{"id":14626,"date":"2024-06-01T10:46:38","date_gmt":"2024-06-01T02:46:38","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=14626"},"modified":"2024-06-01T10:46:38","modified_gmt":"2024-06-01T02:46:38","slug":"merumuskan-dampak-jangka-panjang-kendaraan-listrik-pada-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/merumuskan-dampak-jangka-panjang-kendaraan-listrik-pada-lingkungan\/14626\/","title":{"rendered":"Merumuskan dampak jangka panjang kendaraan listrik pada lingkungan"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: M. <strong>Nasrulloh Alexander<br \/>\nMahasiswa Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kendaraan Listrik: Peluang Dan Tantangan<\/strong><br \/>\nKendaraan listrik tengah menjadi pusat perhatian, terutama di Indonesia, sementara beberapa negara maju juga telah mulai menggunakan kendaraan umum listrik, seperti truk, bus, dan kapal. Penggunaan ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Kendaraan Listrik ini mempunyai manfaat yang sangat baik bagi lingkungan dan juga untuk manusia. Namun, kendaraan Listrik bisa memperparah poslusi jika tidak di dukung dengan energi yang bersih. kendaraan memiliki sisi negatif juga yang tak terduga. Sedangkan untuk Indonesia sendiri sumber listrik\/ pembangkit listrik terbesar dan rata rata di Indonesia masih mengandalkan energi dari batu bara. Pada Esai kali ini akan mengkaji beberapa dampak negatif yang kemungkinan akan timbul dari penggunaan kendaraan listrik pada zaman sekarang ini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_14628\" aria-describedby=\"caption-attachment-14628\" style=\"width: 474px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-14628\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1.jpg\" alt=\"\" width=\"474\" height=\"287\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1.jpg 474w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-300x182.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar1-150x91.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 474px) 100vw, 474px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-14628\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1 kendaraan listrik 1<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Merumuskan dampak jangka panjang kendaraan listrik pada lingkungan untuk Produksi Pembangkit Listrik <\/strong><br \/>\nPembangkit Listrik Salah satu aspek yang penting bagi semua alat yang menggunakan energi listrik tanpa terkecuali kendaraan listrik yaitu membutuhkan Pembangkit Listrik. Kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi langsung saat digunakan, tetapi proses pembangkitan listrik untuk mengisi ulang baterai kendaraan tersebut bisa menyebabkan emisi dan pencemaran. Di Indonesia, sebagian besar listrik masih dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara[1]. Penggunaan listrik yang meningkat untuk mengisi kendaraan listrik dapat meningkatkan permintaan akan energi listrik, yang pada gilirannya dapat memperburuk masalah emisi dan polusi dari sumber energi yang tidak ramah lingkungan [2].<\/p>\n<figure id=\"attachment_14627\" aria-describedby=\"caption-attachment-14627\" style=\"width: 275px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-14627\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2.jpg\" alt=\"\" width=\"275\" height=\"183\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2.jpg 275w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Gambar2-150x100.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 275px) 100vw, 275px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-14627\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2 pembangkit Listrik 1<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Merumuskan dampak jangka panjang kendaraan listrik pada lingkungan untuk Bahan Baku Pembuatan Kendaraan Listrik<\/strong><br \/>\nBahan baku kendaraan ketergantungan pada bahan baku produksi kendaraan listrik memerlukan sumber daya alam yang besar. Seperti logam langka dan mineral. Proses penambangan dan pengolahan sumber daya ini dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius. Sebagai contoh kerusakan yang akan terjadi yaitu:<\/p>\n<p>\u2022 Deforeatasi yaitu mengubah fungsi lahan hutan menjadi fungsi non hutan.<br \/>\n\u2022 Pencemaran air.<br \/>\n\u2022 Hilangnya habitat satwa liar.<br \/>\nDi Indonesia, peningkatan permintaan untuk sumber daya ini dapat mendorong eksploitasi yang tidak berkelanjutan. Selain itu, upaya mendaur ulang bahan baku kendaraan listrik juga penting, agar ketergantungan pada penambangan baru ini dapat berkurang. Pemerintah dapat mendorong industri daur ulang untuk ikut mendukung pengembangan teknologi daur ulang yang inovatif. Dengan cara ini, ketergantungan pada bahan baku produksi kendaraan listrik bisa berkurang.<\/p>\n<p><strong>Merumuskan dampak jangka panjang kendaraan listrik pada lingkungan untuk permasalahan limbah baterai<\/strong><br \/>\nLimbah baterai Masalah Daur Ulang Baterai Baterai kendaraan listrik memiliki masa pakai terbatas dan memerlukan penggantian secara berkala. Dan untuk di Indonesia sendiri untuk proses pendaur ulangan atau pun masih sedikit sekali yang bisa mendaur ulang. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mendaur ulang baterai ini, yaitu dengan cara:<\/p>\n<p>\u2022 Mengumpulkan baterai bekas. Dengan memisahkan berdasarkan dengan jenis dari baterai tersebut, yaitu seperti alkali, lithium- ino, nikel-kadmium, dan nikel \u2013 logam hidrida. Simpan baterai pada tempat yang aman dan kering.<br \/>\n\u2022 Membawa ke tempat pengumpulan. Pusat daur ulang di Indonesia sudah banyak tersedia, dan pemerintah serta organisasi lingkungan juga sering mengadakan program untuk mengumpulkan baterai untuk daur ulang.<br \/>\n\u2022 Edukasi dan penyuluhan.<\/p>\n<p>Namun, proses daur ulang baterai masih belum sepenuhnya efisien dan ramah lingkungan. Hanya ada sekitar 5% baterai yang dapat di daur ulang secara global, artinya kebanyakan baterai ini akan menjadi sampah. Limbah baterai dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air jika tidak dikelola dengan baik. Proses mendaur ulang baterai akan memakan biaya yang lebih mahal ketimbang menambang lebih banyak lithium untuk membuat baterai baru, sehingga proses daur ulang jauh masih tertinggal[3].<\/p>\n<p><strong>Dampak Sosial \u2013 Ekonomi <\/strong><br \/>\nHarga awal kendaraan listrik yang tinggi seringkali menjadi hambatan bagi konsumen, meningkatkan kesenjangan sosial dan ekonomi.<br \/>\nIntensif Dan Subsidi Pemerintah<br \/>\n\u2022 Pemerintah dapat memberikan insentif pajak untuk pembelian kendaraan listrik, sehingga harganya lebih terjangkau bagi lebih banyak orang.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nPengaruh negative kendaraan listrik untuk sekarang ini Meskipun kendaraan listrik dianggap sebagai solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan pencemaran udara, kita juga perlu mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Di Indonesia, kendaraan listrik dapat menyebabkan peningkatan emisi dari pembangkit listrik, masalah pengelolaan baterai dan limbah elektronik, penggunaan sumber daya alam yang besar, dan pembangunan infrastruktur yang merusak lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah dan industri perlu bekerja sama untuk mengurangi dampak negatif kendaraan listrik dengan meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan teknologi daur ulang baterai, memperketat regulasi pengelolaan limbah elektronik, dan memperhatikan aspek keberlanjutan dalam rantai pasokan kendaraan listrik.<\/p>\n<p><strong>Upaya Bersama Untuk Merumuskan Dampak Jangka Panjang Kendaraan Listrik Pada Lingkungan<\/strong><br \/>\npenggunaan kendaraaan listrik di Indonesia pada saat ini memang menawarkan potensi yang besar untuk kerusakan lingkungan pada masa depan jika produksi dan cara pemanfaatan yang tidak dirubah dan dikelola dengan baik. Cara untuk mengelola dan perubahan pada listrik ini yaitu dengan cara:<\/p>\n<p>\u2022 mempercepat transisi menuju pembangkit listrik yang lebih baik atau lebih bersih dan berkelanjutan, seperti energi terbarukan (surya, angin, hidro, dan lain lain).<br \/>\n\u2022 pengembangan teknologi daur ulang yang inovatif.<br \/>\n\u2022 meningkatkan investasi untuk penelitian dan pengembangan teknologi daur ulang baterai<br \/>\nKita dapat menjaga lingkungan yang lebih sehat dan terhindar dari kerusakan lingkungan yang parah pada masa mendatang. Lingkungan yang baik dan sehat ini tidak hanya bermanfaat bagi sesama manusia, tetapi juga untuk semua mahkluk hidup yang tinggal di bumi dan Masyarakat di Indonesia akan menjadi hidup lebih sehat dan aman.<\/p>\n<p><strong>Referensi <\/strong><br \/>\n[1] \u201c26631-Article Text-83525-1-10-20231021.docx.\u201d<br \/>\n[2] \u201c96903-ID-evaluasi-dampak-pembangunan-pembangkit-l.pdf.\u201d<br \/>\n[3] \u201cPERFORMA ELEKTROKIMIA KATODA LiFePO4 DENGAN.pdf.\u201d<\/p>\n<p>A. Kurnia and Sudarti, \u201cEfek Rumah Kaca Oleh Kendaraan Bermotor\u201d, gravitasi.jpfs, vol. 4, no. 02, pp. 1-9, Dec. 2021<br \/>\nSyarifuddin, Nurhayati. &#8220;Pengaruh Industri Pertambangan Nikel Terhadap Kondisi Lingkungan Maritim di Kabupaten Morowali.&#8221; Jurnal Riset Teknologi Terapan Kelautan 12.2 (2022): 03. DOI: https:\/\/doi.org\/10.25042\/jrt2k.122022.03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: M. Nasrulloh Alexander Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia Kendaraan Listrik: Peluang Dan Tantangan Kendaraan listrik tengah menjadi pusat perhatian, terutama di Indonesia, sementara beberapa negara maju juga telah mulai menggunakan kendaraan umum listrik, seperti truk, bus, dan kapal. Penggunaan ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Kendaraan Listrik ini mempunyai manfaat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-14626","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14626"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14626\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}