{"id":16431,"date":"2024-07-16T21:39:11","date_gmt":"2024-07-16T13:39:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=16431"},"modified":"2024-07-16T21:39:54","modified_gmt":"2024-07-16T13:39:54","slug":"ycg-ajak-guru-tingkatkan-pembelajaran-sosial-dan-emosional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ycg-ajak-guru-tingkatkan-pembelajaran-sosial-dan-emosional\/16431\/","title":{"rendered":"YCG Ajak Guru Tingkatkan Pembelajaran Sosial dan Emosional"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_16432\" aria-describedby=\"caption-attachment-16432\" style=\"width: 727px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/YCG-Ajak-Guru.webp\" alt=\"YCG Ajak Guru\" width=\"727\" height=\"413\" class=\"size-full wp-image-16432\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/YCG-Ajak-Guru.webp 727w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/YCG-Ajak-Guru-300x170.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 727px) 100vw, 727px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-16432\" class=\"wp-caption-text\">Tangkapan layar Diskusi dan Refleksi Guru \u201cPembelajaran Sosial dan Emosional, Mengapa Penting?\u201d yang dilaksanakan Yayasan Cahaya Guru, Jumat 31 Mei 2024. Sumber: Dok. Yayasan Cahaya Guru<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Seorang murid SMP di Tebet, Jakarta Selatan, melompat dari lantai 3 gedung sekolahnya pada Minggu, 26 Mei 2024. Kejadian ini menambah daftar kasus kekerasan di sekolah.  Yayasan Cahaya Guru (YCG) mencatat 44 kasus dari Januari hingga Mei 2024. Penyebabnya, antara lain murid merasa diabaikan oleh teman-temannya. Ketidakmampuan murid dalam mengelola emosi dan hubungan sosial menyebabkan mereka memilih untuk melukai diri atau orang lain. <\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru, Muhammad Mukhlisin, mengatakan bahwa guru harus mendampingi murid tidak hanya dalam akademik, tetapi juga dalam keterampilan sosial dan emosional.<\/p>\n<p>\u201cBelakangan kita melihat aksi-aksi kekerasan, perundungan, dan percobaan bunuh diri terjadi di lingkungan sekolah. Murid-murid dan guru penting sekali mengenali ragam emosi dan bagaimana mengelola emosi tersebut dengan tepat. Hal penting juga adalah bagaimana membuat hubungan yang harmonis dengan orang lain.\u201d ucap Mukhlisin. <\/p>\n<p>Psikolog Myra Diarsi dari Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah DKI Jakarta Raya (Himpsi Jaya) menyebut sistem pendidikan yang membatasi kreativitas dan menekan murid untuk tidak membuat kesalahan sebagai faktor yang mempengaruhi emosi remaja. <\/p>\n<p>\u201dKekeliruan sistem pendidikan ini masih menghidupi feodalisme sampai sekarang. Seharusnya tidak ada lagi sindrom hierarki antara guru dan murid. Antara murid dan guru itu sekarang masih tidak boleh tanya apalagi kritik, ini yang harus ditanggalkan,\u201d kata Mrya.<\/p>\n<p>Menurut Myra, relasi antara guru dan murid harus dua arah dan tidak hanya teknis. Guru harus mendengar dan membangun komunikasi interpersonal untuk mengelola emosi dan menerima perbedaan. <\/p>\n<p>\u201dSeringkali relasi guru dan murid ini tereduksi menjadi relasi teknis hanya sepanjang bahan ajar sudah disampaikan guru dan peserta didik sudah mencatat. Namun, apakah dia (murid) terlibat di situ? ini yang tidak diperhatikan guru,\u201d kata Myra.<\/p>\n<p>Pemerhati pendidikan Shahnaz Haque menekankan pentingnya guru dan orang tua membangun relasi yang setara di rumah dan menularkannya ke lingkungan sekolah. <\/p>\n<p>\u201dKetika kita bisa menyelesaikan masalah dengan pasangan atau anak, maka ketika berhadapan dengan manusia-manusia di sekolah, kita sudah terlatih menghadapi perbedaan,\u201d kata Shahnaz.<\/p>\n<p>Namun, guru di Indonesia menghadapi beban kerja berat dan kesejahteraan rendah. Riset Education Week menunjukkan guru membuat sekitar 1.500 keputusan per hari. Hal ini  menyebabkan kelelahan. Sementara itu, Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) mengungkapkan 74 persen guru berpenghasilan di bawah Rp 2 juta. <\/p>\n<p>Seorang Guru PAUD, Nuning Rahmawati, menyebut beban kerja guru sangat besar tanpa penghargaan yang memadai secara nominal atau gaji. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Seorang murid SMP di Tebet, Jakarta Selatan, melompat dari lantai 3 gedung sekolahnya pada Minggu, 26 Mei 2024. Kejadian ini menambah daftar kasus kekerasan di sekolah. Yayasan Cahaya Guru (YCG) mencatat 44 kasus dari Januari hingga Mei 2024. Penyebabnya, antara lain murid merasa diabaikan oleh teman-temannya. Ketidakmampuan murid dalam mengelola emosi dan hubungan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16432,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"7","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"0","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-16431","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16431","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16431"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16431\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16432"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16431"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16431"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16431"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}