{"id":12774,"date":"2024-03-12T21:15:46","date_gmt":"2024-03-12T13:15:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12774"},"modified":"2024-03-12T21:15:46","modified_gmt":"2024-03-12T13:15:46","slug":"menembus-batas-dan-mengelola-waktu-inilah-kisah-inspiratif-mahasiswi-superaktif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menembus-batas-dan-mengelola-waktu-inilah-kisah-inspiratif-mahasiswi-superaktif\/12774\/","title":{"rendered":"Menembus Batas dan Mengelola Waktu Inilah Kisah Inspiratif Mahasiswi  Superaktif"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_12775\" aria-describedby=\"caption-attachment-12775\" style=\"width: 275px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-41.jpg\" alt=\"\" width=\"275\" height=\"350\" class=\"size-full wp-image-12775\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-41.jpg 275w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-41-236x300.jpg 236w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-41-150x191.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 275px) 100vw, 275px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-12775\" class=\"wp-caption-text\">Sumber : Dokumen pribadi<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh : <strong>Yusi Fauzani<\/strong> ( <strong>Mahasiswi Prodi Komunikasi Digital dan Media,  Sekolah Vokasi, IPB University<\/strong> ) <\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Anisa Saharani Wanita yang lahir di Jakarta, 3 Mei 2003 ialah seorang mahasiswi  Akuntansi semester enam Sekolah Vokasi IPB University. Bukan hanya sekedar  mahasiswi, tetapi sebagai contoh nyata dari seseorang yang berani mencoba dan  memiliki manajemen waktu yang luar biasa serta dapat menghasilkan penghargaan  yang membanggakan.<br \/>\nMahasiswi kelahiran Jakarta, saat ini sedang magang dan sebagai pengajar  sekaligus freelancer. Mengulik cerita bagaimana ia menemukan potensi dirinya ,  ternyata ia memiliki beberapa pengalaman yang cukup membanggakan. Anisa  menemukan potensinya di dunia berhitung sejak SMP dan berlanjut hingga SMA  dari potensi tersebut ia memiliki prestasi Juara Kedua Ekonomi Syariah di  Universitas Indonesia. Tidak hanya berkutik pada dunia berhitung, ia juga aktif  dalam menulis penelitian dan essai pada Karya Ilmiah Remaja. Sejak SMA sudah  memiliki berbagai pengalaman pada dunia ekonomi, pada akhirnya hal itu  mengantarkan ke jenjang perkuliahan yakni jurusan akuntansi. <\/p>\n<p>Pada awal perkuliahan, Anisa mengalami covid dan berdampak dengan tidak terjadi  bertatap muka,namun pada semester seleanjutnya setelah tidak covid, ia melakukan  balas dendam dengan lebih produktif, seperti saat liburan semester dua bulan ia isi  dengan kegiatan magang mandiri dan mengajar. Mahasiswi semester tiga dengan  segala ke-hectic an tugas kampus, ia gunakan untuk mengajar dan magang mandiri.  Ia memiliki berpengalaman magang pada Direktorat Jenderal Pajak sebagai  konsultan pajak. Dengan tekad berani mencoba hal itu dapat membuahkan hasil  yang cukup baik bagi Anisa.  <\/p>\n<p>Anisa juga mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Politeknik  Negeri Batam. Tentunya hal tersebut semakin menjadi tantangan bagi Anisa untuk  mengelola waktunya dengan baik, lantaran ia juga sedang menjadi pengajar yang  tentunya hal tersebut membuat ia sibuk di Tengah-tengah kegiatan PMM. Tidak  hanya mengajar saja, ternyata ia mengikutu program beasiswa ke Singapore dan  tidak hanya itu, ia juga sedang mempersiapkan untuk mengikuti Kompetisi Debat  Perpajakan Nasional yang diselenggarakan oleh Direktorar Jenderal Pajak.<br \/>\nSegala persiapan tengah Anisa lakukan di sela-sela PMM dan akhirnya hal tersebut  membuahkan hasil, ia berhasil terpilih beasiswa untuk terbang ke Singapura dengan  mengikuti seminar dan dari kerja keras serta tekad yang berani ia juga berhasil  menjuarai Kompetisi Debat Perpajakan Nasional dengan gelar Juara Pertama.  Anisa terlihat bingung ketika ia ingin mengikuti lomba debat, dikarenakan ia tidak  memiliki passion dalam bidang tersebut, namun dengan tekad yang berani mencoba  hal tersebut membuahkan pengalaman yang tak terlupakan. <\/p>\n<p>Berbicara mengelola waktu, Anisa berpikir bahwa mencari pengalaman tidak harus  24 jam, ia memiliki daftar prioritas, tentunya kewajiban mahasiswa dahulukan dulu  urusan kampus dan tugas atau organisasi, namun karena ia sedang melakukan  magang, ia memiliki waktu magang di hari Senin- Jum\u2019at dan di weekend ia  gunakan untuk mengajar. Anisa mengatakan bahwa jika orang-orang weekend  beristirahat, yang ia lakukan ialah mengajar. Awal menyukai mengajar orang lain  ialah sejak menjadi mahasiswi. Metode belajar Anisa untuk mengingat apa yang ia  telah pelajari ialah dengan meengajar. Ia senang membuat orang lain paham dengan  apa yang telah ia pelajari karena sejatinya mengajar ialah mempunyai tanggung  jawab atas apa yang telah ia sampaikan. <\/p>\n<p>Dari sekian banyak pengalaman yang Anisa raih, cara memulai pengalaman &#8211; pengalaman tersebut dari menemukan passion ialah dengan mulai fokus pada satu  hal yang ia gemari dan dimaksimalkan. Menurut Anisa, sebenarnya orang lain  bukan tidak tahu passion nya apa, tetapi orang lain hanya ragu dan perlu  diyakinkan, tentu caranya ialah harus dicoba, selagi memiliki kesempatan dan  peluang yang terdapat didepan mata diharuskan untuk diambil karena siapa lagi  yang akan membuktikan kecuali diri sendiri. Anisa juga memiliki prinsip dalam  hidupnya yakni, lebih baik kecewa karena gagal daripada menyesal karena tidak  berani mencoba.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Yusi Fauzani ( Mahasiswi Prodi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi, IPB University ) JurnalPost.com &#8211; Anisa Saharani Wanita yang lahir di Jakarta, 3 Mei 2003 ialah seorang mahasiswi Akuntansi semester enam Sekolah Vokasi IPB University. Bukan hanya sekedar mahasiswi, tetapi sebagai contoh nyata dari seseorang yang berani mencoba dan memiliki manajemen waktu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-12774","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12774"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12774\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}