{"id":13183,"date":"2024-03-23T03:11:14","date_gmt":"2024-03-22T19:11:14","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13183"},"modified":"2024-03-23T03:11:14","modified_gmt":"2024-03-22T19:11:14","slug":"sony-fertanto-gitaris-asal-bogor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/sony-fertanto-gitaris-asal-bogor\/13183\/","title":{"rendered":"Sony Fertanto, Gitaris Asal Bogor"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: <strong>Jamil Ridho B<br \/>\nMahasiswa Komunikasi Digital dan Media<br \/>\nIPB University<\/p>\n<p>JurnalPost.com <\/strong> &#8211; Sony Fentarto adalah seorang gitaris yang berpengalaman dari grup band Sony Entertainment, salah satu grup musik di Bogor yang didirikan pada tahun 2005. Sony memiliki kekaguman mendalam terhadap The Beatles yang membuatnya mengenali panggilan jiwanya untuk memainkan gitar. Inspirasi dari The Beatles membuatnya memilih gitar untuk dipelajari, dan ia memiliki hati yang penuh semangat untuk mempelajari alat musik tersebut.<\/p>\n<p>Sony telah mempelajari alat musik gitar sejak ia kecil. Bagi Sony, gitar bukan hanya sekedar alat musik, melainkan sahabat dan sumber inspirasi. Di setiap petikan gitarnya, terlukis kisah dan emosi yang menyentuh hati. Gitar menemani Sony dalam suka dan duka, menjadi sumber kedamaian dan kebahagiaan di tengah hiruk pikuk kehidupan. Sebagai pemain gitar, ia memandang alat musik saxophone adalah alat musik yang paling sulit untuk ia pelajari, meskipun akhirnya menyadari bahwa panggilan hatinya lebih dalam terletak pada gitar. Menurutnya, setiap alat musik dapat dipelajari dengan baik jika ada ketekunan untuk belajar.<\/p>\n<p>Selain The Beatles, ia juga mengidolakan salah satu gitaris terkenal yaitu Lee Ritenour dan Steve Vai, karena genre yang mereka gunakan sangat menarik bagi Sony. Dari beragam genre musik, yang paling ia favoritkan ialah passion karena memiliki dinamika, proggresi, harmoni yang beragam. Selain menjadi gitaris dalam genre favoritnya, yakni passion, Sony kini memiliki niat untuk memperluas wawasannya dengan mempelajari alat musik lainnya, termasuk piano dan selo. Baginya, keduanya memiliki suara yang syahdu dan romantis, memberikan dimensi baru pada perjalanan seni musiknya.<\/p>\n<p>Sebagai gitaris handal, Sony telah menghiasi berbagai panggung musik di Bogor dan sekitarnya. Ia membawakan lagu-lagu The Beatles dan musisi lain yang ia kagumi, memanjakan telinga para penikmat musik dengan melodi yang memukau. Dalam setiap penampilan yang akan ia sajikan, Sony dan timnya selalu melakukan persiapan matang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengulikan lagu yang ingin dimainkan, pemeriksaan ulang sound system, dan menjaga stamina agar tetap dalam keadaan prima adalah ritual yang tak terpisahkan.<\/p>\n<p>Sebagai seorang musisi yang sudah lama terjun dalam dunia permusikan pastinya tidak semuanya akan berjalan dengan lancar. Sony sudah tidak asing dengan berbagai rintangan yang menghadang di atas panggung, kendala yang kerap dihadapi Sony adalah instalasi kabel yang kurang baik. Hal ini dapat menyebabkan suara gitarnya terbungkam, bagaikan melodi yang tertahan di ujung bibir. Kekecewaan dan frustrasi tak jarang menyelimuti dirinya saat momen seperti ini terjadi, suara gitar yang berubah menjadi noise bagaikan mimpi buruk bagi seorang musisi. Gangguan ini dapat merusak harmonisasi musik dan mengganggu kenikmatan para pendengar. Sony pun tak luput dari pengalaman pahit ini, di mana alunan musiknya tercoreng oleh suara sumbang yang tak terduga, dan senar gitar yang putus atau bunyi yang tidak sesuai dapat menjadi batu sandungan bagi seorang gitaris. Di tengah penampilannya, Sony tak jarang harus berhadapan dengan senar gitar yang memberontak, memaksanya untuk berhenti sejenak dan melakukan improvisasi.<\/p>\n<p>Sony sangat senang bermain di panggung-panggung besar, pengalaman paling berkesan menurutnya yaitu ketika acara reuni akbar Regina Pacis 70th karena Sony adalah alumni dari Regina Pacis itu sendiri, Sony merasa sangat bahagia karena dapat berpartisipasi dalam acara reuni tersebut ditambah dengan bertemu teman-teman lamanya.<\/p>\n<p>Selama ia terjun dalam dunia permusikan, Sony juga pernah beberapa kali mengiringi artis-artis, dan menurutnya setiap artis memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Dengan begitu, ia dapat belajar tentang orang lain dan mengumpulkan pengalaman yang bermanfaat bagi dirinya .Sony tak henti berkarya dengan gitarnya. Ia bercita-cita untuk terus menyebarkan kecintaannya pada musik kepada orang lain, menginspirasi lebih banyak orang untuk belajar gitar dan menemukan kebahagiaan dalam bermain musik.<\/p>\n<p>Sebagai musisi yang selalu mengedepankan melodi masa depan, Sony Fentarto tak henti memikirkan nasib dunia musik Indonesia. Di balik gemerlap panggung dan alunan melodi yang memukau, terdapat kerinduan akan perhatian dan dukungan dari pemerintah. Sony berharap agar musisi-musisi di Indonesia memiliki lahan yang lebih luas untuk mengekspresikan bakat mereka. Ia mendambakan ruang kreatif yang tak hanya terbatas pada panggung-panggung kecil, namun juga merambah ke berbagai platform dan media yang lebih luas. Menurut Sony, pemerintah dapat berperan sebagai jembatan antara musisi dan masyarakat. Dukungan dalam bentuk pendanaan, edukasi, dan infrastruktur dapat membuka pintu bagi musisi untuk menjangkau lebih banyak pendengar dan menghadirkan keindahan musik bagi seluruh pelosok negeri.<\/p>\n<p>Perhatian dan dukungan dari pemerintah akan menumbuhkan semangat para musisi untuk terus berkarya dan menghasilkan karya-karya terbaik mereka. Hal ini akan mendorong kemajuan industri musik Indonesia dan meningkatkan kualitas hidup para musisi. Musik tak hanya sebatas hiburan, namun juga dapat menjadi alat diplomasi dan meningkatkan citra bangsa di mata dunia. Dengan mendukung musisi dan industri musik, Indonesia dapat menunjukkan kekayaan budayanya dan bersaing di kancah internasional.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Jamil Ridho B Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media IPB University JurnalPost.com &#8211; Sony Fentarto adalah seorang gitaris yang berpengalaman dari grup band Sony Entertainment, salah satu grup musik di Bogor yang didirikan pada tahun 2005. Sony memiliki kekaguman mendalam terhadap The Beatles yang membuatnya mengenali panggilan jiwanya untuk memainkan gitar. Inspirasi dari The Beatles [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13184,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-13183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13183"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13183\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13184"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}