{"id":13779,"date":"2024-04-24T17:30:12","date_gmt":"2024-04-24T09:30:12","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13779"},"modified":"2024-04-24T17:30:12","modified_gmt":"2024-04-24T09:30:12","slug":"karakter-kepemimpinan-yang-ideal-di-era-generasi-milenial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/karakter-kepemimpinan-yang-ideal-di-era-generasi-milenial\/13779\/","title":{"rendered":"KARAKTER KEPEMIMPINAN YANG IDEAL DI ERA GENERASI MILENIAL"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-10.png\" alt=\"\" width=\"451\" height=\"638\" class=\"aligncenter size-full wp-image-13780\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-10.png 451w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-10-212x300.png 212w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-10-150x212.png 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-10-300x424.png 300w\" sizes=\"(max-width: 451px) 100vw, 451px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Fery Syahputra<br \/>\nSTIE Pembangunan, Tanjungpinang, Indonesia<\/strong><br \/>\nEmail : <em>satriadi@stie-pembangunan.ac.id<\/em><\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nBerbicara soal kepemimpinan adalah sebuah isu yang menarik untuk diperbincangkan, oleh karena kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam setiap generasi. Itu artinya, dalam sebuah kepemimpinan butuh seorang pemimpin yang berkarakter yang mampu memimpin, mampu memahami perubahan dan perkembangan setiap zaman. Setiap generasi mewakili generasinya, karena di setiap generasi miliki kemampuan dan model yang berbeda-beda. Hal ini tentunya akan sangat berdampak pada perkembangan pola pikir, dan kepemimpinan seseorang. Oleh karena itu, seorang pemimpin juga harus bisa beradaptasi dengan kecepatan yang sedang berlangsung saat ini. Karakter kepemimpinan milenial tidak sama dengan karakter kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Dengan berdasar pada generasi milenial seperti digambarkan di atas, maka gaya kepemimpinan yang dibangun pun perlu beradaptasi dengan pola pikir dan gaya hidup milenial.<\/p>\n<p><strong>Karakteristik Generasi Milenial<\/strong><\/p>\n<p>1.\tMelek teknologi<br \/>\nGenerasi milenial memiliki kemampuan mengakses teknologi informasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Media sosial menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Internet pun menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi mereka. Apa pun kebutuhan informasi yang mereka perlukan, sebagian besar mereka peroleh dari internet dan media sosial.<\/p>\n<p>2.\tMemiliki Keberanian dalam Berinovasi<br \/>\nMenurut Kane (2019) dalam The Balance Careers, milenial adalah generasi yang achievementoriented atau berorientasi pada pencapaian. Generasi milenial dididik oleh orang tuanya untuk menjadi lebih baik dari mereka dan generasi sebelumnya. Oleh karena itu, generasi milenial tumbuh dengan karakteristik percaya diri, ambisius, dan ingin lebih daripada orang lain.<\/p>\n<p>3.\tMenyukai Sesuatu yang Serba Cepat dan Instan<br \/>\nGenerasi Milenial dianggap sebagai generasi yang mudah beradaptasi terhadap banyak hal. Mereka melihat segala sesuatu dengan mudah atau berubah secara cepat, salah satunya dalam hal teknologi. Dengan kemampuan adaptasi terhadap setiap perubahan dengan cepat sehingga generasi milenial tumbuh dengan karakter yang serba cepat dan instan.<\/p>\n<p>4.\tMudah Bosan<br \/>\nKebiasaan generasi milenial yang sering mencoba hal baru membawa mereka menjadi generasi yang mudah bosan. Generasi milenial senang membuka diri pada hal-hal baru. Kemudahan mengakses internet, memberikan peluang bagi Generasi Milenial untuk mengetahui hal-hal baru. Namun, ketika dihadapkan oleh hal yang sama untuk waktu yang lama, generasi milenial akan mudah bosan.<\/p>\n<p><strong>Karakter Kepemimpinan Ideal<\/strong><br \/>\nKepemimpinan yang ideal sedikitnya mempunyai 8 (delapan) karakter, yaitu :<\/p>\n<p>1.\tCerdas.<br \/>\nKecerdasan didapat dari hasil belajar, sehingga kaya akan ilmu pengetahuan. Jika seseorang akan cerdas, maka sangat diperlukan semangat belajar dengan tekun dan rajin. Dalam hal ini seorang pemimpin akan bisa dengan cepat dan tepat membuat suatu. <\/p>\n<p>2.\tBertanggung jawab.<br \/>\nSeorang pemimpin yang ideal harus bertanggung jawab, dalam artian bahwa bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga terhadap anggotanya dalam suatu organisasi. Bertanggung jawab salah satu beban terberat, namun terasa ringan jika dibarengi dengan iman dan taqwa.<\/p>\n<p>3.\tJujur.<br \/>\nSeorang pemimpin yang ideal harus jujur, sehingga akan mampu untuk terbuka pada anggotanya dalam segala kebijakan yang diambil. Seorang pemimpin yang mempunyai sifat jujur, pasti akan membuat seluruh anggota percaya terhadap segala perkataan dan tindakannya akan cepat diikuti dan dilaksanakan oleh seluruh anggota organisasinya.<\/p>\n<p>4.\tDapat dipercaya.<br \/>\nSeorang pemimpin yang ideal harus dapat dipercaya, sehingga akan mampu untuk saling percaya dan tidak ada kecurigaan. Kepercayaan inilah yang memacu setiap anggota untuk lebih maju. <\/p>\n<p>5.\tInisiatif.<br \/>\nSeorang pemimpin yang ideal harus inisiatif, sehingga akan mampu untuk memutuskan segala hal dengan benar. Selain itu juga memiliki kemampuan untuk menemukan solusi yang baik demi kemajuan organisasinya.<\/p>\n<p>6.\tKonsisten dan tegas.<br \/>\nKonsisten dalam artian bahwa seorang pemimpin akan mampu menjalankan setiap aturan dan kebijakan. Sedangkan tegas yang dalam artian bahwa seorang pemimpin tidak membebaskan anggotanya, namun juga tidak mengekang anggotanya.<\/p>\n<p>7.\tAdil.<br \/>\nSeorang pemimpin yang ideal harus berbuat adil, sehingga mampu untuk memperlakukan anggotanya dengan perlakuan yang sama sesuai dengan tugas dan bidangnya masing-masing. <\/p>\n<p>8.\tLugas<br \/>\nSeorang pemimpin yang ideal harus lugas, sehingga akan mampu untuk menjelaskan pemikirannya secara langsung dan tidak bertele-tele.<\/p>\n<p><strong>Kepemimpinan Nasional Untuk Generasi Milenial di Era Digital<\/strong><br \/>\nGenerasi Milenial adalah kelompok demografi setelah Generasi X. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai \u2018Echo Boomers\u2019 karena adanya \u2018booming\u2019 (peningkatan besar) tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an, sedangkan era digital adalah istilah yang di gunakan dalam kemunculan digital, jaringan internet khususnya teknologi informasi komputer.<\/p>\n<p>Media baru Era Digital sering digunakan untuk menggambarkan teknologi digital. Media ini memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat aringan atau internet, selain internet seperti media cetak, televisi, majalah, koran dan lain-lain bukanlah termasuk dalam kategori media baru.<\/p>\n<p>Maka dari itu, kriteria kepemimpinan nasional milenial yang dibutuhkan bagi generasi saat ini adalah:<\/p>\n<p>1)\tInovatif<br \/>\nKepemimpinan ini akan memunculkan inovasi dan ide-ide terbaru sehingga memungkinkan sebuah organisasi bertahan dan berkembang dengan baik, meskipun memiliki banyak rintangan yang menghadangnya.<\/p>\n<p>2)\tKreatif<br \/>\nPemimpin yang menunjukkan kreativitasnya akan mampu menciptakan kreasi yang unggul, meningkat sesuatu yang sederhana menjadi menarik dan mampu meningkatkan kreatifitas dalam setiap pekerjaan di lingkungan sekitar agar menciptakan warna yang baru bagi organisasi.<\/p>\n<p>3)\tTransformatif<br \/>\nPemimpin akan terus mendorong adanya perubahan yang bersifat transformatif untuk melakukan pembaharuan organisasi kearah yang lebih baik, maju, dan terfokus pada tujuan yang telah ditetapkan agar berjalan secara efisien dan efektif.<\/p>\n<p>4)\tInventif<br \/>\nPemimpin mendorong adanya penemuan terbaru yang dijadikan sebagai terobosan untuk mengembangkan kegiatan organisasi sehingga yang nantinya dapat menjadi teladan dan manfaat bagi masyarakat luas yang membutuhkannya.<\/p>\n<p>5)\tTransparatif<br \/>\nPemimpin mendorong bahwa setiap kegiatan ataupun strategi yang dijalankan organisasi harus transparatif, sehingga bisa diakses oleh seluruh pemangku kepentingan dan bisa diawasi oleh lembaga pemerintahan untuk mencegah adanya budaya korupsi, kolusi, ataupun nepotisme dalam organisasi masyarakat.<\/p>\n<p>6)\tInteraktif<br \/>\nPemimpin harus selalu responsif, merakyat sehingga selalu berada di tengah masyarakat baik secara fisik maupun psikologis untuk memberikan solusi alternatif terhadap permasalahan rakyat, mau dikritik, dan menjadi bagian dari interaksi sosial antara pemimpin dengan rakyat.<\/p>\n<p>Lima karakter kepemimpinan yang dibutuhkan pada era generasi milenial sebagai berikut.<\/p>\n<p>1.\tMenjadi seorang berkemampuan digital yang handal (Digital Skill)<br \/>\nMenjadi pemimpinan di era Milenial, perlu untuk terus mengembangkan ketrampilannya dan melek tenologi mengikuti teknologi terupdate yang dapat diterapkan di pekerjaannya. Dengan digital skill yang mumpuni, pemimpin akan merasakan manfaatnya.<\/p>\n<p>2.\tMenjadi seorang pembangun hubungan (Connector)<br \/>\nPemimpin di era milenial perlu menginvestasikan waktu dalam membangun hubungan. Milenial merupakan generasi kerja yang lebih terbuka dalam berkomunikasi dan berinteraksi serta memiliki tujuan mencari berbagai pengalaman ketika bekerja. Menyikapi hal ini, pemimpin perlu membangun hubungan dengan mengadakan pertemuan baik secara tatap muka atau via media online yang kini kerap digunakan milenial untuk berinteraksi.<\/p>\n<p>3.\tMenjadi seorang pemberi tantangan (Challenger)<br \/>\nSeorang pemimpin harus memiliki keberanian untuk mengambil sebuah langkah atau keputusan penting yang bertentangan dengan kebiasaan lama. Ini adalah tantangan bagi para pemimpin milenial dalam mengubah kondisi tersebut dan menanamkan nilai bahwa berbeda itu boleh asalkan dengan perencanaan dan tujuan yang jelas.<\/p>\n<p>4.\tMenjadi seorang yang mendorong kolaborasi untuk meningkatkan motivasi dan kepuasan.<br \/>\nAnggota tim yang kuat, yang saling memotivasi satu sama lain. Sehingga, generasi milenial dapat mencapai kepuasan kerja. Kolaborasi yang kuat akan membantu para generasi milenial untuk mendapatkan self-fulfilment dalam setiap pekerjaan yang mereka berikan.<\/p>\n<p>5.\tMenjadi Seorang yang lincah dan cepat beradaptasi<br \/>\nSeorang pemimpin yang agile adalah ciri pemimpin yang memungkinkan untuk menyesuaikan dengan pola dan ritme tersebut. Pemimpin yang agile dapat digambarkan sebagai pemimpin yang cerdas melihat peluang, cepat dalam beradaptasi, dan lincah dalam memfasilitasi perubahan. Pemimpin yang agile adalah pemimpin yang open minded dan memiliki ambiguity acceptance, yakni bersedia menerima ketidakjelasan.<br \/>\nAda tiga syarat yang perlu diketahui untuk rakyat sebelum memilih pemimpin:<\/p>\n<p>1)\t Memilih secara adil bukan karena ada pemberian atau pun karena masih memiliki tali persaudaraan, dan lain sebagainya. Melainkan memilih pemimpin berdasarkan sifat yang memenuhi syarat sebagai pemimpin ada di dalam kepribadian calon atau kandidat tersebut.<br \/>\n2)\tMemiliki pengetahuan yang tajam tentang siapa yang memenuhi syarat berhak menjadi pemimpin.<br \/>\n3)\tMemiliki pandangan dan kebijakan yang objektif tentang siapa kandidat yang lebih kuat dan pantas yang dirasa mampu untuk membawa kemaslahatan bagi negara dan bangsa.<br \/>\nRobinson (dalam Ginting, 1999:26), para ahli mengemukakan bahwa peranan yang perlu ditampilkan pemimpin, adalah :<br \/>\na.\tmencetuskan ide atau sebagai seorang kepala;<br \/>\nb.\tmemberi informasi;<br \/>\nc.\tsebagai seorang perencana;<br \/>\nd.\tmemberi sugesti;<br \/>\ne.\tmengaktifkan anggota;<br \/>\nf.\tmengawasi kegiatan;<br \/>\ng.\tmemberi semangat untuk mencapai tujuan;<br \/>\nh.\tsebagai katalisator;<br \/>\ni.\tmewakili kelompok;<br \/>\nj.\tmemberi tanggung jawab;<br \/>\nk.\tmenciptakan rasa aman, dan<br \/>\nl.\tsebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya.<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><br \/>\nPada era generasi milenial saat ini pergolakan dan tantangan untuk memiliki pemimpinyang sesuai dengan era saat ini tidak kecil. Sebab, pola kepemimpinan milenial tidak sama dengan kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, tipe kepemimpinan yang dibangun perlu beradaptasi dengan ritme, pola pikir dan gaya hidup. Karakter kepemimpinan pada era milenial memiliki pendekatan yang khas karena digitalisasi yang merambah dunia kerja tidak memungkinkan lagi bagi pemimpin untuk bertindak secara konvensional. Oleh karena pemimpin di era melenial perlu mengaplikasikan karakter kepemimpinan yang ideal pada era generasi milenial, yaitu pemimpin berkemampuan digital yang handal, pembangun hubungan harmoni dan ideal, demikian juga sebagai pemimpin yang selalu memberi tantangan, serta pendorong kolaborasi untuk meningkatkan motivasi dan kepuasan.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><br \/>\nAhmad, Muktamar. (2022). Karakter kepemimpinan ideal pada era generasi milenial. Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora, 1(2), 142-148<br \/>\nAinun, Najib. (2018). Kontruksi Pemimpin Ideal Untuk Indonesia. Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia, 3(1),<br \/>\nNatasya, V., Leuwol, dkk. (2023). Karakteristik Kepemimpinan Ideal di Era Generasi Milenial. Journal on Education, 5(2), 4292-4302<br \/>\nSahadi, &#038; Otong, H., Taufiq. (2020). Karakter Kepemimpinan Ideal dalam Organisasi. Jurnal MODERAT, 6(3), 513-5244678<br \/>\nVerah, &#038; Felix, M., Pratama. (2023). Karakter Kepemimpinan Yang Ideal Dalam Sebuah Organisasi. Publikasi Riset Mahasiswa Manajemen, 4(2), 195-204<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Fery Syahputra STIE Pembangunan, Tanjungpinang, Indonesia Email : satriadi@stie-pembangunan.ac.id Pendahuluan Berbicara soal kepemimpinan adalah sebuah isu yang menarik untuk diperbincangkan, oleh karena kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam setiap generasi. Itu artinya, dalam sebuah kepemimpinan butuh seorang pemimpin yang berkarakter yang mampu memimpin, mampu memahami perubahan dan perkembangan setiap zaman. Setiap generasi mewakili generasinya, karena di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-13779","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13779","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13779"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13779\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}