{"id":15954,"date":"2024-07-04T09:25:02","date_gmt":"2024-07-04T01:25:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15954"},"modified":"2024-07-04T09:25:58","modified_gmt":"2024-07-04T01:25:58","slug":"paket-sanksi-ke-14-uni-eropa-jatuhkan-sanksi-terhadap-lng-rusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/paket-sanksi-ke-14-uni-eropa-jatuhkan-sanksi-terhadap-lng-rusia\/15954\/","title":{"rendered":"Paket Sanksi ke-14 Uni Eropa: Jatuhkan Sanksi Terhadap LNG Rusia"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg.webp\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" class=\"aligncenter size-full wp-image-15955\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg.webp 1200w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg-300x200.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg-1024x683.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg-768x512.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg-150x100.webp 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg-696x464.webp 696w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/sanksi.jpg-1068x712.webp 1068w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<p>Penulis: <strong>Muhammad Farid Rizky<\/p>\n<p>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Para duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa telah memberikan suara untuk mendukung paket sanksi ke-14 yang substansial terhadap Rusia atas agresinya di Ukraina. Paket sanksi ini diumumkan pada tanggal 20 Juni lalu lewat akun Kepresidenan Dewan Uni Eropa Belgia melalui platform media sosial X (sebelumnya Twitter). Paket ini memberikan langkah-langkah baru untuk mencapai target pembatasan Rusia terhadap pendapatan devisa dan teknologi serta menutup loophole yang digunakan oleh Rusia untuk menghindari sanksi Uni Eropa, dengan begitu dapat memaksimalkan dampak dari sanksi-sanksi yang sudah ada.<\/p>\n<p>Dalam menghadapi agresi Rusia terhadap Ukraina yang pertama kali dimulai pada tahun 2014, Uni Eropa telah melakukan berbagai langkah untuk membatasi Rusia dalam bentuk sanksi ekonomi. Sanksi yang diberikan terus dilakukan dan dikembangkan setelah dimulainya konflik pada bulan Februari tahun 2022 lalu. Paket sanksi ini merupakan salah satu yang paling besar dalam upaya Uni Eropa untuk memberlakukan langkah-langkah ketat terhadap Rusia sejak dimulainya perang Ukraina dua tahun lalu, untuk melemahkan sumber-sumber pendapatan serta akses terhadap teknologi yang dapat digunakan untuk perangnya di Ukraina.<\/p>\n<p>Paket sanksi ke-14 menargetkan pelarangan ekspor kembali liquefied natural gas (LNG) Rusia melalui perairan Uni Eropa untuk mempersulit pengiriman LNG Rusia ke negara lain. Ini adalah pertama kalinya Uni Eropa menargetkan pelarangan LNG Rusia, yang hingga kini masih terus diimpor oleh beberapa negara Uni Eropa. Belgia, Prancis, dan Spanyol adalah titik masuk utama bagi LNG Rusia untuk dikirim ke negara lain terutama ke Asia. LNG Rusia dikirim ke negara-negara ketiga melalui pelabuhan-pelabuhan Eropa untuk memangkas biaya dan sebagai tempat persinggahan bagi kapal-kapal, terutama selama musim dingin. Dengan larangan tersebut, kapal-kapal LNG Rusia terpaksa harus mencari rute alternatif yang lebih panjang dan melalui pelabuhan-pelabuhan di laut Arktik yang membeku pada musim dingin, sehingga membutuhkan kapal khusus tanker pemecah es yang membuatnya tidak menguntungkan secara ekonomis. Tujuan penting dari paket ini adalah untuk mengekang perdagangan LNG yang dilakukan Moskow, yang merupakan bisnis menguntungkan yang dapat mendanai mesin perangnya.<\/p>\n<p>Namun, para pakar pasar gas mengatakan bahwa langkah ini tidak cukup untuk memberikan dampak yang signifikan, karena hanya sekitar 10% dari total ekspor LNG Rusia yang melalui pelabuhan-pelabuhan Eropa. Terutama karena LNG Rusia banyak diekspor ke negara Asia seperti Tiongkok melalui pipa gas. <\/p>\n<p>Meskipun ada langkah-langkah yang diambil untuk menghalangi ekspor LNG Rusia oleh Uni Eropa, paket ini tidak melarang impor gas dari Rusia ke negara-negara Eropa. Negara-negara Uni Eropa masih akan diizinkan untuk mengimpor gas Rusia. Larangan ini hanya ditujukan untuk ekspor ulang LNG ke negara lain melalui pelabuhan dan perairan di Uni Eropa. Menurut data dari CREA, Uni Eropa adalah pasar terbesar untuk LNG Rusia hingga mencapai 49% dari ekspor gas tersebut. Meskipun bahan bakar ini hanya menyumbang 5% dari konsumsi gas Uni Eropa pada tahun lalu. Sementara itu, Uni Eropa telah memberlakukan pelarang pembelian langsung batu bara dan minyak mentah Rusia sejak Februari 2023.<\/p>\n<p>Selain itu, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengungkapkan bahwa sanksi ini juga akan meningkatkan pemblokiran akses Rusia ke teknologi-teknologi kunci yang dapat digunakan untuk keperluan militer. Salah satu langkah tegas tersebut adalah menghentikan arus pengiriman teknologi dual-goods\u2014seperti drone\u2014yang dapat digunakan sebagai alat perang dan beberapa jenis mesin cuci yang mengandung chip.<\/p>\n<p>Paket ini juga membatasi tiga proyek pembangunan LNG Rusia, yang diidentifikasi oleh Reuters sebagai Arctic LNG 2, Ust Luga, dan Murmansk\u2014memberlakukan larangan bagi perusahaan-perusahaan Uni Eropa untuk berinvestasi di ketiga proyek LNG tersebut. Ini sejalan dengan keinginan Uni Eropa untuk mengakhiri ketergantungan pada gas Rusia. Selain itu, paket ini juga mengusulkan untuk memperkuat hukuman bagi perusahaan-perusahaan yang melanggar batasan-batasan sanksi. Pembatasan lainnya juga diberlakukan kepada anak perusahaan dari perusahaan-perusahaan Eropa yang berbasis di luar wilayah tersebut agar tidak mengeksploitasi celah untuk mengirim barang-barang terlarang ke Moskow. Untuk mengimbangi kerugian yang mungkin dialami, sebagai gantinya perusahaan-perusahaan Eropa diizinkan untuk mengklaim kompensasi atas kerugian yang diderita.<\/p>\n<p>Paket ini merupakan hasil dari diskusi dan negosiasi selama berminggu-minggu oleh 27 duta besar Uni Eropa. Namun, persetujuan sempat mengalami penundaan beberapa kali karena adanya keberatan dari beberapa negara, salah satunya Hongaria, yang sebelumnya bersumpah untuk memblokir bentuk sanksi apapun pada sektor energi. Hongaria, sebagai negara yang paling tidak mendukung sanksi ini, memiliki hubungan dekat dengan Rusia. Viktor Orb\u00e1n, perdana menteri Hongaria, memiliki pandangan yang cenderung bersahabat terhadap Rusia. Ia tampak menjaga hubungan baik dengan Putin. Selain itu, Hongaria juga melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan negara Rusia, seperti perusahaan raksasa bidang nuklir Rosatom, untuk meningkatkan kebutuhan volume energinya selama musim dingin melalui proyek energi seperti proyek Paks II. Paket sanksi ini telah membuat Hongaria khawatir mengenai proyek energi pembangkit listrik tenaga nuklirnya, karena paket ini juga menargetkan penghentian kerja sama dengan perusahaan energi Rusia. Namun, tampaknya dewan Uni Eropa memilih untuk memberikan pengecualian kepada proyek Paks II demi mendapatkan persetujuan dari Budapest.<\/p>\n<p>Selain Hongaria, salah satu negara yang juga menolak paket tersebut adalah Jerman. Penolakan yang sempat dilemparkan oleh Jerman merupakan kejutan yang tak terduga. Jerman bahkan mendapat julukan &#8220;Hongaria baru&#8221;. Kanselir Jerman, Olaf Scholz, menyatakan bahwa penolakannya terhadap paket tersebut adalah untuk memastikan bahwa bisnis kecil tidak akan terdampak oleh langkah-langkah pembatasan yang akan dilakukan melalui paket sanksi ini. <\/p>\n<p>Melalui sanksi-sanksi yang diberikan dalam paket ini, Uni Eropa berupaya untuk memberikan dampak maksimal dalam mengurangi pendapatan Rusia dan mengganggu rencana ekonomi Moskow. Paket ini secara resmi diadopsi dan aktif diberlakukan pada tanggal 24 Juni.<\/p>\n<p>Penulis: <strong>Muhammad Farid Rizky<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Muhammad Farid Rizky JurnalPost.com &#8211; Para duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa telah memberikan suara untuk mendukung paket sanksi ke-14 yang substansial terhadap Rusia atas agresinya di Ukraina. Paket sanksi ini diumumkan pada tanggal 20 Juni lalu lewat akun Kepresidenan Dewan Uni Eropa Belgia melalui platform media sosial X (sebelumnya Twitter). Paket [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-15954","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15954"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15954\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}