{"id":18893,"date":"2025-05-27T11:17:36","date_gmt":"2025-05-27T03:17:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18893"},"modified":"2025-05-27T11:19:14","modified_gmt":"2025-05-27T03:19:14","slug":"relevansi-ilmu-ulumul-quran-dalam-era-globalisasi-dan-perkembangan-teknologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/relevansi-ilmu-ulumul-quran-dalam-era-globalisasi-dan-perkembangan-teknologi\/18893\/","title":{"rendered":"RELEVANSI ILMU ULUMUL QUR\u2019AN DALAM ERA GLOBALISASI DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Aisyah Anis<\/strong><br \/>\nPendidikan Agama Islam,<br \/>\nUniversitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Esva Anggara<\/strong><br \/>\nPendidikan Agama Islam,<br \/>\nUniversitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Inka Wahyu Khairunnisa<\/strong><br \/>\nPendidikan Agama Islam,<br \/>\nUniversitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Defriansa<\/strong><br \/>\nPendidikan Agama Islam,<br \/>\nUniversitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia Email: inkawhynisa@gmail.com<\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nIlmu Ulumul Qur\u2019an merupakan cabang ilmu keislaman yang membahas aspek- aspek yang berkaitan dengan Al-Qur\u2019an, seperti sebab turunnya ayat (asbabun nuzul), nasikh-mansukh, qira\u2019at, dan tafsir. Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang pesat, tantangan terhadap pemahaman, interpretasi, dan penyebaran nilai-nilai Qur\u2019ani semakin kompleks. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis relevansi Ulumul Qur\u2019an sebagai instrumen penting dalam menjaga otentisitas, kontekstualisasi, dan aktualisasi ajaran Al-Qur\u2019an di tengah arus perubahan global. Dengan pendekatan kualitatif dan studi pustaka, jurnal ini mengungkap bagaimana Ulumul Qur\u2019an dapat berperan dalam menjawab problematika kontemporer, seperti disinformasi keagamaan, krisis moral, serta tantangan etika dalam teknologi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ulumul Qur\u2019an memiliki peran strategis dalam membimbing umat Islam untuk memahami Al-Qur\u2019an secara kontekstual dan autentik, serta sebagai landasan etis dalam menghadapi dampak teknologi modern. Oleh karena itu, penguatan kajian Ulumul Qur\u2019an perlu terus dilakukan melalui integrasi dengan sains dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman.<\/p>\n<p><em><strong>Kata kunci: Ulumul Qur\u2019an, relevansi Al-Qur\u2019an, Ulumul Qur\u2019an Dalam Perkembangan Teknologi<\/strong><\/em><\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><br \/>\n<em>Ulumul Qur&#8217;an is a branch of Islamic science that discusses aspects related to the Qur&#8217;an, such as the cause of the verse&#8217;s revelation (asbabun nuzul), nasikh- mansukh, qira&#8217;at, and tafsir. In the era of globalization and the rapid advancement of information technology, challenges to the understanding, interpretation, and dissemination of Qur&#8217;anic values are increasingly complex. This paper aims to analyze the relevance of Ulumul Qur&#8217;an as an important instrument in maintaining the authenticity, contextualization, and actualization of Qur&#8217;anic teachings in the midst of global change. Using a qualitative approach and literature study, this journal reveals how Ulumul Qur&#8217;an can play a role in answering contemporary problems, such as religious disinformation, moral crisis, and ethical challenges in digital technology. The results of the study show that Ulumul Qur&#8217;an has a strategic role in guiding Muslims to understand the Qur&#8217;an contextually and authentically, as well as an ethical foundation in dealing with the impact of modern technology. Therefore, strengthening the study of Ulumul Qur&#8217;an needs to continue through integration with science and technology to answer the challenges of the times.<\/em><\/p>\n<p><em><strong>Keywords : Ulumul Qur&#8217;an, relevance of the Qur&#8217;an, Ulumul Qur\u2019an In Tecnological Development<\/strong><\/em><\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nIlmu Ulumul Qur\u2019an merupakan cabang ilmu yang mempelajari segala hal yang berkaitan dengan Al-Qur\u2019an, baik dari segi sejarah turunnya, metode penafsiran, hingga karakteristik bahasa dan kandungan ayat-ayatnya.1 Keilmuan ini menjadi fondasi penting dalam memahami pesan-pesan ilahiah secara kontekstual dan mendalam.2 Dalam lintasan sejarah Islam, Ulumul Qur\u2019an telah memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan pemikiran keislaman dan pengembangan peradaban.<\/p>\n<p>Namun, memasuki era globalisasi yang ditandai dengan keterbukaan informasi, pertukaran budaya, dan dominasi teknologi digital, tantangan terhadap pemahaman dan praktik keagamaan semakin kompleks.3 Masyarakat kini dihadapkan pada derasnya arus informasi yang tidak selalu terverifikasi, interpretasi Al-Qur\u2019an yang beragam di dunia maya, serta pergeseran nilai akibat pengaruh budaya luar. Dalam konteks ini, Ilmu Ulumul Qur\u2019an dituntut untuk menunjukkan relevansinya dengan cara yang adaptif dan solutif.<\/p>\n<p>Perkembangan teknologi informasi, khususnya kecerdasan buatan dan big data, membuka peluang baru dalam kajian keislaman, termasuk dalam studi Al- Qur\u2019an.4 Digitalisasi manuskrip, perangkat lunak tafsir, hingga analisis semantik<\/p>\n<p>1 Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum al-Qur\u2019an (Beirut: Dar al-Fikr, 2000)<br \/>\n2 M. Amin Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu\u2019i: Sebuah Pengantar (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994).<br \/>\n3 Azyumardi Azra, Islam Substantif (Bandung: Mizan, 2004).<br \/>\n4 M. Syukri Wahid, Transformasi Digital dalam Studi Keislaman: Peluang dan Tantangan,\u201d Jurnal Pemikiran Keislaman, Vol. 28, No. 1 (2021): 89-102.<\/p>\n<p>berbasis AI memberikan jalan baru dalam memahami Al-Qur\u2019an secara lebih luas dan mendalam. Namun, tanpa landasan Ulumul Qur\u2019an yang kuat, kemajuan ini justru dapat menimbulkan penyimpangan interpretasi.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, penting untuk mengkaji kembali relevansi dan kontribusi Ulumul Qur\u2019an dalam menjawab tantangan era globalisasi dan teknologi. Kajian ini tidak hanya bertujuan memperkuat posisi Ulumul Qur\u2019an dalam dunia akademik, tetapi juga mendorong sinergi antara warisan intelektual Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.<\/p>\n<p><strong>Metodologi<\/strong><br \/>\nPenelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif- analitis.5 Metode ini dipilih karena sesuai untuk menggali dan menganalisis relevansi keilmuan Ulumul Qur\u2019an dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi yang kompleks serta dinamis. Pendekatan ini memungkinkan penulis untuk menafsirkan data dalam kerangka keilmuan Islam dan kajian kontemporer secara mendalam.<\/p>\n<p>1. Jenis dan Sumber Data<br \/>\nData yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas:<br \/>\nData Primer, yaitu literatur klasik dan kontemporer terkait Ilmu Ulumul Qur\u2019an, termasuk kitab-kitab turats, karya-karya mufassir, dan dokumen digital yang memuat perkembangan metodologi tafsir.<\/p>\n<p>Data Sekunder, berupa jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, serta publikasi digital yang berkaitan dengan tema globalisasi, perkembangan teknologi informasi, dan studi keislaman kontemporer.<\/p>\n<p>2. Teknik Pengumpulan Data<br \/>\nData dikumpulkan melalui studi pustaka (library research) dengan menelaah sumber-sumber literatur yang relevan. Penelusuran dilakukan melalui: Perpustakaan konvensional dan digital (seperti Google Scholar, ResearchGate, dan repository akademik).<br \/>\nPlatform digital yang menyediakan manuskrip Al-Qur\u2019an, tafsir digital, serta aplikasi berbasis teknologi yang digunakan dalam studi Islam kontemporer.<\/p>\n<p>3. Teknik Analisis Data<br \/>\nData dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analysis) dengan langkah-langkah berikut:<\/p>\n<p>1. Reduksi data: memilah data yang sesuai dengan fokus kajian.<br \/>\n2. Kategorisasi tema: mengelompokkan data berdasarkan tema seperti tantangan globalisasi, transformasi teknologi, dan respons keilmuan Ulumul Qur\u2019an.<br \/>\n3. Interpretasi: menafsirkan data dalam kerangka epistemologi Islam, khususnya Ulumul Qur\u2019an, untuk melihat relevansinya dalam konteks kekinian.<br \/>\n4. Sintesis: menyusun kesimpulan teoritis yang menggambarkan posisi strategis Ulumul Qur\u2019an dalam menjawab tantangan zaman.<br \/>\n5 Komaruddin Hidayat, \u201cMasa Depan Studi Al-Qur\u2019an di Era Digital,\u201d Jurnal Studi Islam Dan Budaya, Vol. 15, No. 2 (2020): 123-135.<\/p>\n<p><strong>Hasil dan Pembahasan<br \/>\nUlumul Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nUlumul Qur\u2019an adalah himpunan ilmu yang membahas segala aspek yang berkaitan dengan Al-Qur\u2019an, baik dari sisi turunnya, struktur bahasa, isi kandungan, maupun metode penafsiran dan pemahamannya.6 Ilmu ini mencakup pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya ayat (asb\u0101b al-nuz\u016bl), klasifikasi ayat Makkiyah dan Madaniyah, nasikh dan mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus), qira\u2019at (varian bacaan), i\u2019jaz (kemukjizatan), hingga kaidah-kaidah tafsir.7<\/p>\n<p>Tujuan utama Ulumul Qur\u2019an adalah membantu umat Islam memahami Al-Qur\u2019an secara benar, sistematis, dan kontekstual, sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam penafsiran maupun pengamalan. Ilmu ini juga menjadi landasan penting dalam menelaah Al-Qur\u2019an sebagai sumber hukum, etika, dan pedoman hidup. Dengan memahami Ulumul Qur\u2019an, seseorang dapat membedakan antara pemahaman yang bersifat literal, kontekstual, atau simbolik, sesuai dengan prinsip ilmiah dalam tradisi keislaman. Secara keseluruhan, Ulumul Qur\u2019an bukan hanya ilmu teoretis, tetapi juga praktis dalam menjaga keaslian ajaran Islam dan menjawab tantangan zaman.<\/p>\n<p><strong>Relevansi Al-Qur\u2019an<\/strong><br \/>\nRelevansi Al-Qur\u2019an merujuk pada keterkaitan dan kesesuaian ajaran Al- Qur\u2019an dengan realitas kehidupan manusia sepanjang masa, termasuk dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu, Al-Qur\u2019an tetap relevan karena memuat prinsip-prinsip universal seperti keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kebenaran yang dapat diterapkan dalam berbagai zaman dan kondisi.8<\/p>\n<p>Relevansi Al-Qur\u2019an juga berarti bahwa nilai-nilai dan petunjuk yang terkandung di dalamnya mampu memberikan solusi atas persoalan-persoalan kontemporer. Misalnya, ajaran tentang etika informasi, keadilan sosial, atau perlindungan lingkungan hidup, semuanya memiliki pijakan dalam teks Al- Qur\u2019an jika dipahami dengan pendekatan yang kontekstual dan metodologis, seperti melalui ilmu tafsir dan Ulumul Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Dengan demikian, relevansi Al-Qur\u2019an tidak hanya terletak pada teksnya, tetapi juga pada kemampuannya untuk menjadi sumber inspirasi, pedoman moral, dan acuan praktis dalam menghadapi perubahan zaman dan dinamika kehidupan manusia modern.<\/p>\n<p><strong>Ulumul Qur\u2019an dalam Perkembangan Teknologi<\/strong><br \/>\nUlumul Qur\u2019an secara umum adalah kumpulan disiplin ilmu yang mempelajari segala hal yang berkaitan dengan Al-Qur\u2019an, baik dari aspek sejarah, struktur bahasa, cara turunnya, metode penafsiran, hingga prinsip-prinsip pemahamannya. Tujuannya adalah untuk menjaga kemurnian ajaran Al-Qur\u2019an sekaligus memberikan pemahaman yang benar dan kontekstual terhadap isi kandungannya.<\/p>\n<p>6 Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum al-Qur\u2019an (Beirut: Dar al-Fikr, 2000).<br \/>\n7 M. Amin Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu\u2019i.<br \/>\n8 Harun Nasution, Islam Rasional (Jakarta: Mizan 1995).<\/p>\n<p>Dalam konteks perkembangan teknologi, Ulumul Qur\u2019an tidak hanya dilihat sebagai kajian tradisional berbasis kitab turats (klasik), tetapi juga sebagai bidang ilmu yang bisa berkembang dan diintegrasikan dengan perangkat teknologi modern. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kecerdasan buatan (AI), big data, serta digitalisasi manuskrip membuka peluang baru dalam cara memahami, mengkaji, dan menyebarluaskan ilmu Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p><strong>Jabaran Integrasi Ulumul Qur\u2019an dan Teknologi<\/strong><br \/>\n1. Digitalisasi Manuskrip dan Kitab Tafsir Teknologi memungkinkan digitalisasi naskah-naskah klasik Ulumul Qur\u2019an yang dulu sulit diakses. Kini, berbagai kitab seperti Al-Itqan, Tafsir al-Tabari, atau Tafsir al-Qurthubi tersedia dalam bentuk digital dan dapat diakses secara luas oleh pelajar, dosen, dan masyarakat umum.9<\/p>\n<p>2. Aplikasi dan Platform Tafsir Al-Qur\u2019an Munculnya aplikasi seperti Quran.com, Tanzil.net, atau aplikasi Al-Qur\u2019an digital dengan fitur tafsir dan terjemahan menunjukkan bahwa Ulumul Qur\u2019an kini bisa dipelajari kapan saja dan di mana saja. Pengguna bisa menelusuri asbabun nuzul, makna kata, hingga tafsir tematik dengan mudah.10<\/p>\n<p>3. Kecerdasan Buatan (AI) dalam Studi Al-Qur\u2019an Teknologi AI mulai digunakan untuk membuat mesin pencari ayat berbasis semantik, menganalisis hubungan antar ayat, serta mengembangkan fitur tanya-jawab seputar Al-Qur\u2019an. Ini memungkinkan Ulumul Qur\u2019an digunakan dalam skala yang lebih luas dan efisien, meski tetap harus diawasi secara akademik.11<\/p>\n<p>4. Pembelajaran Online dan E-Learning Ulumul Qur\u2019an Lembaga pendidikan kini banyak yang mengembangkan kelas daring (online class) untuk mengajarkan Ulumul Qur\u2019an dengan pendekatan interaktif. Ini sangat relevan bagi generasi digital yang terbiasa belajar melalui perangkat elektronik.<\/p>\n<p>5. Tantangan Etika dan Validitas Meskipun teknologi membawa manfaat besar, tetap diperlukan kehati- hatian. Konten Al-Qur\u2019an yang tersebar di internet sering kali tidak melalui proses verifikasi ilmiah. Oleh karena itu, prinsip-prinsip Ulumul Qur\u2019an sangat penting untuk menjaga validitas informasi dan penafsiran yang beredar di dunia digital.12<\/p>\n<p><strong>Simpulan<\/strong><br \/>\nIlmu Ulumul Qur\u2019an memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menjawab tantangan zaman, khususnya di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat. Sebagai fondasi metodologis dalam memahami Al-Qur\u2019an, Ulumul Qur\u2019an berperan penting dalam menjaga kemurnian makna ayat, mencegah penyimpangan tafsir, serta menjembatani antara teks wahyu dan realitas<\/p>\n<p>9 Saifuddin Zuhri, Ulum al-Qur\u2019an Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2019).<br \/>\n10 Komaruddin Hidayat, Masa Depan Studi Al-Qur\u2019an di Era Digital.<br \/>\n11 M. Syukri Wahid, Transformasi Digital dalam Studi Keislaman.<br \/>\n12 Ahmad Yani, Relevansi Ulumul Qur\u2019an dalam menjawab Problematika Umat di Era Modern,\u201d Jurnal Ushuluddin, Vol. 27, No. 2 (2019): 201-215.<\/p>\n<p>kontemporer. Di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi nilai yang terjadi melalui media digital, Ulumul Qur\u2019an memberikan pedoman ilmiah dalam menafsirkan dan mengamalkan ajaran Al-Qur\u2019an secara kontekstual dan bertanggung jawab. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi pengembangan kajian Ulumul Qur\u2019an, seperti melalui digitalisasi literatur tafsir, aplikasi Al-Qur\u2019an interaktif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam studi Al-Qur\u2019an. Namun, teknologi ini hanya akan berdampak positif apabila digunakan berdasarkan prinsip dan disiplin keilmuan Ulumul Qur\u2019an. Dengan demikian, Ulumul Qur\u2019an bukan hanya warisan intelektual masa lalu, tetapi juga ilmu yang dinamis dan adaptif, yang dapat terus berkontribusi dalam membimbing umat Islam menghadapi kompleksitas dunia modern secara bijaksana dan Qur\u2019ani.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\nAl-Farmawi, M. Amin. <em>Metode Tafsir Maudhu\u2019i: Sebuah Pengantar<\/em>. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994.<\/p>\n<p>Al-Suyuthi, Jalaluddin. <em>Al-Itqan fi Ulum al-Qur\u2019an<\/em>. Beirut: Dar al-Fikr, 2000. Azra, Azyumardi. <em>Islam Substantif: Membumikan Islam dalam Disiplin Ilmu dan<\/em> <em>Perilaku Sosial<\/em>. Bandung: Mizan, 2004.<\/p>\n<p>Nasution, Harun. <em>Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran<\/em>. Jakarta: Mizan, 1995. Rahman, Fazlur. <em>Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual<\/em><\/p>\n<p><em>Tradition<\/em>. Chicago: University of Chicago Press, 1982.<\/p>\n<p>Syahrur, Muhammad. <em>Membumikan Al-Qur\u2019an dalam Konteks Masyarakat Modern<\/em>. Yogyakarta: LKiS, 2003.Hidayat, Komaruddin. &#8220;Masa Depan Studi Al-Qur\u2019an di Era Digital.&#8221; <em>Jurnal Studi Islam dan Budaya<\/em>, Vol. 15, No. 2 (2020): 123\u2013135.<\/p>\n<p>Wahid, M. Syukri. &#8220;Transformasi Digital dalam Studi Keislaman: Peluang dan Tantangan.&#8221; <em>Jurnal Pemikiran Keislaman<\/em>, Vol. 28, No. 1 (2021): 89\u2013102.<\/p>\n<p>Yani, Ahmad. &#8220;Relevansi Ulumul Qur\u2019an dalam Menjawab Problematika Umat di Era Modern.&#8221; <em>Jurnal Ushuluddin<\/em>, Vol. 27, No. 2 (2019): 201\u2013215.<\/p>\n<p>Zuhri, Saifuddin. <em>Ulum al-Qur\u2019an Kontemporer<\/em>. Jakarta: Kencana, 2019.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aisyah Anis Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia Esva Anggara Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia Inka Wahyu Khairunnisa Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia Defriansa Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia Email: inkawhynisa@gmail.com Abstrak Ilmu Ulumul Qur\u2019an merupakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-18893","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18893","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18893"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18893\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18893"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18893"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18893"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}