{"id":18917,"date":"2025-05-28T15:13:24","date_gmt":"2025-05-28T07:13:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18917"},"modified":"2025-05-28T15:13:24","modified_gmt":"2025-05-28T07:13:24","slug":"ilmu-wujuh-wa-an-nazair-satu-kata-banyak-makna-dalam-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ilmu-wujuh-wa-an-nazair-satu-kata-banyak-makna-dalam-al-quran\/18917\/","title":{"rendered":"ILMU WUJUH WA AN-NAZAIR : SATU KATA, BANYAK MAKNA DALAM AL-QUR\u2019AN"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Ani Marlia<sup>1<\/sup> ,<\/strong><strong>Khusnun Nadza Al-Aslami<sup>2<\/sup>, M. Arsyad Said<sup>3<\/sup> , Ayu Amelia<sup>4<\/sup>, Umi Kaltsum<sup>5<\/sup><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><sup>1 <\/sup>Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan<br \/>\n<a href=\"mailto:animarlia_uin@radenfarah.ac.id\">animarlia_uin@radenfarah.ac.id<\/a><br \/>\n<sup>2<\/sup> Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan<br \/>\n<a href=\"mailto:nadzakhusnun@gmail.com\">nadzakhusnun@gmail.com<\/a><br \/>\n<sup>3<\/sup> Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan<br \/>\n<a href=\"mailto:Arsyadsaid04@gmail.com\">arsyadsaid04@gmail.com<\/a><br \/>\n<sup>4<\/sup> Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan<br \/>\n<a href=\"mailto:ayu294715@gmail.com\">ayu294715@gmail.com<\/a><br \/>\n<sup>5<\/sup> Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan<br \/>\n<a href=\"mailto:umikaltsumfauzi@gmail.com\">umikaltsumfauzi@gmail.com<\/a><\/p>\n<p><strong><em>Abstract<\/em><\/strong><br \/>\n<em>The science of Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir is a branch of science in the study of the Qur\u2019an that discusses words that have multiple meanings (wuj\u016bh) and words that have similar meanings in various contexts of verses (na\u1e93\u0101\u2019ir). This science is very important in understanding the depth of the meaning of the Qur\u2019an because one word in the text of the Qur\u2019an can have different meanings depending on the context. This study aims to describe the basic concepts of wuj\u016bh and na\u1e93\u0101\u2019ir, their study methods, and examples of their application in interpreting the Qur\u2019an. With this approach, it is hoped that readers can understand the richness of the language of the Qur\u2019an and be able to capture divine messages more precisely. This study also shows the importance of accuracy in interpreting the Qur\u2019an so that there is no deviation in meaning due to a narrow understanding of the vocabulary used.<\/em><\/p>\n<p><strong>Keywords: <\/strong>Wujuh wa an-Nazair, interpretation of the Qur\u2019an, meaning of words, context of verses.<\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nIlmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir merupakan cabang ilmu dalam studi Al-Qur\u2019an yang membahas tentang kata-kata yang memiliki banyak makna (wuj\u016bh) dan kata-kata yang memiliki makna serupa dalam berbagai konteks ayat (na\u1e93\u0101\u2019ir). Ilmu ini sangat penting dalam memahami kedalaman makna Al-Qur\u2019an karena satu kata dalam teks Al-Qur\u2019an dapat memiliki arti yang berbeda tergantung pada konteksnya. Studi ini bertujuan untuk menguraikan konsep dasar wuj\u016bh dan na\u1e93\u0101\u2019ir, metode pengkajiannya, serta contoh penerapannya dalam penafsiran Al-Qur\u2019an. Dengan pendekatan ini, diharapkan pembaca dapat memahami kekayaan bahasa Al-Qur\u2019an dan mampu menangkap pesan-pesan ilahi dengan lebih tepat. Kajian ini juga menunjukkan pentingnya ketelitian dalam menafsirkan Al-Qur\u2019an agar tidak terjadi penyimpangan makna akibat pemahaman yang sempit terhadap kosa kata yang digunakan.<\/p>\n<p><strong>Kata kunci<\/strong><strong>: <\/strong>Wujuh wa an-Nazair, tafsir Al-Qur\u2019an, makna kata, konteks ayat.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nAl-Qur\u2019an sebagai kitab suci umat Islam mengandung kekayaan bahasa yang luar biasa, baik dari segi keindahan lafaz maupun kedalaman makna. Salah satu aspek linguistik yang menarik untuk dikaji adalah fenomena satu kata yang memiliki banyak makna, yang dikenal dalam ilmu tafsir sebagai Ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir. Ilmu ini membahas kata-kata dalam Al-Qur\u2019an yang memiliki bentuk serupa (lafaz) namun digunakan dalam konteks yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan makna yang beragam sesuai dengan ayat dan situasinya.<br \/>\nPemahaman terhadap Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir sangat penting bagi para mufassir dan pelajar Al-Qur\u2019an agar tidak terjebak dalam pemaknaan yang sempit atau keliru. Dengan memahami bahwa satu kata bisa bermakna berbeda dalam ayat yang berlainan, maka penafsiran Al-Qur\u2019an menjadi lebih akurat, kontekstual, dan mendalam. Kajian ini tidak hanya menunjukkan keluasan makna dalam Al-Qur\u2019an, tetapi juga mengungkap keajaiban bahasa Arab sebagai medium wahyu Ilahi.<br \/>\nMateri ini akan membahas konsep dasar Ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir, latar belakang kemunculannya, tokoh-tokoh yang berkontribusi dalam pengembangannya, serta beberapa contoh penerapannya dalam ayat-ayat Al-Qur\u2019an. Dengan demikian, diharapkan pembaca dapat memahami bagaimana satu kata dalam Al-Qur\u2019an bisa memiliki banyak makna, dan bagaimana hal itu memperkaya penafsiran terhadap kalamullah.<\/p>\n<p><strong>METODE<\/strong><br \/>\nPenelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan (library research). Adapun langkah-langkah penelitian yang digunakan meliputi:<br \/>\n1. Pendekatan Tafsir Tematik (Maudhu\u2019i) Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji kata-kata tertentu dalam Al-Qur\u2019an yang memiliki banyak makna (al-wuj\u016bh) dan padanan kata yang berbeda namun memiliki makna yang sama (an-na\u1e93\u0101\u2019ir), sesuai dengan konsep ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir.<br \/>\n2. Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui studi terhadap sumber-sumber literatur utama dan sekunder, seperti:<br \/>\na. Al-Qur\u2019an dan terjemahannya.<br \/>\nb. Kitab-kitab klasik ilmu tafsir dan ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir seperti Mu\u2019jam al-Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir karya al-R\u0101ghib al-I\u1e63fah\u0101n\u012b, dan karya-karya ulama lain yang relevan.<br \/>\nc. Jurnal ilmiah dan buku akademik yang membahas semantik dalam Al-Qur\u2019an.<br \/>\n3. Analisis Data Data dianalisis secara deskriptif-analitis, dengan cara:<br \/>\na. Mengidentifikasi kata-kata dalam Al-Qur\u2019an yang memiliki banyak makna (wuj\u016bh).<br \/>\nb. Mengidentifikasi padanan kata dengan makna serupa (na\u1e93\u0101\u2019ir).<br \/>\nc. Menganalisis konteks ayat dan penggunaan kata tersebut dalam berbagai tempat untuk memahami perbedaan makna berdasarkan konteks.<br \/>\n4. Validasi Data Validitas dilakukan dengan cara triangulasi sumber, yaitu membandingkan temuan dari berbagai sumber literatur guna memastikan konsistensi dan keakuratan interpretasi makna kata.<\/p>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nPengertian Ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir<br \/>\nAl-Wujuh wa An-Nazhair \u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u0647 \u0648\u0627\u0644\u0646\u0638\u0627\u0626\u0631 adalah salah satu cabang di antara sekian banyak Ilmu Al-Quran. Terdiri dari gabungan dua kata yaitu wujuh dan nazhair. Secara terminologi, Al-Zarkasy mendefinisikan al-wujuh sebagai lafadz musytarak, yang dapat digunakan dalam berbagai makna. Sedangkan menurut Quraish Shihab berpendapat bahwa al-wujuh adalah kata yang sama sepenuhnya, dalam huruf dan bentuknya, yang ditemukan dalam berbagai redaksi (ayat) dengan berbagai bentuk.<\/p>\n<p>Salah satu contohnya adalah kata \u201cummat\u201d, yang disebutkan sebanyak lima puluh dua kali dalam Alquran. Menurut Al-Husain bin Muhammad ad-Damighany, yang hidup pada abad ke-11, kata \u201cummat\u201d memiliki sembilan arti: kelompok, agama (tauhid), waktu yang lama, kaum, pemimpin, orang Islam, orang kafir, dan semua orang. \u201cHimpunan\u201d adalah benang merah yang menggabungkan makna-makna di atas.<\/p>\n<p>Wujuh adalah bentuk jamak dari (wajh)\u0648\u062c\u0647 yang bisa berarti wajah atau sesuatu yang menjadi tujuan atau yang dimaksudkan. Sebagaimana ayat berikut ini:<br \/>\n\u0625\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a \u0648\u064e\u062c\u0651\u064e\u0647\u0652\u062a\u064f \u0648\u064e\u062c\u0652\u0647\u0650\u064a\u064e<\/p>\n<p>Sesungguhnya aku menghadapkan diriku&#8230; (QS. Al-Anam: 79)<br \/>\nAz-Zarkasyi menyebutkan definisinya secara lengkap :<\/p>\n<p>\u0627\u0644\u0644\u0641\u0638 \u0627\u0644\u0645\u0634\u062a\u0631\u0643 \u0627\u0644\u0630\u064a \u064a\u0633\u062a\u0639\u0645\u0644 \u0641\u064a \u0639\u062f\u0629 \u0645\u0639\u0627\u0646 \u0643\u0644\u0641\u0638 \u0627\u0644\u0623\u0645\u0629<\/p>\n<p>Lafadz musytarak atau kata yang digunakan dalam banyak makna, seperti lafadz ummah.<\/p>\n<p>Dalam Al-Quran, satu kata sering memiliki banyak makna yang berbeda. Dalam satu ayat, kata yang sama dapat berarti A, tetapi pada ayat berikutnya makna dan tujuan kata tersebut berubah menjadi B. Selanjutnya, kata-kata tersebut dapat berarti C, D, E, dan seterusnya dalam ayat-ayat berikutnya.<br \/>\n1. Contoh yang diberikan oleh Az-Zarkasyi adalah lafaz (umat )\u0623\u0645\u0629 yang mana di dalam Al-Quran punya banyak makna, seperti bermakna kumpulan manusia, juga bermakna waktu, agama, termasuk juga bermakna imam atas suatu kebaikan.<br \/>\n2. Contoh lain adalah qaswarah \u0642\u0633\u0648\u0631\u0629 yang bisa bermakna singa atau bermakna orang yang melempar panah.<br \/>\n3. Contoh lainnya adalah quru (\u0642\u0631\u0621) yang bermakna haidh dan juga bermakna suci dari haidh.<br \/>\nIntinya wujuh disini adalah satu kata namun punya banyak makna.<\/p>\n<p>Sedangkan nazhair adalah bentuk jamak dari nazhirah (\u0646\u0638\u064a\u0631\u0629) menurut Ibnu Al-Manzhur maknanya adalah :<br \/>\n\u0627\u0644\u0645\u0650\u062b\u0652\u0644\u064f \u0648\u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u0628\u0652\u0647\u064f \u0641\u064a \u0627\u0644\u0623\u0634\u0643\u0627\u0644 \u0627\u0644\u0623\u062e\u0644\u0627\u0642 \u0648\u0627\u0644\u0623\u0641\u0639\u0627\u0644 \u0648\u0627\u0644\u0623\u0642\u0648\u0627\u0644<\/p>\n<p>Kesamaan dan keserupaan dalam bentuk, perilaku, perbuatan dan perkataan.<\/p>\n<p>Dan sebagaimana perkataan Ibnu Mas\u2019ud radhiyallahuanhu pernah menggunakan kata nazhair dalam ungkapannya:<br \/>\n\u0644\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0639\u064e\u0631\u064e\u0641\u0652\u062a\u064f \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0638\u064e\u0627\u0626\u0650\u0631\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064f \u064a\u064e\u0642\u0652\u0631\u0650\u0646\u064f \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0641\u064e\u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064e \u0639\u0650\u0634\u0652\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e<br \/>\n\u0633\u064f\u0648\u0631\u064e\u0629\u064b \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0641\u064e\u0635\u0651\u064e\u0644\u0650<br \/>\nAku tahu nazhair ketika Nabi SAW mengelompokkan 20 surat yang termasuk mufashshal.<br \/>\nSedangkan dalam Ilmu Al-Quran, Az-Zarkasyi menyebutkan definisinya sebagai :<br \/>\n\u0642\u0627\u0644 \u0627\u0644\u0632\u0631\u0643\u0634\u064a : \u0627\u0644\u0646\u0638\u0627\u0626\u0631 : \u0643\u0627\u0644\u0623\u0644\u0641\u0627\u0638 \u0627\u0644\u0645\u062a\u0648\u0627\u0637\u0626\u0629<br \/>\nAn-Nazhair seperti lafadz-lafadz yang saling serupa.<br \/>\nAl-Zarkasy mengatakan bahwa an-nadza\u2019ir adalah lafadz yang sesuai. Menurut Sayyid Muhammad bin Sayyid \u2018Alawi al-Maliki Al-Hasani, ulama lain mendefinisikan al-nadza dengan lafadz yang berbeda tetapi memiliki arti yang sama. Bahkan jika mereka menggunakan kata yang berbeda. Contohnya adalah kata \u201cinsan\u201d (manusia) dan \u201cbasyar\u201d (manusia), yang keduanya biasanya diartikan sebagai manusia. Begitu juga dengan kata \u201cqalb\u201d (hati) dan \u201cfuad\u201d (fasad), yang diartikan sebagai hati, kata \u201cnur\u201d (cahaya), dan \u201cdhiya\u201d (sinar atau cahaya), dan kata \u201cqaraa\u201d (\u0642) dan \u201ctala\u201d (\u0644\u0627).<\/p>\n<p>Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa al-wujuh berarti kesamaan lafadz dan perbedaan makna. Sedangkan An-nadzair, di sisi lain, adalah lafadz yang berbeda dengan arti yang sama. Sama halnya dalam bahasa Indonesia, istilah \u201caku\u201d, \u201csaya\u201d, dan \u201cbeta\u201d digunakan untuk menunjukkan individu pertama dalam hubungan ini. Kata ketiga ini memiliki arti yang sama, tetapi kesan yang ditimbulkannya mungkin berbeda. Secara singkat, al-wujuh mengacu pada perbedaan makna, dan an-nadzair mengacu pada perbedaan lafadz.<\/p>\n<p><strong>Tokoh-Tokoh Penting dalam Ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir<\/strong><\/p>\n<p><strong>1. Al-R\u0101ghib al-A\u1e63fah\u0101n\u012b (w. 502 H)<\/strong><br \/>\nPada karya Al-Mufrad\u0101t f\u012b Gharib al-Qur&#8217;\u0101n, memiliki kontribusi dalam Al-Mufrad\u0101t, Al-R\u0101ghib meneliti semantik Al-Qur&#8217;an dan menjelaskan makna kata-kata dalam berbagai konteks. Ia tidak hanya mencatat makna literal, tetapi juga makna kontekstual dan spiritual. Untuk menunjukkan bagaimana satu kata dapat memiliki arti yang berbeda dalam beberapa ayat, ia menggunakan pendekatan wuj\u016bh wa na\u1e93\u0101&#8217;ir. Karyanya adalah sumber penting untuk memahami berbagai makna kata dalam Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p><strong>2. Ab\u016b Hil\u0101l al-\u2018Askar\u012b (w. Sekitar 395 H)<\/strong><br \/>\nKarya penting termasuk al-Fur\u016bq al-Lughawiyyah dan al-Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir f\u012b Qur\u2019\u0101n. Kontribusi: Ab\u016b Hil\u0101l betapa pentingnya membedakan kata-kata yang tampak serupa tetapi memiliki makna yang berbeda. Karyanya menganalisis sinonim dalam bahasa Arab dan menjelaskan perbedaan halus antara kata-kata tersebut dalam konteks Al-Qur\u2019an. Ia menjelaskan bahwa, dalam konteks wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir, kata-kata dapat memiliki berbagai makna tergantung pada konteks ayatnya. Ini membantu para mufassir dan pelajar Al-Qur\u2019an memahami ayat secara lebih akurat karena ia memberikan sistematika dalam mengelola makna kata dalam berbagai kelompok.<\/p>\n<p><strong>3. Al-Dhahabi (w. 748 H) dan Ibn al-Jawz\u012b (w. 597 H)<\/strong><br \/>\nKontribusi: Keduanya adalah ulama terkemuka yang juga meneliti tafsir tematik dan linguistik Al-Qur\u2019an, termasuk aspek wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir. Ibnu al-Jawz\u012b: Dalam bukunya Nuzhat al-A\u2019yun al-N\u0101\u1e93irah f\u012b \u2018Ilmal-Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir, dia membuat daftar kata-kata dalam Al-Qur\u2019an yang memiliki banyak makna, dan kemudian memberikan penjelasan tentang masing-masing makna dan masing kata berdasarkan ayat-ayat dalam Al-Qur\u2019an. Ia menjadi salah satu orang pertama yang membuat klasifikasi ilmu ini secara sistematis.<br \/>\nAl-Dhahab\u012b: Al-Dhahab\u012b lebih dikenal dalam bidang hadits dan sejarah, tetapi dia banyak menulis tentang metode tafsir dalam At-Tafs\u012br wa al-Mufassir\u016bn. Dia juga membahas bagaimana wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir membantu orang memahami makna Al-Qur\u2019an. Ia menekankan betapa pentingnya ilmu ini bagi para mufassir agar mereka dapat menafsirkan kata-kata yang memiliki banyak makna yang berbeda.<\/p>\n<p><strong>Contoh -Contoh Wuj\u016bh dalam Al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\n<strong>1. Al-Wuj\u016bh (\u0627\u0644\u0648\u062c\u0648\u0647)<\/strong> Makna wuj\u016bh secara harfiah berarti &#8220;wajah-wajah&#8221;, dan dalam ilmu tafsir merujuk pada satu kata yang memiliki banyak makna tergantung konteksnya dalam Al-Qur\u2019an.<br \/>\nContoh:<br \/>\nKata \u2018Ayn<strong> (\u0627\u0644\u0639\u064a\u0646)<\/strong> dapat berarti: Mata (organ tubuh),Mata air (sumber air),Pengawasan (perlindungan atau kontrol).<br \/>\n<strong>Contoh dan Analisis al-Wuj\u016bh<\/strong><br \/>\n<strong>1. Kata al-\u2018Ayn (\u0627\u0644\u0639\u064a\u0646) Mata (sebagai indra penglihatan)<\/strong><br \/>\nQS. Al-Qamar: 14<br \/>\n&#8220;\u062a\u064e\u062c\u0652\u0631\u0650\u064a \u0628\u0650\u0623\u064e\u0639\u0652\u064a\u064f\u0646\u0650\u0646\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0632\u064e\u0627\u0621\u064b \u0644\u0651\u0650\u0645\u064e\u0646 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0643\u064f\u0641\u0650\u0631\u064e&#8221;<br \/>\n&#8220;Yang berlayar dengan pengawasan Kami&#8230;&#8221;<br \/>\nDi sini, &#8220;bi a\u2018yunin\u0101&#8221; diartikan sebagai dalam pengawasan Kami.<br \/>\n<strong>a) Mata Air<\/strong><br \/>\nQS. Al-Hijr: 45<br \/>\n&#8220;\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0671\u0644\u0652\u0645\u064f\u062a\u0651\u064e\u0642\u0650\u064a\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a \u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0670\u062a\u064d\u06e2 \u0648\u064e\u0639\u064f\u064a\u064f\u0648\u0646\u064d\u06e2&#8221;<br \/>\n&#8220;Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada di taman-taman dan mata air.&#8221;<br \/>\n\u2018Uy\u016bn di sini berarti mata air, yaitu sumber air di surga.<\/p>\n<p><strong>b) Pengawasan \/ Perlindungan<\/strong><br \/>\nQS. T\u0101h\u0101: 39<br \/>\n&#8220;\u0648\u064e\u0623\u064e\u0644\u0652\u0642\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0645\u064e\u062d\u064e\u0628\u0651\u064e\u0629\u064b\u06ed \u0645\u0651\u0650\u0646\u0651\u0650\u0649 \u0648\u064e\u0644\u0650\u062a\u064f\u0635\u0652\u0646\u064e\u0639\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0639\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650\u0649&#8221;<br \/>\n&#8220;Aku telah mencurahkan kasih sayang-Ku kepadamu, dan engkau dibesarkan di bawah pengawasan-Ku.&#8221;<br \/>\n\u2018Ayn\u012b di sini berarti pengawasan\/penjagaan khusus dari Allah.<br \/>\n<strong>2. Kata al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nKata ini tidak hanya berarti kitab, tapi punya berbagai aspek makna:<br \/>\n<strong>a. Bacaan<\/strong><br \/>\nQS. Al-Qiy\u0101mah: 17-18<br \/>\n&#8220;Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Maka apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu.&#8221;<br \/>\n<strong>b. Wahyu<\/strong><br \/>\nQS. Al-Isr\u0101\u2019: 106<br \/>\n&#8220;Dan Al-Qur\u2019an itu telah Kami turunkan secara bertahap agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia&#8230;&#8221;<br \/>\n<strong>c. Kitab Petunjuk<\/strong><br \/>\nQS. Al-Baqarah: 185<br \/>\n&#8220;Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur\u2019an sebagai petunjuk bagi manusia&#8230;&#8221;<br \/>\n<strong>Contoh-Contoh Na\u1e93\u0101\u2019ir dalam Al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\n<strong>1. An-Na\u1e93\u0101\u2019ir (\u0627\u0644\u0646\u0638\u0627\u0626\u0631)<\/strong><br \/>\nNa\u1e93\u0101\u2019ir berasal dari kata na\u1e93\u012br, artinya \u201cserupa\u201d atau \u201cyang mirip\u201d. Dalam konteks Al-Qur\u2019an, na\u1e93\u0101\u2019ir merujuk pada beberapa kata berbeda yang menunjukkan makna atau konsep yang sama.<br \/>\nContoh:<br \/>\nKonsep hari kiamat dijelaskan dengan:<br \/>\nas-S\u0101\u2018ah (\u0627\u0644\u0633\u0627\u0639\u0629) \u2013 waktu kiamat, al-Yawm al-\u0100khir (\u0627\u0644\u064a\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0622\u062e\u0631 )\u2013 hari terakhir,<br \/>\nal-Qiy\u0101mah (\u0627\u0644\u0642\u064a\u0627\u0645\u0629) \u2013 hari kebangkitan.<\/p>\n<p><strong>Contoh dan Analisis an-Na\u1e93\u0101\u2019ir<\/strong><br \/>\n<strong>1. Konsep \u201cHari Kiamat\u201d<\/strong><br \/>\n<strong>a.As-S\u0101\u2018ah (\u0627\u0644\u0633\u0627\u0639\u0629) \u2013 \u201cSaat\u201d<\/strong><br \/>\nQS. Al-A\u2018r\u0101f: 187<br \/>\n\u201cMereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, kapankah terjadinya?\u201d<br \/>\nFokus pada waktu terjadinya kiamat.<\/p>\n<p><strong>b. Al-Yawm al-\u0100khir (\u0627\u0644\u064a\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0622\u062e\u0631) \u2013 \u201cHari Terakhir\u201d<\/strong><br \/>\nQS. Al-Baqarah: 8<br \/>\n\u201cDi antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir, padahal mereka bukanlah orang-orang yang beriman.\u201d<br \/>\nPenekanan pada akhir kehidupan dunia dan dimulainya kehidupan akhirat.<\/p>\n<p><strong>c. Al-Qiy\u0101mah (\u0627\u0644\u0642\u064a\u0627\u0645\u0629) \u2013 \u201cKebangkitan\u201d<\/strong><br \/>\nQS. Al-Qiy\u0101mah: 1<br \/>\n\u201cAku bersumpah demi hari kiamat.\u201d<br \/>\nPenekanan pada proses bangkitnya manusia dari kubur.<br \/>\n<strong>2. Konsep \u201cJalan Lurus\u201d<\/strong><br \/>\n<strong>a. \u1e62ir\u0101\u1e6d (\u0635\u0631\u0627\u0637) \u2013 Jalan besar, utama<\/strong><br \/>\nQS. Al-F\u0101ti\u1e25ah: 6<br \/>\n\u201cTunjukilah kami jalan yang lurus (\u1e63ir\u0101\u1e6d al-mustaq\u012bm).\u201d<br \/>\nJalan yang menuju keselamatan akhirat.<br \/>\n<strong>b. Sab\u012bl (\u0633\u0628\u064a\u0644) \u2013 Jalan menuju sesuatu<\/strong><br \/>\nQS. Al-Baqarah: 154<br \/>\n\u201cDan janganlah kamu mengatakan orang yang gugur di jalan Allah (sab\u012blill\u0101h) itu mati.\u201d<br \/>\nJalan perjuangan demi agama Allah.<br \/>\n<strong>c. \u1e6car\u012bq (\u0637\u0631\u064a\u0642) \u2013 Rute, bisa baik atau buruk<\/strong><br \/>\nQS. Al-An\u2018\u0101m: 153<br \/>\n\u201cDan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (\u1e6duruq)&#8230;\u201d<br \/>\nMenunjukkan pluralitas jalan, baik dan sesat.<\/p>\n<p><strong>Relevansi Ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir dalam Tafsir dan Pemahaman Al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\n<strong>1. Pentingnya Ilmu Ini bagi Para Mufassir Klasik dan Kontemporer<\/strong><br \/>\nSalah satu cabang ilmu tafsir, ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir mempelajari kata-kata dalam Al-Qur\u2019an yang memiliki banyak makna (wuj\u016bh) dan kata-kata yang memiliki makna yang sama. Tradisi tafsir klasik dan kontemporer bergantung pada topik ini. Karena mereka menyadari bahwa memahami berbagai makna kata dalam Al-Qur\u2019an adalah kunci untuk tafsir yang benar, para mufassir klasik, seperti Ibnu al-Jawz\u012b dalam Nuzhat al-A\u2019y\u016bn al-Naw\u0101\u1e93ir, al-R\u0101ghib al-I\u1e63fah\u0101n\u012b dalam al-Mufrad\u0101t f\u012b Ghar\u012bb al-Qur\u2019\u0101n, dan al-Zarkash\u012b dalam al-Burh\u0101n f\u012b \u201cUl\u016bm al-Qur\u2019\u0101n, sangat memperhatikan bidang ini.<br \/>\nPara mufassir modern seperti Sayyid Qu\u1e6db, Muhammad al-T\u0101hir Ibnu &#8216;\u0100sh\u016br, dan M. Quraish Shihab juga menyadari pentingnya disiplin ini dalam menafsirkan Al-Qur&#8217;an secara kontekstual, terutama untuk menjawab tantangan yang kompleks dan multidimensi yang ada di zaman sekarang. Dengan dasar linguistik dan semantik yang kuat, disiplin ini membantu mufassir membedakan makna literal, majazi (kiasan), dan kontekstual dari kata-kata yang sama dalam berbagai ayat.<br \/>\n<strong>2. Dampaknya terhadap Pemahaman Hukum, Akidah, dan Akhlak dalam Al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nKesalahan dalam memahami kata yang memiliki makna ganda dapat menimbulkan dampak serius terhadap pemahaman pokok-pokok ajaran Islam, antara lain:<br \/>\n<strong>a. Hukum (fiqh)<\/strong><br \/>\n<strong>Contoh<\/strong>:<\/p>\n<p>Kata al-yad (tangan), jika dipahami secara literal dalam ayat seperti &#8220;Yadull\u0101h fawqa ayd\u012bhim&#8221; (QS. Al-Fath: 10), tanpa memperhatikan konteks, bisa menimbulkan pemahaman tajsim (penyerupaan Allah dengan makhluk).<br \/>\nKata mas\u1e25 dalam ayat wudhu (QS. Al-M\u0101\u2019idah: 6), jika disalahpahami, bisa berdampak pada kesalahan dalam praktik ibadah.<br \/>\n<strong>b. Akidah<\/strong><br \/>\nKata istiwa\u2019 (QS. \u1e6c\u0101h\u0101: 5), jika diterjemahkan tanpa ilmu ini, bisa mengarah pada keyakinan yang menyimpang tentang sifat Allah. Pemahaman terhadap kata ruh, \u2018ilm, ghayb, dan sebagainya harus ditelusuri dengan pendekatan wuj\u016bh agar tidak menyimpang dari akidah ahlus sunnah.<br \/>\n<strong>c. Akhlak<\/strong><br \/>\nKata taqw\u0101, \u1e63abr, birr, dan \u2018adl muncul dalam banyak konteks, dan setiap konteks memberikan nuansa makna yang berbeda. Pemahaman yang tepat akan membantu membentuk karakter dan perilaku mulia sesuai ajaran Islam.<br \/>\nDengan memahami wuj\u016bh (keragaman makna) dan na\u1e93\u0101\u2019ir (keserupaan makna), kita dapat menyerap nilai-nilai Al-Qur\u2019an secara menyeluruh dan tidak terjebak pada penafsiran parsial.<\/p>\n<p><strong>3. Pencegahan terhadap Kesalahan Tafsir akibat Kelalaian Memahami Makna Ganda<\/strong><br \/>\nJika kita salah menafsirkan kata-kata dalam Al-Qur&#8217;an yang memiliki makna ganda, kita bisa salah memahami pesan ilahi. Dengan mengetahui konteks setiap kata dalam ayat yang berbeda, ilmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101&#8217;ir membantu menghindari kesalahan ini. membandingkan makna majazi dan literal, yang sangat penting untuk menafsirkan ayat mutasy\u0101bih\u0101t. Untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap, mempertimbangkan penggunaan kata yang serupa (na\u1e93\u0101&#8217;ir) di tempat lain.<br \/>\nContoh konkret:<\/p>\n<p>Kata fitnah bisa berarti ujian, siksaan, atau kekacauan, tergantung pada ayat. Tanpa pemahaman konteks dan ilmu wuj\u016bh, seseorang bisa salah mengambil kesimpulan.<br \/>\nKata \u2018ayn dalam Al-Qur\u2019an bisa berarti mata, mata air, atau pengawasan. Membedakan penggunaannya sangat penting agar tidak menimbulkan kekeliruan teologis atau hukum.<\/p>\n<p><strong>Tantangan dan Peluang Kajian Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir di Era Modern<\/strong><br \/>\nSalah satu cabang penting dari studi ilmu Al-Qur&#8217;an adalah kajian Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101&#8217;ir, yang membahas tentang kemajemukan makna dari lafaz-lafaz Al-Qur&#8217;an (wuj\u016bh) dan kesamaan makna antara lafaz-lafaz yang berbeda (na\u1e93\u0101&#8217;ir). Kajian ini sangat penting untuk menyingkap kekayaan bahasa Al-Qur&#8217;an dan membantu mufasir memahami makna secara komprehensif, kontekstual, dan tepat.<br \/>\nNamun, seiring dengan perkembangan zaman, kajian ini tidak lepas dari tantangan-tantangan metodologis, kebahasaan, maupun tantangan dalam konteks sosial. Di sisi lain, era modern juga menghadirkan peluang-peluang baru, khususnya dalam integrasi dengan pendekatan linguistik kontemporer, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan tafsir tematik yang relevan dengan isu-isu modern. Berikut penjelasan rinci dari tantangan dan peluang tersebut:<br \/>\n<strong>1. Tantangan Metodologis dan Kebahasaan<\/strong><br \/>\n<strong>\u2022 Perubahan Dinamika Bahasa Arab<\/strong><br \/>\nBahasa Arab klasik yang digunakan dalam Al-Qur\u2019an memiliki struktur gramatikal, kosa kata, dan gaya retoris yang khas. Dalam dunia modern, terjadi pergeseran dalam penggunaan bahasa Arab, baik secara leksikal maupun sintaksis. Akibatnya, generasi masa kini sering kesulitan menangkap makna asli dari lafaz-lafaz Al-Qur\u2019an tanpa pemahaman mendalam terhadap bahasa Arab klasik dan ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan semantik Arab.<br \/>\n\u2022<strong> Pendekatan Klasik yang Fragmentaris<\/strong><br \/>\nBanyak karya klasik dalam kajian wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir seperti Maj\u0101z al-Qur\u2019\u0101n karya Abu Ubaydah, atau al-Wuj\u016bh wa al-Na\u1e93\u0101\u2019ir karya al-R\u0101ghib al-A\u1e63fah\u0101n\u012b, yang belum sepenuhnya menyusun makna lafaz secara sistematis atau komprehensif. Terkadang, pendekatan yang digunakan bersifat deskriptif, tanpa pendekatan analitik yang mempertimbangkan perkembangan teori linguistik.<br \/>\n\u2022 <strong>Ketidakterpaduan antara Kajian Semantik dan Konteks Tafsir<\/strong><br \/>\nSeringkali pemahaman makna lafaz hanya bersandar pada makna leksikal, padahal makna dalam Al-Qur\u2019an sangat kontekstual. Tidak cukup hanya mengidentifikasi arti kata, namun perlu menggali konteks ayat (siy\u0101q), asb\u0101b an-nuz\u016bl, serta korelasi antar ayat (mun\u0101sabah).<\/p>\n<p><strong>1. Peluang Pengembangan Menggunakan Pendekatan Linguistik Modern dan Digitalisasi<\/strong><br \/>\n<strong>Integrasi Ilmu Linguistik Modern<\/strong><br \/>\nIlmu linguistik modern seperti semantik, pragmatik, sintaksis, dan analisis wacana menawarkan alat baru untuk menggali makna Al-Qur\u2019an secara ilmiah dan sistematis. Dengan pendekatan ini, makna kata dapat dikaji tidak hanya dari arti dasarnya (denotatif), tetapi juga dari konteks pemakaian, implikasi makna (konotatif), dan hubungan antar lafaz dalam struktur kalimat. Misalnya, analisis semantik dapat membantu menguraikan perbedaan makna kata yang tampak serupa seperti qalb, fu\u2019\u0101d, dan \u1e63adr yang semuanya berarti \u201chati\u201d dalam bahasa Arab, tetapi memiliki nuansa makna yang berbeda dalam konteks Al-Qur\u2019an.<br \/>\n<strong>Pemanfaatan Teknologi dan Digitalisasi<\/strong><br \/>\nEra digital memungkinkan munculnya perangkat bantu seperti Quranic Corpus, Tafsir Apps, dan perangkat lunak berbasis AI yang dapat menelusuri lafaz tertentu dalam seluruh ayat Al-Qur\u2019an secara cepat dan akurat. Teknologi ini juga memungkinkan analisis kuantitatif terhadap frekuensi kemunculan kata, konteks penggunaannya, serta keterkaitan antar ayat. Selain itu, penyusunan basis data wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir secara digital dapat membantu peneliti dalam menyusun peta makna Al-Qur\u2019an secara sistematis dan terhubung.<\/p>\n<p><strong>Kolaborasi Interdisipliner<\/strong><br \/>\nEra modern membuka peluang kerja sama antara ahli tafsir, linguistik, informatika, dan sosiologi untuk membentuk pendekatan tafsir yang lebih menyeluruh. Kajian wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir tidak lagi dilakukan secara individual, tetapi dapat dikembangkan dalam tim multidisipliner yang menghasilkan kajian yang lebih kuat, kritis, dan aplikatif.<\/p>\n<p><strong>1. Integrasi dengan Studi Tafsir Tematik dan Konteks Sosial<\/strong><br \/>\n<strong>Kebutuhan Tafsir yang Kontekstual dan Aplikatif<\/strong><br \/>\nMasyarakat modern membutuhkan tafsir yang tidak hanya menjelaskan makna literal lafaz Al-Qur\u2019an, tetapi juga menjawab persoalan-persoalan aktual seperti etika digital, keadilan sosial, krisis lingkungan, dan lain-lain. Kajian wuj\u016bh wa an-na\u1e93\u0101\u2019ir dapat menjadi landasan awal dalam menyusun tafsir tematik (tafs\u012br mawdh\u016b\u2018\u012b) yang mendalam, dengan mengkaji bagaimana suatu lafaz digunakan dalam berbagai konteks ayat dan bagaimana pemahamannya dapat dikaitkan dengan realitas sosial kontemporer.<br \/>\n<strong>Menumbuhkan Kesadaran Makna yang Mendalam<\/strong><br \/>\nDengan memahami bahwa satu lafaz bisa memiliki banyak wajah makna, umat Islam diajak untuk tidak tergesa-gesa dalam memahami ayat secara literal. Ini akan membentuk pola pikir kritis dan mendalam, serta menghindarkan dari penafsiran sempit yang dapat berujung pada ekstremisme atau penyalahgunaan teks.<br \/>\n<strong>Memperluas Ruang Ijtihad<\/strong><\/p>\n<p>Integrasi kajian ini dalam tafsir tematik memungkinkan munculnya ijtihad baru yang lebih relevan dengan konteks zaman, tetapi tetap berpijak pada metodologi yang kokoh. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan dinamika keilmuan Islam di tengah perubahan sosial yang cepat.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nIlmu Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir merupakan salah satu disiplin dalam kajian tafsir yang berperan penting dalam menjelaskan keragaman makna dalam Al-Qur\u2019an. Ilmu ini membantu kita memahami bahwa satu kata dalam Al-Qur\u2019an bisa memiliki beberapa makna tergantung pada konteks penggunaannya (al-wuj\u016bh), dan sebaliknya, beberapa kata berbeda bisa merujuk pada makna yang sama (an-na\u1e93\u0101\u2019ir).<br \/>\nDengan menguasai ilmu ini, seorang pembaca atau mufassir dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an secara lebih tepat dan menyeluruh. Hal ini tidak hanya mencegah kesalahan dalam memahami ayat, tetapi juga memperkaya wawasan terhadap keindahan bahasa dan keluasan makna yang dikandung oleh Al-Qur\u2019an. Maka dari itu, Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir menjadi bagian penting dalam menyingkap makna-makna ilahiyah yang tersembunyi di balik lafaz Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Ahmad, Muhammad.(2020). Metodologi Tafsir Tematik dan Pendekatan Linguistik dalam Al-Qur\u2019an. Jakarta: Pustaka Qurani.<br \/>\nAl-Azhar, Khalid.(2022). Bahasa Arab dan Tantangan Tafsir Modern. Bandung: Mizan Pustaka.<br \/>\nAl-Suyuthi, Jalaluddin.(2008). Al-Itqan fi \u2018Ulum al-Qur\u2019an. Beirut: Dar al-Kutub al-\u2018Ilmiyyah.<br \/>\nAl-Zarkasyi, Badruddin.(2001). Al-Burh\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al-Qur\u2019\u0101n. Beirut: Dar al-Ma\u2018rifah.<br \/>\nAl-Ghazali, Abu Hamid.(2005). Jaw\u0101hir al-Qur\u2019\u0101n. Beirut: Dar al-Kutub al-\u2018Ilmiyyah.<br \/>\nAl-Raghib al-Asfahani.(2006). Al-Mufrad\u0101t f\u012b Ghar\u012bb al-Qur\u2019\u0101n. Beirut: Dar al-Ma\u2018rifah.<br \/>\nAzizah N. (2023).Implikasi Konsep Al Wujuh Wa An Nadzair dalam Penafsiran Al qur\u2019an. Jurnal Ilmu Al qur\u2019an dan Tafsir. Vol. 8(1).<br \/>\nJannah I.I, (2023). Makna \u2018Isr\u0101n dalam Al-Qur\u2019an (Kajian al-Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir), Skripsi S1, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru: UIN SUSKA.<br \/>\nMuttaqin Z, (2022), Kaidah al-Wuj\u016bh wa an-Na\u1e93\u0101\u2019ir dalam Penerjemahan Al-Qur\u2019an: Studi Linguistik Terapan dalam Tafsir dan Tarjamah, Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.<\/p>\n<p>Shihab, M. Quraish.(2007). Membumikan Al-Qur\u2019an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.<br \/>\nSarwat A. (2019). Al Wujuh Wa An- Nazhair Dalam Al -qur\u2019an ( Satu kata banyak makna, satu makna banyak kata). Jakarta : Rumah Fiqh Publisking.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ani Marlia1 ,Khusnun Nadza Al-Aslami2, M. Arsyad Said3 , Ayu Amelia4, Umi Kaltsum5 1 Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan animarlia_uin@radenfarah.ac.id 2 Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan nadzakhusnun@gmail.com 3 Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan arsyadsaid04@gmail.com 4 Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan ayu294715@gmail.com 5 Universitas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-18917","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18917"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18917\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}