{"id":17839,"date":"2024-12-26T21:50:14","date_gmt":"2024-12-26T13:50:14","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=17839"},"modified":"2024-12-26T21:50:14","modified_gmt":"2024-12-26T13:50:14","slug":"mengenai-lgbt-dalam-meningkatkan-kesadaran-sosial-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengenai-lgbt-dalam-meningkatkan-kesadaran-sosial-di-indonesia\/17839\/","title":{"rendered":"Mengenai LGBT dalam Meningkatkan Kesadaran sosial di indonesia"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_17840\" aria-describedby=\"caption-attachment-17840\" style=\"width: 950px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-17840\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1.png\" alt=\"\" width=\"950\" height=\"680\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1.png 950w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1-300x215.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1-768x550.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1-120x86.png 120w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1-350x250.png 350w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/12\/Gambar1-1-750x537.png 750w\" sizes=\"(max-width: 950px) 100vw, 950px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-17840\" class=\"wp-caption-text\">https:\/\/images.app.goo.gl\/Lq9ofUfWA1xTzWyE6<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Bening Nurany<br \/>\n1152300179<br \/>\nKomunikasi massa (D)<br \/>\nUNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di kalangan sekarang ini, siapa yang tidak tau apa itu LGBT. LGBT ini sendiri merupakan singkatan dari (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) Banyak sekali yang menyatakan bahwa LGBT ini merupakan mental disorder. Pada awalnya komunitas orang-orang LGBT mendapatkan cacian dari banyaknya orang bahkan ada yang menganggapnya orang gila, di keluarkan dari tempat kerja, bahkan sampai teman teman atau keluarganya menghindar tetapi dengan berjalan- nya waktu ini sekarang malah banyaknya kalangan remeja yang menormalisasikan mengenai LGBT ini. Terkadang beberapa orang (dominan remaja) membuat kelompok yang memiliki orientasi seksual atau identitas gender yang berbeda dari norma sosial tradisonal. Mengenai LGBT ini, sebenarnya di beberapa negara sudah ada dan di resmi kan atau di perbolehkan menyukai sesama jenis tetapi di Indonesia masih menjadi simpang siur apalagi dalam Agama. Semua agama menentang hubungan sesama jenis dan Indonesia juga menjadi salah satu negara yang religious. Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender ini memiliki arti masing masing, yaitu ;<\/p>\n<p>1. Lesbian : Yang pertama ada lesbian, lesbian ini sekelompok Wanita yang memiliki rasa ketertarikan, emosional, perasaan dengan wanita lain, singkatnya yaitu (Girl love girls).<\/p>\n<p>2. \u2060Gay : Yang kedua ada Gay, Gay ini sekelompok pria penyuka secara fisik atau emosional dengan pria lain atau bisa di sebut dengan (Homosexual).<\/p>\n<p>3. \u2060Bisexual: Yang ketiga ada Bisexual, Bisexual ini lebih sering di dengar sebagai BISEX. bisex ini kelompok orang (He\/she) penyuka sesama jenis juga tetapi masih bisa tertarik kepada lawan jenis makannya di sebut Bisex, tetapi balik lagi lebih dominan Pria tertarik dengan pria dan sebaliknya Wanita juga tertarik dengan Wanita.<\/p>\n<p>4. \u2060Transgender : Terakhir ada Transgender, Transgender ini merupakan sekelompok orang yang mengubah gender nya menjadi yang ia inginkan contohnya seperti, Kita terlahir menjadi Wanita tetapi ingin menjadi Pria akhirnya dia mengubah Dirinya menjadi pria. Bisa melalui operasi kelamin atau lain lain nya.<\/p>\n<p>Ketika salah satu influencers yang mungkin sudah memiliki nama bahkan dia tidak malu untuk mengakui bahwa dirinya adalah Lesbian atau Gay, Bisex bahkan transgender (LGBT) karena mereka mengira bahwa orientasi seksual ini sudah di maklumi oleh beberapa Masyarakat di Indonesia, contohnya Ketika saya melihat salah satu konten di salah satu aplikasi, ada salah satu public figure yang mengakui bahwa dirinya adalah bagian dari LGBT dan Ketika saya membaca komentar nya ada yang berkomentar \u201cyeay, I\u2019m not alone\u201d dan bahkan ada yang berkomentar \u201cfinally, welcome girl\u201d dan banyak lagi. Ada lagi yang membuat konten Gay (pria tertarik dengan pria lain) dan isi komentarnya \u201cATEE GIRL\u201d atau \u201cWah siapa ni dom nya\u201d dan banyak lagi. Balik lagi LGBT juga mempunyai kesamaan seperti homosexual, yaitu orang yang cenderung mengutamakan orang yang berjenis kelamin sama sebagai mitra seksual disebut homosexual, lebih singkatnya (penyuka sesama jenis). LGBT atau Homosexual juga mempunyai beberapa kosakata di dalamnya, Yaitu :<\/p>\n<p>1. Dominant atau yang lebih sering di dengar dengan \u201cdom\u201d, sebutan itu biasanya di artikan sebagai pemimpin dalam suatu hubungan (LGBT) contohnya seperti dalam hubungan heteroseksual yang menjadi lelaki itu yang mempunyai tanggung jawab yang besar atau yang lebih bisa unggul mengatur suatu hubungan.<\/p>\n<p>2. Feminim atau yang lebih sering di dengar juga dengan \u201cfeme\u201d, sebutan ini biasanya tertuju pada kesetaraan gender yang mempunyai sisi kelembutan atau yang bisa kita ambil dari contoh hubungan heteroseksual yang menjadi perempuannya.<\/p>\n<p>3. Switch, untuk switch ini di maksud dengan mengubah jenis kelaminnya atau sifat dari kelaminnya contohnya Perempuan bisa berperilaku atau bisa bersifat seperti lelaki.<br \/>\nBeberapa kata di atas itu yang sering kali di dengar Ketika kita mengikuti atau mencari tau mengenai LGBT ini. Terkadang beberapa orang yang memilih memasuki komunitas LGBT ini mempunyai cerita atau masalalu yang berbeda beda, kita ambil sedikit contoh seperti trauma masalalu, trauma masalalu kepada lawan jenis ini bisa menjadi salah satu alasan beberapa orang lebih suka menjadi komunitas Lgbt (tetapi tidak semua yang mempunyai trauma masalalu kepada lawan jenis akan berujung bergabung dalam komunitas LGBT, BIG NO ga semua tetapi beberapa).<\/p>\n<p>Kehadiran lesbian, gay, bisex, dan transgender (LGBT) telah nenjadi isu yang banyak diperbincangkan di tengah masyarakat Indonesia dengan maraknya promosi atau iklan kaum LGBT di media sosial seperti influencers yang mungkin menggunakan ketenaran nya melalui konten LGBT sehingga membuat beberapa masyarakat indonesia merasa bahwa ini sudah tidak benar. Mungkin banyak orang tua yang khawatir akan tontonan anaknya Ketika tidak di awasi oleh orang tuanya, karena bisa saja dengan kita menonton konten berhubungan dengan LGBT kita menjadi tertarik untuk mulai mencari tau bahkan takutnya sampai mulai join kedalam komunitas LGBT ini tetapi, Orientasi seksual yang menyimpang masih menjadi tabu di kalangan masyarakat indonesia, masyarakat indonesia masih lebih memilih memegang teguh ajaran moral, agama dan etika sehingga penyimpangan seksual tidak bisa di terima begitu saja. Orientasi seksual ini merupakan kecenderungan seseorang untuk mengarahkan rasa ketertarikan, romantisme, emosional, dan seksualnya kepada pria, wanita, atau kombinasi keduanya (Sesama jenis) Dari banyaknya pengikut komunitas lgbt Jelas homosexual atau LGBT mempunyai banyak sekali pandangan buruk atau lebih tepatnya yang tidak mendukung adanya LGBT atau HOMOSEXUAL bisa di sebut dengan HOMOPHOBIC.<\/p>\n<p>Homophobic ini adalah sebutan seseorang yang membenci atau takut akan adanya orientasi seksual yang menyimpang, biasanya banyak di temui di negara indonesia ini. Banyak sekali homophobic, bahkan terkadang homophobic juga menjadi sasaran lembut untuk sekelompok LGBT karena ada nya homophobic bisa membuat sekelompok LGBT ini merasa diri mereka di asingkan atau singkatnya seperti di kucilkan. Sebenernya menjadi LGBT atau tidaknya kita itu sesuai pilihan tetapi bukan kah kita juga harus menetapkan dimana kita berada. Beberapa negara seperti contohnya Negara Amerika sangat fokus terhadap isu mengenai LGBT, karena menurut mereka dengan tidak adanya diskriminasi dan kriminalisasi terhadap orang-orang LGBT, maka kehidupan LGBT akan berjalan sama \u2018normalnya\u2019 dengan orang-orang heteroseksual. Jadi di sebagian negara sudah menormalisasikan adanya LGBT atau orientasi seksual yang menyimpang ini.<\/p>\n<p>Kehadiran media massa mengenai LGBT ini sangat amat berpengaruh, tetapi media massa juga menimbulkan positif dan negative. Pertama, Kita ambil positive nya bisa menjadi kesadaran untuk para Homophoboic mungkin bisa melihat dan siapa tau akan menerima ada nya kaum LGBT atau sebaliknya siapa tau kaum LGBT juga tersadar bahwa hubungan mereka itu terlarang dan tidak boleh di lanjutkan. Sebaliknya mengenai negative media massa, yang pertama ada penguatan prasangka, media yang menampilkan hal negative mengenai LGBT ini akan mendapat kan hujatan dari beberapa komunitas tetapi jika yang melihatnya HOMOPHOBIC akan lebih mendukung media yang meng up tentang kasus edukasi LGBT karena mereka tidak mau dan mungkin memang tidak bisa mendukung ada nya komunitas LGBT tersebut. Media massa juga memiliki kekuatan besar untuk menggiring opini atau berasumsi.<\/p>\n<p>Untuk menjaga agar sekitar kita tetap tertib (heteroseksual), kita harus lebih waspada kepada lingkungan kita dan sekeliling kita. LGBT bukanlah penyakit atau semacamnya, tetapi LGBT bisa membuat komunikasi kita terhadap keluarga, teman atau bahkan sekitar kita memburuk karena tidak semua orang bisa menerima ada nya hubungan sesama jenis dan Tidak semua orang bisa mengerti apa yang di rasakan oleh komunitas LGBT. Karena banyak juga kasus yang di luar dugaan seperti Ketika salah satu kaum LGBT mengakui bahwa dirinya memiliki orientasi seksual yang menyimpang ternyata teman teman nya malah memilih mejauhi dirinya, terkadang kita juga harus memilih berteman dengan siapapun tetapi menurut saya selagi dia fine kenapa kita harus memilih, tetapi balik lagi ke awal karena tidak semua orang bisa menerima bahwa lingkungannya ada yang menjadi kaum LGBT ini. Dan balik lagi juga bahwa Keberadaan kaum homosexual di Indonesia masih menjadi kontroversi di negara yang mayoritas muslim serta menjunjung nilai moral yang tinggi.<\/p>\n<p>Kesimpulan dari semuanya, kita hidup bersama sama dan alangkah baiknya kita saling menghargai ntah itu dari dia seperti apa atau seperti ini lah itu lah jadi sebisa mungkin don&#8217;t be judge kalo memang mereka tidak mengganggu kalian. Saya tidak menormalkan atau apa, tetapi terkadang kaum LGBT sudah dipastikan banyak mendapat cacian jikalau tinggal di indonesia karena memang di indonesia belum ada atau masih tidak di resmikan dan kayaknya sampai kapanpun juga tidak akan di resmikan orientasi seksual yang menyimpang ini. Semua orang berhak memilih pilihannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Bening Nurany 1152300179 Komunikasi massa (D) UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA JurnalPost.com &#8211; Di kalangan sekarang ini, siapa yang tidak tau apa itu LGBT. LGBT ini sendiri merupakan singkatan dari (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) Banyak sekali yang menyatakan bahwa LGBT ini merupakan mental disorder. Pada awalnya komunitas orang-orang LGBT mendapatkan cacian dari banyaknya orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17840,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-17839","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17839","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17839"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17839\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17840"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17839"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17839"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17839"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}