mengatur cara membaca Al-Qur\u2019an sesuai dengan riwayat yang sahih dan mutawatir dari Rasulullah SAW. Setiap Qira\u2019at memiliki karakteristik dalam hal bacaan huruf, panjang-pendek harakat, makhraj huruf, dan sifat bacaan.<br \/>\nFungsi utama Qira\u2019at dalam hal ini adalah:<\/p>\n<p>a. Menjaga keaslian pelafalan (lisan), sehingga bacaan Al-Qur\u2019an tidak mengalami perubahan dari generasi ke generasi.<br \/>\nb. Menjaga makna Al-Qur\u2019an, karena dalam bahasa Arab, perbedaan satu huruf atau harakat saja bisa mengubah arti suatu kata. Oleh sebab itu, variasi Qira\u2019at tetap dalam batas makna yang sah dan tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam.<br \/>\nSebagai contoh:<\/p>\n<p>Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:<br \/>\n\u2022 Qira\u2019at Hafsh: \u201cDzalikal kitab la rayba f\u012bh\u201d<br \/>\n\u2022 Qira\u2019at Warasy: \u201cDhalikal kitab la rayba f\u012bh\u201d<br \/>\nMeskipun terdapat perbedaan pelafalan antara Dzalika dan Dhalika, namun keduanya sahih dan tidak mengubah makna pokok ayat tersebut. Perbedaan semacam ini dipelihara agar bacaan dan makna tetap autentik sesuai apa yang diajarkan Rasulullah SAW.<\/p>\n<p><strong>2. Sistem Transmisi dan Sanad dalam Qira\u2019at<\/strong><br \/>\nSalah satu metode pelestarian bacaan Al-Qur\u2019an yang paling kuat dalam sejarah adalah sistem transmisi melalui sanad. Sanad adalah rangkaian perawi atau guru yang meriwayatkan bacaan Al-Qur\u2019an dari seorang guru ke guru berikutnya secara langsung hingga sampai kepada Rasulullah SAW.<br \/>\nDalam sistem ini:<\/p>\n<p>a. Seorang murid (talibul ilmi) belajar langsung dari guru melalui talaqqi dan musyafahah, yaitu membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur\u2019an secara lisan dari seorang guru bersanad.<\/p>\n<p>b. Guru tersebut memiliki sanad yang bersambung (muttashil) hingga ke Rasulullah SAW. Sanad ini dicatat secara rinci dan ketat oleh para ulama Qira\u2019at.<\/p>\n<p>c. Qira\u2019at yang dapat diterima adalah Qira\u2019at yang memenuhi syarat mutawatir, yaitu diriwayatkan oleh banyak orang dalam setiap generasi, sehingga tidak mungkin adanya kesalahan atau kebohongan.<br \/>\nSistem transmisi ini terbukti efektif menjaga orisinalitas bacaan Al-Qur\u2019an selama lebih dari 14 abad. Setiap Qari\u2019 yang ingin mendapatkan izin mengajarkan Qira\u2019at tertentu harus melalui proses talaqqi, hafalan, dan ujian ketat hingga memperoleh ijazah dan sanad resmi.<\/p>\n<p><strong>3. Peran Para Qari\u2019 dan Lembaga Pendidikan Qira\u2019at<\/strong><br \/>\nPelestarian bacaan Al-Qur\u2019an melalui Ilmu Qira\u2019at tidak akan berjalan tanpa adanya peran aktif para Qari\u2019 dan lembaga pendidikan. Para Qari\u2019 adalah penjaga lisan umat Islam, yang tidak hanya membaca Al-Qur\u2019an dalam berbagai forum, tetapi juga mengajarkan ragam Qira\u2019at kepada generasi berikutnya.<br \/>\nPeran para Qari\u2019:<\/p>\n<p>a. Mengajarkan Qira\u2019at sesuai dengan sanad dan metode talaqqi-musafahah.<br \/>\nb. Menjadi pengawas bacaan di masyarakat, terutama di masjid, pesantren, dan madrasah.<br \/>\nc. Mengembangkan metode pengajaran Qira\u2019at baik secara tradisional maupun modern. Peran lembaga pendidikan Qira\u2019at:<br \/>\na. Menyediakan pendidikan formal dan informal untuk Ilmu Qira\u2019at.<br \/>\nb. Menjadi pusat sertifikasi sanad dan ijazah Qira\u2019at.<br \/>\nc. Mengadakan pelatihan dan musabaqah Qira\u2019at (MTQ) untuk membumikan bacaan Al- Qur\u2019an yang bersanad di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Di Indonesia, pesantren tahfidz Al-Qur\u2019an dan lembaga tahsin serta Ma\u2019had Qira\u2019at menjadi ujung tombak pelestarian Qira\u2019at Sab\u2018ah maupun \u2018Asharah. Lembaga seperti LIPIA Jakarta, Ma\u2019had Aly Qira\u2019at Yogyakarta, dan berbagai pondok pesantren tahfidz di berbagai daerah turut menjaga keberlangsungan Ilmu Qira\u2019at di Nusantara.<\/p>\n<p>4. Pelestarian melalui Tulisan (Manuskrip, Mushaf Qira\u2019at) dan Media Digital<br \/>\nSelain melalui lisan, bacaan Al-Qur\u2019an dengan berbagai Qira\u2019at juga dipelihara melalui tulisan. Sejak masa sahabat hingga kini, para ulama telah menulis kitab-kitab Qira\u2019at, mushaf Qira\u2019at, dan karya-karya tafsir berbasis Qira\u2019at.<br \/>\nPelestarian melalui tulisan:<br \/>\na. Manuskrip kuno seperti Mushaf Utsmani dan berbagai manuskrip mushaf dengan Qira\u2019at Warasy, Qira\u2019at Duri, atau Qira\u2019at Qalun masih dapat ditemukan di museum- museum Islam.<br \/>\nb. Kitab Qira\u2019at seperti Asy-Syatibiyyah, Ad-Durrah al-Mudhiyyah, An-Nashr fi al-<br \/>\nQira\u2019at al-\u2018Ashr, yang hingga kini dijadikan rujukan di pesantren dan Ma\u2019had Qira\u2019at.<br \/>\nc. Mushaf cetak saat ini juga dicetak sesuai riwayat Qira\u2019at masing-masing. Misalnya, Mushaf Warasy di Maroko-Aljazair, Mushaf Hafsh di Timur Tengah dan Asia Tenggara.<br \/>\nPelestarian melalui media digital: Seiring perkembangan teknologi, pelestarian bacaan Al-Qur\u2019an kini juga dilakukan melalui berbagai platform digital:<\/p>\n<p>a. Aplikasi Al-Qur\u2019an digital seperti Ayat, iQuran, Quran.com, yang menyediakan fitur Qira\u2019at Sab\u2018ah dan \u2018Asharah.<br \/>\nb. Rekaman suara Qari\u2019 bersanad yang tersedia di YouTube, Spotify, dan platform audio lainnya.<br \/>\nc. E-book dan kitab digital Ilmu Qira\u2019at yang bisa diakses oleh pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pelestarian bacaan Al-Qur\u2019an melalui Ilmu Qira\u2019at tidak hanya dilakukan secara tradisional tetapi juga beradaptasi dengan kemajuan zaman, memastikan kemurnian bacaan tetap terjaga.<\/p>\n<p><strong>D. Tantangan dan Solusi Pelestarian Bacaan Qira\u2019at<\/strong><br \/>\nPelestarian bacaan Qira\u2019at dalam tradisi keislaman merupakan hal yang sangat penting, mengingat Qira\u2019at adalah variasi bacaan Al-Qur&#8217;an yang memiliki sanad otentik dan diakui dalam disiplin ilmu Ulumul Qur\u2019an. Di balik urgensinya, pelestarian bacaan Qira\u2019at juga menghadapi berbagai tantangan yang perlu segera dicarikan solusi yang tepat. Berikut beberapa tantangan utama dan solusi strategis yang dapat dilakukan:<\/p>\n<p>1. <strong>Minimnya Pemahaman Masyarakat Terhadap Qira\u2019at<\/strong><br \/>\nTantangan: Sebagian besar masyarakat Muslim saat ini belum memiliki pemahaman yang cukup tentang apa itu Qira\u2019at, jenis-jenisnya, serta kedudukannya dalam ilmu Al- Qur\u2019an. Banyak yang masih mengira bahwa bacaan Al-Qur\u2019an hanya memiliki satu cara baca yang benar, tanpa mengetahui bahwa ada beberapa Qira\u2019at yang diakui secara syar\u2019i dengan sanad yang mutawatir. Ketidaktahuan ini membuat Qira\u2019at selain yang umum dipakai di masyarakat menjadi asing dan kurang diminati. Hal ini juga dipengaruhi oleh keterbatasan akses literatur dan minimnya forum kajian Qira\u2019at terbuka untuk masyarakat awam.<\/p>\n<p>Solusi: Diperlukan sosialisasi dan edukasi secara massif melalui berbagai media dakwah, baik di masjid, pesantren, sekolah, hingga media sosial, tentang pentingnya ilmu Qira\u2019at dan keberagamannya. Para ulama, akademisi, dan ustaz harus aktif mengenalkan konsep dasar Qira\u2019at kepada masyarakat secara bertahap. Misalnya, dengan membuat video pendek, artikel populer, hingga seminar daring tentang Qira\u2019at yang dikemas dengan bahasa ringan namun berbobot. Selain itu, menghadirkan kajian khusus ilmu Qira\u2019at di komunitas- komunitas mengaji dan halaqah bisa menjadi langkah efektif agar masyarakat lebih memahami bahwa keberagaman Qira\u2019at adalah kekayaan warisan Islam yang harus dijaga.<\/p>\n<p>2. <strong>Dominasi Satu Qira\u2019at (Misalnya Hafs \u2018an \u2018Ashim) dalam Masyarakat<\/strong><br \/>\nTantangan: Realitas di banyak negara Muslim, khususnya di Indonesia, memperlihatkan bahwa Qira\u2019at Hafs \u2018an \u2018Ashim menjadi bacaan yang paling dominan. Hal ini menyebabkan Qira\u2019at lain seperti Warasy, Qalun, atau Shu\u2019bah menjadi jarang dipelajari, bahkan di kalangan santri sekalipun. Dominasi satu Qira\u2019at ini secara tidak langsung menimbulkan kesan bahwa Qira\u2019at lain seolah-olah \u2018asing\u2019 atau tidak diperlukan, padahal semua Qira\u2019at yang mutawatir memiliki nilai otentik dan keutamaan masing-masing.<br \/>\nSolusi: Revitalisasi kajian Qira\u2019at di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non- formal perlu segera dilakukan. Misalnya, pesantren dan madrasah bisa mulai mengenalkan Qira\u2019at yang lain selain Hafs sejak jenjang diniyah atau tahfizh. Lembaga pendidikan tinggi Islam, seperti UIN atau IAIN, dapat membuka program studi atau mata kuliah khusus tentang Qira\u2019at al-Qur\u2019an. Selain itu, dibuat juga forum musabaqah atau lomba membaca Al-Qur\u2019an dengan berbagai Qira\u2019at agar eksistensinya tetap hidup di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Membangun persepsi positif bahwa keberagaman Qira\u2019at bukan untuk membingungkan, melainkan memperkaya khasanah ilmu Al-Qur\u2019an, juga sangat penting dilakukan.<\/p>\n<p>3. <strong>Upaya Revitalisasi Kajian Qira\u2019at di Dunia Pendidikan dan Pesantren<\/strong><br \/>\nTantangan: Meskipun pesantren dikenal sebagai pusat pengkajian Al-Qur\u2019an, tidak semua pesantren memiliki program khusus pembelajaran Qira\u2019at. Banyak pesantren yang hanya fokus pada satu Qira\u2019at (biasanya Hafs \u2018an \u2018Ashim) tanpa mengenalkan ragam bacaan lain. Selain itu, minimnya guru atau qari\u2019 bersanad yang mampu mengajarkan berbagai Qira\u2019at menjadi kendala serius bagi pelestarian bacaan ini.<br \/>\nSolusi: Dibutuhkan program pelatihan dan sertifikasi guru Qira\u2019at bersanad agar semakin banyak tenaga pengajar yang memiliki kemampuan mengajarkan berbagai ragam Qira\u2019at. Pemerintah dan organisasi keislaman bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi atau pesantren besar yang sudah memiliki tradisi pengajaran Qira\u2019at untuk mengadakan workshop, seminar, atau pelatihan intensif tentang ilmu Qira\u2019at. Selain itu, pesantren dan sekolah Islam diharapkan mulai memasukkan materi Qira\u2019at ke dalam kurikulum, baik sebagai mata pelajaran wajib atau kegiatan ekstrakurikuler. Pemberian beasiswa bagi santri yang ingin mendalami Qira\u2019at ke luar negeri, seperti Mesir, Maroko, atau Yaman, juga bisa menjadi upaya strategis untuk melahirkan generasi ahli Qira\u2019at di masa depan.<\/p>\n<p>4. <strong>Digitalisasi dan Dokumentasi Qira\u2019at dalam Era Modern<\/strong><br \/>\nTantangan: Di era digital saat ini, keberadaan dokumentasi bacaan Qira\u2019at dalam format digital masih sangat terbatas, baik berupa audio, video, maupun aplikasi interaktif. Kebanyakan aplikasi Al-Qur\u2019an digital hanya menyediakan satu versi bacaan Hafs \u2018an \u2018Ashim, sementara Qira\u2019at lain belum banyak tersedia. Akibatnya, masyarakat sulit untuk mengenal dan mempelajari Qira\u2019at selain yang umum beredar. Kurangnya digitalisasi ini juga berisiko terhadap pelestarian bacaan Qira\u2019at di masa depan, karena generasi muda lebih dekat dengan media digital daripada literatur cetak.<\/p>\n<p>Solusi: Perlu dilakukan digitalisasi bacaan Qira\u2019at secara massif, baik dalam bentuk rekaman audio bersanad, video tutorial Qira\u2019at, hingga pembuatan aplikasi Al-Qur\u2019an digital yang menyediakan opsi bacaan berbagai Qira\u2019at mutawatir. Misalnya, sebuah aplikasi Al- Qur\u2019an bisa dibuat dengan fitur pilihan Qira\u2019at pengguna dapat memilih membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur\u2019an versi Hafs, Warasy, Qalun, Shu\u2019bah, dan lainnya. Selain itu, diperlukan platform digital yang mengarsipkan manuskrip kuno dan kitab-kitab Qira\u2019at agar mudah diakses oleh masyarakat luas. Upaya digitalisasi ini bisa dilakukan oleh lembaga keislaman, pesantren, kampus, atau kerja sama dengan perusahaan pengembang aplikasi Islami.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nAl-Qur&#8217;an sebagai kitab suci umat Islam memiliki keautentikan dan kemurnian yang terjaga sejak pertama kali diturunkan hingga saat ini. Salah satu aspek penting dalam pelestarian Al-Qur&#8217;an adalah keberagaman cara membacanya yang dikenal dengan istilah Ilmu Qira\u2019at. Ilmu ini tidak hanya membahas ragam bacaan, tetapi juga menjadi bagian integral dari kajian Ulumul Qur\u2019an yang memperkuat legitimasi bacaan Al-Qur\u2019an sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Melalui kajian Ulumul Qur\u2019an, Ilmu Qira\u2019at diposisikan sebagai salah satu cabang ilmu yang tidak hanya memiliki dimensi linguistik, tetapi juga historis dan teologis.<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><br \/>\nAd-Dani, Abu Amr. 1995. Al-Taysir fi Al-Qira\u2019at Al-Sab\u2018. Beirut: Dar al-Kutub al- \u2018Ilmiyyah.<br \/>\nAl-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Kitab Fadhail Al-Qur\u2019an.<br \/>\nAl-Dhahabi, Ahmad bin Muhammad. 1970. T\u0101r\u012bkh al-Qur\u2019\u0101n. Beirut: Dar al-Ma\u2018rifah.<br \/>\nAl-Hafizh, Zainuddin. 2023. Ilmu Qira\u2019at Digital: Peluang dan Tantangan. Bandung: Maktabah Al-Furqan.<br \/>\nAl-Jazari, Muhammad bin. 1990. An-Nashr fi al-Qira\u2019at al-\u2018Ashr. Beirut: Dar al-Kutub al- \u2018Ilmiyyah.<br \/>\nAl-Maqri, Ahmad bin Muhammad. 2003. Jazariyah wa Syarahnya. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.<br \/>\nMaarif, A. Syafii. 2017. Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia.<br \/>\nMuslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Kitab Shalat Al-Musafirin.<br \/>\nNashiruddin, Muhammad. 2021. Digitalisasi Ilmu Qira\u2019at di Era Modern. Jakarta: Pustaka Al-Hikmah.<br \/>\nShalih bin Abdul Aziz. 2001. Ilmu Qira\u2019at dan Perkembangannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.<br \/>\nShihab, M. Quraish. 1999. Membumikan Al-Qur\u2019an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ani Marlia1Verdi Dino Pradana2, Alim Billah3 , Almuafi Dzakiyah4, Diah Mutmainnah5 Ani Marlia Animarlia uin@radenfatah.ac.id 2 Verdi Dino Pradana verdidinopradana@gmail.com 3 Alim Billah alimbillah375283@gmail.com 4 Almuafi Dzakiyah almuafidzakiya@gmail.com 5Diah Mutmainnah diahmutmainnah786@gmail.com ABSTRAK Ilmu Qira\u2019at merupakan cabang ilmu dalam kajian Ulumul Qur&#8217;an yang membahas perbedaan bacaan Al-Qur&#8217;an yang sahih dan mutawatir. Keberadaan ilmu ini menjadi instrumen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-18924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18924"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18924\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}