{"id":15252,"date":"2024-06-15T01:36:13","date_gmt":"2024-06-14T17:36:13","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15252"},"modified":"2024-06-16T08:45:36","modified_gmt":"2024-06-16T00:45:36","slug":"implementasi-pendidikan-moral-terhadap-anti-bullying-di-sekolah-dasar-melalui-program-kampus-mengajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/implementasi-pendidikan-moral-terhadap-anti-bullying-di-sekolah-dasar-melalui-program-kampus-mengajar\/15252\/","title":{"rendered":"IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MORAL TERHADAP ANTI BULLYING DI SEKOLAH DASAR MELALUI PROGRAM KAMPUS MENGAJAR"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oktaviani Lumban Raja\u00b9, Mutiara Violanda Sinaga\u00b2, Natalia Cristina Saragih\u00b3, Elsi Apulina Br. Tarigan4<br \/>\nUniversitas Sumatera Utara<\/strong><\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><br \/>\nPendidikan merupakan salah satu jembatan yang menjembatani pembangunan dan pengetahuan bagi seluruh penerus generasi bangsa dengan segala kemudahan aksesnya yaitu melalui teknologi. Merdeka belajar-kampus mengajar memberikan kontribusi yang baik dan positif bagi mahasiswa untuk berkreativitas di luar ruangan perkuliahan dengan menerapkan ilmu yang dimiliki dan diterapkan kepada 3T (Terdepan, tertinggal, dan terluar). Teknologi di era 4.0 saat ini membuat banyaknya terjadi kasus bullying yang harus disosialisasikan kepada para pelajar terutama di Sekolah Dasar dengan penanaman pendidikan moral sebagai salah satu pedoman untuk menghentikan aksi bullying di semua kalangan terutama di Sekolah Dasar. Pekerja sosial hadir dengan perannya sebagai educator dan intervensi sosial yang dilakukan juga dibutuhkan dalam hal mengentaskan perundungan atau bullying melalui pendidikan moral yang diterapkan dalam program kampus merdeka-kampus mengajar.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nMenteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, meluncurkan sebuah program \u201cMerdeka Belajar\u201d yang bertujuan untuk merespon kebutuhan pendidikan terhadap era revolusi industri 4.0. Penyelenggaraan program ini juga mendapatkan dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Era 4.0 merupakan salah satu alternatif dalam mewujudkan terobosan baru dalam dunia pendidikan yaitu Merdeka Belajar-Kampus Merdeka.<\/p>\n<p>Kampus Mengajar merupakan salah satu program Kampus Merdeka yang dicetuskan oleh Mendikbud kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi dengan tujuan yang diharapkan bahwa melalui program tersebut dapat menunjang kreativitas mahasiswa dalam melakukan praktiknya di luar kelas perkuliahan serta melatih soft skill maupun hard skill. Program kampus mengajar tersebut merupakan salah satu kontribusi terhadap dunia pendidikan secara langsung oleh mahasiswa di sekolah-sekolah yang identik dengan 3T (Terdepan, tertinggal, dan terluar).<\/p>\n<p>Menurut Mendikbud, ada beberapa tujuan dari kegiatan Kampus Mengajar-Kampus Merdeka yaitu mahasiswa memperdalam ilmu dan keterampilan dengan mendampingi proses pengajaran pada satuan pendidikan di daerah yang ditetapkan Kemendikbudristek. Secara khusus, program ini bertujuan antara lain:<\/p>\n<p>1.\tPeningkatan keterampilan Mahasiswa meliputi:<br \/>\n\u2022\tKemampuan kepemimpinan, empati sosial, berpikir analitis saat merancang program bersama kelompok dan pihak sekolah;<br \/>\n\u2022\tKemampuan penyelesaian masalah saat penugasan berlangsung dimana Mahasiswa ditantang untuk memberikan solusi yang kreatif dan inovatif;<br \/>\n\u2022\tKemampuan kerja sama dan manajemen tim lintas bidang ilmu dan ragam asal Mahasiswa yang terjalin agar tujuan kelompok tercapai dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi;<br \/>\n\u2022\tKreativitas dan inovasi dalam merancang model, metode, strategi, dan teknis pembelajaran melalui kolaborasi dengan guru; dan<br \/>\n\u2022\tKemampuan komunikasi saat melakukan kegiatan bersama para pemangku kepentingan terkait.<\/p>\n<p>2.\tPeningkatan variasi metode pembelajaran literasi dan numerasi siswa di satuan pendidikan dasar dan menengah.<br \/>\nPerkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan sumbangsih dampak baik positif maupun negatif sehingga mengharuskan kebijakan dalam penggunaannya. Bullying kerap kali terjadi terutama dibidang teknologi atau cyberbullying. Bullying merupakan fenomena yang terjadi baik secara tidak langsung maupun secara langsung baik berupa penindasan, pengasingan, peneroran, pemerasan, fisik, verbal dan nonverbal, serta psikologis.<\/p>\n<p>Praktikan melakukan mini project terhadap \u201eAnti Bullying\u201f di Sekolah Dasar 065011 Asam Kumbang sebagai bentuk akhir kegiatan kampus mengajar-kampus merdeka yang disertai dengan pendidikan moral didasari dengan peran sebagai educator sebagai calon pekerja sosial. Moral secara etimologi berasal dari bahasa Latin mores yakni bentuk jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan secara terminologi moral berarti suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, buruk. (Sholihin, 2015: 29).<\/p>\n<p>Pendidikan moral merupakan salah satu bagian dari pendidikan karakter yang wajib ditingkatkan kepada pelajar di SD tersebut. Pendidikan moral adalah salah satu pedoman seseorang individu maupun kelompok dalam bertingkah laku sesuai dengan moral-moral yang ada sehingga individu tersebut terhindar dari adanya permasalahan sosial seperti kenakalan remaja, bullying, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p><strong>METODE PELAKSANAAN<\/strong><br \/>\nKampus mengajar adalah suatu program kegiatan yang tujuannya untuk meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan. Seperti yang kita ketahui kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Keterbatasan membaca dan numerasi sering terjadi di kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan sekolah dasar. Dengan adanya statement tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan sebuah wadah untuk memfasilitasi dan mengembangkan Pendidikan di Indonesia khususnya pada daerah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) yakni dilakukan melalui program Kampus Merdeka dengan sebutan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memunculkan suatu paradigma baru di dalam dunia pendidikan. Melalui program ini peran mahasiswa sangat membantu untuk memberikan pembelajarankepada siswa sekolah dan mengasah kreativitas mereka dalam konteks yangberkaitandengan pendidikan, digital, minat dan bakat yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan individu mereka. Tahapan awal yang praktikan lakukan ketika memulai kegiatan kampus mengajar di SD Negeri 065011 adalah tahap observasi lingkungan sekolah. Selanjutnya adalah memulai proses pendekatan kepada kepala sekolah, guru-guru, dan memperkenalkan diri pada siswa-siswi. Setelah tahap pendekatan telah selesai, praktikan kemudian melakukan program-program kerja yang telah dirancang sebelumnya di sekolah tersebut yaitu program kampus mengajar seperti Thingking, Pair, and Share serta melakukan sosialisasi mencegah tindakan bullying di sekolah. Dalam Pembelajaran sosial dan emosional ini terdapat metode yang di gunakan, yaitu metode group work, Metode pekerjaan sosial dengan menggunakan metode Group Work dengan berbagai tahap antara lain:<\/p>\n<p>1.\t<strong>Tahap Engagement, Intake dan Contract<\/strong><br \/>\nEngagement merupakan proses membangun relasi professional yang positif dan harus dapat menunjukkan sikap empati, dan keaslian pada siswa dan siswi. Intake merupakan perkenalan kepada siswa-siswi yang dimana akan bersedia untuk membantu siswa-siswi dalam menyelesaikan masalahnya yaitu mencegah terjadinya tindakan perudungan (bullying) di UPT SD Negeri 065011 Asam Kumbang. Dan terakhir contract adalah kesepakatan kontrak atau perjanjian berapa lama proses intervensi akan dilakukan.<\/p>\n<p>2.\t<strong>Tahap Assessment<\/strong><br \/>\nTahap awal yang berisikan proses pendekatan pada siswa, memberikan pemahaman maupun penjelasan terkait profesi pekerja sosial dan proses terjadinya kesepakatan kontrak atau perjanjian tentang berapa lama proses intervensi dilakukan.<\/p>\n<p>3.\t<strong>Tahap Planning<\/strong><br \/>\nPada tahap ini berisikan penentuan strategi atau program yang tepat dan sengaja dirancang untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah siswa. Praktikan memberikan kesempatan besar bagi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam usaha menyelesaikan masalah yang dihadapi, dengan strategi yang melibatkan eksplorasi potensi diri melalui hobi mereka (berdiskusi, memahami, dan menceritakan kembali).<\/p>\n<p>4.\t<strong>Tahap Intervensi<\/strong><br \/>\nBerisi tahapan pelaksanaan program dengan tujuan dan harapan terjadinya perubahan ke arah yang diinginkan. Sebelum dimulai penerapan program, praktikan memberikan konseling kepada siswa dengan menekankan dan menyadarkan akan potensi serta kekuatan yang dimiliki siswa tersebut. Kemudian, memberikan pemahaman bahwa setiap individu memiliki nilai, keberhargaan, dan berhak bahagia. Selanjutnya, masuk pada tahap pelaksanaan program, siswa diberi kesempatan untuk membaca, mewarnai, duduk santai bersama untuk berdiskusi dengan teman.<\/p>\n<p>5.\t<strong>Tahap Evaluasi<\/strong><br \/>\nDalam tahap ini merupakan upaya mengevaluasi program (mini project) yang praktikan lakukan apakah dapat dikatakan berhasil dan tepat sasaran. Setelah tahap-tahap sebelumnya, praktikan menemukan ada perubahan yang signifikan pada siswa. Siswa mulai mengembangkan rasa percaya diri yang lebih kuat dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p>6.\t<strong>Tahap Terminasi<\/strong><br \/>\nDalam tahap ini merupakan tahapan berakhirnya perjanjian antara tenaga sosial dan siswa yang berjalan dengan sukses sesuai dengan harapan yang ditetapkan pada awal program.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nPraktik Kerja Lapangan (PKL 1) merupakan bagian dari kegiatan laboratorium Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU. Program Literasi dan Numerasi penting untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, kemampuan ini harus diperkuat sejak usia dini. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan membaca dan berhitung anak adalah program Kampus Mengajar yang dijalankan oleh mahasiswa dan ditujukan untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)terkhususnya di daerah 3T. Kegiatan kampus mengajar tidak hanya sukses dalam meningkatkan literasi, numerasi dan adaptasi teknologi peserta didik, namun juga dapat mencegah terjadinya tindakan perundungan (bullying) di UPT SD Negeri 065011 Asam Kumbang dalam proses pembelajaran serta kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong>:<br \/>\nMuhamad, T., &#038; Anugrah, F. (2021). Implementasi Pelaksanaan Program Kampus Mengajar Angkatan 1 Terdampak Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Sds Abc Jakarta Utara). Akselerasi: jurnal ilmiah nasional, 3(3), 38-47.<br \/>\nHamzah, R. A. (2021). Pelaksanaan kampus mengajar angkatan I program merdeka belajar kemdikbud di sekolah dasar. Dedikasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 1-8.<br \/>\nArifin, M. L. (2016). Konsep Pendidikan Moral Menurut Said Nursi: Array. DIALEKTIKA Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Dasar, 5(1).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oktaviani Lumban Raja\u00b9, Mutiara Violanda Sinaga\u00b2, Natalia Cristina Saragih\u00b3, Elsi Apulina Br. Tarigan4 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Pendidikan merupakan salah satu jembatan yang menjembatani pembangunan dan pengetahuan bagi seluruh penerus generasi bangsa dengan segala kemudahan aksesnya yaitu melalui teknologi. Merdeka belajar-kampus mengajar memberikan kontribusi yang baik dan positif bagi mahasiswa untuk berkreativitas di luar ruangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-15252","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15252"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15252\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}