{"id":16155,"date":"2024-07-09T19:31:26","date_gmt":"2024-07-09T11:31:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=16155"},"modified":"2024-07-11T04:42:24","modified_gmt":"2024-07-10T20:42:24","slug":"transformasi-evaluasi-pendidikan-melalui-e-asesmen-autentik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/transformasi-evaluasi-pendidikan-melalui-e-asesmen-autentik\/16155\/","title":{"rendered":"Transformasi Evaluasi Pendidikan melalui E-Asesmen Autentik"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Gambar1-36.jpg\" alt=\"\" width=\"669\" height=\"416\" class=\"aligncenter size-full wp-image-16156\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Gambar1-36.jpg 669w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Gambar1-36-300x187.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Gambar1-36-150x93.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 669px) 100vw, 669px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menekankan kurikulum baru, Kurikulum Merdeka atau yang biasa disebut Kumer melalui Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024. Hal yang paling baru disorot adalah berulangkali penekanan kata \u201casesmen\u201d pada dokumen pemberlakuan kurikulum tersebut. Bahkan, asesmen juga dibuatkan menjadi panduan tersendiri, yakni Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah yang diterbitkan oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Hal ini tentu menjadi pengingat bahwa evaluasi dan asesmen memiliki urgensi dalam pendidikan. Dalam era digital yang terus berkembang, sistem pendidikan mengalami transformasi yang signifikan dalam berbagai aspek, termasuk dalam metode evaluasi, yakni asesmen. Asesmen saat ini tidak lagi tradisional melainkan sudah bertransformasi ke elektronik atau digitalisasi. Salah satu inovasi terkini adalah e-asesmen autentik, yaitu penilaian berbasis elektronik yang menekankan pada keaslian dan relevansi tugas terhadap dunia nyata. <\/p>\n<p> Hasil penelitian menyatakan bahwa asesmen autentik menjadi penilaian yang tepat karena dilakukan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu berdasarkan sifat dan bentuk asesmen autentik membentuk peserta didik untuk lebih terampil dan berkompetensi, sehingga siap untuk terjun ke dunia kerja atau ke tingkat pendidikan selanjutnya (Leyder et al., 2023).  E-asesmen autentik menawarkan banyak keuntungan dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas evaluasi pendidikan.<\/p>\n<p>E-Assessment autentik dinilai sangat relevan dengan kehidupan nyata. E-asesmen autentik menilai siswa berdasarkan tugas yang mencerminkan situasi dan tantangan dunia nyata. Hal ini akan membantu siswa memahami bagaimana keterampilan dan pengetahuan yang mereka pelajari dapat diterapkan di luar lingkungan akademik. Contoh implementasinya adalah tugas berbasis proyek, studi kasus, atau simulasi dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna dibandingkan ujian tradisional.<\/p>\n<p>E-asesmen autentik fokus pada pengembangan keterampilan penting abad 21, seperti pemecahan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, dan literasi digital. Dengan menilai siswa melalui tugas yang kompleks dan multidimensi, e-asesmen autentik membantu mempersiapkan mereka untuk tantangan masa depan. Dengan fokus pada tugas-tugas yang bermakna dan relevan, e-asesmen autentik mendorong pembelajaran yang lebih dalam. Siswa diajak untuk memahami konsep secara menyeluruh dan mengaplikasikannya dalam berbagai konteks, bukan sekadar menghafal fakta atau prosedur.<\/p>\n<p>Dibalik manfaat dan keuntungan e-asesmen autentik, nyatanya dalam implementasinya juga memiliki tantangan yang besar. Indonesia dengan wilayah geografisnya yang luas dan infrastruktur yang belum merata tentu memiliki problem yang besar. Sebagai dampak adanya penggunaan \u2018e\u2019 atau elektronik, implementasi e-asesmen autentik memerlukan infrastruktur teknologi yang memadai. Tidak semua siswa dan sekolah memiliki akses yang memadai terhadap perangkat teknologi dan koneksi internet yang stabil. Kesenjangan digital ini dapat menjadi hambatan besar dalam pelaksanaan e-asesmen autentik. Tidak semua institusi pendidikan memiliki akses ke perangkat dan koneksi internet yang diperlukan untuk menjalankan e-asesmen ini dengan efektif. Oleh karena itu, perlu adanya investasi dalam teknologi dan pelatihan untuk memastikan keberhasilan penerapannya. Keterbatasan sinyal dan perangkat komputer di beberapa sekolah pedalaman tentu menjadi tantangan berat.<\/p>\n<p>Selain dalam hal teknologi, e-asesmen autentik juga memerlukan waktu untuk adaptasi guru dan murid. Dikarenakan e-asesmen autentik ini masih tergolong baru, maka memerlukan perubahan paradigma dalam pendekatan penilaian, baik bagi guru maupun siswa. Guru perlu dilatih untuk merancang dan menilai tugas autentik, sementara siswa perlu dibiasakan dengan format penilaian yang baru ini. Proses adaptasi ini mungkin memerlukan waktu dan dukungan yang memadai.<\/p>\n<p>Penerapan e-Assessment autentik membutuhkan kerjasama antara guru, siswa, dan pihak terkait lainnya. Guru perlu merancang penilaian yang relevan dengan konteks kehidupan nyata, menyediakan panduan dan umpan balik yang memadai kepada siswa, dan menggunakan teknologi dengan bijaksana untuk mendukung proses evaluasi. Dengan demikian, e-Assessment autentik dapat menjadi alat yang efektif dalam mendukung pembelajaran berbasis kompetensi dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dunia nyata setelah mereka lulus.<br \/>\nE-asesmen autentik telah membawa transformasi signifikan dalam evaluasi pendidikan, dengan menekankan pada keaslian dan relevansi tugas penilaian. Meskipun menghadapi beberapa tantangan, potensi manfaatnya sangat besar dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran. Dengan strategi yang tepat dan dukungan yang memadai, e-asesmen autentik dapat membantu menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.<\/p>\n<p><strong>Sumber Pustaka<\/strong>:<br \/>\nBadan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.<br \/>\nLeyder, R. A., Leluyani, L., &#038; Uguy, H. (2023). Assesment Kurikulum Merdeka Belajar pada Sekolah Menengah Atas (SMA). Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(4), 6717-6728.<br \/>\nPermendikbud Nomor 12 Tahun 2024<\/p>\n<p>Penulis: <strong>Winda Dwi Lestari<br \/>\nMahasiswa Pascasarjana S-2 Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Surakarta <\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menekankan kurikulum baru, Kurikulum Merdeka atau yang biasa disebut Kumer melalui Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024. Hal yang paling baru disorot adalah berulangkali penekanan kata \u201casesmen\u201d pada dokumen pemberlakuan kurikulum tersebut. Bahkan, asesmen juga dibuatkan menjadi panduan tersendiri, yakni Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16156,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"7","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"0","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184,24],"tags":[],"class_list":["post-16155","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16155","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16155"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16155\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}