{"id":15128,"date":"2024-06-13T21:51:29","date_gmt":"2024-06-13T13:51:29","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=15128"},"modified":"2024-06-13T21:51:29","modified_gmt":"2024-06-13T13:51:29","slug":"rintangan-rasa-mengapa-kedekatan-harus-dibatasi-namun-kekeluargaan-melekat-di-jiwa-residen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/rintangan-rasa-mengapa-kedekatan-harus-dibatasi-namun-kekeluargaan-melekat-di-jiwa-residen\/15128\/","title":{"rendered":"Rintangan Rasa: Mengapa Kedekatan Harus Dibatasi namun Kekeluargaan Melekat di Jiwa Residen?"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Enam mahasiswa semester 4 Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, membentuk Kelompok (3) dalam mata kuliah Gangguan Penyalahgunaan Zat. Anggota kelompok ini terdiri dari Anita Maisaroh (220902018), Rizky Akbar (220902033), Rachel Yohana Vatreciya Purba (220902040), Yolanda Oktari Br Bangun (220902050), Muhammad Aqsha Rangkuti (220902107), dan Muhammad Hazel Arrazeq (220902108), yang telah melakukan penelitian observasional dan analisis di Institut Penyelenggara Wajib Lapor (IPWL) Bukit Doa pada Hari Rabu 29 Mei 2024, Senin 3 Juni 2024, dan Selasa 4 Juni 2024, yang berlokasi di Jalan Lapangan Golf No.120 B, Kelurahan Tengah, Kecamatan Pancur Batu, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dibimbing oleh dua dosen, yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga S. Sos, M.Kesos, dan dosen praktisi Bapak Eka Prahadian Abdurahman S.Ikom., M.K.M.<\/p>\n<p>Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa Bukit Doa Taman Getsemane merupakan Pusat Rehabilitasi yang telah berdiri sejak tahun 1982. Perlu diketahui bahwa IPWL merupakan sebuah sistem kelembagaan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Bagi Pecandu Narkotika. Institusi ini merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, khususnya pasal 55.<\/p>\n<p>Di sebuah lembaga rehabilitasi sudah tidak asing bagi kita untuk mengamati berbagai permasalahan, harapan, dan realitas yang ada di dalamnya. Sejalan dengan temuan penelitian yang kami sajikan di sini, dalam konteks lembaga rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA khususnya di IPWL Bukit Doa diharapkan setiap residen mampu memupuk rasa kekeluargaan di antara sesama residen. Meski kekeluargaan memiliki peran vital dalam menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan, namun perlu diwaspadai bahwa hubungan emosional yang terlalu erat di antara residen dapat menghambat proses rehabilitasi. <\/p>\n<p>Hal ini disebabkan oleh pengamatan terhadap aktivitas yang dilakukan selama program rehabilitasi, di mana penting bagi individu untuk memberi teguran kepada sesama apabila terjadi kesalahan. Kondisi dimana individu merasakan emosi yang berlebihan terhadap individu lainnya dapat menghambat proses pemulihan karena adanya ketidaknyamanan untuk menegur jika terdapat kesalahan yang dilakukan oleh individu yang memiliki hubungan emosional yang terlalu kuat dengan individu lainnya. <\/p>\n<p>Dari hasil penelitian yang kami lakukan di IPWL Bukit Doa melalui wawancara dan observasi dengan konselor adiksi dan staff administrasi IPWL Bukit Doa, yaitu Bapak Agus dan Ibu Dorma, diketahui bahwa setiap penghuni dilarang menjalin hubungan yang terlalu dekat dengan penghuni lain di rehabilitasi tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan kelancaran program &#8220;pembelajaran&#8221; seperti sesi encounter dan hair cut. Sesi encounter adalah waktu di mana penghuni diberi kesempatan untuk mengekspresikan berbagai emosi seperti kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan lain-lain yang mereka rasakan. Di sisi lain, hair cut merupakan bentuk &#8220;pembelajaran&#8221; yang diberikan kepada penghuni yang melakukan kesalahan berulang kali. Rekan penghuni akan mengekspresikan ketidakpuasan ini dengan meningkatkan volume suara dan menatap tajam penghuni yang melakukan kesalahan tanpa adanya unsur kata-kata yang kasar dan kekerasan fisik antar sesama karena bertentangan dengan prinsip mereka yang bersifat religi.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30.jpg\" alt=\"\" width=\"992\" height=\"609\" class=\"aligncenter size-full wp-image-15129\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30.jpg 992w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-300x184.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-768x471.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-150x92.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-696x427.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 992px) 100vw, 992px\" \/><\/p>\n<figure id=\"attachment_15130\" aria-describedby=\"caption-attachment-15130\" style=\"width: 974px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-57.jpg\" alt=\"\" width=\"974\" height=\"522\" class=\"size-full wp-image-15130\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-57.jpg 974w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-57-300x161.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-57-768x412.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-57-150x80.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-57-696x373.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 974px) 100vw, 974px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15130\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Wawancara dengan Konselor Adiksi IPWL Bukit Doa<\/figcaption><\/figure>\n<p>Untuk menjaga keseimbangan emosional tersebut dan memastikan terjalinnya ikatan kekeluargaan, pihak panti melakukan rotasi tempat tidur setiap minggu atau dua minggu sekali. Hal ini bertujuan agar emosi setiap penghuni tetap netral terhadap sesama penghuni, tanpa adanya perasaan sayang atau benci yang berlebihan di antara mereka. Dengan demikian, sesi enconter dan haircut dapat berlangsung lancar dan memberikan pembelajaran bagi individu yang melakukan kesalahan. Tujuan dari pendekatan dan hubungan yang dijaga adalah untuk memaksimalkan sesi encounter dan haircut antara penghuni yang dapat berlangsung secara efektif, tanpa adanya hambatan rasa simpati atau kasih sayang yang berlebihan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_15129\" aria-describedby=\"caption-attachment-15129\" style=\"width: 992px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30.jpg\" alt=\"\" width=\"992\" height=\"609\" class=\"size-full wp-image-15129\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30.jpg 992w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-300x184.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-768x471.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-150x92.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-30-696x427.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 992px) 100vw, 992px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15129\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Wawancara dengan Staff Administrasi IPWL Bukit Doa<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penelitian ini didasarkan pada teori Ketergantungan Emosional (Emotional Dependency Theory) yang membandingkan dengan peneliti lain, yaitu Mariantonia Lemos pada International Journal of Psychological Research, yang menyatakan bahwa individu yang bergantung secara emosional pada orang lain akan mengalami perasaan kesepian, kesedihan, bahkan depresi ketika terpisah. Peneliti tersebut juga menunjukkan bahwa pengabaian dari lingkungan sekitar dapat memicu ketakutan akan kesendirian dan kecemasan akan perpisahan serta pencarian perhatian. Namun, temuan lapangan dan hasil observasi serta wawancara kami menunjukkan bahwa ketergantungan emosional yang berlebihan pada individu lain dapat berdampak negatif pada proses pemulihan, karena menimbulkan ketidaknyamanan untuk menegur individu yang sudah terlalu bergantung, dan dengan adanya pembatasan emosional yang berlebihan membuat mereka merasa aman, nyaman dan berkeluarga. Oleh karena itu, penting untuk mencegah pertumbuhan emosi yang berlebihan di antara penghuni di IPWL Bukit Doa agar tidak terbentuknya ketergantungan emosional yang dapat mengubah tujuan pemulihan penghuni di lembaga rehabilitasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Enam mahasiswa semester 4 Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, membentuk Kelompok (3) dalam mata kuliah Gangguan Penyalahgunaan Zat. Anggota kelompok ini terdiri dari Anita Maisaroh (220902018), Rizky Akbar (220902033), Rachel Yohana Vatreciya Purba (220902040), Yolanda Oktari Br Bangun (220902050), Muhammad Aqsha Rangkuti (220902107), dan Muhammad [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-15128","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15128","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15128"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15128\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15128"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15128"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15128"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}