{"id":18391,"date":"2025-03-27T17:01:01","date_gmt":"2025-03-27T09:01:01","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18391"},"modified":"2025-03-27T17:01:01","modified_gmt":"2025-03-27T09:01:01","slug":"cari-kerja-atau-main-lotre-jangan-sampai-hr-blacklist-kamu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/cari-kerja-atau-main-lotre-jangan-sampai-hr-blacklist-kamu\/18391\/","title":{"rendered":"CARI KERJA ATAU MAIN LOTRE? JANGAN SAMPAI HR BLACKLIST KAMU!"},"content":{"rendered":"<p><strong>Yogyakarta, JurnalPost.com<\/strong>, 10 Maret 2025\u2013 Di era digital, banyak orang mencari kerja dengan mengirim lamaran ke ratusan perusahaan sekaligus, tanpa melihat apakah mereka cocok dengan posisi yang dilamar. Cara ini bukannya memperbesar peluang, justru bisa membuat nama kamu masuk daftar hitam (blacklist) HR\/tim rekrutmen karena dianggap asal-asalan.<\/p>\n<p>Menurut Decky Nur Rohman Aziz, HR Specialist di PT Infomedia Nusantara Yogyakarta, waktu pemanggilan setelah seleksi administrasi biasanya berkisar antara 1-14 hari. \u201c1-14 hari, Mba,\u201d jelasnya. Itu artinya, setelah melamar, kamu perlu bersabar dan tetap fokus melamar kerja dengan cara yang benar, bukan cuma asal kirim sebanyak mungkin. Fokus dalam menyesuaikan CV dengan posisi yang diinginkan akan menghindarkan kamu dari risiko gugur di awal seleksi. Jika CV tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan, besar kemungkinan lamaran akan langsung ditolak tanpa dipertimbangkan lebih jauh.<\/p>\n<p><strong>Kenapa Melamar Asal-asalan Itu Buruk?<\/strong><br \/>\nLaporan JobStreet Indonesia (2023) mencatat bahwa 70% pencari kerja melamar ke lebih dari lima perusahaan sekaligus. Sementara itu, data dari LinkedIn Hiring Trends (2024) menunjukkan 56% kandidat baru memilih pekerjaan setelah membandingkan beberapa tawaran. Masalahnya, banyak pelamar yang tidak membaca deskripsi pekerjaan dengan baik. Menurut Glints (2023), 45% kandidat mengirim CV tanpa benar-benar memahami posisi yang mereka lamar, dan data dari Indeed (2024) menyebutkan hanya 30% pelamar yang menyesuaikan CV dengan pekerjaan yang mereka incar.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, banyak orang melamar kerja seperti main lotre\u2014asal lempar lamaran sebanyak-banyaknya dan berharap ada yang nyangkut. Padahal, cara ini bisa bikin HR menandai kamu sebagai kandidat yang tidak serius, dan hanya mengandalkan keberuntungan dalam mencari kerja.<\/p>\n<p><strong>Cara Melamar Kerja yang Benar<\/strong><br \/>\nSupaya lebih gampang dilirik HR\/tim rekrutmen, coba ikuti tips ini:<br \/>\n1.\tSesuaikan CV dan Surat Lamaran \u2013 Jangan asal copy-paste! Pastikan dokumen yang dikirim benar-benar sesuai dengan lowongan yang dilamar.<br \/>\n2.\tBaca Jobdesk dengan Teliti \u2013 Jangan asal kirim! Pahami dulu deskripsi pekerjaan agar tidak salah pilih.<br \/>\n3.\tSiapkan Wawancara dengan Baik \u2013 Latih cara menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Jika wawancara online, pastikan tempat kondusif, perangkat memadai, dan sinyal internet stabil.<br \/>\n4.\tBangun Jaringan Profesional \u2013 Manfaatkan LinkedIn atau referensi dari teman untuk memperluas peluang kerja.<br \/>\n5.\tIkuti Pelatihan dan Workshop \u2013 Tingkatkan skill agar lebih menarik di mata HR.<br \/>\n6.\tEvaluasi Lamaran yang Ditolak \u2013 Kalau belum berhasil dan sering ditolak, coba cari tahu penyebabnya dan perbaiki strategi melamarmu.<br \/>\nMelamar kerja itu bukan soal jumlah, tapi kualitas. Bukan sekedar coba-coba atau berharap hoki. Harus ada strategi dan persiapan yang matang agar peluang diterima lebih besar. Kalau kamu memahami proses rekrutmen dan menyesuaikan lamaran dengan kebutuhan perusahaan, kesempatan diterima di tempat yang sesuai dengan keahlian dan minatmu juga lebih tinggi. Jadi, jangan asal lempar lamaran, ya!<\/p>\n<p><strong>Tentang PT Infomedia Nusantara Yogyakarta<\/strong><br \/>\nPT Infomedia Nusantara adalah bagian dari Telkom Indonesia yang bergerak di bidang Business Process Outsourcing (BPO) dan Human Resource Services. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, perusahaan ini membantu berbagai industri dalam proses rekrutmen dan pengelolaan SDM.<\/p>\n<p>Kontak<br \/>\nDyah Ayu Pitaloka<br \/>\nHR Recruiter Intern \u2013 PT Infomedia Nusantara Yogyakarta<br \/>\nMahasiswi Manajemen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta<br \/>\nEmail: dyahayuptlk17@gmail.com<br \/>\nTelepon: +62 8572 8010 725<br \/>\nLinkedIn: www.linkedin.com\/in\/dyah-ayu-pitaloka-17b42833b<br \/>\nSitus Web: [www.infomedia.co.id]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta, JurnalPost.com, 10 Maret 2025\u2013 Di era digital, banyak orang mencari kerja dengan mengirim lamaran ke ratusan perusahaan sekaligus, tanpa melihat apakah mereka cocok dengan posisi yang dilamar. Cara ini bukannya memperbesar peluang, justru bisa membuat nama kamu masuk daftar hitam (blacklist) HR\/tim rekrutmen karena dianggap asal-asalan. Menurut Decky Nur Rohman Aziz, HR Specialist di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-18391","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18391","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18391"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18391\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18391"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18391"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}