{"id":16987,"date":"2024-09-22T17:24:45","date_gmt":"2024-09-22T09:24:45","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=16987"},"modified":"2024-09-22T20:40:11","modified_gmt":"2024-09-22T12:40:11","slug":"malapetaka-radikalisme-terhadap-perempuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/malapetaka-radikalisme-terhadap-perempuan\/16987\/","title":{"rendered":"Malapetaka Radikalisme terhadap Perempuan"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong> Andrew Hernandez<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Menurut para Ahli, Pengertian Radikalisme adalah suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan \/ ekstrim. Secara umum pemahamannya menggunakan kekerasan dalam menyikapi perbedaan, Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan  dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.<\/p>\n<p>Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal dapat melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror pihak yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, pada dasarnya radikalisme adalah masalah politik dan bukan ajaran agama.<\/p>\n<p>Radikalisme telah berkembang dalam isu global. Isu ini juga dikaitkan secara stigmatik dengan Islam. Disadari ataupun tidak, isu radikalisme, sesungguhnya bermula dari ekplorasi ekstrem atas \u2018maskulinitas\u2019 agama. Maskulinitas tersebut diekspresikan dalam wujud keberagamaan yang kolot, keras, memaksa, dan intoleran.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, aksi-aksi radikalisme yang selama ini meledak-ledak, mayoritas pelakunya adalah laki-laki. Bisa dilihat dalam aksi-aksi radikalisme dan terorisme yang semakin menciptakan arus baru dalam keberagamaan. Radikalisme merupakan cara beragama dari nalar laki-laki dan untuk kepentingan laki-laki.<br \/>\nLalu di mana posisi perempuan?<\/p>\n<p>Dunia radikalisme begitu kejam terhadap perempuan. Perempuan seakan-akan menjadi makhluk yang tidak berdaya, dianggap rendah . Arus radikalisme telah menciptakan manusia radikal dan menempatkan perempuan semata-mata sebagai obyek.<\/p>\n<p>Hal tersebut sesuai dengan apa yang dialami oleh Haideh Moghissi, perempuan tertindas yang hidup di negara Islam (Iran) dan disingkirkan menjadi cermin benderang bagaimana agama (Islam) diperlakukan kaum laki-laki agar tetap dapat mengontrol, mengawasi, dan menguasai kaum perempuan.<\/p>\n<p>Sebagaimana gugatan yang telah ia pahat kuat dalam karyanya  \u201cFeminisme dan Fundamentalisme Islam\u201d, \u201cSelama berabad-abad lamanya, seksualitas dan tingkah laku perempuan menarik perhatian laki-laki (Muslim); Kepentingan-kepentingan dan tulisan-tulisan dari laki-laki telah membatasi kehidupan perempuan dan partisipasi penuh mereka dari urusan-urusan public.<br \/>\nMusdah Mulia, seorang feminis dan pengajar di UIN Syarif Hidayatullah, juga memandang bahwa radikalisme telah membawa kriminalisasi dan viktimisasi terhadap perempuan. Contoh yang nyata adalah tindakan pencucian otak terhadap perempuan untuk bersedia bergabung dalam gerakan radikalisme.<\/p>\n<p>Ada iming-iming surga dan neraka yang ditawarkan kepada perempuan untuk menjadi bagian dari radikalisme. Bahkan, rayuan diberi kemewahan berlimpah-ruah pun diberikan sebagai bujuk rayu. Celakanya bila perempuan dibujuk untuk dipinang oleh laki-laki yang memiliki gelar tertentu, seperti ustazd, gus, kyai atau syekh, maka hal itu dianggap sebagai penghormatan.<br \/>\nSeorang sejarawan, Bonnie Triyana, mengatakan bahwa bila adanya terorisme di Indonesia awalnya terjadi karena upaya perebutan kekuasaan antara laki-laki, namun harus diakui pada akhirnya perempuanlah yang menjadi korban.<\/p>\n<p>Kurangnya posisi tawar yang dimiliki perempuan, telah menjadi fakor yang menempatkan perempuan dalam posisi rentan dan menjadi korban gerakan radikalisme. Dampak nyata terlihat dari kasus kekerasan yang dialami perempuan telah memburuk selama konflik dan krisis kemanusiaan.<\/p>\n<p>Konsekuensi dramatisnya berimbas pada kesehatan fisik dan mental para perempuan yang menjadi korban. Dan ini membuktikan bahwa gerakan ini benar-benar menjadi malapetaka bagi perempuan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Andrew Hernandez JurnalPost.com &#8211; Menurut para Ahli, Pengertian Radikalisme adalah suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan \/ ekstrim. Secara umum pemahamannya menggunakan kekerasan dalam menyikapi perbedaan, Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16981,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-16987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16987"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16987\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}