{"id":13389,"date":"2024-04-01T16:04:44","date_gmt":"2024-04-01T08:04:44","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13389"},"modified":"2024-04-01T16:04:44","modified_gmt":"2024-04-01T08:04:44","slug":"keresahan-anak-rantau-di-terminal-purabaya-berasa-di-terminal-prindavan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/keresahan-anak-rantau-di-terminal-purabaya-berasa-di-terminal-prindavan\/13389\/","title":{"rendered":"KERESAHAN ANAK RANTAU DI TERMINAL PURABAYA BERASA DI TERMINAL PRINDAVAN"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"332\" height=\"186\" class=\"aligncenter size-full wp-image-13390\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-1.jpg 332w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-1-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Gambar1-1-150x84.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 332px) 100vw, 332px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sebagai anak desa yang merantau ke Surabaya saya berangkat nih dari desa ke kota naik bus yang pastinya akan turun di terminal Purabaya dong. Ini pertama kalinya saya sebagai anak desa pergi ke luar kota sendirian. pengalaman saya turun di Terminal Purabaya benar-benar membuat saya tercengang. Awalnya saya mengira akan melalui perjalanan yang menyenangkan karena dibenak saya pergi ke kota besar adalah hal menyenangkan Dimana saya bisa bertemu dengan orang-orang yang belum pernah saya temui di kota saya tetapi ternyata kota besar tidak sesuai dengna expetasi saya. baru saja saya datang menginjakkan kaki di terminal ternyata Terminal bungurasih menjadi saksi bisu keresahan saya, saya bisa merasakan kegelisahan di tengah kerumunan tukang ojek yang berebut pelanggan dengan agresifnya. <\/p>\n<p>Begitu saya melangkah keluar dari bus, saya langsung diserbu oleh para tukang ojek yang berteriak-teriak menawarkan jasa mereka diantara para tukang ojek yang berebut pelanggan. Awalnya, saya mencoba untuk menolak dengan sopan. Tapi mereka tidak mau menerima penolakan. Mereka memaksa, bahkan hingga menggunakan bahasa kasar dan mengancam jika saya tidak menggunakan jasa mereka. Saya merasa tertekan dan tidak nyaman. Apalagi ketika saya mencoba memberikan alasan bahwa saya sudah dijemput, mereka tetap bersikeras dan mengikuti saya ke mana pun saya pergi di dalam terminal, sambil terus menggerutu dan mengancam. Mereka memaksa dengan tegas ke setiap penumpang untuk menggunakan jasa ojeknya dengan kasar hingga memaki-maki penumpang jika mereka menolak. Memang disana tidak diperbolehkan ojek online mangkal di dalam terminal jadi para ojek oflline terminal sepertinya merasa takut jika penumpang memesan ojol dari dalam terminal sehingga mereka benar-benar mengikuti sampai mau keluar terminal.<\/p>\n<p>Saya benar-benar terkejut melihat bagaimana keadaan di dalam Terminal Purabaya ini. saya menyadari bahwa kekerasan dan kekacauan ini tampaknya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Terminal Purabaya . Rasanya seperti ada kekacauan yang terorganisir di mana tukang ojek memegang kendali. Mereka tampak tidak peduli dengan rasa nyaman atau keselamatan penumpang. Yang mereka pikirkan hanya bagaimana bisa mendapatkan pelanggan sebanyak mungkin, bahkan jika itu berarti harus menggunakan intimidasi. Saya tidak bisa tidak bertanya-tanya, apakah terminal ini hanya menjadi tempat bagi para tukang ojek untuk melakukan praktik-praktik tak terpuji mereka? Di bawah kebisingan mesin dan panasnya aspal, saya yakin ada banyak cerita sedih dari para penumpang yang merana akibat perlakuan kasar dan harga yang terlalu mahal. <\/p>\n<p>Mereka mungkin merasa terjebak, tidak memiliki pilihan selain menggunakan jasa tukang ojek yang tidak ramah itu. Apakah terminal ini hanya menjadi lahan subur bagi orang-orang tak beradab, ataukah masih ada ruang bagi kesopanan dan keamanan? Saya merasa, di bawah lapisan aspal yang panas dan kebisingan mesin, ada cerita-cerita penumpang yang merana, terpaksa menyerahkan diri pada tarif mahal dan terombang-ambing oleh kenek yang kasar. Sudah saatnya kita melihat terminal ini sebagai lebih dari sekadar tempat transit biasa. Ini adalah cerminan dari kualitas pelayanan dan kemanusiaan di negeri ini. Jika kita biarkan perilaku kasar dan tidak beradab ini terus berlangsung, maka tidak akan ada ruang bagi kesopanan dan keamanan di tempat-tempat publik seperti ini.<\/p>\n<p>Saya berharap pihak yang berwenang dapat segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini. Para penumpang tidak seharusnya merasa takut atau terintimidasi ketika mereka turun di terminal. Mereka harus merasa aman dan dilayani dengan sopan. Dan bagi para tukang ojek, sudah waktunya untuk memahami bahwa mendapatkan pelanggan bukanlah dengan cara memaksa dan mengancam, tapi dengan memberikan pelayanan yang baik dan ramah. Semoga suatu hari nanti, Terminal Purabaya bisa menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang yang datang dan pergi dari Surabaya.<\/p>\n<p>Saya percaya bahwa dengan upaya bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi bagi semua orang yang melewati terminal ini. Terutama bagi para anak rantau seperti saya, yang merantau dengan harapan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik di kota besar ini, terminal seharusnya menjadi titik awal yang menyenangkan, bukan mimpi buruk yang harus dihadapi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Sebagai anak desa yang merantau ke Surabaya saya berangkat nih dari desa ke kota naik bus yang pastinya akan turun di terminal Purabaya dong. Ini pertama kalinya saya sebagai anak desa pergi ke luar kota sendirian. pengalaman saya turun di Terminal Purabaya benar-benar membuat saya tercengang. Awalnya saya mengira akan melalui perjalanan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-13389","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13389","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13389"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13389\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}