{"id":18154,"date":"2025-03-11T18:48:49","date_gmt":"2025-03-11T10:48:49","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18154"},"modified":"2025-03-11T18:48:49","modified_gmt":"2025-03-11T10:48:49","slug":"toxic-positivity-ketika-kebahagiaan-menjadi-beban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/toxic-positivity-ketika-kebahagiaan-menjadi-beban\/18154\/","title":{"rendered":"Toxic Positivity: Ketika Kebahagiaan Menjadi Beban"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_18155\" aria-describedby=\"caption-attachment-18155\" style=\"width: 336px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-18155\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar1.png\" alt=\"\" width=\"336\" height=\"189\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar1.png 336w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar1-300x169.png 300w\" sizes=\"(max-width: 336px) 100vw, 336px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-18155\" class=\"wp-caption-text\">Emosi Lain Selain Bahagia (pixabay\/AbsolutVision)<\/figcaption><\/figure>\n<p><em>Toxic positivity<\/em> adalah fenomena yang kerap terdengar dalam kehidupan masyarakat modern. Mengutip berdasarkan hasil survei Ipsos Global 2024, 82% masyarakat Indonesia merasa bahagia, dan menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga dalam kebahagiaan global.\u00a0Survei ini mengukur tingkat kebahagiaan seseorang melalui berbagai faktor seperti hubungan dengan keluarga, hubungan dengan teman, kesejahteraan, keuangan, kondisi politik, dan kondisi ekonomi. Survei menunjukkan bahwa individu merasa puas dalam hubungan sosial, tetapi banyak yang merasa tidak puas dengan situasi politik dan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan untuk tampil bahagia, realitas kehidupan seringkali lebih kompleks.<\/p>\n<p>Dan dibalik hasil survei yang menunjukkan angka tinggi ini, muncul pertanyaan penting: apakah semua orang benar-benar bahagia, ataukah ada yang merasa tertekan untuk merasa \u2018bahagia\u2019 karena norma sosial yang ada?.<\/p>\n<p>&#8220;Cara umum yang digunakan untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan berfokus pada sisi positif, emosi positif, dan sifat positif. Ketiganya berada di bawah payung besar teori Psikologi Positif oleh Martin Seligman, yang selanjutnya akan disebut sebagai konsep positif.&#8221; (Putra et al., 2023). Namun, seiring berjalannya waktu terjadi miskonsepsi terhadap konsep positif ini. Seperti pada konteks relasi atau hubungan sosial, contoh ungkapan seperti: \u201ckamu masih mending, lah aku?\u201d, atau \u201ckamu harus bersyukur, masih banyak orang yang lebih buruk kondisinya\u201d, atau bisa juga seperti ungkapan \u201cgitu aja kok nangis, harus tetap kuat dong!\u201d.<\/p>\n<p>Ungkapan-ungkapan seperti ini mungkin ditujukan agar memberikan dukungan, namun dari sisi subjek yang sedang berada dalam kondisi yang butuh diperhatikan justru terdengar menyudutkan, dan akan memunculkan perasaan bersalah karena tidak dapat melihat kondisi yang ada secara positif. Tidak hanya pada kehidupan\u00a0<em>real-life, d<\/em>ilansir dari laman <em>alodokter.com<\/em>, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat membuat seseorang terjebak dalam <em>toxic positivity<\/em>.<\/p>\n<p>Konsep untuk selalu positif tersebut yang disebut dengan <em>toxic positivity<\/em>. Jadi, dapat dikatakan bahwa <em>toxic positivity<\/em> adalah kepercayaan akan konsep positif yang berlebihan, menuntut seseorang untuk selalu positif di segala keadaan dan mengabaikan emosi negatif. Melansir dari laman <em>cnnindonesia.com, toxic positivity<\/em> dapat membahayakan bagi subjek yang mengalami itu secara nyata, mereka bisa saja akan memiliki masalah dalam memandang diri mereka, perasaan seperti rendah diri, stress, atau bahkan depresi dapat muncul karena <em>toxic positivity<\/em> ini.<\/p>\n<p>Berikut adalah cara-cara yang dapat diterapkan agar dapat terlepas dari toxic positivity, agar <em>toxic positivity<\/em> tidak mengganggu kehidupan kita mengutip dari dr. Jiemi Adrian, Sp. KJ. dalam saluran YouTube beliau dengan judul video &#8220;4 Alasan Kita Jadi Toxic Positivity&#8221;:<\/p>\n<ol>\n<li>Ketahui bahwa setiap emosi setara<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam bermasyarakat saat ini, kita sudah terlalu terbiasa mengelompokkan emosi menjadi kelompok positif dan negatif, bukan sesuatu yang salah sebenarnya, tetapi usahakan untuk tidak langsung menilai bahwa emosi yang kita anggap negatif itu adalah emosi yang harus segera kita musnahkan ketika dirasa kita sedang mengalaminya. Karena dalam hidup seorang manusia tidak mungkin akan selalu dalam keadaan emosi yang positif.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Beri waktu untuk mengenali emosi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Umumnya orang yang terkena <em>toxic positivity<\/em> cenderung tidak diberi waktu yang cukup untuk merespon dan menyikapi dengan tepat emosi yang dirasakan, lingkungan sekitarnya selalu mendorongnya untuk menutupi emosi-emosi yang dinilai sebagai \u201demosi negatif\u201d.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Resapi emosi yang kamu rasakan perlahan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Emosi itu bisa diibaratkan dengan batu baterai yang tidak akan bisa menyala kalau tidak ada sisi negatif dan positif, hidup manusia pun sama, emosi negatif dan positif itu setara, hanya saja jangan terlalu larut dalam emosi yang membuatmu tidak nyaman. Jadi, nikmati dan resapi semua emosi agar hidup tetap seimbang.<\/p>\n<p>Dalam menjalani kehidupan ini setiap manusia akan menghadapi berbagai keadaan, sebagai manusia kita tidak harus selalu dalam kondisi yang bahagia karena segala emosi yang kita rasa berhak untuk dipahami dan dirangkul bersama.<\/p>\n<p>Penulis: <strong>Intan Sya\u2019ban Rina, Universitas Syiah Kuala<\/strong><\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>https:\/\/www.ipsos.com\/en-id\/global-happiness-indonesia-2024<\/p>\n<div class=\"jeg_video_container jeg_video_content\"><iframe loading=\"lazy\" title=\"4 Alasan Kita Jadi Toxic Positivity\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/XKbhQaZWdJE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/div>\n<p>https:\/\/www.cnnindonesia.com\/gaya-hidup\/20211210115136-260-732396\/mengenal-apa-itu-toxic-positivity-dan-cara-menghadapinya\/1<\/p>\n<p>Putra, R. P., Ramadhanti, A., Rahajeng, A. S., Fadil, A., &amp; Salsyabila, N. (2023). Toxic Positivity in Adolescents: An Attitude of Always Being Positive in Every Situation. Journal of Psychology and Instruction, 7(1), 11-21. https:\/\/doi.org\/10.23887\/jopai.v7i1.60616<\/p>\n<p>https:\/\/www.alodokter.com\/mengenal-lebih-jauh-tentang-toxic-positivity<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Toxic positivity adalah fenomena yang kerap terdengar dalam kehidupan masyarakat modern. Mengutip berdasarkan hasil survei Ipsos Global 2024, 82% masyarakat Indonesia merasa bahagia, dan menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga dalam kebahagiaan global.\u00a0Survei ini mengukur tingkat kebahagiaan seseorang melalui berbagai faktor seperti hubungan dengan keluarga, hubungan dengan teman, kesejahteraan, keuangan, kondisi politik, dan kondisi ekonomi. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18155,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-18154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18154"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18154\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18155"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}