{"id":13756,"date":"2024-04-22T22:09:30","date_gmt":"2024-04-22T14:09:30","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13756"},"modified":"2024-04-22T22:09:30","modified_gmt":"2024-04-22T14:09:30","slug":"juaji-tradisi-unik-sumenep-yang-dilakukan-tengah-malam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/juaji-tradisi-unik-sumenep-yang-dilakukan-tengah-malam\/13756\/","title":{"rendered":"Ju\u2019aji, Tradisi Unik Sumenep yang Dilakukan Tengah Malam"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_13758\" aria-describedby=\"caption-attachment-13758\" style=\"width: 779px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-24.jpg\" alt=\"\" width=\"779\" height=\"501\" class=\"size-full wp-image-13758\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-24.jpg 779w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-24-300x193.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-24-768x494.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-24-150x96.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-24-696x448.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 779px) 100vw, 779px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-13758\" class=\"wp-caption-text\">Masyarakat Desa Karang Anyar \u2013 Pinggir Papas berkumpul di dekat Asta Ju\u2019aji (Sumber : instagram.com \/Haris Santoso)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Ju\u2019aji merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Pegaraman, Karang Anyar \u2013 Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep. Tradisi ini cukup unik karena dilakukan hingga tengah malam. Ju\u2019aji  digelar di sebuah makam leluhur, yakni Kyai Aji. Ju\u2019aji merupakan sebuah ritual tahunan yang berlangsung pada hari minggu di bulan Maulid. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen garam yang melimpah. <\/p>\n<p>Istilah Ju\u2019aji berasal dari bahasa Madura yakni \u201cJu\u2019 artinya kyai,nyai,kakek,dan nenek. Sedangkan Aji merupakan nama seorang pemuka agama yang menyebarkan agama islam di Desa Karang Anyar \u2013 Pinggir Papas. <\/p>\n<p>Sebelum melakukan ritual, saat menjelang maghrib, warga Karang Anyar \u2013 Pinggir Papas akan membawa sebuah hantaran yang disebut (Panjhang). Hantaran tersebut berisi nasi putih, telur dadar, pandhebe (otak-otak ikan bandeng), dan sesisir pisang. <\/p>\n<p>\u201cMakanannya identik putih karena putih artinya suci. Suci ini menandakan bahwa niat kami ibadah dan tulus dari dalam hati\u201d Ujar Nura Riskana (34), warga Desa Karang Anyar<\/p>\n<figure id=\"attachment_13757\" aria-describedby=\"caption-attachment-13757\" style=\"width: 583px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar2-10.jpg\" alt=\"Para peserta adat mensajikan Panjhang untuk di doakan (sumber : instagram.com\/Haris Santoso)\" width=\"583\" height=\"437\" class=\"size-full wp-image-13757\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar2-10.jpg 583w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar2-10-300x225.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar2-10-150x112.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 583px) 100vw, 583px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-13757\" class=\"wp-caption-text\">Para peserta adat mensajikan Panjhang untuk di doakan (sumber : instagram.com\/Haris Santoso)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Di sekitar makam Kyai Aji, warga akan berkumpul sambil meletakkan Panjhang. Sedangkan di dalam makam, terdapat ketua adat dan beberapa peserta ritual yang akan berdoa. Selepas Maghrib, ritual doa di depan makam Kyai Aji dimulai. Menjelang tengah malam dilakukannya ritual selajutnya yakni Dha\u2019 kaom. <\/p>\n<p>Dha\u2019kaom merupakan ritual memakai bedak cair yang di oleskan ke sebagian area dahi, leher, dan telinga. Ritual ini diawali oleh tetua adat kemudian dilanjut para peserta adat. Bedak tersebut sebelumnya telah di bacakan doa. Dengan memakai bedak tersebut dipercaya dapat menambah keberkahan. <\/p>\n<p>Ritual terakhir yakni \u201cNgaom\u201d yang artinya makan bersama. Ngaom dilakukan secara bersama-sama bersama yang di pimpin ketua adat dan peserta ritual. Ritual Ngaom diyakini warga setempat untuk memperoleh keberkahan hidup. Kemudian peserta ritual akan menikmati makanan yang mereka bawa. Mereka akan makan bersama keluarganya masing-masing.  <\/p>\n<p>\u201cSebenarnya di ritual terakhir ini dapat mempererat hubungan keluarga karena mereka bisa berkumpul dan makan bersama di acara ini\u201d terang Hairul Anwar (39), warga Desa Karang Anyar. <\/p>\n<p>Setelah sesi \u201cNgaom\u201d, seluruh peserta ritual akan beranjak pulang. Mereka pulang dengan membawa harapan hasil panen garam akan semakin baik dan melimpah setiap tahunnya<\/p>\n<p>Menurut Hairul Anwar, tradisi Ju\u2019aji belum jelas asal usulnya. Mereka hanya melestarikan tradisi turun temurun yang ada di desa tersebut. <\/p>\n<p>\u201cTiap tahun akan selalu rutin dilakukan agar tradisi ini tidak hilang\u201d pungkasnya. <\/p>\n<p>Penulis : <strong>F.A.Daosty (Mahasiswa Ilmu Komunikasi)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Ju\u2019aji merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Pegaraman, Karang Anyar \u2013 Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep. Tradisi ini cukup unik karena dilakukan hingga tengah malam. Ju\u2019aji digelar di sebuah makam leluhur, yakni Kyai Aji. Ju\u2019aji merupakan sebuah ritual tahunan yang berlangsung pada hari minggu di bulan Maulid. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-13756","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13756"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13756\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}