{"id":13543,"date":"2024-04-07T13:33:16","date_gmt":"2024-04-07T05:33:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13543"},"modified":"2024-04-07T13:33:16","modified_gmt":"2024-04-07T05:33:16","slug":"pemanfaatan-lahan-kehutanan-kota-untuk-mitigasi-emisi-gas-rumah-kaca-studi-kasus-di-bogor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pemanfaatan-lahan-kehutanan-kota-untuk-mitigasi-emisi-gas-rumah-kaca-studi-kasus-di-bogor\/13543\/","title":{"rendered":"PEMANFAATAN LAHAN KEHUTANAN KOTA UNTUK MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA : STUDI KASUS DI BOGOR"},"content":{"rendered":"<p>Aprilyani<sup>1<\/sup>, Eliana Kesumadewi<sup>2 <\/sup><br \/>\nEkonomi Pembangunan Program Sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis<br \/>\nEmail: 2110115011@mahasiswa.upnvj.ac.id, 2110115025@mahasiswa.upnvj.ac.id<\/p>\n<p><strong>LATAR BELAKANG<br \/>\nPERUBAHAN IKLIM &#038; EGRK (SDGS-13)<\/strong><br \/>\nPerubahan iklim telah membunuh banyak nyawa, menjungkirbalikkan ekonomi nasional, dan merugikan banyak orang, kota, dan negara saat ini dan bahkan lebih banyak lagi di masa depan. Dampak signifikan dari perubahan iklim sedang dirasakan oleh masyarakat, seperti perubahan pola cuaca, kenaikan permukaan air laut, dan peningkatan kejadian cuaca ekstrem. Perubahan iklim sebagian besar disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia, yang juga meningkat. Selama beberapa dekade terakhir, perubahan iklim telah muncul sebagai salah satu tantangan yang paling mendesak. <\/p>\n<p>Meskipun gas rumah kaca (GRK) secara alami ada di atmosfer, aktivitas manusia adalah penyebab utama peningkatan emisi GRK yang menyebabkan perubahan iklim dan pemanasan global. Saat ini, setiap negara di setiap benua terkena dampak perubahan iklim. Maka dari itu Mitigasi emisi gas rumah kaca adalah salah satu upaya dari perealisasian SDGS ke &#8211; 13 yang bertujuan untuk menanggulangi perparahan atau dampak dari perubahan iklim. Tujuan dari mitigasi gas rumah kaca adalah untuk mengurangi emisi atau meningkatkan kapasitas untuk menyerap dan mengubah gas rumah kaca. Selain dampaknya yang baik bagi lingkungan, mitigasi gas rumah kaca sering kali memberikan hasil sosial dan ekonomi yang signifikan. <\/p>\n<p>FOLU SEBAGAI SALAH SATU REALISASI SDG-13<br \/>\nDalam upaya mitigasi gas rumah kaca program FOLU (Forest and Other land uses) adalah satu upaya utama dalam kontribusi mtigasi ini. Dengan menghilangkan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer melalui proses fotosintesis, yang dilakukan oleh tanaman, terutama oleh hutan dan vegetasi lainnya, FOLU berkontribusi secara signifikan terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Dengan meningkatkan jumlah area hutan, reboisasi, dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan, FOLU dapat berkontribusi dalam kegiatan mitigasi perubahan iklim yang diperlukan untuk memenuhi target SDG 13 dengan menurunkan jumlah CO2 di udara. <\/p>\n<p>Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memproyeksikan bahwa, di bawah skenario CM1, sektor FOLU akan menyumbang lebih dari 60% dari keseluruhan target Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui upaya-upaya domestik. Sumber daya yang sangat besar diperlukan untuk melaksanakan skenario ini, terutama untuk mencapai target net sink pada tahun 2030, dan hal ini tentu saja membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari pemerintah, bekerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga, serta pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan pihak-pihak lainnya. <\/p>\n<p><strong>HUBUNGAN DENGAN TEORI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN<\/strong><br \/>\nTeori penyebaran inovasi dan komunikasi pembangunan (difusi inovasi) sangat terkait dengan penggunaan lahan hutan kota untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Teori difusi-inovasi sendiri berawal dari sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1944 oleh Paul Lazarfeld, Bernard Barelson, dan H. Gaudet yang berjudul The People&#8217;s Choice. Menurut teori ini, komunikator yang menerima kata-kata mereka dari media memiliki kemampuan yang kuat untuk mempengaruhi orang. Dalam hal ini, komunikasi pembangunan sangat penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai metode-metode berkelanjutan, termasuk restorasi lahan dan pengelolaan hutan kota.<\/p>\n<p>Melalui strategi komunikasi yang efisien, kampanye penyuluhan dan pelatihan, masyarakat dapat termotivasi untuk menerapkan praktik-praktik yang lebih berkelanjutan secara ekologis dalam pengelolaan lahan. Selain itu, komunikasi yang inklusif dapat meningkatkan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan kebijakan atau inisiatif yang relevan. Adopsi pengaruh sosial dalam pengelolaan lahan hutan kota, seperti standar masyarakat dan kepemimpinan lokal, dapat membantu mempercepat adopsi metode yang berkelanjutan. Penggunaan lahan hutan kota dapat menjadi cara yang lebih berkelanjutan dan efektif untuk memitigasi perubahan iklim dengan menggabungkan gagasan difusi inovasi dan teori komunikasi pembangunan.<\/p>\n<p><strong>GAMBARAN PERMASALAHAN<br \/>\nKAITAN PEMANFAATAN LAHAN HUTAN KOTA BOGOR DENGAN FOLU SEBAGAI REALISASI SDGS 13<\/strong><br \/>\nKota-kota besar di Indonesia saat ini terancam oleh gas CO2 yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar minyak dan gas yang berpotensi dalam menyumbang emisi gas rumah kaca. Hal ini juga berlaku untuk Kota Bogor. Maka pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 13, yang menekankan pada langkah-langkah untuk memerangi perubahan iklim, dapat di kaitkan dengan penggunaan lahan hutan kota di Bogor sebagai bagian dari program &#8220;Forest and Other Land Uses&#8221; (FOLU). Hutan Penelitian Dramaga (HPD) atau yang lebih di kenal dengan hutan CIFOR dan Kebun Raya Bogor (KRB) merupakan bagian dari 144,75 hektar (1,20%) hutan kota yang ada di Bogor. Kebun Raya Bogor (KRB) dan Hutan Penelitian Dramaga (HPD), yang juga disebut sebagai Hutan CIFOR, sangat penting dalam pelaksanaan program Forests and Other Land Uses (FOLU). Khususnya di bidang keberlanjutan lahan dan hutan, kedua lokasi ini telah secara signifikan memajukan penerapan konsep keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.<\/p>\n<p>Pertama, salah satu lokasi penelitian hutan yang terkemuka di Indonesia adalah Hutan Penelitian Dramaga (HPD), berfungsi sebagai laboratorium lapangan untuk proyek-proyek penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan kehutanan.  HP ini dapat digunakan untuk berbagai proyek penelitian, seperti percobaan provenant, konservasi spesies, dan bahkan inisiatif pengendalian kebakaran hutan.. HPD menawarkan platform untuk penelitian mengenai pengelolaan hutan lestari, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengurangi dampak perubahan iklim sebagai bagian dari inisiatif FOLU. Selain itu, HPD berperan sebagai pusat berbagi informasi dan pelatihan di bidang pembangunan hutan berkelanjutan. Selain melakukan penelitian, para ilmuwan ini juga melakukan inisiatif penjangkauan dan pendidikan untuk menyebarluaskan temuan mereka kepada masyarakat umum. Hal ini sangat penting untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai konservasi dan keberadaan hutan kota.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Kebun Raya Bogor (KRB) juga membuat kemajuan yang signifikan dalam mengimplementasikan program FOLU. Sebagai pusat konservasi dan penelitian, Kebun Raya Bogor merupakan laboratorium hidup yang memungkinkan para peneliti untuk mempelajari berbagai aspek lingkungan dan perilaku manusia. Dalam konteks KRB, KRB dapat menjadi tempat penelitian agroforestri, reklamasi lahan, dan restorasi ekosistem yang terdegradasi. Selain itu, KRB juga berfungsi sebagai tujuan wisata dan pusat pendidikan lingkungan. Melalui tur dan kegiatan edukasi, pengunjung dapat belajar tentang berbagai spesies tanaman dan upaya konservasi. Hal ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan mendukung praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, HPD dan KRB sangat penting dalam pelaksanaan program FOLU. Mereka mendukung inisiatif untuk melestarikan keberlanjutan hutan dan lahan serta mengurangi dampak buruk aktivitas manusia terhadap lingkungan melalui penelitian, pengajaran, dan tindakan konservasi. Kita harus terus mendorong dan memperkuat kontribusi mereka dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam untuk generasi mendatang.<\/p>\n<p><strong>KARAKTERISTIK DEMOGRAFIS, GEOGRAFIS DAN MASYARAKAT BOGOR<\/strong><br \/>\nBerdasarkan Disdukcapil kota Bogor, per 31 Desember 2021 Kota Bogor memiliki 1.091.396 jiwa penduduk dimana terdiri dari 551.620 jiwa pria dan 539.776 jiwa wanita yang menjadi warga di kota Bogor. Mengingat bahwa pertambahan penduduk yang cepat sering kali memberikan pengaruh negatif terhadap lingkungan, terutama dalam hal penggunaan lahan perkotaan dan konversi kawasan hutan menjadi lahan perumahan atau lahan komersial, maka program Forest and Other Land Uses (FOLU) sangat relevan dalam konteks ini. Lahan dan sumber daya alam di Kota Bogor mengalami banyak tekanan karena populasi kota yang terus meningkat dan kebutuhan akan perumahan, infrastruktur, dan layanan lainnya.<br \/>\nSecara umum, material vulkanik yang menutupi Kota Bogor merupakan endapan (batuan sedimen) dari dua gunung berapi: Gunung Salak (aluvium\/kal dan kipas aluvium\/kpal) dan Gunung Pangrango (satuan breksi tufa\/kpbb). Lapisan-lapisan batuan ini terletak jauh dari daerah aliran sungai dan cukup dalam di bawah permukaan bumi. Ketika endapan yang menguntungkan bagi tumbuh-tumbuhan ini mengalami pelapukan, biasanya meninggalkan endapan di permukaan berupa endapan aluvial yang terdiri dari tanah, pasir, dan kerikil. Berdasarkan struktur geologi tersebut, kapasitas pegang tanah di Kota Bogor adalah 1,5 kg\/cm2.<\/p>\n<p>Pemahaman mengenai susunan geologi dan struktur tanah di wilayah ini dapat diperoleh dari fakta bahwa Kota Bogor ditutupi oleh lapisan batuan vulkanik yang terbentuk dari endapan dua gunung berapi. Lapisan ini, yang terutama terdiri dari aluvium dan breksi tufa, menunjukkan bahwa kesuburan tanah yang cukup untuk mendukung program Hutan dan Penggunaan Lahan Lainnya (FOLU). Pelapukan batuan vulkanik menghasilkan endapan aluvium, yang dapat menjadi media yang kaya untuk pertumbuhan flora. Konsentrasi tinggi pasir, kerikil, dan tanah di endapan aluvial memberikan kondisi ideal bagi sistem perakaran tanaman untuk tumbuh dan menyerap nutrisi dan air. Karena tanahnya yang subur, upaya Bogor untuk mempertahankan area hutan kota dan menanam pohon akan terbantu dengan hal ini.<\/p>\n<p>Studi Tohjiwa (2015) mengenai mobilitas komuter Kota Bogor ke Jakarta menyoroti tekanan terhadap infrastruktur dan transportasi perkotaan, serta bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi penggunaan lahan dan kepadatan kota. Masyarakat di lingkungan kelas menengah ke bawah akan memilih moda transportasi yang cepat dan terjangkau, seperti KRL sebagai bentuk transportasi yang cepat dan terjangkau, namun masyarakat dengan pendapatan kelas menengah ke atas akan memilih kendaraan pribadi setelah naik KRL. Selain itu, mobilitas internal warga Bogor terganggu oleh kedatangan warga Jakarta di akhir pekan, sehingga kota Bogor menjadi sangat padat dan mengalami beberapa kali kemacetan. <\/p>\n<p>Fenomena ini, terutama meningkatnya kunjungan akhir pekan dari warga Jakarta, menekankan pentingnya teknik pengelolaan lahan perkotaan yang berkelanjutan, seperti membuat taman dan hutan kota untuk memenuhi kebutuhan rekreasi dan mengurangi dampak buruk mobilitas penduduk. Di Kota Bogor, program FOLU dapat membantu memajukan perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan pilihan mobilitas yang ramah lingkungan belum lagi aspek transportasi adalah salah satu penyumbang besar emisi gas rumah kaca.<\/p>\n<p><strong>TARGET ATAU SASARAN<br \/>\nMODEL KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN SOSIAL<\/strong><br \/>\nPengurangan emisi gas rumah kaca adalah tantangan utama dalam mitigasi perubahan iklim global. Dalam hal ini, model Development Support Communication (DSC) menawarkan pendekatan komunikasi yang berkelanjutan untuk mendukung upaya pengurangan emisi. DSC mengakui pentingnya melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat umum, dalam komunikasi dan tindakan bersama. Melalui DSC, pesan tentang urgensi mengurangi emisi gas rumah kaca disampaikan secara menyeluruh, termasuk dampak negatifnya terhadap lingkungan, ekonomi, dan sosial, serta manfaat jangka panjangnya, seperti peningkatan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. DSC juga mendorong kolaborasi aktif antara berbagai pihak melalui dialog terbuka dan lokakarya, menghasilkan inovasi dalam teknologi, kebijakan, dan praktik bisnis yang mendukung pengurangan emisi. Selain itu, DSC memotivasi tindakan konkret, seperti adopsi praktek produksi yang lebih bersih oleh perusahaan dan perubahan perilaku konsumsi oleh masyarakat, untuk menciptakan masyarakat dan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan rendah karbon.<\/p>\n<p><strong>KEBIJAKAN PERENCANAAN PROGRAM<\/strong><br \/>\nKebijakan perencanaan program penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor Forest and Other Land Use (FOLU) akan dapat cocok diterapkan di Bogor dengan catatan bahwa implementasinya harus disesuaikan dengan konteks lokal dan karakteristik khusus dari kota tersebut. Bogor merupakan kota yang memiliki keanekaragaman ekosistem, termasuk hutan, lahan pertanian, dan perkotaan yang padat. Oleh karena itu, kebijakan penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor FOLU memiliki potensi yang besar untuk memberikan dampak positif dalam mengurangi emisi.<\/p>\n<p>Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan mengadopsi pendekatan ASI (Avoid-Shift-Improve) yang telah disebutkan sebelumnya dalam pendekatan RAD-GRK. Misalnya, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan, kota Bogor dapat memprioritaskan pelestarian dan peningkatan kualitas hutan serta mengurangi deforestasi dan degradasi hutan. Selain itu, untuk mengurangi emisi dari sektor pertanian, kota dapat memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan serta meningkatkan efisiensi penggunaan lahan pertanian.<\/p>\n<p><strong>ANALISIS DAN PEMBAHASAN<br \/>\nPENGGUNAAN LAHAN HUTAN DI KOTA BOGOR<\/strong><br \/>\nPeta &#8211; Peta tata guna lahan pada tahun 2022 tersebut menunjukkan bahwa terjadi perubahan penggunaan lahan di Kota Bogor. Pada awalnya legenda untuk tiap tahun memiliki perbedaan jumlah penggunaan lahan, dikarenakan peta yang digunakan berasal dari sumber yang berbeda. Maka dari itu untuk mempermudah, terdapat beberapa penggunaan lahan yang digabungkan, yaitu kebun dan pemukiman. Kebun merupakan gabungan dari kebun, ladang, tegalan, dan semak. Lalu, pemukiman merupakan gabungan dari pemukiman serta fungsi penggunaan lahan lainnya, yaitu industri, tanah kosong, dan danau. Analisis lebih lanjut terhadap pola perubahan penggunaan lahan ini menjadi kunci dalam merencanakan strategi mitigasi yang tepat dan efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di Kota Bogor.<\/p>\n<figure id=\"attachment_13544\" aria-describedby=\"caption-attachment-13544\" style=\"width: 859px\" class=\"wp-caption alignright\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-8.png\" alt=\"\" width=\"859\" height=\"600\" class=\"size-full wp-image-13544\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-8.png 859w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-8-300x210.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-8-768x536.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-8-150x105.png 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-8-696x486.png 696w\" sizes=\"(max-width: 859px) 100vw, 859px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-13544\" class=\"wp-caption-text\">Peta tata guna lahan Kota Bogor tahun 2020<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penggunaan lahan Kota Bogor didominasi oleh pemukiman dan kebun, dengan tren pemukiman terus mengalami peningkatan akibat pertumbuhan penduduk di Kota Bogor dari tahun ke tahun. Pertumbuhan penduduk yang terjadi tidak hanya mengakibatkan peningkatan permintaan lahan permukiman, namun juga lahan terbangun lainnya, seperti lahan untuk industri dan infrastruktur. . Luas tanam merupakan luas lahan yang ditanami suatu komoditas perkebunan, sedangkan luas panen merupakan luas lahan dari hasil suatu komoditas yang  sudah siap dipanen . Walaupun luas tanam berpengaruh terhadap luas panen, luas panen yang diperoleh belum tentu sama dengan luas tanam. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti iklim, tenaga kerja, serta produktivitas lahan yang menyebabkan gagal panen. Maka dari itu, luas lahan berdasarkan peta tata guna lahan ini tidak dapat dijadikan patokan terhadap besar emisi yang dapat ditimbulkan<\/p>\n<p><strong>EMISI GAS RUMAH KACA DI BOGOR &#038; MITIGASINYA<\/strong><br \/>\nBerdasarkan hasil penelitian Inigo Kila Adinatha dan Chusnul Arif (2022),  Terdapat 3 sektor yang dapat dilihat hubungan antara besar emisi dengan penggunaan lahannya, yaitu sektor pertanian, industri, dan pemukiman, tetapi hanya sektor pemukiman yang besar emisinya berbanding lurus dengan luas lahannya. Adanya ketidaksesuaian antara besar emisi dengan luas lahan sawah dikarenakan luas lahan yang digunakan di peta tata guna lahan merupakan luas lahan sawah secara keseluruhan, sedangkan luas yang digunakan dalam perhitungan emisi merupakan luas panen. Selain itu, terdapat faktor lain seperti iklim, tenaga kerja, serta produktivitas lahan yang dapat menyebabkan gagal panen dan menurunkan besar luas panen. <\/p>\n<p>Kemudian, terjadi peningkatan luas lahan industri dari tahun 2012 ke tahun 2014, namun besar emisi yang dihasilkan terus menurun. Ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu perbedaan bahan bakar yang digunakan serta sudah diterapkan efisiensi energi. Data aktivitas yang digunakan untuk menghitung emisi dari konsumsi gas bumi juga tidak tersedia setiap tahunnya, sehingga data yang digunakan pada tahun 2020 diperoleh dengan mengalikan persentase konsumsi gas bumi di Kota Bogor dengan konsumsi di Indonesia dengan proyeksi.<br \/>\nDiketahui, emisi di Kota Bogor pada tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 3% dari tahun 2012, namun mengalami penurunan sebesar 30,9% pada tahun 2020 apabila dibandingkan dengan tahun 2014. Penurunan emisi GRK ini terjadi di semua sektor, kecuali sektor pemukiman dan sektor peternakan. Penurunan emisi terbesar terjadi pada sektor pertanian (47,2%), sektor kereta api (46,5%), sektor industri (34,4%), dan sektor transportasi jalan raya (28,7%). Berdasarkan data, jumlah kendaraan dan industri di Kota Bogor meningkat tiap tahunnya, seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk di Kota Bogor, sehingga seharusnya jumlah emisi pada tahun 2020 meningkat dari tahun 2014. Maka dari itu, terdapat faktor lain yang menyebabkan terjadinya penurunan emisi di Kota Bogor pada tahun 2020. <\/p>\n<p>Penurunan emisi di sektor transportasi dan industri di Kota Bogor pada tahun 2020 ini utamanya disebabkan oleh kebijakan terkait pandemi Covid-19. Beberapa kebijakan terkait pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap kedua sektor ini adalah kebijakan \u201cKerja dari Rumah\u201d dari Perkantoran, pembatasan aktivitas industri karena menurunnya permintaan produk, serta pembatasan mobilitas ke sekolah atau kampus. Pembatasan kegiatan transportasi dan produksi industri (termasuk UMKM) ini mengakibatkan konsumsi energi menurun. Menurunnya konsumsi energi pun berdampak terhadap industri minyak dan gas bumi yang mengalami penurunan permintaan, penurunan harga, dan kelebihan produksi dalam kurun pandemi Covid-19 pada tahun 2020. <\/p>\n<p>Adanya peningkatan emisi di sektor pemukiman dan peternakan menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 memiliki dampak berbeda ke tiap sektor kehidupan masyarakat. Peningkatan emisi di sektor pemukiman diakibatkan oleh adanya pembatasan kegiatan masyarakat, sebagian besar kegiatan masyarakat dilakukan di rumah, seperti belajar, bekerja, berbelanja atau melakukan transaksi dari rumah, serta tidak melakukan perjalanan ke dalam maupun ke luar negeri. Maka dari itu, penggunaan energi, berupa LPG di rumah cenderung stabil atau bahkan meningkat. Kemudian, sektor peternakan memiliki tren tersendiri untuk tiap jenis ternak yang cenderung stagnan bahkan meningkat tiap tahunnya, termasuk pada tahun 2020, sehingga tidak terlalu atau tidak sama sekali terdampak oleh pandemi.<\/p>\n<p>Telah diketahui sebelumnya bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) di Kota Bogor mengalami penurunan pada tahun 2020. Namun, upaya untuk menurunkan emisi GRK di Kota Bogor tetap menjadi prioritas, terutama untuk mencegah peningkatan emisi kembali setelah pandemi berakhir. Mitigasi emisi GRK merupakan langkah penting dalam mengurangi dampak pemanasan global yang disebabkan oleh GRK, baik dengan menurunkan emisi dari sumbernya maupun dengan meningkatkan upaya penyerapan dan pengkonversian GRK. Selain itu, tindakan mitigasi GRK juga dapat memberikan dampak positif terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Meskipun berbeda untuk setiap sektor, terdapat empat strategi utama dalam penerapan mitigasi emisi GRK. Keempat strategi utama tersebut meliputi:<\/p>\n<p>a.\tEliminasi, dengan menghindari aktivitas dan penggunaan alat-alat yang dapat menghasilkan emisi GRK, seperti mematikan lampu saat tidak digunakan.<br \/>\nb.\tPengurangan, dengan melakukan efisiensi energi pada setiap aktivitas, contohnya memilih peralatan elektronik yang lebih hemat listrik.<br \/>\nc.\tSubstitusi, yaitu mengganti teknologi atau perilaku yang menghasilkan emisi GRK besar dengan teknologi atau perilaku yang rendah emisi, seperti penggunaan energi terbarukan.<br \/>\nd.\tOffset, dengan menyerap konsentrasi GRK yang telah dihasilkan, seperti melalui reforestasi untuk menyerap emisi gas karbon dioksida akibat aktivitas manusia. Analisis lebih lanjut terhadap keempat strategi ini akan membantu dalam merancang rencana mitigasi yang efektif untuk mengurangi emisi GRK di Kota Bogor.<\/p>\n<p><strong>ALTERNATIF SOLUSI<\/strong><br \/>\nSalah satu alternatif solusi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor Forest and Other Land Use (FOLU) di Bogor adalah dengan memperkuat pengelolaan lahan dan hutan secara berkelanjutan. Langkah ini meliputi pelestarian hutan yang ada, penanaman kembali hutan yang telah terdegradasi, serta peningkatan penggunaan lahan secara berkelanjutan yang dapat mengurangi emisi GRK. Selain itu, pengembangan agroforestri dan sistem pertanian berkelanjutan juga dapat menjadi solusi efektif dalam mengurangi emisi GRK sambil meningkatkan produktivitas pertanian dan mengurangi tekanan terhadap hutan primer. Dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat lokal, serta pemangku kepentingan lainnya dalam hal ini juga sangat penting untuk menjaga keberhasilan implementasi solusi tersebut. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan Bogor dapat mencapai target pengurangan emisi GRK dan pada saat yang sama menjaga keberlanjutan lingkungan serta memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\n<em>Wahyudi, J. (2018). Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca. Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan Dan IPTEK, 12(2), 104\u2013112. https:\/\/doi.org\/10.33658\/jl.v12i2.45<br \/>\nNurudin. (2007). In Pengantar Komunikasi Massa (pp. 187\u2013188). essay, PT RajaGrafindo Persada.<br \/>\nhadianto, O. (2023). Kontribusi Rehabilitasi Hutan Dalam Mitigasi Perubahan IKLIM dan pencapain sustainable development goals (sdgs). Universitas Gadjah Mada. https:\/\/fkt.ugm.ac.id\/ 2023\/12\/18\/kontribusi-rehabilitasi-hutan-dalam-mitigasi-perubahan-iklim-dan-pencapain-sustainable-development-goals-sdgs\/<br \/>\nChristian, Yoppie, et al. (2019). Antara Akses dan Kontrol: Pemanfaatan Hutan Penelitian Dramaga, Bogor. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, vol. 5, no. 1, pp. 31-46, doi:10.20886\/jped.2019.5.1.31-46.<br \/>\nNugroho H, Muhyiddin. (2020). Menurun dan meningkat, maju namun belum cukup: kinerja pembangunan sektor energi di tengah pandemi Covid-19 tahun 2020. Bappenas Work Pap;4:1\u201312. https:\/\/doi.org\/10.47266\/bwp.v4i1.95.<br \/>\nNur Laila Widyastuti, &#038; Nugroho, H. (2020). Dampak Covid-19 terhadap Industri Minyak dan Gas Bumi: Rekomendasi Kebijakan untuk Indonesia. Jurnal Perencanaan Pembangunan: The Indonesian Journal of Development Planning, 4(2), 166\u2013176. https:\/\/doi.org\/10.36574\/jpp.v4i2.116<br \/>\nLestari JA. (2017). Strategi adaptasi dan mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sektor transportasi dan sektor persampahan di Kota Batu. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.<br \/>\nWiguna, A. (tanpa tahun). Potensi Kota. Pemerintah Daerah kota bogor. https:\/\/kotabogor.go.id\/index.php\/page\/detail\/120\/potensi-usaha<br \/>\nTohjiwa, A. D. (2015). Sense of place Kota Bogor Berdasarkan Persepsi Penduduk di Tiga Tipologi Permukiman (sense of place of Bogor city based on community perception in three typologies of settlements). Tesa Arsitektur, 13(1), 69. https:\/\/doi.org\/ 10.24167\/tes.v13i1.359<br \/>\nDisdukcapil. (2021). Jumlah Penduduk di Kota Bogor. Open Data Kota Bogor. https:\/\/data.kotabogor.go.id\/ getdataset\/jumlah-penduduk-di-kota-bogor  <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aprilyani1, Eliana Kesumadewi2 Ekonomi Pembangunan Program Sarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Email: 2110115011@mahasiswa.upnvj.ac.id, 2110115025@mahasiswa.upnvj.ac.id LATAR BELAKANG PERUBAHAN IKLIM &#038; EGRK (SDGS-13) Perubahan iklim telah membunuh banyak nyawa, menjungkirbalikkan ekonomi nasional, dan merugikan banyak orang, kota, dan negara saat ini dan bahkan lebih banyak lagi di masa depan. Dampak signifikan dari perubahan iklim sedang dirasakan oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-13543","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13543\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}