{"id":15555,"date":"2024-06-25T20:26:02","date_gmt":"2024-06-25T12:26:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15555"},"modified":"2024-06-25T20:26:43","modified_gmt":"2024-06-25T12:26:43","slug":"cara-membuat-lontong-tradisional-yang-lezat-di-balik-daun-pisang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/cara-membuat-lontong-tradisional-yang-lezat-di-balik-daun-pisang\/15555\/","title":{"rendered":"Cara Membuat Lontong Tradisional yang Lezat di Balik Daun Pisang"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_15556\" aria-describedby=\"caption-attachment-15556\" style=\"width: 1125px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-15556 size-full\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352.jpg\" alt=\"\" width=\"1125\" height=\"631\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352.jpg 1125w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352-1024x574.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352-768x431.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352-150x84.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352-696x390.jpg 696w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar-WhatsApp-2024-06-25-pukul-19.39.00_c54df352-1068x599.jpg 1068w\" sizes=\"(max-width: 1125px) 100vw, 1125px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15556\" class=\"wp-caption-text\">Sumber foto : Pembuatan Lontong di Kampung Lontong Banyu Urip Surabaya -Fotografer Gading Rensa Qaira Farrasdzaki-<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Lontong merupakan makanan khas Indonesia yang sudah ada sejak zaman dahulu kala, Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Dengan kesederhanaan pembuatannya, lontong cepat diterima oleh masyarakat luas dan mulai menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Lontong sering kali disajikan sebagai pengganti nasi dan menjadi pelengkap berbagai hidangan, seperti sate, gado-gado, lontong sayur, dan opor ayam. Rasa lontong yang netral membuatnya mudah dikombinasikan dengan berbagai macam masakan.<\/p>\n<p>Lontong salah satu jenis makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari beras yang dimasak dan dibungkus dalam daun pisang. Bentuknya silindris dan teksturnya padat namun lembut. Berbeda dengan ketupat, lontong menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya. Sejarah lontong bermula dari kreativitas masyarakat dalam menyesuaikan bahan baku yang tersedia. Ketupat, yang umumnya membutuhkan daun kelapa muda, tidak selalu mudah didapatkan oleh masyarakat pada masa itu. Oleh karena itu, daun pisang dipilih sebagai alternatif yang lebih praktis dan mudah diperoleh.<\/p>\n<p>Surabaya merupakan kota yang dikenal dengan beragam kulinernya, terdapat sebuah kampung yang menarik, yaitu Kampung Lontong Sawahan. Terletak di Jl. Banyu Urip Lor No.X, Kupang Krajan, Kec. Sawahan, Surabaya. Kampung ini dikenal sebagai pusat produksi lontong dan juga sebagai situs budaya yang melestarikan tradisi kuliner warisan leluhur. Lontong, yang dibuat dari beras dibungkus daun pisang dan direbus hingga matang, telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari warga setempat. Namun, bagaimana cara membuat lontong yang lezat dan autentik?<\/p>\n<p><strong>Proses Pembuatan Lontong Tradisional<\/strong><br \/>\nPembuatan lontong tradisional memerlukan bahan yang cukup banyak dan beberapa langkah penting. Bahan dasar lontong adalah beras, daun pisang, air, dan sedikit garam. Pemilihan beras dan daun pisang sangat penting untuk hasil lontong yang baik. Untuk daun pisang, sebaiknya gunakan daun pisang klutuk. Penggunaan daun pisang jenis lain sering kali menghasilkan lontong yang berwarna merah, berbau kurang sedap, dan memiliki rasa pahit, yang tidak sesuai dengan standar kualitas.<\/p>\n<p>Untuk memulai, pertama cuci beras hingga bersih. Kemudian, rendam beras selama beberapa jam agar beras lebih mudah dibungkus dan mengembang dengan sempurna saat direbus.<\/p>\n<p>Setelah beras direndam, tiriskan airnya. Bungkus beras dengan daun pisang yang telah dihangatkan terlebih dahulu agar lebih mudah dilipat. Pastikan beras dibungkus rapat dan tidak ada celah agar air tidak masuk ke dalam bungkusan saat direbus. Ikat ujung-ujung daun pisang dengan tali atau tusuk lidi untuk memastikan bungkusan tidak terbuka saat direbus.<\/p>\n<p>Siapkan panci besar yang sudah diisi air. Masukkan bungkusan beras ke dalam panci, pastikan air cukup untuk merendam semua lontong. Rebus dengan api sedang selama 4-5 jam hingga lontong matang sempurna. Setelah matang, angkat lontong dan tiriskan. Diamkan beberapa saat agar lontong mengeras dan lebih mudah dipotong. Sajikan lontong dengan berbagai lauk seperti sate, tahu goreng, atau tauge. Kombinasi lauk ini akan menambah kenikmatan dan keanekaragaman rasa dari lontong.<\/p>\n<p>Di Kampung Lontong Surabaya, lontong bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Proses pembuatan lontong yang diwariskan dari generasi ke generasi mencerminkan nilai-nilai tradisional yang masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat.<\/p>\n<p>Kampung Lontong juga menjadi destinasi wisata kuliner yang menarik bagi para pengunjung yang ingin merasakan langsung pembuatan lontong tradisional. Di sini, pengunjung dapat belajar tentang berbagai cara pembuatan lontong, menikmati beragam olahan lontong, serta memahami lebih dalam mengenai sejarah dan filosofi di balik makanan tradisional ini.<\/p>\n<p>Sebagai salah satu warisan kuliner Indonesia, lontong terus dijaga dan dilestarikan, tidak hanya oleh warga Surabaya tetapi juga oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan teknik pembuatan yang relatif sederhana dan bahan baku yang mudah didapat, lontong tetap menjadi pilihan makanan yang digemari, baik sebagai hidangan sehari-hari maupun dalam perayaan khusus.<\/p>\n<p>Lontong, dengan segala keunikan dan kelezatannya, akan terus menjadi bagian dari budaya dan tradisi kuliner Indonesia, membawa kita pada kenangan masa lalu dan tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Kampung Lontong Surabaya menjadi saksi bisu dari perjalanan kuliner ini, tempat di mana tradisi bertemu dengan kehidupan modern dan tetap bertahan sebagai simbol dari kekayaan budaya Indonesia.<\/p>\n<p>Penulis : <strong>Karina Betries S<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Lontong merupakan makanan khas Indonesia yang sudah ada sejak zaman dahulu kala, Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Dengan kesederhanaan pembuatannya, lontong cepat diterima oleh masyarakat luas dan mulai menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Lontong sering kali disajikan sebagai pengganti nasi dan menjadi pelengkap berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-15555","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15555","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15555"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15555\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15555"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15555"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15555"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}