{"id":13536,"date":"2024-04-06T18:57:45","date_gmt":"2024-04-06T10:57:45","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13536"},"modified":"2024-04-06T18:57:45","modified_gmt":"2024-04-06T10:57:45","slug":"patriarki-dan-cinta-romantic-or-toxic-relationship","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/patriarki-dan-cinta-romantic-or-toxic-relationship\/13536\/","title":{"rendered":"PATRIARKI DAN CINTA: ROMANTIC OR TOXIC RELATIONSHIP?"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_13537\" aria-describedby=\"caption-attachment-13537\" style=\"width: 232px\" class=\"wp-caption alignright\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-7.png\" alt=\"\" width=\"232\" height=\"238\" class=\"size-full wp-image-13537\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-7.png 232w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-7-150x154.png 150w\" sizes=\"(max-width: 232px) 100vw, 232px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-13537\" class=\"wp-caption-text\">Source: Pinterest<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Budaya patriarki sudah ada sejak dahulu dan masih melekat pada kehidupan masyarakat hingga saat ini. Budaya yang dimana laki-laki memiliki kekuasaan atau kontrol untuk mendominasi. Patriarki adalah sistem dari struktur sosial yang menempatkan laki-laki dominan, menindas dan mengeksploitasi perempuan (Walby, 1990:174). Budaya ini seakan-akan menempatkan perempuan pada posisi kedua dan tidak dapat setara dengan laki-laki. Pada buku yang ditulis oleh Friedrich Engels dengan judul The Origin of the Family, Private Property, and the State, menjelaskan bahwa patriarki adalah bentuk organisasi politik yang mendistribusikan ketidaksetaraan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Sistem patriarki yang mendominasi kebudayaan masyarakat menyebabkan ketidaksetaraan gender yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. <\/p>\n<p>Budaya patriarki mengakibatkan pembatasan peran terhadap perempuan sehingga perempuan mendapatkan perlakuan diskriminasi dari masyarakat. Banyak negara di belahan dunia yang masih menganut budaya patriarki salah satunya adalah Indonesia. Di Indonesia masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa laki-laki adalah sosok yang dominan serta pemimpin, sedangkan perempuan merupakan sosok yang harus \u201cnurut\u201d. Kaum perempuan di Indonesia masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dari masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya pandangan bahwa kekuatan laki-laki diatas perempuan baik dari segi fisik maupun pada bidang pekerjaan (politik, pendidikan, dan sebagainya). <\/p>\n<p>Pandangan ini menjadi suatu budaya di masyarakat dan melekat hingga saat ini. Masyarakat masih mempercayai bahwa semua pekerjaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pembuatan keputusan dapat dilakukan oleh laki-laki saja dan perempuan tidak mampu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, sehingga perempuan tidak memiliki kesempatan untuk \u201cmencoba\u201d hal-hal baru atau pekerjaan yang setara dengan para laki-laki.<br \/>\n(Spradley 2007; dalam Israpil 2017) berpendapat bahwa masyarakat yang menganut sistem sosial dengan persepsi patriarki seringkali menganggap bahwa laki-laki memiliki peran yang besar dalam mengangkat derajat perempuan. Ia menambahkan bahwa nilai patriarki tersebut melihat perempuan sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk mendampingi laki-laki sehingga struktur sosial yang lebih harmonis dan seimbang dapat tercipta. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan patriarki posisi perempuan akan selalu berada di belakang laki-laki dan hanya mendampingi laki-laki. Perempuan tidak memiliki kesempatan yang setara dengan laki-laki, baik dalam jabatan maupun pekerjaan.<\/p>\n<p>Masyarakat memperlakukan perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda. Salah satu contohnya adalah laki-laki pulang malam dianggap hal biasa sedangkan perempuan yang pulang malam dianggap bukan anak yang baik (nakal). Contoh lainnya laki-laki yang menangis dianggap banci, sedangkan perempuan yang menangis dianggap sebagai bentuk dalam mengekspresikan diri mereka. Laki-laki yang dianggap harus kuat sehingga tidak boleh menangis dan bisa  menjadi pemimpin, perempuan harus lemah lembut sehingga dapat melayani orang lain dengan baik. Perbedaan tersebut menyebabkan terjadinya ketidakadilan, baik bagi kaum perempuan maupun laki-laki. Hal tersebut akan mempengaruhi bagaimana mereka akan memperlakukan satu sama lain, dan pemikiran terhadap satu sama lain.<\/p>\n<p>Dalam konteks \u201cromantic relationship\u201d, masyarakat patriarki dapat mempengaruhi perilaku serta persepsi perempuan dan laki-laki. Perempuan menurut masyarakat patriarki harus serba bisa, mengurus anak, melakukan pekerjaan rumah tangga harus dilakukan sendiri. Sedangkan laki-laki dianggap sebagai seseorang yang mencari nafkah dan berhak mendapatkan pelayanan yang baik dari perempuan. Budaya patriarki yang menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender menimbulkan ketidaknyamanan dan konflik yang memungkinkan terjadi pada hubungan romantis. Ketidakseimbangan yang terjadi karena patriarki tersebut, akan mempengaruhi hubungan yang dijalani.<\/p>\n<p>Pandangan masyarakat patriarki terhadap perempuan dan laki-laki akan mempengaruhi bagaimana seorang laki-laki akan memperlakukan seorang perempuan dalam hubungan romantisnya. Seorang laki-laki akan cenderung ingin mendominasi dalam setiap hal, baik membuat keputusan ataupun pada hubungan yang dijalani. Begitu pula dengan perempuan, perempuan akan cenderung untuk mengalah dan menurut pada laki-laki yang menjadi kekasihnya karena menurut budaya yang ada di masyarakat bahwa lebih baik perempuan menurut apa yang dikatakan oleh laki-laki dan tidak melawan. Ketidaksetaraan yang terjadi pada hubungan yang seperti itu akan mempengaruhi pada kesehatan hubungan tersebut. <\/p>\n<p>Patriarki akan menyebabkan konflik dan penindasan dalam hubungan romantis yang dapat berakhir menjadi toxic relationship. Toxic relationship merupakan hubungan yang dimana salah satu pihak merasa tidak nyaman, tidak adil, dan tidak bahagia. Kunci hubungan romantis adalah kedua belah pihak merasa bahagia terhadap satu sama lain, akan tetapi apabila ketika salah satu merasakan ketidakadilan dan tidak merasa bahagia maka hubungan tersebut sudah tidak sehat (toxic relationship).  <\/p>\n<p>Dampak terburuk dari toxic relationship adalah penindasan dan kekerasan. Toxic relationship memiliki berbagai macam tipe, namun selama salah satu pihak atau pasangan merasa tidak bahagia selama menjalani hubungan yang disebabkan oleh pasangannya maka hal tersebut sudah menunjukkan hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship. Patriarki dapat menjadi salah satu penyebab konflik dan ketidaksetaraan pada suatu hubungan. Struktur patriarki seringkali menghasilkan hubungan yang penuh dengan konflik, karena kedua pasangan tidak melakukan komunikasi yang sehat antar satu sama lain.<\/p>\n<p>Toxic relationship merupakan salah satu dampak buruk dari sistem atau struktur patriarki. Pandangan serta perlakuan tidak adil masyarakat terhadap kedua gender tersebut yaitu laki-laki dan perempuan yang ternyata dapat memberikan efek buruk pada suatu hubungan (romantic). Hubungan yang tadinya romantis dapat berakhir menjadi hubungan yang tidak sehat (toxic) karena suatu sistem yang tidak adil pada salah satu gender. Budaya patriarki sudah selayaknya untuk ditinggalkan dan mulai mengutamakan keadilan serta kesetaraan pada setiap gender. Laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan perlakuan serta kesempatan yang sama.<\/p>\n<p>Patriarki seringkali menjadi penyebab konflik yang terjadi pada suatu hubungan. Akan tetapi, budaya patriarki akan berhenti diteruskan apabila kedua belah pihak dalam suatu hubungan memperjuangkan satu sama lain serta kesetaraan dalam hubungan. Dengan kesadaran kita terhadap efek buruk budaya patriarki, kita dapat mengambil tindakan yang tepat untuk merubah sikap-sikap patriarki menjadi sikap yang membentuk hubungan sehat dengan pasangan. Seperti mengerti satu sama lain, memahami satu sama lain, dan memperlakukan pasangan dengan kasih sayang. Dengan mengurangi sikap patriarki dalam hubungan, dapat membantu membentuk hubungan yang sehat dan setara.<\/p>\n<p>Penulis: <strong>Angelina Valent Irene Cahya Putri-Universitas Negeri Surabaya<\/strong><\/p>\n<p><strong>References<\/strong>:<br \/>\n<em>[1] Zuhri, S., &#038; Amalia, D. (2022). Ketidakadilan gender dan budaya patriarki di kehidupan masyarakat Indonesia. Murabbi, 5(1).<br \/>\n[2] Yuyun, Y., Wardiah, D., &#038; Hetilaniar, H. (2022). Toxic Masculinity Dalam Sistem Patriarki: Analisis Wacana Kritis Van Dijk Dalam Film Story Of Kale. ANTHOR: Education and Learning Journal, 1(3), 152-156.<br \/>\n[3] You, Y. (2021). Patriarki, Ketidakadilan Gender, dan Kekerasan atas Perempuan: Model Laki-Laki Baru Masyarakat Hubula Suku Dani. Nusamedia.<br \/>\n[4] Apriliandra, S., &#038; Krisnani, H. (2021). Perilaku diskriminatif pada perempuan akibat kuatnya budaya patriarki di Indonesia ditinjau dari perspektif konflik. Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 3(1), 1-13.<br \/>\n[5] Wijaya, I. Y., &#038; Loviona, L. P. (2021). Kapitalisme, Patriarki dan Globalisasi: Menuju Langgengnya Kekerasan Berbasis Gender Online. Jurnal Wanita dan Keluarga, 2(1), 52-64.<br \/>\n[6] Sakina, A. I. (2017). Menyoroti budaya patriarki di Indonesia. Share: Social Work Journal, 7(1), 71-80<\/p>\n<p>[7] Jufanny, D., &#038; Girsang, L. R. (2020). Toxic masculinity dalam sistem patriarki (analisis wacana kritis Van Dijk dalam film \u201cPosesif\u201d). SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi, 14(1).<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Budaya patriarki sudah ada sejak dahulu dan masih melekat pada kehidupan masyarakat hingga saat ini. Budaya yang dimana laki-laki memiliki kekuasaan atau kontrol untuk mendominasi. Patriarki adalah sistem dari struktur sosial yang menempatkan laki-laki dominan, menindas dan mengeksploitasi perempuan (Walby, 1990:174). Budaya ini seakan-akan menempatkan perempuan pada posisi kedua dan tidak dapat setara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-13536","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13536","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13536"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13536\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}