{"id":12599,"date":"2024-03-12T12:31:56","date_gmt":"2024-03-12T04:31:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12599"},"modified":"2024-03-12T12:31:56","modified_gmt":"2024-03-12T04:31:56","slug":"peran-komunikasi-intens-dalam-keluarga-dengan-kesehatan-mental-remaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/peran-komunikasi-intens-dalam-keluarga-dengan-kesehatan-mental-remaja\/12599\/","title":{"rendered":"Peran Komunikasi Intens dalam Keluarga dengan Kesehatan Mental Remaja"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Khansa Naurah Khalilah<br \/>\nMahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University<\/p>\n<p>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan perubahan, pertumbuhan, dan tantangan. Pada masa ini remaja tidak hanya mengalami perubahan fisik, namun juga tekanan sosial, akademis, serta emosional. Kesehatan mental menjadi aspek yang perlu diperhatikan, karena tekanan dari lingkungan dapat memberikan dampak yang serius pada pola pikir remaja.<\/p>\n<p>Dilansir dari World Health Organization (2019), sebanyak 10-20% remaja secara internasional memiliki gangguan pada kesehatan mental mereka dan dianggap masih kurang dalam pengobatannya. Kesehatan mental memiliki dampak yang krusial pada tahap perkembangan remaja, hal ini dapat mengganggu mereka dalam  penurunan di bidang akademik, komunikasi dalam sosial, hingga penggunaan obat-obatan terlarang.<\/p>\n<p>Menurut Amalia &#038; Mahanani (2021) sebagian besar remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental ini dikarenakan kurangnya kesadaran terhadap dirinya sendiri dan juga kurang edukasi yang memadai untuk akses diagnosa ke pihak yang profesional, seperti psikolog ataupun psikiater. <\/p>\n<p>Pola hidup yang berubah pada remaja menjadi kekhawatiran yang menarik perhatian karena remaja seringkali lebih memilih untuk berkumpul dengan teman-teman sebayanya daripada berbicara dengan orang tua. Pada masa ini, remaja dianggap sedang dalam proses mencari jati diri, sehingga perlu adanya peran penting dari keluarga terutama orang tua agar memberikan dampak yang positif terhdap perkembangan identitas, dan mengecilkan kemungkinan remaja memiliki pemikiran untuk bunuh diri atau depresi akan kesehatan mentalnya.<\/p>\n<p>Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya gangguan kesehatan mental terhadap remaja, di antaranya faktor dari diri sendiri. Perubahan yang terjadi dalam diri terkadang menjadi ancaman bagi remaja itu sendiri, hal ini karena adanya tekanan dan kecemasan yang naik turun, sehingga tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri. Fatalnya, perubahan tersebut dapat menimbulkan depresi, kesedihan yang terus-menerus, hingga hilangnya kesadaran akan diri untuk berpikir positif.<\/p>\n<p>Adapun faktor eksternal penyebab gangguan kesehatan mental pada remaja ini, tekanan yang diberikan dari lingkungan. Biasanya seperti, trauma masa kecil, tekanan ekonomi keluarga, pembulian, atau bahkan kurangnya komunikasi yang intensif dengan orang tua. Pada dasarnya, keluarga menjadi media pembelajaran pertama bagi anak. Maka, secara alami seharusnya remaja dapat berkomunikasi yang baik dengan keluarga, karena di tahap ini keluarga juga memiliki peran penting dalam proses pencarian identitas diri bagi remaja.<\/p>\n<p>Peran Komunikasi dan Pentingnya Mendengarkan sebagai Keluarga<br \/>\nOrang tua sebagai keluarga terdekat memiliki peran yang sangat penting untuk kesehatan mental anak dan remaja. Hubungan yang baik dan interaktif dengan keluarga dapat menumbuhkan rasa percaya dan dapat membangun komunikasi yang intensif juga pada remaja. Sehingga, dalam hal ini remaja akan lebih terbuka dan memiliki kepercayaan terhadap keluarga, serta remaja akan bercerita atau membagikan hal yang menjadi kekhawatiran bagi dirinya sendiri. Hal itu pula dapat mengurangi gangguan kesehatan mental pada remaja.<\/p>\n<p>Peran-peran tersebut dapat berupa:<\/p>\n<p>1.\t<strong>Komunikasi yang interaktif<\/strong><br \/>\nPendekatan komunikasi yang tepat antara keluarga dengan remaja dapat membangun komunikasi yang interaktif pula. Adanya komunikasi antar sesama anggota keluarga dapat membangun hubungan yang harmonis di dalamnya.<\/p>\n<p>2.\t<strong>Pola asuh dan rasa nyaman yang mendukung<\/strong><br \/>\nPertumbuhan mental anak yang sehat dapat didukung dengan pola pengasuhan yang tepat, sehingga menimbulkan rasa nyaman bagi remaja. Tentunya, bagi remaja rasa nyaman yang didapatkan dari keluarga sangat diinginkan. Kenyamanan yang dirasakan dapat membantu remaja untuk terhindar dari gangguan kesehatan mental.<\/p>\n<p>3.\t<strong>Mendampingi dan mendengarkan<\/strong><br \/>\nFungsi keluarga ada untuk mendampingi dan mendengarkan keluh kesah serta kekhawatiran yang dirasakan oleh setiap anggota keluarga, begitu pula bagi remaja. Peran mendampingi dapat berupa menganggap remaja adalah teman berbaginya, karena jiwa remaja yang masih labil, sehingga lebih diperlukan \u201cteman\u201d dibandingkan dengan \u201ckehakiman\u201d. Dengan menjadi teman berbagi, keluarga dapat memiliki peran sebagai pendengar juga. Menjadi pendengar yang baik dapat membantu remaja untuk lebih terbuka dan merasakan rasa nyaman ketika didengar.<\/p>\n<p>Komunikasi yang intens menjadi wadah yang memungkinkan terciptanya keterbukaan dan peran mendengarkan yang sangat penting bagi kesehatan mental remaja. Kecemasan dan tekanan yang dihadapkan pada remaja seringkali menjadi hal yang kompleks. Melalui komunikasi yang intens dengan keluarga, remaja dapat secara bebas mengekspresikan perasaan, kekhawatiran, dan kecemasannya dengan lingkungan yang mendukung.<\/p>\n<p>Selain itu, peran mendengarkan dengan penuh perhatian dapat memberikan rasa nyaman dan pemahaman pada remaja, bahwa keluarga peduli akan kesehatan mental mereka. Dengan demikian, komunikasi intens bukan hanya sekadar sarana untuk bertukar informasi, tetapi juga menjadi fondasi penting untuk membangun kesehatan mental yang kuat pada tahap perkembangan remaja.<\/p>\n<p>Pengaruh Positif Komunikasi Terhadap Kesejahteraan Emosional Remaja<br \/>\nPeran komunikasi dalam kesejahteraan emosional remaja sangat penting. Komunikasi yang efektif memainkan peran kunci dalam membentuk fondasi yang kokoh bagi kesejahteraan emosional mereka. Remaja sering dihadapkan pada perubahan fisik, perkembangan identitas, dan tekanan sosial yang kompleks. Melalui komunikasi yang terbuka dengan keluarga menunjukan perubahan yang positif pada diri remaja.<br \/>\nSelain itu, komunikasi yang sehat juga dapat membangun hubungan interpersonal antar anggota keluarga. Dengan demikian, peran komunikasi dalam konteks kesejahteraan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan positif dan keseimbangan emosional bagi pertumbuhan mereka, serta memupuk rasa koneksi yang kuat dalam membantu mengatasi tantangan bagi remaja.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nMasa remaja merupakan fase yang penuh tantangan, perubahan, dan tekanan, terutama terkait dengan kesehatan mental. Adanya kurangnya kesadaran dan edukasi terkait kesehatan mental remaja di Indonesia menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap masalah ini. Faktor internal dan eksternal, seperti perubahan diri dan tekanan lingkungan, dapat memengaruhi kesehatan mental remaja secara signifikan.<\/p>\n<p>Komunikasi dan peran mendengarkan dalam keluarga memiliki dampak positif yang besar terhadap kesejahteraan emosional remaja. Komunikasi intens membuka wadah keterbukaan, memungkinkan mereka untuk mengatasi kecemasan dan tekanan dengan dukungan keluarga. Peran mendengarkan dengan penuh perhatian menciptakan hubungan yang harmonis dan nyaman, membantu mencegah gangguan kesehatan mental.<br \/>\nDalam konteks ini, komunikasi tidak hanya menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi juga fondasi penting untuk membangun kesehatan mental yang kuat. Pengaruh positif komunikasi terhadap kesejahteraan emosional remaja menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan positif dan membantu mereka mengatasi berbagai tantangan yang muncul selama masa perkembangan ini.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\n<em>Fasak, A., &#038; Sulastri, A. (2023, October). Mengapa semakin banyak remaja Indonesia bunuh<br \/>\ndiri? Sebuah telaah literatur. In Prosiding Seminar Nasional Psikologi (SINOPSI) (Vol. 1).<br \/>\nMustamu, A. C., Hasim, N. H., &#038; Khasanah, F. (2020). Pola Asuh Orangtua, Motivasi &#038;<br \/>\nKedisiplinan dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Remaja Papua. Jurnal<br \/>\nKeperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 8(1), 17-25.<br \/>\nUlfah, E. (2021). Peran Keluarga terhadap Kesehatan Mental Remaja di Masa Pandemi.<br \/>\nPsisula: Prosiding Berkala Psikologi, 3, 14-23.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Khansa Naurah Khalilah Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University JurnalPost.com &#8211; Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan perubahan, pertumbuhan, dan tantangan. Pada masa ini remaja tidak hanya mengalami perubahan fisik, namun juga tekanan sosial, akademis, serta emosional. Kesehatan mental menjadi aspek yang perlu diperhatikan, karena tekanan dari lingkungan dapat memberikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-12599","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12599"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12599\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}