{"id":15567,"date":"2024-06-26T13:21:16","date_gmt":"2024-06-26T05:21:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15567"},"modified":"2024-06-26T13:30:30","modified_gmt":"2024-06-26T05:30:30","slug":"mengenal-lebih-dekat-tradisi-cangkrukan-budaya-desa-bedingin-ponorogo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengenal-lebih-dekat-tradisi-cangkrukan-budaya-desa-bedingin-ponorogo\/15567\/","title":{"rendered":"Mengenal Lebih Dekat Tradisi Cangkrukan Budaya Desa Bedingin Ponorogo"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_15568\" aria-describedby=\"caption-attachment-15568\" style=\"width: 415px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-99.jpg\" alt=\"\" width=\"415\" height=\"269\" class=\"size-full wp-image-15568\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-99.jpg 415w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-99-300x194.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-99-150x97.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 415px) 100vw, 415px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15568\" class=\"wp-caption-text\">Foto: Tradisi Cangkrukan Budaya (Sumber: https:\/\/www.desabedingin.com\/2022\/01\/cangkrukan-budaya.html)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Tradisi cangkrukan adalah salah satu warisan budaya yang kaya di Indonesia, budaya yang seperti ini dapat menghubungkan komunitas melalui diskusi santai dan berbagi cerita di tengah- tengah kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang menarik adalah tradisi Cangkrukan Budaya di Desa Bedingin, Ponorogo, Jawa Timur. Cangkrukan Budaya Desa Bedingin ini tak hanya menghidupkan tradisi, tetapi juga menghubungkan generasi dan masyarakat dalam pembahasan-pembahasan penting bagi kehidupan desa.<\/p>\n<figure id=\"attachment_15569\" aria-describedby=\"caption-attachment-15569\" style=\"width: 428px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-54.jpg\" alt=\"\" width=\"428\" height=\"237\" class=\"size-full wp-image-15569\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-54.jpg 428w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-54-300x166.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-54-150x83.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 428px) 100vw, 428px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15569\" class=\"wp-caption-text\">Foto : Pertemuan dengan Kepala Desa Bedingin Ponorogo di Balai Desa Bedingin<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pada hari Sabtu, 15 Juni 2024 bapak Marjuki selaku Kepala Desa Bedingin menyampaikan beberapa informasi mengenai Cangkrukan Budaya, berikut beberapa point penting terkait Cangkrukan Budaya yang harus kalian ketahui:<\/p>\n<p>1.\t<strong>Fokus pada Kepentingan Desa<\/strong><br \/>\nCangkrukan di Desa Bedingin tidak hanya sekadar berkumpul untuk bersenang-senang, tetapi juga menjadi forum utama untuk membahas kepentingan desa seperti persiapan acara 17 Agustus, pengembangan UMKM lokal, dan berbagai inisiatif penting lainnya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat.<\/p>\n<p>2.\t<strong>Terdapat Iringan Penampilan<\/strong><br \/>\nSetiap pertemuan cangkrukan selalu diiringi dengan penampilan musik, yang menambah semangat dan kehangatan dalam suasana diskusi. Selain itu, sering kali dilakukan Latihan terkait penampilan-penampilan pada kegiatan desa yang sedang dibahas.<\/p>\n<p>3.\t<strong>Keterlibatan dari Berbagai Generasi<\/strong><br \/>\nKeunikan Cangkrukan Budaya di Desa Bedingin terletak pada keterlibatan semua lapisan masyarakat, mulai dari pemuda-pemudi hingga sesepuh desa. Hal ini mencerminkan pentingnya nilai-nilai tradisional yang disampaikan dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>4.\t<strong>Sarana Berjualan di Tempat Cangkrukan Budaya<\/strong><br \/>\nTidak hanya sebagai tempat diskusi, lokasi cangkrukan juga disediakan tempat berjualan aneka makanan dan minuman terutama kopi, sehingga pada saat kegiatan Cangkrukan Budaya dimulai semua bisa memesan makan dan minuman sebagai cemilan mereka saat berdiskusi nantinya.<\/p>\n<p>5.\t<strong>Terbuka bagi Komunitas Luar<\/strong><br \/>\nKeunikan lainnya adalah kemampuan desa ini untuk menjadi tuan rumah bagi rundingan dan diskusi dari komunitas luar, bukan hanya dari desa Bedingin sendiri. Hal ini memperluas wawasan masyarakat dan memperkaya pertukaran gagasan serta pengalaman antarbudaya.<\/p>\n<p>6.\t<strong>Jadwal Rutin Setiap Sabtu Malam Minggu<\/strong><br \/>\nCangkrukan Budaya di Desa Bedingin dilaksanakan secara rutin setiap Sabtu malam minggu. Jadwal ini memberikan kestabilan dan keteraturan dalam kegiatan sosial masyarakat, sehingga menjadi momen yang dinantikan untuk berdiskusi, berbagi, dan memperkuat solidaritas serta kebersamaan di antara warga desa.<\/p>\n<p>Namun, tidak selalu tradisi ini berada dalam keadaan yang kuat. Ada masa ketika Cangkrukan Budaya mulai memudar. Beberapa tahun terakhir sebelum 2022, aktivitas ini mengalami penurunan partisipasi dan minat dari masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, termasuk perubahan gaya hidup, pengaruh teknologi modern, dan kesibukan sehari-hari yang mengurangi waktu luang warga untuk berkumpul.<\/p>\n<p>Puncaknya, pada tahun 2022, diadakan sebuah cangkrukan dengan tema &#8220;Wong Ponorogo Ojo Ilang Ponorogone&#8221; yang berarti &#8220;Orang Ponorogo Jangan Hilang Ponorogonya&#8221;. Pertemuan ini menjadi momen refleksi bagi masyarakat Bedingin. Diskusi tersebut menekankan pentingnya mempertahankan identitas dan nilai-nilai budaya lokal di tengah arus modernisasi yang kian deras. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan, dari pemuda hingga sesepuh desa, yang semuanya berbagi pandangan tentang bagaimana cara terbaik melestarikan warisan budaya mereka. Meski saat itu cangkrukan tersebut menjadi salah satu yang terakhir diadakan, semangat dan pesan yang dibawa terus bergema di hati masyarakat. Hal ini mendorong kebangkitan kembali tradisi Cangkrukan Budaya.<\/p>\n<p>Selain itu, Pak Marjuki juga akan mengupayakan membangkitkan kembali tradisi ini, ada usaha untuk memanfaatkan perkembangan zaman melalui forum online tanpa menghilangkan tradisi cangkrukan. Integrasi teknologi digital ini memungkinkan lebih banyak partisipasi dari mereka yang tidak dapat hadir secara fisik namun tetap ingin berkontribusi dalam pembahasan yang sedang berlangsung. Dengan demikian, tradisi Cangkrukan Budaya di Desa Bedingin dapat terus hidup dan berkembang seiring dengan kemajuan zaman.<\/p>\n<p>Harapannya, Cangkrukan Budaya di Desa Bedingin dapat terus menjadi jantung kehidupan sosial dan budaya desa. Dengan integrasi teknologi digital dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, tradisi ini dapat terus berkembang dan relevan di masa depan. Semoga cangkrukan ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi budaya mereka masing-masing. Melalui semangat kebersamaan dan keterlibatan, Desa Bedingin dapat terus maju dan tetap mempertahankan jati diri budaya yang kaya dan berharga.<\/p>\n<p>Oleh: <strong><br \/>\n&#8211; tanaya kirana putri<br \/>\n&#8211; nur syakbana<br \/>\n&#8211; alicia indriani putri<br \/>\n&#8211; nur aziizah ramadani<br \/>\nUniversitas 17 agustus 1945<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Tradisi cangkrukan adalah salah satu warisan budaya yang kaya di Indonesia, budaya yang seperti ini dapat menghubungkan komunitas melalui diskusi santai dan berbagi cerita di tengah- tengah kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang menarik adalah tradisi Cangkrukan Budaya di Desa Bedingin, Ponorogo, Jawa Timur. Cangkrukan Budaya Desa Bedingin ini tak hanya menghidupkan tradisi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-15567","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15567"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15567\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}