{"id":1584,"date":"2023-07-05T21:34:15","date_gmt":"2023-07-05T13:34:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=1584"},"modified":"2023-07-05T21:34:15","modified_gmt":"2023-07-05T13:34:15","slug":"deforestasi-hutan-amazon-terus-berlanjut-mampukah-presiden-lula-mengakhiri-isu-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/deforestasi-hutan-amazon-terus-berlanjut-mampukah-presiden-lula-mengakhiri-isu-ini\/1584\/","title":{"rendered":"Deforestasi Hutan Amazon Terus Berlanjut: Mampukah Presiden Lula Mengakhiri Isu Ini?"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Rafinda Nordany<br \/>\nMahasiswa Ilmu Hubungan Internasional<br \/>\nUIN Syarif Hidayatullah Jakarta<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sepanjang pemerintahan Bolsonaro pada tahun 2019\u20132022, deforestasi dan penambangan ilegal hutan hujan Amazon dipicu oleh retorika Bolsonaro dan tindakan anti-lingkungannya. Pemerintah federal Brasil mentolerir dan bahkan mendorong aktivitas ilegal tersebut, yang akhirnya mencapai rekor tertinggi (Vilan, Ferrante, &#038; Fearnside, 2023). Pada masa jabatannya, Bolsonaro pernah berjanji untuk tidak mengakui tanah adat atau indigenous lands mana pun dan hal tersebut tentunya membuka pintu kehancuran untuk hutan hujan Amazon (Gonzaga, 2022). <\/p>\n<p>Mantan Presiden Brasil tersebut telah mencabut hak masyarakat adat dan melonggarkan peraturan pertambangan dan deforestasi. Penambangan ilegal dan operasi penggundulan hutan di tanah adat telah mengakibatkan efek berbahaya jangka pendek dan panjang pada mata pencaharian masyarakat adat, termasuk yang berhubungan dengan kesejahteraan dan cara mereka bertahan hidup (Na, 2023). Selain itu, tentunya beliau juga telah memperburuk iklim, ekosistem flora dan fauna, dan lainnya.<\/p>\n<p>Hutan hujan Amazon merupakan rumah bagi berbagai macam spesies. Amazon memiliki efek pendinginan yang kritis di planet ini karena pepohonannya menyalurkan panas tinggi ke atmosfer. Selain itu, hutan menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer yang dilepaskan kembali ke atmosfer saat pohon ditebang dan dibakar. Jika deforestasi terus berlanjut, maka wilayah ini akan semakin kering sehingga tidak mampu mendukung habitat serta lahan pertanian yang sehat (National Geographic, 2023). <\/p>\n<p>Permasalahan lingkungan perlu diatasi untuk keberlanjutan hutan Amazon. Deforestasi Amazon telah menghasilkan 200 juta ton karbon per tahun di Brasil. Hal ini membuat Brasil masuk pada daftar lima negara paling berpolusi di dunia. Bahkan, hal ini tanpa memperhitungkan emisi yang dihasilkan dari kebakaran hutan Amazon, yang tidak dipertimbangkan atau dimasukkan dalam inventarisasi emisi Brasil. Dalam hal ini, penting adanya pengelolaan lingkungan yang efektif berdasarkan struktur jaringan yang mengintegrasikan tindakan semua lembaga publik dan swasta yang beroperasi di Amazon demi menghindari kehancuran hutan Amazon dan memastikan bahwa sumber daya alam teralokasikan dengan baik untuk kepentingan masyarakat yang bermukim di sana dan untuk memajukan sosial dan ekonomi Brasil, serta bersatu dalam melawan global warming. (Alcoforado, 2023). <\/p>\n<p>Dalam menanggulangi isu ini, Presiden Lula membentuk kelembagaan Amazon baru yang diwakili oleh Ministry of the Environment and Climate Change, the Ministry of Indigenous Peoples and the National Foundation for Indigenous Peoples (FUNAI), di bawah komando tiga orang pemimpin yaitu Marina Silva, S\u00f4nia Guajajara dan Joenia Wapichana, yang telah lama terlibat dalam perjuangan untuk menantang perampasan wilayah Amazon. Hal ini tentunya menjawab kebutuhan lama untuk memasukkan sejarah, tuntutan, suara, serta praktik pengelolaan lahan masyarakat tradisional dalam proses pengambilan keputusan.<\/p>\n<p>Setelah pelantikannya, Presiden Lula mencabut serangkaian panjang kebijakan Bolsonaro dan menggantinya dengan keputusan baru untuk mengembalikan efektivitas kontrol lingkungan, menjamin keterwakilan masyarakat adat serta membangun kelembagaan baru. Pembentukan kementerian baru dan perubahan lainnya menyoroti hak prerogatif konstitusional seperti pengakuan, jaminan dan promosi hak-hak masyarakat adat, demarkasi wilayah adat, pelestarian, konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem, keanekaragaman hayati dan hutan, perlindungan dan pemulihan penduduk asli, vegetasi, akses ke lahan oleh masyarakat tradisional, reforma agraria dan regularisasi penguasaan lahan (Vilan, Ferrante, &#038; Fearnside, 2023).<br \/>\nSelain itu, Presiden Lula dan Menteri Lingkungannya Marina Silva meluncurkan Action Plan for the Prevention and Control of Deforestation di Amazon. Terdapat 15 kementerian yang berkolaborasi dalam rencana ini, salah satunya untuk mengembangkan teknik dokumentasi dan melacak deforestasi illegal. Dalam hal ini penebangan liar, peternakan, serta pertambangan dapat dimonitor dengan baik dengan adanya citra satelit. Di samping itu, rencana ini juga dibuat sebagai usulan untuk memberi standar sertifikat tanah dan menciptakan insentif untuk pertanian berkelanjutan dan kegiatan \u201chijau\u201d lainnya seperti menanam pohon setelah menebangnya (ALJAZEERA, 2023).<\/p>\n<p>Dapat dilihat bahwa Presiden Lula memiliki komitmen yang tinggi dalam penanganan isu deforestasi dengan melakukan beberapa upaya. Dalam hal ini, selain kebijakan pemerintah, dibutuhkan juga dukungan dan kerjasama dari masyarakat Brasil agar penebangan liar tidak dilakukan lagi. Jika dilakukan, maka harus ada hukuman yang berat untuk para pelakunya. Terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mewujudkan pemulihan hutan Amazon; yaitu mencabut tindakan anti-lingkungan Bolsonaro, membangun kembali kewarganegaraan masyarakat Amazon demi konservasi hutan, mendorong semua negara bagian Amazon untuk membentuk sekretariat khusus bagi masyarakat adat, menyelesaikan pemulihan Amazon Fund, mempertimbangkan kembali proyek investasi besar di bidang pertambangan dan agribisnis, membangun kelembagaan baru dengan masyarakat adat dan komunitas tradisional sebagai pelaku utama, dan meningkatkan pendanaan untuk kementerian lingkungan hidup dan masyarakat adat serta kebijakan terkait (Vilan, Ferrante, &#038; Fearnside, 2023). <\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>:<br \/>\nAlcoforado, F. A. (2023). HOW THE GOVERNMENT OF BRAZIL CAN MAKE BRAZILIAN CITIES SUSTAINABLE AND SMART. Retrieved from academia.edu: https:\/\/www.academia.edu\/98450564\/HOW_THE_GOVERNMENT_OF_BRAZIL_CAN_MAKE_BRAZILIAN_CITIES_SUSTAINABLE_AND_SMART<br \/>\nALJAZEERA. (2023, June 6). Brazil\u2019s President Lula unveils plan to end deforestation by 2030. Retrieved from aljazeera.com: https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2023\/6\/6\/brazils-president-lula-unveils-plan-to-end-deforestation-by-2030<br \/>\nGonzaga, D. (2022, January 26). Bolsonaro is a catastrophe for the environment. Retrieved from greenpeace.org: https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/52098\/bolsonaro-president-brazil-amazon-environment\/<br \/>\nNa, S. (2023). Securing (Land) Rights for the Indigenous Peoples of Brazil. Culture and Heritage, 18-20.<br \/>\nNational Geographic. (2023, March 2). Amazon Deforestation and Climate Change. Retrieved from education.nationalgeographic.org: https:\/\/education.nationalgeographic.org\/resource\/amazon-deforestation-and-climate-change\/<br \/>\nVilan, R. M., Ferrante, L., &#038; Fearnside, P. M. (2023). The first acts of Brazil\u2019s new president: Lula\u2019s new Amazon institutionality. Cambridge University Press, 1-4.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Rafinda Nordany Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta JurnalPost.com &#8211; Sepanjang pemerintahan Bolsonaro pada tahun 2019\u20132022, deforestasi dan penambangan ilegal hutan hujan Amazon dipicu oleh retorika Bolsonaro dan tindakan anti-lingkungannya. Pemerintah federal Brasil mentolerir dan bahkan mendorong aktivitas ilegal tersebut, yang akhirnya mencapai rekor tertinggi (Vilan, Ferrante, &#038; Fearnside, 2023). Pada masa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1585,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-1584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1584"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1584\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1585"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}