{"id":12756,"date":"2024-03-12T19:05:49","date_gmt":"2024-03-12T11:05:49","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12756"},"modified":"2024-03-12T19:05:49","modified_gmt":"2024-03-12T11:05:49","slug":"perjalanan-ke-suku-baduy-sunda-di-pedalaman-banten-jawa-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/perjalanan-ke-suku-baduy-sunda-di-pedalaman-banten-jawa-barat\/12756\/","title":{"rendered":"Perjalanan ke Suku Baduy Sunda di pedalaman Banten Jawa Barat"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-37.jpg\" alt=\"\" width=\"556\" height=\"373\" class=\"aligncenter size-full wp-image-12757\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-37.jpg 556w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-37-300x201.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-37-150x101.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 556px) 100vw, 556px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Agnes Java Ayu Septianti<br \/>\nMahasiswa Sekolah Vokasi IPB University Program Studi Komunikasi Digital dan Media <\/p>\n<p>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pada hari Sabtu tanggal 2 maret 2024 penulis berangkat menuju pedalaman Suku Baduy yang berada di Banten Jawa Barat.  Tujuan penulis adalah untuk mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan, tetapi sebelumnya Suku Baduy adalah komunitas yang tinggal di pedalaman Banten, Indonesia. Mereka hidup dalam kehidupan sederhana dan mempertahankan tradisi serta kepercayaan nenek moyang mereka. Suku Baduy dikenal dengan pakaian tradisional mereka yang sederhana dan gaya hidup yang terpisah dari modernitas. Mereka menghindari pengaruh luar dan mempertahankan cara hidup tradisional mereka, termasuk pertanian dan kerajinan tangan. Suku Baduy juga dikenal dengan komitmen mereka terhadap nilai-nilai keagamaan dan adat istiadat yang kuat, yang menjadi bagian penting dari identitas mereka.<\/p>\n<p>Penulis melakukan perjalanan dari Kota Bogor pada pukul 05.00 pagi dan langsung berangkat ke Stasiun Bogor untuk transit di Stasiun Tanjung Barat. Penulis Sampai Stasiun Tanjung Barat pada pukul 07.00 yang di lanjutkan dengan menaiki mobil ke Tol Merak Banten sekitar 3-4 jam dan jika macet bisa sampai 6 jam, situasi di jalanan tol kebetulan memang tidak terlalu ramai karena memang masih sangat pagi, oleh karena itu penulis tidak mengalami masalah yang mengakibatkan keterlambatan saat di jalan menuju Suku Baduy. <\/p>\n<p>Setelah itu, saat sudah keluar dari tol di lanjutkan ke jalanan menembus pedalaman hutan dan bukit &#8211; bukitan di banten untun menuju ke terminal yang akan mengantarkan penulis ke Suku Baduy. Keadaan jalanan cukup lancar tetapi dari segi geografis jalanan yang berada di ujung &#8211; ujung hutan dan jurang mengakibatkan  jalanannya terjal dan berbelok belok tajam, selain itu juga jalannya tidak terlalu bagus, alias banyak sekali jalanan yang rusak, jadi penulis harus berhati &#8211; hati dan juga tetap menggunakan sabuk pengalam di dalam mobil di karenakan jika tidak akan sangat membahayakan nyawa, tetapi di sisi lain pemandangan saat menuju ke sana bukan lah pemandangan yang biasa kita lihat di kota, pemandangan yang bisa penulis lihat adalah gunung &#8211; gunung, pepohonan dan juga beberapa sawah dan hewan ternak para warga asli sana. Udaranya pun terasa lebih segar dan juga membuat kita ingin memejamkan mata agar lebu relax dan menyatu dengan alam. <\/p>\n<p>Sesampainya penulis di terminal Baduy, suasana di sana lumayan ramai terlihat banyak penjual buah &#8211; buahan seperti manggis, dukuh, dan juga duren. Tidak berhenti di aitu juga banyak sekali yang menjual aksesoris khas Suku Baduy, seperti  ikat kepala, batik khas Baduy, gelang dan masih banyak lainnya. Terdapat juga banyak orang baduy yang terlihat turun dari atas gunung untuk melakukan aktivitas lainnya. Setelah melihat &#8211; lihat keadaan terminal sebentar, penulis  langsung saja di ajak oleh tour guidenya yang bernama Mang Syaidam yang merupakan orang asli Suku Baduy, tetapi mang Syaidam ini mengerti bahasa Indonesia dan juga bisa sedikit &#8211; dikit mengucapkan Bahasa Indonesia. Penulis pun berjalan menuju ke Baduy Luar kira &#8211; kira 1-2 jam dari terminal, di jalan terdapat juga banyak orang Baduy asli yang menjual  aksesoris, buah &#8211; buahan, hasil tenun, madu dan juga beberapa jasa seperti tukang pembawa tas para pendaki. <\/p>\n<p>Track dari perjalanan pun bisa di bilang sangat menguras keringat, karena memiliki banyak sekali tanjakan yang sangat nanjak dan juga banyak sekali turunan yang menurun, jalanannya pun tidak lurus atau berasfal tetapi jalanannya hanya terdiri dari batu batuan yang di susun dan tanah merah yang tentu saja penulis harus sangat extra berhati &#8211; hati saat melangkah. Penulis pun melakukan istirahat sebanyak dua kali karena tidak kuat dengan track yang ada. Tidak lupa juga saat di jalan penulis berhenti sejenak dan mencoba meminum air dari gunung langsung yang rasanya sangat unik sekali tetapi yang penulis rasakan adalah kesegaran dan sedikit manis rasanya. Pemandangannya pun tak kalah bagus, terdapat pohon &#8211; pohon besar yang mungkin sudah ratusan tahun, sungai yang sangat jernih dan indah, rumah &#8211; rumah para penduduk suku Baduy luar yang di pakai untuk tempat singgah dan berjualan oleh &#8211; oleh Khas Baduy yang tentu saja tidak dapat kita temukan di perkotaan. <\/p>\n<p>Setelah berjalan kurang lebih 1 sampai 2 jam an akhirnya penulis sampai di tempat tujuan yaitu Gajeboh Suku Baduy Luar atau yang biasa di sebut dengan kampungnya Suku Baduy Luar. Keadaan di sana lumayan ramai dengan para turis dan juga orang &#8211; orang baduy yang sedang menganyam. Di sana juga terdapat Jembatan yang sangat iconik yang terbuat dari bambu yang bernama jembatan Gajeboh, jembatan ini tentu saja di buat langsung oleh para penduduk asli Baduy dengan cara bergotong royong. <\/p>\n<p>Penulis juga sempat turun ke sungai yang biasa para penduduk asli Suku Baduy melakukan aktivitas seperti mandi, menyuci baju, dan jugabanyak lainya. Airnya sangat jernih dan tidak terlalu dingin, Udaranya pun benar &#8211; benar sangat mendukung karena angin sepoi sepoi yang membuah pohon &#8211; pohon di sekitar sana sedikit bergoyang yang menambah ketenangan penulis saat berada di sana. <\/p>\n<p>Saat matahari mulai terbenam penulis pun akhirnya segera pergi ke rumah Mang Syaidam untuk beristirahat dan berbincang &#8211; bincang santai saja. Keadaan saat malam benar &#8211; benar sangat berbeda dengan di siang dan sore hari. Keadaanya sangat sunyi, gelap dan lumayan menakutkan bagi orang yang tidak biasa dengan keadaan ini, seperti yang kita tahu bahwa Suku Baduy sangat dan masih menerapkan adat tradisionalnya, jadi mereka tidak memakai teknologi sama sekali di desanya. <\/p>\n<p>Selanjutnya juga penulis bertanya &#8211; tanya tentang Baduy kepada Mang Syaidam, pertanyaan yang di tanyakan adalah tentang Baduy Dalam karena penulis sangat penasaran dengan Baduy Dalam. Tetapi  ternyata menurut Mang Syaidam tidak semudah itu jika ingin ke Baduy Dalam karena akses yang sulit dan juga akan menempuh kira &#8211; kira 5-7 jam an di hutan dengan berjalan kaki. Selanjutnya juga penulis bertanya mengenai bagaimana jika ada pernikahan dan juga kematian di sana, Mang Syaidam pun menjawab  bahwa pernikahan di Baduy itu ada musimnya, jadi tidak bisa sembarangan atau kapak saja laksanakan pernikahan, selanjutnya mengenai kematian, apabila ada kerabat dari penduduk asli sana meninggal dunia, akan di makamkan langsung ke pemakanan yang berada dekat jembatan gajeboh yang tadi penulis jelaskan di atas. <\/p>\n<p>Penduduk asli Suku Baduy menggunakan Bahasa Sunda yang kasar dan logat yang berbeda dari biasanya cendrung lebih cepat, lalu juga mereka cendrung lebih pendiam dan biasanya harus di ajak bicara terlebih dahulu, tetapi sikap mereka sangat ramah, sopan, baik dan juga sangat hangat kepada para turis yang membuat penulis pun ingin berlama &#8211; lama di sana.<\/p>\n<p>Begitulah, cerita perjalanan penulis tentang Suku Sunda Baduy yang berada di pedalaman Banten Jawa Barat. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Agnes Java Ayu Septianti Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University Program Studi Komunikasi Digital dan Media JurnalPost.com &#8211; Pada hari Sabtu tanggal 2 maret 2024 penulis berangkat menuju pedalaman Suku Baduy yang berada di Banten Jawa Barat. Tujuan penulis adalah untuk mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan, tetapi sebelumnya Suku Baduy adalah komunitas yang tinggal di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-12756","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12756"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12756\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}