{"id":15761,"date":"2024-06-29T18:43:10","date_gmt":"2024-06-29T10:43:10","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15761"},"modified":"2024-06-29T18:45:57","modified_gmt":"2024-06-29T10:45:57","slug":"puisi-ahmad-alief-indie-ramadhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/puisi-ahmad-alief-indie-ramadhan\/15761\/","title":{"rendered":"PUISI AHMAD ALIEF INDIE RAMADHAN"},"content":{"rendered":"<p>PENULIS : <strong>AHMAD ALIEF INDIE RAMADHAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra tertua yang ada di dunia. Dari masa ke masa, puisi telah menjadi sarana ekspresi yang mendalam, memungkinkan penulis untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, dan pengalaman mereka melalui bahasa yang indah dan penuh makna. Berikut puisi yang berkesan, dan menyentuh hati yang dapat kamu bagikan atau kamu bawakan .<\/p>\n<p><strong>Pencarian Dalam Rasa<\/strong><br \/>\nDi tengah sibuknya tugas dan kuliah,<br \/>\nKutemui gemuruh sepi yang tidak bisa dijelaskan<br \/>\nDalam hiruk pikuk diskusi di kelas,<br \/>\nAda Tanya yang tak kunjung terjawabkan.<br \/>\n Di balik layar laptop yang bersinar,<br \/>\nAku mencari makna di dalam data.<br \/>\nNamun di setiap kode yang kususun rapi,<br \/>\nKutemukan jejak-Mu dalam setiap kata.<br \/>\nSaat senja menyapa dari balik jendela,<br \/>\nKutatap langit yang perlahan merona.<br \/>\nDi situ, kurasakan kehadiran mu yang nyata,<br \/>\nMenyejukkan hati yang gundah gulana.<br \/>\nTuhan, dalam tiap jejak perjalanan ini,<br \/>\nAjarkan aku arti dari kesederhanaan.<br \/>\nBahwa Engkau hadir dalam setiap hal kecil,<br \/>\nMembimbing langkahku dalam perjalanan. <\/p>\n<p><strong>Kau<\/strong><br \/>\nLekuk tubuhmu yang langsing wahai sayangku<br \/>\nRamping seperti ranting pohon<br \/>\nKau insan terindah yang pernah aku pandang<br \/>\nMaha agung yang pernah menciptakanmu<\/p>\n<p>Di bening matamu terhiasi cahaya bintang<br \/>\nMenjadi sinar di gelap malam yang penuh rahasia<br \/>\nSetiap senyumanmu adalah anugerah Menguatkan hati yang lelah dan gundah<br \/>\nSuaramu lembut bagaikan indahnya nyanyian<br \/>\nMengalun merdu di antara kesunyian<br \/>\nDalam dekapanmu, aku temukan damai<br \/>\nSeolah dunia berhenti berdetak<br \/>\nIngin ku duduk berdua bersamamu<br \/>\nDi kelilingi indahnya bunga<br \/>\nDan kau memintaku tuk hidup Bersama<br \/>\nDalam suka maupun duka<\/p>\n<p><strong>Cahaya Dalam Jiwa<\/strong><\/p>\n<p>Dalam Sunyi hidupku kudengar nama-Mu<br \/>\nBersemayam lembut di dalam dzikir kalbu<br \/>\nCahaya menerangi relung jiwa<br \/>\nMembawa damai jiwa yang menggelora<\/p>\n<p>Dalam sepertiga malam kutemukan hening-Mu<br \/>\nMengisi hampa di hati dengan kasih syahdu<br \/>\nSetiap bisikan doa mengaung dalam relung<br \/>\nMenghapus luka berganti dengan tenang yang agung<\/p>\n<p>Oh tuhanku, di setiap detik waktu<br \/>\nKutemui jejak kasih-Mu<br \/>\nMembimbing langkahku<br \/>\nMenuju pelukanmu <\/p>\n<p>Oh tuhanku,<br \/>\nDi setiap nafas kutemui jejak-Mu<br \/>\nMengajakku menuju ridho-Mu<br \/>\nMenuju dekapan kasih-Mu untukku<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENULIS : AHMAD ALIEF INDIE RAMADHAN JurnalPost.com &#8211; Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra tertua yang ada di dunia. Dari masa ke masa, puisi telah menjadi sarana ekspresi yang mendalam, memungkinkan penulis untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, dan pengalaman mereka melalui bahasa yang indah dan penuh makna. Berikut puisi yang berkesan, dan menyentuh hati yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184,217],"tags":[],"class_list":["post-15761","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-puisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15761"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15761\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}