{"id":14631,"date":"2024-06-01T10:49:30","date_gmt":"2024-06-01T02:49:30","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=14631"},"modified":"2024-06-01T10:57:50","modified_gmt":"2024-06-01T02:57:50","slug":"menyuarakan-kesehatan-mental-mahasiswa-untuk-menghindari-kasus-bunuh-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menyuarakan-kesehatan-mental-mahasiswa-untuk-menghindari-kasus-bunuh-diri\/14631\/","title":{"rendered":"Menyuarakan Kesehatan Mental Mahasiswa Untuk Menghindari Kasus Bunuh Diri"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"338\" class=\"aligncenter size-full wp-image-14632\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-1.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-1-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-1-150x84.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Husniatul Mutmainnah<br \/>\nProdi Tasawuf dan Psikoterapi<br \/>\nFakultas Ushuluddin dan Filsafat<br \/>\nMahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kesehatan mental merupakan aspek vital dalam kehidupan seseorang. Faktor-faktor seperti pertemanan, keluarga, dan gaya hidup dapat mempengaruhinya secara signifikan. Kesehatan mental yang baik akan meningkatkan kualitas hidup, sedangkan kondisi mental yang buruk dapat mengganggu kesejahteraan seseorang. <\/p>\n<p>Masalah kesehatan mental juga bisa dikatakan sangat penting dalam bidang pendidikan, terutama di kalangan mahasiswa. Untuk dapat belajar dengan baik dan fokus, mahasiswa harus memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat. Mahasiswa berada dalam fase transisi dari remaja ke dewasa, mencari jati diri dan merencanakan masa depan.<\/p>\n<p>Mahasiswa sering kali menghadapi stres yang berkaitan dengan kegiatan akademik. Stres ini bisa berasal dari tugas kuliah, harapan orang tua, maupun harapan pribadi untuk sukses di masa depan. Masa peralihan dan tekanan akademis ini membuat mahasiswa rentan terhadap masalah kesehatan mental.<\/p>\n<p><strong>Penelusuran Data Kesehatan Mental<\/strong><br \/>\nBerdasarkan data menurut World Population Review, Ukraina menempati urutan pertama dalam tingkat depresi global pada tahun 2023, dengan 2.800.587 kasus atau 6,3 persen dari total penduduk. Amerika Serikat berada di urutan kedua dengan 17.491.047 kasus (5,9 persen), diikuti oleh Estonia dengan 75.667 kasus (5,9 persen).<\/p>\n<p>Adapun data Indonesia memiliki 9.162.886 kasus depresi, yang mencakup 3,7 persen dari total penduduk. Dengan jumlah penduduk yang meningkat lebih dari 3 juta jiwa setiap tahun, total populasi Indonesia kini mencapai 278.16.661 jiwa. Angka ini menunjukkan potensi peningkatan jumlah kasus depresi di masa mendatang.<\/p>\n<p>Disamping itu, Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) menunjukkan juga bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental, dan satu dari dua puluh remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja, sesuai dengan panduan DSM-5.<\/p>\n<p>Kasus tragis terkait kesehatan mental terjadi pada seorang mahasiswa berinisial MAS (24) yang bunuh diri dengan menceburkan diri di Sungai Brantas, Kabupaten Malang, menyoroti dampak serius depresi di kalangan mahasiswa. MAS, mahasiswa semester 9 di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, diketahui mengalami depresi karena tidak mampu menyelesaikan skripsinya, seperti yang disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Malang AKP Gandha Syah Hidayat.<\/p>\n<p>MAS dikenal sebagai pribadi pendiam dan cenderung menyendiri, menurut keterangan keluarganya. Sifat introvertnya dan kebiasaan mengurung diri di kamar mungkin memperburuk kondisi mentalnya. Rekaman CCTV menunjukkan bahwa pada 6 Januari 2024, sekitar pukul 03.01 WIB, MAS meninggalkan rumah dengan melompat pagar, yang kemudian ditemukan meninggal di Sungai Brantas oleh seorang pemancing.<\/p>\n<p>Lebih jauh, keluarga MAS juga mengungkapkan bahwa ia pernah mencoba bunuh diri pada pertengahan 2023 dengan melompat di Sungai Metro, tetapi kemudian kembali ke rumah. Penemuan jasad MAS oleh pemancing pada pagi hari menguatkan dugaan bahwa tekanan akademik yang berat dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan kuliah memicu tindakan nekat tersebut. Tragedi ini menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa.<\/p>\n<p><strong>Penyebab Gangguan Kesehatan Mental<\/strong><br \/>\nAdapun penyebab gangguan kesehatan mental biasanya terjadi ketika mahasiswa menghadapi tugas akhir atau skripsi sering kali memicu kecemasan luar biasa di kalangan mahasiswa. Kecemasan ini adalah salah satu masalah kesehatan mental umum pada mahasiswa tingkat akhir karena beban akademik yang berat dan sifat tugas yang individual. Interaksi dan komunikasi yang kurang baik dengan dosen pembimbing juga dapat menambah tingkat kecemasan.<\/p>\n<p>Kecemasan tidak hanya menghambat keberhasilan akademik, tetapi juga menyebabkan gejala fisik dan psikologis seperti sakit perut, kesulitan mengambil keputusan, dan gangguan tidur. Meskipun banyak mahasiswa tidak mengalami kecemasan berat, hampir semua mengalami gejala yang tercantum dalam SRQ-20. Stres dapat meningkatkan produksi asam lambung yang menyebabkan gastritis.<\/p>\n<p>Stres sering menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut kembung, mual, dan perih. Mahasiswa yang menghadapi tekanan sering mengeluh sakit perut. Namun, dengan koping yang baik, respon ini bisa diantisipasi sehingga tidak berlanjut menjadi kecemasan atau gangguan kesehatan mental yang serius.<\/p>\n<p><strong>Contoh Penyakit Kesehatan Mental<\/strong><br \/>\nSelain itu juga, ada beberapa penyakit mental yang biasanya dialami oleh mahasiswa. Pertama, Gangguan bipolar sering disalahartikan dan banyak individu mendiagnosis diri sendiri secara keliru. Bipolar ditandai dengan perubahan drastis pada suasana hati, dari sangat bahagia ke sangat sedih. Banyak orang mengklaim dirinya bipolar karena suasana hati mereka mudah berubah, padahal gangguan ini memiliki indikator khusus yang harus didiagnosis oleh tenaga ahli.<\/p>\n<p>Kedua, anxiety yaitu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan kecemasan berlebihan. Penderita sering merasa cemas dan takut tanpa sebab yang jelas dan secara tiba-tiba. Anxiety sering terjadi akibat trauma masa lalu atau stres berkepanjangan. Tanpa pengobatan, anxiety dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan kesehatan mental penderita.<\/p>\n<p>Ketiga, ini merupakan penyakit mental yang paling sering dialami mahasiswa yaitu depresi yang mana mempengaruhi perasaan, cara berpikir, dan tindakan seseorang, ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat. Jika perasaan ini berlangsung lebih dari dua minggu, seseorang mungkin mengalami depresi. Tanpa penanganan, depresi dapat mengganggu kehidupan sosial dan produktivitas, bahkan memicu keinginan bunuh diri.<\/p>\n<p>Tuntutan akademik yang berat sering kali dirasakan mahasiswa melampaui kemampuan mereka, meningkatkan stres. Selain itu, terbatasnya ruang bersosialisasi dan jadwal belajar yang padat juga memengaruhi kesehatan mental. Lingkungan yang kompetitif dan target pencapaian yang tinggi membuat mahasiswa kurang waktu istirahat, mengganggu pola tidur dan makan, dan menempatkan mereka di bawah tekanan terus-menerus, yang dapat menyebabkan stres berkepanjangan.<\/p>\n<p><strong>Solusi Menghindari Kesehatan Mental<\/strong><br \/>\nShalat dalam Islam menjadi sarana untuk melepaskan pikiran dan perasaan dari tekanan dunia, memberikan ketenangan dan kedamaian hati. Para ahli stres merekomendasikan waktu tenang setiap hari, dan shalat lima waktu menyediakan ini bagi umat Muslim, membantu mereka menenangkan diri dan meningkatkan ketahanan terhadap stres. Praktik ini dapat menghasilkan ketenangan hati yang konsisten, mengurangi dampak negatif dari stres sehari-hari. <\/p>\n<p>Agama Islam juga memainkan peran penting dalam membentuk kesehatan mental yang baik dan menyembuhkan gangguan mental. Pengalaman beragama membantu melindungi individu dari gejala gangguan mental dan memulihkan kesehatan jiwa mereka. Kedekatan dengan Tuhan dan frekuensi ibadah meningkatkan ketentraman jiwa dan kemampuan menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya, semakin jauh seseorang dari agama, semakin sulit mencari ketentraman batin (Fajrussalam et al., 2022).<\/p>\n<p>Adapun mahasiswa yang memiliki hafalan Al-Qur\u2019an, hidupnya sangat mudah terhidar dari stress karena dia memiliki kecerdasan spiritual tinggi, merasa dekat dengan Allah saat menghafal, dan merasakan perlindungan diri. Mereka berusaha mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, seperti yang diungkapkan oleh Zohar dan Marshall bahwa kecerdasan spiritual menyinari jalan seseorang melalui &#8220;mata hati.&#8221;<\/p>\n<p>Menurut Zohar dan Marshall, dalam diri orang yang beriman dan taat beragama, suara yang menyeru mereka adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan positif. Hal ini menunjukkan bahwa menghafal Alquran memberikan banyak manfaat positif pada individu, menjauhkan mereka dari kehampaan eksistensial dan keputusasaan.<\/p>\n<p>Menghafal Al-Qur\u2019an juga membantu mahasiswa merasa lebih berdaya dan optimis, baik terhadap masa lalu maupun masa depan. Kedekatan spiritual ini tidak hanya memperkuat mental mereka, tetapi juga memberikan arah dan tujuan hidup yang jelas, menjadikan mereka lebih resilien terhadap tekanan dan tantangan hidup (Toyibah &#038; Sulianti, 2017).<\/p>\n<p>Kesimpulannya, kesehatan mental mahasiswa merupakan aspek penting yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tuntutan akademik dan tekanan sosial. Kasus depresi dan kecemasan tinggi di kalangan mahasiswa menunjukkan perlunya perhatian lebih. Dalam perspektif Islam, praktik religius seperti shalat dan menghafal Al-Qur\u2019an dapat memberikan ketenangan dan meningkatkan ketahanan mental, menjauhkan individu dari stres dan gangguan mental. Pendekatan spiritual ini terbukti membantu mahasiswa mengatasi tekanan hidup, meningkatkan kesehatan mental mereka, dan memberikan ketentraman jiwa.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nAminudin, M. (2023). Motif Mahasiswa Malang Bunuh Diri gegara Depresi Skripsi Tak Selesai [Berita]. detikJatim. https:\/\/www.detik .com\/jatim\/berita\/d-7132997\/motif-mahasiswa-malang-bunuh-diri-gegara-depresi-skripsi-tak-selesai<br \/>\nAnnury, U. A., Yuliana, F., Suhadi, V. A. Z., &#038; Karlina, C. S. A. (2022). Dampak Self Diagnose Pada Kondisi Mental Health Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Prosiding Seminar Nasional Ilmu Ilmu Sosial (SNIIS) 2022, 1.<br \/>\nAnwar, I. C. (2023). Info Data Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Tahun 2023 [Inforasi]. Tirto.Id. https:\/\/tirto .id\/info-data-kesehatan-mental-masyarakat-indonesia-tahun-2023-gQRT<br \/>\nFajrussalam, H., Hasanah, I. A., Asri, N. O. A., &#038; Anaureta, N. A. (2022). Peran Agama Islam dalam Pengaruh Kesehatan Mental Mahasiswa. Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam, 5(1). https:\/\/doi.org\/10.30659\/jspi.v5i1.21041<br \/>\nGloriabarus. (2022). Hasil Survei I-NAMHS: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki Masalah Kesehatan Mental [Berita]. Universitas Gadjah Mada. https:\/\/ugm.ac.id\/id\/berita\/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental\/<br \/>\nNurhafiyah, I., &#038; Marcos, H. (2023). SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS AMIKOM PURWOKERTO. Komputa\u202f: Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika, 12(1). https:\/\/doi.org\/10.34010\/komputa.v12i1.8978<br \/>\nSari, M. K., &#038; Susmiatin, E. A. (2023). Deteksi Dini Kesehatan Mental Emosional pada Mahasiswa. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram, 13(1). https:\/\/doi.org\/10.57267\/jisym.v13i1.226<br \/>\nToyibah, S. A., &#038; Sulianti, A. (2017). PENGARUH KECERDASAN SPIRITUAL TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA PENGHAFAL ALQURAN. Jurnal Psikologi Islam, 4(2).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Husniatul Mutmainnah Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya JurnalPost.com &#8211; Kesehatan mental merupakan aspek vital dalam kehidupan seseorang. Faktor-faktor seperti pertemanan, keluarga, dan gaya hidup dapat mempengaruhinya secara signifikan. Kesehatan mental yang baik akan meningkatkan kualitas hidup, sedangkan kondisi mental yang buruk dapat mengganggu kesejahteraan seseorang. Masalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-14631","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14631","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14631"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14631\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14631"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14631"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14631"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}