{"id":12667,"date":"2024-03-12T16:12:02","date_gmt":"2024-03-12T08:12:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12667"},"modified":"2024-03-12T16:12:02","modified_gmt":"2024-03-12T08:12:02","slug":"kampung-adat-bena-keindahan-alam-dan-budaya-peninggalan-zaman-megalitikum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kampung-adat-bena-keindahan-alam-dan-budaya-peninggalan-zaman-megalitikum\/12667\/","title":{"rendered":"Kampung Adat Bena: Keindahan Alam dan Budaya Peninggalan Zaman Megalitikum"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_12668\" aria-describedby=\"caption-attachment-12668\" style=\"width: 419px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-24.jpg\" alt=\"\" width=\"419\" height=\"242\" class=\"size-full wp-image-12668\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-24.jpg 419w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-24-300x173.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-24-150x87.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 419px) 100vw, 419px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-12668\" class=\"wp-caption-text\">Sumber foto: Adobe Stock<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Alicia Lily Michaela Padu<br \/>\nMahasiswi Jurusan Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kampung Adat Bena, merupakan sebuah desa wisata asri dan eksotis dengan jejak peninggalan zaman Megalitikum yang masih terjaga dengan baik hingga sekarang. Desa yang terletak di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur ini telah lama menjadi salah satu destinasi desa wisata yang diminati turis baik domestik maupun mancanegara.  Kampung adat ini menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat sayang untuk dilewatkan, khususnya bagi kalian wisatawan yang menyukai destinasi dengan pesona alam yang elok dan magis serta budaya yang masih sangat terjaga. <\/p>\n<p><strong>Perjalanan Mengitari Gunung Dikelilingi Pemandangan Asri <\/strong><br \/>\nSalah satu unsur menarik dari kampung adat ini adalah lokasi tempatnya dibangun. Berjarak sekitar 19kilometer arah Selatan kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, kampung adat ini berada di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Lebatnya hutan bambu yang bernyanyi merdu di tiup angin, pohon-pohon kayu putih yang menjulang tinggi, dan lebatnya hutan kopi menjadi teman perjalanan yang mengasyikkan.  Tidak lupa juga dengan beberapa kampung adat lainnya yang akan dilewati selama perjalanan. <\/p>\n<p>Selain itu di sela-sela jalan yang berkelok nan asri, sesekali dapat terlihat sebuah dasar undakan tinggi yang tidak lain dan tidak bukan adalah kaki dari salah satu gunung paling megah di daratan Flores yaitu Gunung Inerie. Ini juga menjadi salah satu poin menarik perjalanan dimana untuk mencapai Kampung Adat Bena, kita akan berjalan di perbukitan yang indah sambil mengitari Gunung Inerie untuk menuju kampung adat tersebut yang terletak di sisi lain kaki gunung. Pemandangan indah membawakan suasana tenang dan nyaman selama perjalanan sebelum akhirnya mencapai pintu masuk Kampung Adat Bena. <\/p>\n<p><strong>Kekayaan Alam dan Budaya yang Masih Terawat<\/strong><br \/>\nMelewati pintu masuk, jarum jam seperti terasa berhenti dan berputar kembali ke zaman dahulu. Kita serasa dibawa kembali ke zaman Megalitikum yaitu zaman bebatuan besar. Struktur kampung ini dibangun menyesuaikan dengan landscape tanah pegunungan yang menjulang ke atas. Oleh karena itu susunan tanah tempat rumah masyarakat dibangun secara bertingkat semakin tinggi ke depannya. Berdasarkan dengan wawancara dengan Ibu Margaretha, salah satu pemandu wisata Kampung Adat Bena, keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang mempercayai dan memuja gunung sebagai tempatnya para dewa.<\/p>\n<p>Lahan kampung ini berbentuk seperti persegi panjang dengan rumah warga yang dibangun berjajar dan berhadap-hadapan mengelilingi di sisi-sisi persegi panjang tersebut membentuk formasi huruf U. Pada area tengah-tengah kampung terdapat bangunan yang disebut ngadhu dan bhaga. Menurut penjelasan sang pemandu wisata, ngadhu merupakan bentuk pelambangan dari pendiri suku laki-laki mereka dan bhaga merupakan lambang dari nenek moyang perempuan mereka. Ngadhu berbentuk seperti sebuah payung besar yang tiangnya menancap kuat di tanah dengan atap yang terbuat dari jerami. Sedangkan bhaga berbentuk seperti miniatur rumah dengan hanya terdapat satu ruangan di dalamnya.  Tidak hanya sepasang, ngadhu dan bhaga ini terdapat di setiap tingkatan tanah yang semakin tinggi. <\/p>\n<p>Di depan beberapa rumah adat milik warga, terdapat batu-batu besar berbentuk punden berundak. Batu besar lonjong yang dinamakan Watu Lewadan dan batu berbentuk meja diberi nama Nabe. Kedua batu ini digunakan dalam ritual adat masyarakat Bajawa. Batu-batu inilah yang kemudian menjadi penanda waktu peradaban masyarakat Kampung Adat Bena pada zaman Megalitikum. Yang menjadi penanda zaman ini yaitu sudah mulai muncul kepercayaan akan Tuhan dan terdapat banyak peninggalan dalam bentuk produk yang menggunakan bebatuan besar.<br \/>\nPemandu wisata kemudian juga menjelaskan lebih lanjut mengenai rumah adat yang ditempati masyarakat. Terdapat 45 rumah adat dengan arsitektur yang unik dan indah. Rumah adat juga dapat menjadi penanda status keluarga yang tinggal di dalamnya.  Hal ini bisa dilihat dari lambang yang diletakkan di atap rumah masing-masing. Di teras rumah-rumah tersebut tidak jarang ditemukan warga yang sedang duduk bercengkrama sambil menenun kain dengan motif khas Bajawa. <\/p>\n<p>Selain itu terdapat satu objek lainnya yang langsung menangkap mata penulis ketika memasuki kampung adat tersebut. Jika melihat ke ujung kampung yang terletak di tingkatan tanah paling tinggi di kampung tersebut, terdapat sebuah gazebo yang di sekelilingnya tumbuh bunga-bunga cantik. Saat naik ke tempat tersebut, penulis dibuat terpana dengan pemandangan bentangan laut selatan yang dapat terlihat dari ketinggian.  Lautan luas yang memantulkan sinar matahari, udara yang sejuk dan keramahan penduduk menjadi perpaduan yang sangat menakjubkan untuk dinikmati. <\/p>\n<p><strong>Akhir Perjalanan<\/strong><br \/>\nPerjalanan menuju Kampung Adat Bena hingga mengeksplorasi keindahan alam dan budaya yang dimiliki merupakan sebuah petualangan yang berkesan bagi penulis. Budaya yang terus dijaga dan dilestarikan hingga kekayaan alam yang masih terawat adalah poin utama dari perjalanan ini. Mengetahui Indonesia memiliki kekayaan yang tak terhingga memberikan rasa bangga tersendiri. Dari perjalanan ini banyak pengetahuan baru yang didapat, mulai dari budaya yang ada, betapa megahnya keindahan alam yang dimiliki, dan bagaimana  senyum ramah warga dapat memberikan kebahagiaan tak ternilai.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Alicia Lily Michaela Padu Mahasiswi Jurusan Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB JurnalPost.com &#8211; Kampung Adat Bena, merupakan sebuah desa wisata asri dan eksotis dengan jejak peninggalan zaman Megalitikum yang masih terjaga dengan baik hingga sekarang. Desa yang terletak di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur ini telah lama menjadi salah satu destinasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-12667","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-travel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12667","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12667"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12667\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}