{"id":15626,"date":"2024-06-27T05:18:57","date_gmt":"2024-06-26T21:18:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15626"},"modified":"2024-06-27T05:18:57","modified_gmt":"2024-06-26T21:18:57","slug":"mahasiswa-agribisnis-upn-veteran-jawa-timur-bantu-inovasikan-pembuatan-eco-enzyme-untuk-mengurangi-sampah-organik-di-rw-04-ngagel-rejo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mahasiswa-agribisnis-upn-veteran-jawa-timur-bantu-inovasikan-pembuatan-eco-enzyme-untuk-mengurangi-sampah-organik-di-rw-04-ngagel-rejo\/15626\/","title":{"rendered":"MAHASISWA AGRIBISNIS UPN \u201cVETERAN\u201d JAWA TIMUR  BANTU INOVASIKAN PEMBUATAN ECO ENZYME  UNTUK MENGURANGI SAMPAH ORGANIK  DI RW 04 NGAGEL REJO"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_15627\" aria-describedby=\"caption-attachment-15627\" style=\"width: 893px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-106.jpg\" alt=\"\" width=\"893\" height=\"502\" class=\"size-full wp-image-15627\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-106.jpg 893w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-106-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-106-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-106-150x84.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-106-696x391.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 893px) 100vw, 893px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15627\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1 Sosialisasi Eco Enzym di RW 04 Ngagel Rejo Dokumentasi pribadi<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sampah  merupakan masalah  pokok  bagi  kota-kota  besar  di Indonesia.  Beberapa  kota  besar  di  Indonesia  yang  sedang  berjuang mengatasi  permasalah  sampah  saat  ini  diantaranya Jakarta,  Bandung,  serta Surabaya sekitar  80%  dari  jumlah  total  sampah  yang  dihasilkan  umumnya  merupakan sampah  organik,  yang  hanya  dilihat  sebagai  sisa  dan  tidak  memiliki  nilai  ekonomi (Pratiwi,  2020). Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Kota Surabaya memiliki jumlah penduduk yang sangat tinggi. Tingginya jumlah penduduk ini juga mempengaruhi produksi sampah di Surabaya. <\/p>\n<p>Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebanyak 2.800 ton sampah dihasilkan oleh sekitar 2,9 juta penduduk Kota Surabaya tiap harinya. Dari nilai tersebut, sekitar 60% nya merupakan sampah organik. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, 5 (lima) mahasiswa Agribisnis  UPN \u201dVeteran\u201d Jawa Timur berinisiatif melakukan sosialisasi mengenai cara mengolah sampah organik agar lebih bernilai ekonomis dan diharapkan dapat mengatasi permasalahan mengenai sampah organik tersebut dengan cara pembuatan Eco Enzym. Sosialisasi ini dilakukan di RW 04 Ngagel Rejo yang masuk ke dalam Kampung Zero Waste (KZW) tahun 2024. Kampung Zero Waste (KZW) merupakan program dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya yang bertujuan untuk menciptakan pola pikir dan kebiasaan warga untuk memilah, mengolah, dan mengurangi sampah.<\/p>\n<p>Sosialisasi ini dilaksanakan di balai RW 04 Ngagel Rejo pada tanggal (21\/5) jam 19.00 WIB  dihadiri oleh 22  (dua puluh dua) orang, yang terdiri ketua RW 04 Ngagel Rejo, ketua dari RT 01 hingga RT 19, perwakilan dari PKK dan perwakilan KSH. Sosialisasi pembuatan Eco Enzym ini bermula ketika mahasiswa Agribisnis  UPN \u201dVeteran\u201d Jawa Timur melakukan identifikasi timbulan sampah di RW 04 Ngagel Rejo dan melihat masih tingginya jumlah sampah rumah tangga terutama sampah organik yang didominasi dengan sampah sisa sayur dan buah yang masih belum di kelola dengan maksimal.<\/p>\n<p>Eco Enzyme adalah cairan organik yang didapat dari hasil fermentasi sampah dapur organik seperti sisa buah\/sayuran, gula (gula merah\/gula tebu\/molase) dan air dengan bantuan mikroorganisme selektif dari kelompok jamur dan bakteri selama 3 bulan. Larutan Eco Enzym tersusun  dari  zat  organik  kompleks hasil  fermentasi,  memiliki  warna  cokelat  gelap  dan aroma asam manis yang kuat.<\/p>\n<figure id=\"attachment_15628\" aria-describedby=\"caption-attachment-15628\" style=\"width: 893px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-61.jpg\" alt=\"\" width=\"893\" height=\"502\" class=\"size-full wp-image-15628\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-61.jpg 893w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-61-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-61-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-61-150x84.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-61-696x391.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 893px) 100vw, 893px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15628\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2 Praktik Pembuatan Eco Enzym di RW 04 Ngagel Rejo Dokumentasi pribadi<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pembuatan Eco Enzym tergolong mudah yaitu dengan mencuci sampah buah atau sayur yang akan digunakan untuk membuat Eco Enzym dan potong kecil-kecil. Kemudian masukkan air bersih dan gula merah ke dalam botol atau tempat untuk menyimpan Eco Enzym dengan perbandingan 1:10. Setelah itu aduk perlahan isi wadah di ember plastik atau wadah yang sudah terisi dengan larutan air dan gula. Apabila air dan gula telah tercampur selanjutnya aduk perlahan isi wadah di ember plastik atau wadah yang sudah terisi dengan larutan air dan gula. Selanjutnya diamkan wadah di tempat dingin, kering, dan memiliki ventilasi yang baik, hindari sinar matahari langsung dan jangan disimpan di dalam kulkas Kemudian buka tutup wadah setiap 3 hari sekali selama 1 bulan pertama setelah diaduk. Dalam 1 bulan pertama, gas akan dihasilkan dari proses fermentasi. Setelah 3 bulan, panen Eco Enzym akan selesai dan dapat digunakan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_15629\" aria-describedby=\"caption-attachment-15629\" style=\"width: 893px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar3-8.jpg\" alt=\"\" width=\"893\" height=\"502\" class=\"size-full wp-image-15629\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar3-8.jpg 893w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar3-8-300x169.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar3-8-768x432.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar3-8-150x84.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar3-8-696x391.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 893px) 100vw, 893px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15629\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2 Hasil Pembuatan Eco Enzym di RW 04 Ngagel Rejo Dokumentasi pribadi<\/figcaption><\/figure>\n<p>Eco Enzym yang berhasil memiliki ciri-ciri cairan berwarna coklat gelap dan memiliki bau khas fermentasi asam manis yang kuat dan terdapat jamur putih. Sedangkan ciri ciri Eco Enzym yang gagal bisa ditandai dengan aroma yang busuk serta munculnya jamur hitam di permukaan. Apabila Eco Enzym muncul jamur hitam, maka tidak dapat digunakan kembali. Penyebab gagalnya Eco Enzym yaitu karena wadah tidak ditutup dengan rapat, air yang digunakan tidak bersih dan Eco Enzym tidak disimpan di tempat yang dingin, kering, dan memiliki ventilasi yang baik.<\/p>\n<p>Produk akhir Eco Enzym berupa cairan yang mudah digunakan serta memiliki  banyak  manfaat. Eco Enzym dapat digunakan untuk desinfektan dan hand sanitizer, sedangkan pada bidang kesehatan sebagai pereda infeksi, alergi pada anak, serta penyembuhan luka (Alkadri &#038; Asmara, 2020). Selain itu, Eco Enzym juga dapat dapat digunakan sebagai pengusir berbagai hama tanaman,  pembersih serbaguna, selain itu dapat digunakan menjadi pupuk dan dapat digunakan sebagai  pelestarian lingkungan. Dan yang terpenting dengan membuat Eco Enzym dapat mengurangi sampah rumah tangga terutama sampah buah dan sayur.<\/p>\n<p>Warga RW 04 Ngagel Rejo terutama pengurus RW 04 Ngagel Rejo menerima dengan baik sosialisasi Eco Enzym dengan menggunakan sampah sayur dan buah ini dan berharap dengan adanya sosialisai ini dapat memotivasi warga RW 04 Ngagel Rejo untuk mengurangi timbulan sampah di RW 04 Ngagel Rejo terutama sampah rumah tangga. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ibu Endang selaku ketua RW 04 Ngagel Rejo, \u201cSaya mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa karena telah melakukan sosialisasi ini dan saya berharap dengan adanya sosialisasi ini dapat memotivasi warga RW 04 Ngagel Rejo untuk terus menjaga lingkungan\u201d. <\/p>\n<p>Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah terutama sampah rumah tangga di RW 04 Ngagel Rejo. Selain itu, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan warga RW 04 Ngagel Rejo dapat merealisasikan pembuatan Eco Enzym ini demi menunjang keberhasilan RW 04 Ngagel Rejo sebagai Kampung Zero Waste (KZW)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Sampah merupakan masalah pokok bagi kota-kota besar di Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia yang sedang berjuang mengatasi permasalah sampah saat ini diantaranya Jakarta, Bandung, serta Surabaya sekitar 80% dari jumlah total sampah yang dihasilkan umumnya merupakan sampah organik, yang hanya dilihat sebagai sisa dan tidak memiliki nilai ekonomi (Pratiwi, 2020). Sebagai salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-15626","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15626"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15626\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}