{"id":13565,"date":"2024-04-07T18:04:19","date_gmt":"2024-04-07T10:04:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13565"},"modified":"2024-04-07T18:04:30","modified_gmt":"2024-04-07T10:04:30","slug":"membongkar-permasalahan-air-bersih-di-indramayu-investigasi-terhadap-pencemaran-air-dan-upaya-penanganannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/membongkar-permasalahan-air-bersih-di-indramayu-investigasi-terhadap-pencemaran-air-dan-upaya-penanganannya\/13565\/","title":{"rendered":"MEMBONGKAR PERMASALAHAN AIR BERSIH DI INDRAMAYU: INVESTIGASI TERHADAP PENCEMARAN AIR DAN UPAYA PENANGANANNYA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\">Cyrilla Daveisha Quisha Belva, Bintang Raspati<br \/>\nFakultas Ekonomi dan Bisnis UPN \u201cVeteran\u201d Jakarta<br \/>\n2010115016@mahasiswa.upnvj.ac.id; 2110115057@mahasiswa.upnvj.ac.id<\/p>\n<figure id=\"attachment_13566\" aria-describedby=\"caption-attachment-13566\" style=\"width: 364px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-13566\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-13.jpg\" alt=\"\" width=\"364\" height=\"206\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-13.jpg 364w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-13-300x170.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-13-150x85.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 364px) 100vw, 364px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-13566\" class=\"wp-caption-text\">Kondisi air di rumah warga yang sudah terkontaminasi dengan air garam dan sisa-sisa zat kimia dari pipa PDAM (Foto: Neneng Mardiana, warga di Indramayu)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>LATAR BELAKANG<\/strong><\/p>\n<p>Pemilihan tema krisis air bersih di Indramayu sebagai fokus penelitian ini melibatkan pemahaman mendalam tentang kompleksitas masalah air di wilayah tersebut. Indramayu, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, memiliki kondisi geografis dan demografis yang memperumit masalah ketersediaan air bersih. Dikelilingi oleh lahan-lahan pertanian yang luas, Indramayu sering mengalami peningkatan tekanan terhadap sumber daya airnya akibat aktivitas pertanian yang intensif. Selain itu, adanya pola cuaca ekstrem dan perubahan iklim juga turut berkontribusi pada ketidakstabilan ketersediaan air di daerah tersebut.<\/p>\n<p>Alasan pemilihan tema krisis air bersih di Indramayu adalah karena urgensi dan kompleksitas permasalahan yang terkait dengannya. Krisis air bersih bukan hanya sekadar masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi isu pembangunan yang krusial. Ketersediaan air bersih mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, sanitasi, dan pertanian. Terlebih lagi, dampak dari krisis ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga meluas hingga ke tingkat regional. Oleh karena itu, mengatasi krisis air bersih di Indramayu menjadi penting untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan serta memastikan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Dalam konteks komunikasi pembangunan dan perubahan sosial, pengangkatan tema krisis air bersih di Indramayu memegang peranan penting. Komunikasi efektif merupakan kunci dalam membangun pemahaman yang baik tentang penyebab, dampak, dan solusi terkait masalah air (Rogers, 1976). Dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, non-pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta, komunikasi dapat menjadi alat untuk memobilisasi dukungan, menyampaikan informasi yang akurat, serta menggalang kerjasama dalam rangka penanggulangan krisis.<\/p>\n<p>Dalam konteks penelitian sebelumnya, beberapa studi telah dilakukan untuk memahami akar permasalahan krisis air bersih di Indramayu. Studi-studi tersebut telah mengidentifikasi berbagai lokal yang berkontribusi terhadap krisis tersebut, termasuk pola penggunaan lahan, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, perubahan iklim, dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Dengan memanfaatkan hasil penelitian sebelumnya yang valid dan relevan, penelitian lebih lanjut dapat melengkapi pemahaman tentang dinamika krisis air bersih di Indramayu serta merancang strategi penanganan yang lebih efektif.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pengangkatan tema krisis air bersih di Indramayu tidak hanya penting untuk menjawab tantangan lokal yang dihadapi oleh masyarakat setempat, tetapi juga memiliki implikasi yang luas dalam konteks pembangunan dan perubahan sosial. Melalui pendekatan komunikasi yang terintegrasi dan didukung oleh temuan penelitian yang valid, diharapkan dapat tercapai solusi yang berkelanjutan dalam mengatasi krisis air bersih ini, serta memberikan kontribusi positif bagi pembangunan wilayah dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>GAMBARAN PERMASALAHAN<\/strong><\/p>\n<p>Permasalahan krisis air bersih di Indramayu merupakan cerminan dari kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Kondisi geografis dan demografis yang unik di wilayah ini memperumit masalah ketersediaan air bersih. Terletak di pesisir utara Jawa Barat, Indramayu memiliki akses terbatas terhadap sumber air tawar yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Krisis air bersih di wilayah ini disebabkan oleh dua faktor utama. Kadar garam tinggi dan kontaminasi zat kimia dalam sumber air. Kadar garam yang tinggi terutama disebabkan oleh intrusi air laut ke sistem akuifer yang menyuplai air bersih bagi masyarakat. Hal ini mengakibatkan penurunan kualitas air dan membuatnya tidak layak untuk dikonsumsi tanpa proses pengolahan yang intensif. Selain itu, kontaminasi zat kimia seperti pestisida dan sisa-sisa bahan kimia dari pipa PDAM juga menjadi masalah serius yang mempengaruhi kualitas air bersih di Indramayu. Hal ini membuat masyarakat lebih memilih untuk menggunakan jasa pengeboran satelit karena pengeboran biasa tidak mampu menghasilkan air untuk minum.<\/p>\n<p>Karakteristik masyarakat di Indramayu juga memainkan peran penting dalam dinamika krisis air bersih ini. Sebagian besar penduduk Indramayu adalah petani yang bergantung pada air untuk irigasi lahan pertanian mereka. Krisis air bersih yang terus-menerus mengancam ketersediaan air untuk pertanian, menyebabkan penurunan produktivitas dan ketidakpastian ekonomi bagi para petani. Selain itu, kondisi demografis yang ditandai dengan tingginya jumlah penduduk dan padatnya pemukiman di sepanjang pesisir, memperparah masalah ketersediaan air bersih. Keterbatasan akses terhadap sumber air bersih yang aman dan berkualitas menyebabkan masyarakat terpaksa bergantung pada air yang tidak layak konsumsi, meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>TARGET ATAU SASARAN<\/strong><\/p>\n<p>1. <strong>Model Komunikasi Pembangunan<\/strong><br \/>\nModel yang sesuai untuk mengatasi krisis air bersih di Indramayu adalah model komunikasi partisipatif. Model ini melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program. Dalam konteks ini, model komunikasi partisipatif akan melibatkan masyarakat lokal, pemerintah daerah, LSM, dan pihak terkait lainnya untuk berkolaborasi dalam merancang dan melaksanakan solusi yang efektif.<\/p>\n<p>Perubahan yang diharapkan dari penerapan model ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air bersih, peningkatan partisipasi dalam pengelolaan air bersih, serta peningkatan akses dan kualitas air bersih bagi penduduk pesisir Indramayu.<\/p>\n<p>2. <strong>Sosial\/Rekomendasi Kebijakan\/Strategi, atau Pendekatan\/Perencanaan Program<\/strong><br \/>\nRekomendasi kebijakan menurut pendapat kami adalah dengan menggunakan kebijakan program PAMSIMAS (Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengatasi krisis air bersih di Indramayu. PAMSIMAS adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi yang layak melalui pendekatan partisipatif.<\/p>\n<p>Beberapa rekomendasi kebijakan, strategi, atau pendekatan program yang dapat diterapkan dalam konteks ini adalah pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Melakukan pelatihan kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air bersih, teknik pengelolaan air bersih yang baik, serta pembentukan kelompok masyarakat untuk mengelola infrastruktur air bersih secara mandiri. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan terhadap program PAMSIMAS untuk memastikan efektivitasnya dalam meningkatkan akses dan kualitas air bersih bagi masyarakat pesisir Indramayu. Kemitraan dengan pihak swasta dan LSM Membangun kemitraan dengan pihak swasta dan LSM dalam implementasi program PAMSIMAS untuk memperluas cakupan program dan memperoleh sumber daya tambahan. Penguatan sistem pengawasan dan pengendalian. Membangun sistem pengawasan dan pengendalian yang efektif untuk menghindari penyalahgunaan dana dan memastikan transparansi dalam pelaksanaan program PAMSIMAS.<br \/>\nDengan menerapkan model komunikasi partisipatif dan menggunakan kebijakan program PAMSIMAS, diharapkan krisis air bersih di pesisir Indramayu dapat diatasi secara efektif dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat serta pihak-pihak terkait lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>ANALISIS DAN PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p>Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dilanda krisis air bersih yang kian memprihatinkan. Akses terhadap air bersih, hak asasi manusia fundamental, kian terancam. Masalah kekeringan dan kekurangan air bersih ini sudah menjadi masalah yang sering terjadi di Kabupaten Indramayu. Apalagi, semenjak terjadi El-Nino dan musim panas yang sangat panjang sehingga berpengaruh terhadap ketersedian air bersih. Dampak musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan krisis air bersih untuk kebutuhan minum, masak dan untuk kebutuhan MCK di Kabupaten Indramayu. Pada akhir 2023 lalu, kekeringan semakin meluas hingga di lima kecamatan yaitu Kecamatan Krangkeng, Kecamatan Karangampel, Kecamatan Arahan, Kecamatan Cantigi serta sebagian desa di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.<\/p>\n<p>Di wilayah pesisir salah satunya di Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, sudah lebih dari 6 bulan kekurangan akses terhadap air bersih. Setiap hari, warga di Kecamatan Cantigi harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan, yang mana itu merepotkan dan merogoh kocek hanya untuk mendapatkan air. Salah satu warga bernama Darini mengatakan bahwa selama musim kemarau, air ledeng di rumahnya sangat kotor, sehingga tidak bisa digunakan untuk memasak, mandi dan mencuci pakaian karena air sangat kotor. Untuk meringankan dan memenuhi kebutuhan air bersih warga, Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balongan, membagikan air bersih kepada warga di sejumlah wilayah di Kabupaten Indramayu. Pembagian air bersih tersebut dilakukan oleh KPI di Kantor Kecamatan Cantigi. Dalam pembagian ini, KPI Unit Balongan menyalurkan sebanyak 25.000 liter air bersih di dua kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air untuk masyarakat di Kecamatan Cantigi.<\/p>\n<p>Di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Warga mengalami kesulitan mendapat air bersih, pasalnya di daerah tersebut sudah lama mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Bahkan tidak sedikit warga menggunakan air sumur untuk memenuhi kebutuhan di dapur dan lagi-lagi harus membeli air galon untuk minum. Warga mengakui sulit untuk mendapatkan air bersih, saluran PDAM pun juga sudah berhari-hari tidak mengeluarkan air dari sumur dan air yang dikeluarkan juga sudah keruh. Dalam menangani kasus ini, Bupati Indramayu melakukan kunjungan ke desa-desa di wilayah Kecamatan Krangkeng, sekaligus menyalurkan air bersih sebanyak 2 juta 80 liter untuk masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Krangkeng selama musim kemarau di beberapa wilayah Kecamatan Krangkeng itu. Di samping itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Darma Ayu Kabupaten Indramayu dan Kepolisian Resort Kabupaten Indramayu memberikan bantuan air sebanyak 1,5 ton air bersih menggunakan mobil water canon yang langsung dibagikan di setiap gang-gang desa krangkeng. Sehingga, melalui bantuan ini kebutuhan air bersih warga di wilayah Kecamatan Krangkeng tercukupi, setidaknya untuk jangka pendek sampai musim hujan tiba.<\/p>\n<p>Selain itu di Blok Tegalampes, Desa Pringgacala, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, selama puluhan tahun air bersih seakan menjadi barang eksklusif yang sulit mereka nikmati. Apalagi jika terjadi musim kemarau yang panjang di desa tersebut. Sumur-sumur di blok desa selama ini tak pernah bisa digunakan karena rasanya asin dan warnanya yang keruh. Sedangkan layanan air dari PDAM, belum menjangkau wilayah itu. Sehingga, warga pun hanya mengandalkan air hujan yang mereka tampung saat musim hujan tiba. Namun, saat kemarau melanda dan air hujan di tampungan habis, warga di blok desa tersebut terpaksa mengandalkan air bersih yang dijual oleh pedagang keliling maupun air galon isi ulang. Namun, air itu hanya untuk kebutuhan masak dan minum saja. Sedangkan untuk mandi, mencuci piring dan mencuci pakaian, warga terpaksa mengandalkan air kolam yang kotor yang berwarna hitam dan dipenuhi lumut dan enceng godog. Mengetahui hal ini, melalui program Polri Peduli Lingkungan, Polres Indramayu membuat sumur bor bagi warga. Sumur bor dibuat di titik lokasi yang air tanahnya jernih dan tawar. Air dari sumur bor itu dialirkan melalui pipa sepanjang 900 meter ke instalasi yang ada di pemukiman warga. Dari instalasi itulah, warga di Blok Tegalampes kini bisa menikmati air bersih dan jernih.<\/p>\n<p>Krisis air bersih yang melanda Kabupaten Indramayu merupakan hasil dari serangkaian faktor yang saling terkait. Salah satu faktor utama adalah pencemaran air tanah yang disebabkan oleh aktivitas industri pengolahan udang dan tekstil. Wilayah Indramayu, yang terletak di sepanjang pesisir, menjadi pusat produksi industri tersebut. Limbah cair yang dihasilkan mengandung bahan kimia berbahaya seperti pewarna sintetis dan bahan pengikat, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat mencemari air tanah di sekitar daerah pesisir.<\/p>\n<p>Selain itu, alih fungsi lahan dari sawah menjadi kawasan industri dan permukiman juga memperparah masalah pencemaran air tanah. Kabupaten Indramayu memiliki luas lahan sawah yang cukup signifikan, mencapai ribuan hektar. Dikutip dari Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang\/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1589\/SK-HK.02.01\/XII\/2021 menyebutkan, Kabupaten Indramayu memiliki lahan sawah paling luas, yakni sekitar 122.920 hektar. Sementara itu, luas lahan sawah yang ditetapkan dilindungi di Indramayu mencapai 124.163 hektar. Namun, terdapat kecenderungan untuk mengalihfungsikan lahan tersebut menjadi kawasan industri dan permukiman. Hal ini menyebabkan hilangnya daerah resapan air, yang pada gilirannya mempermudah intrusi air laut dan meningkatkan salinitas air tanah.<\/p>\n<p>Pemerintah setempat telah berupaya mengatasi masalah ini dengan mengeluarkan kebijakan perlindungan terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan. Perda Nomor 16\/2013 tentang Perlindungan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Peraturan ini melarang alih fungsi lahan pertanian untuk menjaga stabilitas pangan dan keberlanjutan pertanian di daerah tersebut. Di samping itu, kebiasaan masyarakat dalam menggunakan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan juga turut serta dalam mencemari air tanah. Kurangnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah juga menyebabkan pencemaran air permukaan, terutama dari sampah rumah tangga dan limbah peternakan.<\/p>\n<p>Faktor alam seperti musim kemarau panjang atau fenomena El Ni\u00f1o juga berkontribusi pada krisis air bersih di Indramayu. Sumber air alami seperti sungai dan sumur menjadi kering akibat kurangnya curah hujan, menyebabkan pasokan air bersih bagi masyarakat terganggu. Dengan demikian, krisis air bersih di Kabupaten Indramayu tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang saling terkait dan memerlukan solusi terpadu dari berbagai pihak.<\/p>\n<p>Di tengah krisis air bersih yang melanda Indramayu, diperlukan solusi yang melibatkan masyarakat secara aktif dan berkelanjutan. Model komunikasi partisipasi menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini. Pertama-tama, langkah awal adalah memahami situasi secara menyeluruh melalui studi mendalam yang melibatkan berbagai pihak, seperti ahli lingkungan, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah. Komunikasi terbuka dan transparan perlu diterapkan dalam proses ini untuk mengidentifikasi akar permasalahan dan mendapatkan masukan dari masyarakat.<br \/>\nPerlu dilakukan kampanye edukasi yang intensif tentang pentingnya pengelolaan air bersih. Komunikasi tidak hanya dilakukan secara konvensional melalui media massa, tetapi juga melalui media sosial dan pertemuan langsung dengan masyarakat. Informasi tentang penghematan air, teknik pengolahan air sederhana, dan dampak negatif dari pencemaran perlu disampaikan dengan jelas agar masyarakat memahami urgensi perubahan perilaku mereka terhadap pengelolaan air.<\/p>\n<p>Selain itu, penting untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan terkait solusi krisis air. Forum-forum partisipatif, seperti pertemuan komunitas dan lokakarya, harus diselenggarakan secara reguler untuk memungkinkan warga menyampaikan ide, kekhawatiran, dan solusi mereka. Pendekatan ini memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan mencerminkan kebutuhan dan aspirasi nyata dari masyarakat setempat.<\/p>\n<p>Pemanfaatan teknologi juga dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam mengatasi krisis air. Aplikasi seluler atau platform online dapat digunakan untuk mengumpulkan data tentang konsumsi air, pola penggunaan, dan masukan dari masyarakat. Data ini kemudian dapat digunakan untuk merancang solusi yang lebih tepat dan efektif.<\/p>\n<p>Tidak hanya sekedar memberikan informasi dan meminta masukan, model komunikasi partisipasi juga melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan solusi. Program pelatihan dan bimbingan harus diselenggarakan untuk memberdayakan warga agar dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan pemeliharaan dan pengelolaan sumber air bersih. Dengan demikian, mereka menjadi bagian integral dalam menjaga keberlanjutan solusi yang diimplementasikan.<\/p>\n<p>Evaluasi secara berkala perlu dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas solusi yang diimplementasikan dan mengidentifikasi perubahan yang diperlukan. Melalui model komunikasi partisipasi yang berkelanjutan, upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dapat menghasilkan solusi yang berkesinambungan dan berdampak positif dalam mengatasi krisis air bersih di Indramayu.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p><em>Rogers, E. M. (1976). Communication and development: The Passing of the Dominant Paradigm. Communication Research, 3(2), 213\u2013240.<br \/>\nKurnia, C. (2023, November 11). Lebih dari 6 Bulan Warga Indramayu Krisis Air Bersih. BeritaSatu.com. https:\/\/www.beritasatu. com\/nusantara\/2780475\/lebih-dari-6-bulan-warga-indramayu-krisis-air-bersih<br \/>\n2 Juta Liter Air Bersih Didistribusikan di Wilayah Kecamatan Krangkeng. (2023). Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Indramayu. https:\/\/diskominfo.indramayukab .go.id\/2-juta-liter-air-bersih-didistribusikan-di-wilayah-kecamatan-krangkeng\/<br \/>\nYanto, B. S. (2023). Warga Krangkeng Indramayu Alami Krisis Air Bersih Akibat Musim Kemarau. https:\/\/kabarindramayu.pikiran-rakyat.com\/indramayu\/pr-3337051745\/warga-krangkeng-indramayu-alami-krisis-air-bersih-akibat-musim-kemarau?page=all <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cyrilla Daveisha Quisha Belva, Bintang Raspati Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN \u201cVeteran\u201d Jakarta 2010115016@mahasiswa.upnvj.ac.id; 2110115057@mahasiswa.upnvj.ac.id LATAR BELAKANG Pemilihan tema krisis air bersih di Indramayu sebagai fokus penelitian ini melibatkan pemahaman mendalam tentang kompleksitas masalah air di wilayah tersebut. Indramayu, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, memiliki kondisi geografis dan demografis yang memperumit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-13565","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13565","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13565"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13565\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13565"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13565"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13565"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}