{"id":17462,"date":"2024-11-08T09:04:19","date_gmt":"2024-11-08T01:04:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=17462"},"modified":"2024-11-08T09:04:19","modified_gmt":"2024-11-08T01:04:19","slug":"representasi-budaya-patriarki-pada-film-the-substance","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/representasi-budaya-patriarki-pada-film-the-substance\/17462\/","title":{"rendered":"Representasi Budaya Patriarki pada film &#8220;The Substance&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-17463\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/The-Substance.webp\" alt=\"\" width=\"201\" height=\"251\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Dunia tidak pernah lepas dengan eratnya budaya Patriarki (Nurlimah, 2012). hal tersebut dapat dilihat melalui tayangan sebuah film berjudul \u201cThe Substance\u201d di sutradarai oleh Coralie Fargeat, dan di bintangi oleh aktris cantik ternama yaitu Margare Qually. Film \u201cThe Substance\u201d mengangkat tema mendalam yang mengkritik budaya patriarki, menggambarkan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat yang masih kuat memegang nilai-nilai patriarkal. Sukses menembus 43 ribu penonton saat pertamakali rilis pada September 2024 karena dianggap sangat kuat dengan Langgengnya Budaya Patriarki yang menimpa perempuan. Oleh sebab itu film ini memiliki Tagline \u201cGirls will be girls\u201d<\/p>\n<p>Mengisahkan seorang artis senior bernama Elizabeth yang berada di penghujung karirnya karena telah memasuki usia 50 tahun dimana fisiknya sudah mulai berubah. Namun pekerjaan menjadi seorang artis dan model iklan menuntunya untuk terus terlihat sempurna melalui simbol yang ditampilkan pada film yakni paras cantik, bertubuh langsing, dan memiliki jiwa lincah. Karena faktor usia dan fisik inilah yang menyebabkan Elizabeth melakukan berbagai tindakan yang tidak masuk akal agar Karirnya tidak berhenti sampai disitu yaitu dengan menyuntikan vaksin \u201csubstance\u201d yang dapat merubah fisiknya kembali muda. Namun efek samping yang di timbulkan oleh vaksin tersebut berbahaya hingga dapat merubah dirinya menjadi monster selamanya.<\/p>\n<p>Fenomena ini pernah diteliti pada tahun 2019 oleh Diana Anita ia menyebutkan jika Patriarki membuat perempuan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Dari tayangan film \u201cthe substance\u201d mengisyaratkan jika bertambahnya usia perempuan dapat merubah penampilan hingga fisik yang menyebabkan ia kehilangan pekerjaan. Terdapat beberapa makna penting dari film \u201cthe substance\u201d yaitu:<\/p>\n<p>1. <strong>Kritik terhadap Standar Sosial Patriarki <\/strong><br \/>\nTayangan Film \u201cThe Substance\u201d refleksi jika perempuan harus berjuang melawan standar sosial yang masih terjadi hingga saat ini. Mengeksplorasi tekanan sosial yang berdampak pada psikolgis perempuan.<\/p>\n<p>2. <strong>Hilangnya Identitas diri <\/strong><br \/>\nMenyoroti diri perempuan yang harus terus menerus menyesuaikan dengan harapan standar masyarakat sehingga perempuan kehilangan jati diri untuk menjadi dirinya sendiri.<\/p>\n<p>3. R<strong>epresentasi Peran Gender dinilai kaku<\/strong><br \/>\nFilm \u201cThe Substance\u201d memperlihatkan perempuan yang terjebak dalam peran gender tradisonal sehingga perempuan tidak dapat berkembang.<\/p>\n<p>4. <strong>Efek Sosial dan Psikologis dari Patriarki<\/strong><br \/>\nFilm ini memperlihatkan bagaimana kontrol patriarki dapat mempengaruhi psikologis perempuan. Ia akan menjadi obsess untuk merubah dirinya dengan cara yang tidak masuk akal hanya untuk memenuhi standar masyarakat.<\/p>\n<p>5. <strong>Pemberontakan <\/strong><br \/>\ndalam film \u201cthe substance\u201d, terdapat emosi dan transformasi karakter perempuan yang berusaha untuk melawan kendali patriarki yang menerjang kehidupan mereka. Ini menjadi simbol perlawanan terhadap struktur sosial yang tidak adil.<\/p>\n<p><strong>Tentang Penulis<\/strong><br \/>\n<strong>Mutiara Ajeng Pramesti<\/strong>, Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2021. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, yang sedang menempuh Mata Kuliah Komunikasi &amp; Gender, oleh bimbingan Dr. Merry Fridha Tri Palupi, M.Si.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Dunia tidak pernah lepas dengan eratnya budaya Patriarki (Nurlimah, 2012). hal tersebut dapat dilihat melalui tayangan sebuah film berjudul \u201cThe Substance\u201d di sutradarai oleh Coralie Fargeat, dan di bintangi oleh aktris cantik ternama yaitu Margare Qually. Film \u201cThe Substance\u201d mengangkat tema mendalam yang mengkritik budaya patriarki, menggambarkan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17463,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-17462","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17462","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17462"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17462\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17463"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17462"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17462"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17462"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}