{"id":17432,"date":"2024-11-04T23:54:21","date_gmt":"2024-11-04T15:54:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=17432"},"modified":"2024-11-04T23:54:21","modified_gmt":"2024-11-04T15:54:21","slug":"es-teh-jumbo-resiko-diabetes-di-bawah-terik-panas-matahari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/es-teh-jumbo-resiko-diabetes-di-bawah-terik-panas-matahari\/17432\/","title":{"rendered":"Es Teh Jumbo: Resiko Diabetes di bawah Terik Panas Matahari"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"338\" height=\"190\" class=\"aligncenter size-full wp-image-17434\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Gambar1-1.jpg 338w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Gambar1-1-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 338px) 100vw, 338px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Cuaca panas yang saat ini kerap kali masih melanda hampir seluruh daratan di Indonesia memicu peningkatan terhadap konsumsi minuman dingin dan manis. Bagaimana tidak, memang sudah sewajarnya karena tenggorokan yang kering akan terasa begitu segar ketika bersentuhan dengan sesuatu yang dingin. Tak ayal lagi, terik panas matahari berhasil membuat banyak orang dari berbagai kalangan usia mencari sesuatu yang murah serta mudah didapatkan untuk menghilangkan dahaga di tengah ganasnya api sang surya. Masalah ini akhirnya terjawab sudah, es teh jumbo yang murah meriah hadir menjadi solusi yang mampu meredakan sinar panas terik matahari. <\/p>\n<p>Memasuki penghujung tahun, namun cuaca tak menunjukkan perubahannya. Semakin ditunggu justru tak kunjung datang. Telah banyak beredar di berbagai kabar berita, BMKG menuturkan bahwa cuaca panas yang melanda sebagaian besar daerah di Indonesia ini masih akan berlangsung cukup lama. Tak sedikit masyarakat yang mengeluhkan terkait hal ini, namun apalah daya entah bagaimana simpang siur terkait penyebabnya. Mulai dari emisi gas karbon, pemanasan global, efek rumah kaca, sampai pencemaran udara dari gas karbon monoksida. <\/p>\n<p>Tingginya suhu saat ini, menjadi ladang untuk mencari nafkah bagi sebagian orang. Mulai dari pedagang es teh yang viral, sampai produk kipas elektronik yang mudah digenggam. Berbicara tentang es teh, pada dasarnya masyarakat kita memang suka meminum teh dna sudah menjadi kebiasaan sejak zaman dahulu. Di tengah cuaca panas, tentu tidak menghalangi kita untuk tetap minum teh yang justru terasa lebih nikmat jika disajikan dalam keadaan dingin. Didasari oleh hal tersebut, para penjual minuman mulai menambah menu baru dalam varian jualan mereka. Bahkan tak jarang penjual baru yang mulai menjamur dikarenakan minat konsumen yang begitu tinggi terhadap es teh. <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/Gambar2.jpg\" alt=\"\" width=\"254\" height=\"154\" class=\"aligncenter size-full wp-image-17433\" \/><br \/>\n\u2003<br \/>\nPada kondisi perekonomian seperti saat ini, es teh jumbo muncul dengan harga miring yang sangat terjangkau. Dengan harga itu, penjual es teh jumbo ini berhasil menarik minat dari beragam segmen pasar. Bisa kita lihat sendiri maraknya penjual es teh yang dapat ditemui dengan mudahnya. Namun, seperti yang telah kita semua ketahui bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Maka dari itu, muncul dua hal yang berkaitan dan saling berhubungan antara keduanya. Cuaca panas dan minuman dingin adalah komponen yang paling sering menyebabkan penyakit demam dan berbagai gejala penyakit kecil lainnya seperti flu dan batuk. Hal inilah yang banyak dikhawatrikan oleh beberapa orang yang masih peduli. <\/p>\n<p>Kabar burung lainnya juga banyak beredar dimana-mana bahwa oknum nakal dari penjual es teh jumbo ini dengan sengaja menggunakan pemanis buatan dalam campuran gulanya atau bahan jelek lainnya yang diduga sebagai sisa biang dari teh yang tidak laku dari penjualan kemarin. Namun, apapun fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan bersifat subjektif tergantung sudut pandang masing-masing individu. Tentu itu hanyalah oknum dan tidak semua penjual seperti itu. Akan tetapi benar adanya bahwa konsumsi gula yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, contoh diabetes. <\/p>\n<p>Oleh karena itu, untuk menghindari kasus-kasus penyakit berat seperti ini yang semoga saja tidak melanda kita semua di usia muda maupun renta, diharapkan untuk lebih selektif lagi dalam memilih apa yang akan masuk dan diserap oleh tubuh kita. Resiko terpapar penyakit diabetes, kini tidak hanya menjadi kekhawatiran lansia namun juga harus menjadi perhatian sejak masih belia. Perhatikan sekeliling kita dan mulailah untuk peduli dengan meminum lebih banyak air putih serta istirahat yang cukup. <\/p>\n<p>Penulis: <strong>Lila Aminullah<br \/>\nMahasiswa S1 jurusan Ilmu Komunikasi<br \/>\nUniversitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya <\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Cuaca panas yang saat ini kerap kali masih melanda hampir seluruh daratan di Indonesia memicu peningkatan terhadap konsumsi minuman dingin dan manis. Bagaimana tidak, memang sudah sewajarnya karena tenggorokan yang kering akan terasa begitu segar ketika bersentuhan dengan sesuatu yang dingin. Tak ayal lagi, terik panas matahari berhasil membuat banyak orang dari berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17434,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-17432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17432"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17432\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}