{"id":13158,"date":"2024-03-22T11:29:48","date_gmt":"2024-03-22T03:29:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=13158"},"modified":"2024-03-22T11:46:05","modified_gmt":"2024-03-22T03:46:05","slug":"rela-melepas-jabatan-demi-menegakkan-tiang-agama-ini-lah-kisah-inspiratif-adem-dalam-dunia-pekerjaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/rela-melepas-jabatan-demi-menegakkan-tiang-agama-ini-lah-kisah-inspiratif-adem-dalam-dunia-pekerjaan\/13158\/","title":{"rendered":"Rela Melepas Jabatan Demi Menegakkan Tiang Agama: Ini lah Kisah Inspiratif Adem Dalam\u00a0Dunia\u00a0Pekerjaan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-71.jpg\" alt=\"\" width=\"742\" height=\"989\" class=\"aligncenter size-full wp-image-13159\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-71.jpg 742w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-71-225x300.jpg 225w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-71-150x200.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-71-300x400.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-71-696x928.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 742px) 100vw, 742px\" \/><\/p>\n<p>Penulis<strong> Arya Rizqi Muhardillah<\/strong><br \/>\nFakultas Sekolah Vokasi IPB University<br \/>\nJurusan Komunikasi Digitan\u00a0dan\u00a0Media<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Ade Muhardillah atau biasa dikenal dengan Adem kelahiran 22 Januari 1974 ini adalah sosok yang menginspirasi banyak orang dengan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai agamanya ditengah-tengah lingkungan kerja yang banyak kontrovesialnya. Lahir di sebuah desa bernama Parung Panjang provinsi Jawa Barat, Ade Muhardillah tumbuh dalam keluarga yang taat beragama dan juga menjunjung tinggi kejujuran. Ayahnya adalah seorang ternama di desa tersebut dan dikenal pekerja keras dan juga kejujurannya, ayahnya mengajarkan kepada anak laki-lakinya nilai-nilai arti dari perjuangan seorang laki-laki bagi keluarganya tidak lupa arti dan juga manfaat dari kejujuran dan juga keikhlasan dalam setiap keadaan.<\/p>\n<p>Dari masa kecilnya, Adem telah menunjukkan bakat kepemimpinan dan juga kerja keras yang luar biasa. Ia sering menjadi ketua kelas saat masa sekolah dan juga ia selalu ke pasar terlebih dahulu pada saat langit masih gelap buta untuk berjualan sebelum berangkat sekolah. Kerja keras yang ia lakukan dari zaman sekolah membuat ia terbiasa memanajemenkan waktu dan juga memprioritaskan suatu hal terpenting terlebih dahulu yang dimana kebiasaan tersebut sangat berguna baginya untuk melamar disuatu Perusahaan.<\/p>\n<p>Adem memulai karirnya di perusahaan besar Di Indonesia yang berada di Tangerang. Di Perusahaan tersebut, Adem beradaptasi dengan cepat hingga ia di amanahkan sebagai seoarang manajer. Prestasinya diakui banyak orang mulai dari rekan-rekannya hingga para petinggi perusahaan, namun semakin tingginya posisi yang ia capai, semakin besar pula tekanan untuk mengikuti arus dan menempatkan kepentingan perusahaan di atas segalanya, bahkan semakin tinggi posisi seseorang semakin banyak orang-orang yang menyinyir atau tidak suka dengan dia selaku manajer. Sudah menjadi hal biasa ketika seseorang ingin mengambil alih jabatan yang sedang kita jalani, karena pada dasarnya sikap manusia yang rakus.<\/p>\n<p>Adem menanggapi semua permasalahan dengan tenang dan professional tetapi semakin lama ia bekerja disana semakin berat tekanan yang ia alami. Konflik batin yang dialaminya semakin memuncak ketika ia dihadapkan pada situasi yang memaksa untuk melanggar prinsip-prinsip agamanya demi keuntungan Perusahaan. Adem menghadapi dilema yang berat antara menjaga karirnya atau mempertahankan keyakinannya. Namun, setelah berdiskusi panjang dengan keluarga dan mendapatkan dukungan dari beberapa rekan-rekannya yang sudah lebih dulu keluar, Adem akhirnya membuat keputusan yang mengejutkan bagi banyak orang.<\/p>\n<p>Pada usia 39 tahun, Adem memutuskan untuk melepas jabatannya sebagai manajer di Perusahaan tersebut setelah menjabat selama 10 tahun lamanya. Keputusan tersebut tidaklah mudah, karena menyangkut masa depan finansialnya dan masa depan keluarganya. Namun, bagi Adem, integritas dan kesetiaan pada nilai-nilai agamanya lebih berharga dari segalanya.<\/p>\n<p>Setelah meninggalkan dunia pekerjaannya, Adem tidak putus asa. Ia memulai bisnis kecil sebagai penjual makanan dan juga membuka tempat makan yang berada di dekat rumah. Meskipun tidak sebesar gaji yang ia terima di perusahaan sebelumnya, Adem merasa lebih Bahagia dan juga tenang karena bisa hidup sesuai dengan prinsip-prinsip agamnya.<\/p>\n<p>Setelah panjangnya perjalanan Adem kembali menemukan perusahaan yang cocok dan juga sejalan dengan prinsip-prinsip agamanya walaupun tidak seperti Perusahaan tersebut tidak sebesar sebelumnya Adem tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran. Keberkahan ada kunci utama bagi Adem untuk mencari nafkah, oleh karena itu sekarang Adem lebih aktif bekerja sembari berdakwah diperusahaan tersebut seputar prinsip dan dasar-dasar agama.<\/p>\n<p>Kisah hidup Ade Muhardillah menjadi inspirasi bagi banyak orang, tidak hanya dalam dunia bisnis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Keberaniannya untuk mengambil Keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai agamanya mengajarkan kita pentingnya integritas dan keberanian dalam menjalani hidup. Bagi Adem, menjaga agama bukanlah sekedar kewajiban, tetapi juga sebuah pilihan hidup yang memberikan dan keberkahan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis Arya Rizqi Muhardillah Fakultas Sekolah Vokasi IPB University Jurusan Komunikasi Digitan\u00a0dan\u00a0Media JurnalPost.com &#8211; Ade Muhardillah atau biasa dikenal dengan Adem kelahiran 22 Januari 1974 ini adalah sosok yang menginspirasi banyak orang dengan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai agamanya ditengah-tengah lingkungan kerja yang banyak kontrovesialnya. Lahir di sebuah desa bernama Parung Panjang provinsi Jawa Barat, Ade [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-13158","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13158"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13158\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}