{"id":18130,"date":"2025-03-04T13:19:56","date_gmt":"2025-03-04T05:19:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=18130"},"modified":"2025-03-04T13:19:56","modified_gmt":"2025-03-04T05:19:56","slug":"ayo-kenali-apa-itu-duck-syndrome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ayo-kenali-apa-itu-duck-syndrome\/18130\/","title":{"rendered":"Ayo Kenali Apa Itu Duck Syndrome"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_18131\" aria-describedby=\"caption-attachment-18131\" style=\"width: 504px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"504\" height=\"283\" class=\"size-full wp-image-18131\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar1-1.jpg 504w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar1-1-300x168.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 504px) 100vw, 504px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-18131\" class=\"wp-caption-text\">Sumber Foto: Freepix<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kalian pasti pernah ngerasa hidup teman kamu itu yang setiap saat mulus tanpa tekongan ataupun jalan berlubang kan? Nilai selalu bagus, bisa masuk sekolah ataupun kampus terkenal, ikut lomba selalu menang, selalu mulus deh intinya. Pasti kita nih pernah ngebatin dalam hati \u201ckok bisa ya hidupnya mulus terus, pasti nggak pernah susah ni hiudpnya?\u201d<\/p>\n<p>Ternyata teman-teman kita aja yang nggak tahu perjalanan hidupnya. Mungkin dibalik hal-hal yang kita lihat, banyak hal juga yang harus dikorbanin tapi kita aja yang nggak tahu, soalnya mau dikira kelihatan baik-baik aja, namun ternyata teman-teman kondisi ini disebut dengan duck syndrome atau Stanford duck syndrome.<\/p>\n<p>Istilah \u201cduck syndrome\u201d diperkirakan diciptakan oleh Universitas Stanford, yang terkadang disebut Stanford duck syndrome. Istilah ini untuk mengacu kepada keadaan mahasiswa atau anak muda yang dianalogikan sebagai bebek yang terlihat tenang diatas permukaan air, akan tetapi kakinya berusaha keras untuk mengayuh agar tetap mengapung di atas permukaan air.<\/p>\n<p>Duck syndrome bisa disebabkan oleh banyak hal, dari pola asuh keluarga yang terlalu protektif, atau keluarga yang menekankan harapan dan prestasi. Namun duck syndrome ini tidak secara resmi disebut sebagai gangguan psikologis atau penyakit mental, tapi berisiko untuk mengalami masalah psikologi seperti, depresi, anxiety, atau penyakit psikologis lainnya.<\/p>\n<p>Ternyata yang mengalami duck syndrome juga tidak boleh dibiarkan atau disepelekan begitu aja teman-teman, karena bisa membuat penderitanya berkeinginan bunuh diri, serem banget nggak si? Hal yang paling benar, betul, baik dan bagusnya kita langsung berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog agar mendapatkan penilaian kondisi mental yang akurat.<\/p>\n<p>Cara mengatasi duck syndrome:<\/p>\n<p>1.\tBelajar bahwa tidak satu hal pun yang sempurna di dunia ini, dengan kita menanamkan konsep ini kita bakal lebih ngerti keadaan yang kita jalanin teman-teman,<br \/>\n2.\tJangan biarkan diri sendiri membandingkan diri dengan orang lain, aduh hal ini bisa bikin mental kita makin down,dan<br \/>\n3.\tMengenali kapasitas diri, dengan kita mengetahui kapasitas diri sendiri bikin kita nggak maksain hal-hal yang diluar batasan kemampuan diri kita teman-teman.<\/p>\n<p>Manusia memiliki jalan dan kemampuan nya masing-masing, jadi jangan paksakan diri sendiri untuk menjadi orang lain, karena kita sendiri nggak tahu apa yang telah dilakukan, dilewati dan dikorbankan untuk mencapai titik yang ditunjukkan ke dunia teman-teman, tetaplah percaya akan diri sendiri dan jangan pernah menyerah untuk tantangan yang datang karena, hal itu yang membuat diri sendiri berkembang dan menjadi semakin baik.<\/p>\n<p>Penulis: Nasywa Poetri Muchiva, Universitas Syiah Kuala<br \/>\nREFERENSI:<br \/>\nShabrina Alfari. (2024) Apa Itu Duck Syndrome? Terlihat Bahagia tapi Sebenarnya Tertekan. Tersedia di: https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/duck-syndrome<br \/>\ndr. Kevin Adrian. (2024) Duck Syndrome, Gangguan Psikologis yang Banyak Dialami Orang Dewasa Muda. Tersedia di: https:\/\/www.alodokter.com\/duck-syndrome-gangguan-psikologis-yang-banyak-dialami-orang-dewasa-muda<br \/>\nCalvin Chandra. (2024) Pernah Dengar Soal Duck Syndrome. Tersedia di: https:\/\/www.instagram.com\/share\/p\/BATUbr2rpu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Kalian pasti pernah ngerasa hidup teman kamu itu yang setiap saat mulus tanpa tekongan ataupun jalan berlubang kan? Nilai selalu bagus, bisa masuk sekolah ataupun kampus terkenal, ikut lomba selalu menang, selalu mulus deh intinya. Pasti kita nih pernah ngebatin dalam hati \u201ckok bisa ya hidupnya mulus terus, pasti nggak pernah susah ni [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18131,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-18130","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18130","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18130"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18130\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}