{"id":1509,"date":"2023-07-04T14:40:56","date_gmt":"2023-07-04T06:40:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=1509"},"modified":"2023-07-04T14:40:56","modified_gmt":"2023-07-04T06:40:56","slug":"perkembangan-suku-dan-kerjasama-indonesia-di-suriname","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/perkembangan-suku-dan-kerjasama-indonesia-di-suriname\/1509\/","title":{"rendered":"Perkembangan Suku Dan Kerjasama Indonesia di Suriname"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Na&#8217;ilah Zahra, Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Suriname merupakan sebuah wilayah yang dulunya merupakan wilayah bekas jajahan Belanda wilayahnya berada di ujung Amerika Selatan memiliki ibukota bernama  Paribo ,dahulu nama daerah tersebut  bukanlah Suriname melainkan Guyana belanda,Suriname terkenal sekali dengan banyak penduduk nya yang mahir berbahasa Jawa namun suku jawa di sana bukan sebagai mayoritas banyak suku lainnya yang berada di sana seperti Sunda,Madura dan Minang dan Aceh.keturunan mereka sangat mahir dalam berbahasa Belanda dan Inggris.keberadaan suku Jawa dan suku-suku lainnya yang berada di suriname merupakan campur tangan dari Belanda,pada masa kolonial saat itu daerah kekuasaan belanda sangat luas mencakup Afrika Selatan Hindia Belanda dan Suriname,di tahun 1880 dilakukan perekrutan etnis Jawa gerakan ini terjadi karena saat itu indonesia sedang banyak mengalami konflik yang besar terkait dengan masalah politik. (Aisyah 2021)<\/p>\n<p>awal kedatangan etnis jawa melalui serikat dagang VOC yang awalnya hanya ingin mengambil rempah-rempah yang ada di indonesia  dan wilayah yang terdampak dari kedatang VOC yaitu Jawa Tengah,Maluku dan Sunda Banten karena wilayah tersebut memiliki banyak kekayaan rempah maka dari itu banyak penjajah yang melakukan monopoli dan eksploitasi terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia di kawasan Jawa. dan hubungan keberadaan bangsa Jawa di Suriname tidak lepas karena campur Tangan kolonialisme Belanda,sampai saat ini Suriname merupakan negara yang memiliki bahasa resmi yaitu bahasa Belanda.para pekerja yang berasal dari Indonesia yang berada di Suriname saat mereka datang untuk pertama kali di tanah Suriname para pekerja di berikan perumahan secara gratis.<\/p>\n<p>bagi warga Indonesia yang hidup di Suriname saat itu sangatlah tidak mudah mereka harus mampu menyesuaikan diri dan bertahan hidup mereka di lingkungan baru yang mereka tempati yang dimana budaya dan kehidupan disana sangat berbeda jauh, faktanya pada saat itu  tidak banyak para imigran di sana yang mampu berbahasa  Lingua Franca Suriname dan begitupun warga mereka juga tidak mampu berbahasa Jawa mereka memiliki kendala pada bahasa.(Merry 2013)walaupun memiliki kendala setelah Perang Dunia II para imigran tersebut memilih untuk menetap di sana dan sebagian besar adalah etnis Jawa mereka merasa bahwa kehidupan di Suriname lebih membantu perekonomian mereka ketimbang kembali ke Indonesia.<\/p>\n<p>dan pada akhirnya kebudayaan Jawa yang berada di Suriname mulai memiliki kebijakan otoritas dan perlembagaan hal ini bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa di Suriname,terdapat dua lembaga yaitu VHJI ( vereniging Herdenking Javaanse Immigratie) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Suriname.VHJI didirikan bertujuan untuk bisa menjadi wadah kontribusi para anak muda indonesia yang berada di Suriname untuk menanamkan kesadaran nasional serta melestarikan budaya dan seni,dan dalam lembaga tersebut pengenalan di lakukan dengan melalui pertunjukan seni budaya yang di dalamnya terdapat tarian,beladiri,alat musik ,gamelan dan memperkenalkan pemeran batik tradisional Indonesia  VHJI  memfasilitasi semua kegiatan yang ada dari mulai alat musik sampai dengan perlengkapan tari yang dibawa dari Indonesia untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang berada di sana. (KEMENLU, Dukung Pelestarian Budaya Indonesia di Suriname, KBRI Paramaribo Gelar Kursus Gamelan Tahun 2023 2023) sedangkan KBRI Suriname melakukan diplomasi dalam bidang ekonomi sosial dan budaya dengan Suriname untuk menjaga para warga indonesia dan memperkuat Budaya Indonesia,agar tetap terjaga dengan baik.dalam Kbri juga membuka beasiswa untuk para warga Suriname yang memiliki keinginan untuk belajar di Indonesia dan banyak sekali warga Suriname yang tertarik dengan kegiatan tersebut.<\/p>\n<p>dalam mempertahankan Etnis para warga Indonesia yang menetap di Suriname mereka selalu berusaha untuk terus mempertahankan  tradisi yang mereka miliki mereka tidak pernah melupakan identitas mereka sebagai Warga Indonesia walaupun mereka meninggalkan tanah air mereka dalam  praktik kehidupan mereka sehari-hari contohnya adalah politik ,warga Suriname mampu bersaing untuk mampu terlibat dalam Politik Suriname.mereka menggunakan nama Partai mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia.contohnya adalah seperti partai Pertjajah Luhur. <\/p>\n<p>Indonesia sampai saat ini juga sangat memiliki hubungan yang baik dengan Suriname dalam diplomasi yang dilakukan Indonesia melakukan kerjasama dalam bidang perekonomian,sosial budaya,serta menjalin aliansi dalam Organisasi Internasional(OI). (KEMENLU, Hubungan Bilateral Suriname t.thn.)keterikatan Suriname dengan Indonesia sangatlah besar pasalnya Indonesia merupakan negara yang memiliki keterikatan yang sangat kental bagaikan darah,maka dari itu hubungan kedua negara harus terus selalu dijaga dengan baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Na&#8217;ilah Zahra, Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta JurnalPost.com &#8211; Suriname merupakan sebuah wilayah yang dulunya merupakan wilayah bekas jajahan Belanda wilayahnya berada di ujung Amerika Selatan memiliki ibukota bernama Paribo ,dahulu nama daerah tersebut bukanlah Suriname melainkan Guyana belanda,Suriname terkenal sekali dengan banyak penduduk nya yang mahir berbahasa Jawa namun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1510,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1,36],"tags":[],"class_list":["post-1509","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1509","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1509"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1509\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1510"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1509"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1509"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1509"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}