{"id":12587,"date":"2024-03-12T12:22:33","date_gmt":"2024-03-12T04:22:33","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12587"},"modified":"2024-03-12T12:22:33","modified_gmt":"2024-03-12T04:22:33","slug":"jejak-perjalanan-tak-sempurna-namun-berkesan-di-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/jejak-perjalanan-tak-sempurna-namun-berkesan-di-semarang\/12587\/","title":{"rendered":"Jejak Perjalanan Tak Sempurna, Namun Berkesan di Semarang"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/asasasasa.jpg\" alt=\"\" width=\"812\" height=\"440\" class=\"aligncenter size-full wp-image-12588\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/asasasasa.jpg 812w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/asasasasa-300x163.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/asasasasa-768x416.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/asasasasa-150x81.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/asasasasa-696x377.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 812px) 100vw, 812px\" \/><\/p>\n<p>Oleh : <strong>Rajwa Shaliha Permata S. Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB<\/p>\n<p>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Saat itu, sedang dalam masa liburan semester kuliah, karena memang selama liburan tidak ada agenda apapun baik untuk saya maupun keluarga saya. Dalam kurun waktu yang cukup lama, keluarga kami belum pernah berlibur, dan akhirnya, ayah saya pun mendapatkan ide untuk kami sekeluarga melakukan perjalanan. &#8220;Sudah lama tidak berlibur nih, bagaimana kalau kita pergi ke Semarang dan Jogja?&#8221; Setelah mengutarakan ide tersebut, kami sekeluarga sepakat dan mulai mencari tanggal serta kebutuhan lainnya untuk persiapan liburan. Meskipun persiapannya cukup singkat, kami tetap menyiapkan segala kebutuhan dengan penuh semangat. Pasalnya, ini merupakan liburan keluarga kami setelah sekian lama tidak berlibur akibat situasi pandemi COVID-19.<\/p>\n<p>Hingga pada tanggal 30 Juni 2023, kami memulai perjalanan dari Kota Bogor menuju Semarang menggunakan kendaraan pribadi, dengan tujuan untuk mempermudah transportasi saat berkeliling di sana nanti. Dalam perjalanan, kami tidak langsung menuju Semarang, melainkan melakukan pemberhentian pertama di Kota Cirebon untuk istirahat. Sekitar pukul 11.00, kami tiba di sebuah restoran di Cirebon yang selalu menjadi tempat makan favorit kami ketika singgah di kota tersebut. Restoran ini memiliki keunikan karena selain sebagai tempat makan, terdapat pula area oleh-oleh dan souvenir makanan khas Cirebon, serta toko batik khas Cirebon.<\/p>\n<p>Sambil menunggu pesanan makanan, karena pada waktu itu merupakan hari Jumat, ayah saya pergi ke masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan ibadah solat Jumat. Sementara itu, kami, yang merupakan perempuan, menunggu makanan di restoran tersebut. Setelah ayah saya kembali dan pesanan makanan telah tiba, kami menikmati hidangan kami. Menu yang kami pesan adalah empal gentong, makanan khas Cirebon. Kami menikmati makanan dengan lahap dan penuh kenikmatan.<\/p>\n<p>Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke lantai dua untuk menelusuri koleksi kain batik dan membeli beberapa di antaranya sebagai oleh-oleh. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu destinasi wisata di Cirebon, yaitu Kampung Sabin. Lokasi Kampung Sabin agak tersembunyi di suatu perumahan, sehingga kami sempat tersasar sedikit saat menuju kesana. Setelah sampai, kami membeli tiket dan menikmati wisata di Kampung Sabin, yang menyerupai kampung di Ubud, Bali. Tempat ini hampir seluruhnya dikelilingi oleh sawah dan memiliki ornamen khas Bali, seperti gapura bali. Kami menikmati kudapan ringan, sambil menikmati pemandangan dan berfoto-foto di Kampung Sabin.<\/p>\n<p>Setelah puas di Kampung Sabin, kami melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Perjalanan Bogor \u2013 Semarang memakan waktu selama 9 jam, akhirnya kami tiba di hotel tempat kami beristirahat di daerah Simpang Lima, Kota Semarang. Saat kami baru saja memasuki parkiran hotel, orang-orang dari dalam hotel berlarian keluar karena terjadi gempa. Kami pun merasakan getaran gempa tepat setelah menginjakkan kaki di parkiran. Meskipun gempa tersebut tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik, namun getarannya cukup kuat. Setelah merasa aman, kami masuk ke dalam hotel dan mulai proses check-in. Di dalam lift menuju kamar, saya mencari tahu pusat gempa dan ternyata berasal dari Jogja. Mempertimbangkan keselamatan kami, kami memutuskan untuk membatalkan rencana perjalanan ke Jogja, dan untungnya kami belum memesan hotel di sana. Setelah itu, kami masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat.<\/p>\n<p>Keesokan harinya, pukul 7 pagi, saya bangun, mencuci muka, dan turun ke restoran hotel untuk sarapan. Pada hari kedua perjalanan, kami berencana berwisata di daerah Ambarawa. Destinasi pertama kami adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Kami ingin menaiki kereta wisatanya yang berkeliling di sekitar Ambarawa, sehingga pada pukul 9 pagi, kami sudah bersiap untuk berangkat. Meskipun lokasi Ambarawa dari hotel kami cukup jauh dan terdapat kemacetan di beberapa titik, kami baru sampai di museum kereta api tersebut pukul 11 pagi. Namun, sayangnya, tiket kereta wisata sudah habis di semua jadwalnya. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan tidak ingin menyia-nyiakan waktu, kami memutuskan untuk membeli tiket kunjungan museum saja.<\/p>\n<p>Ketika kami memasuki museum, kami disambut dengan sejarah mengenai kereta api dan stasiun-stasiun kereta api di Indonesia. Museum ini menyajikan berbagai jenis kereta dari tahun ke tahun yang dapat kami naiki dan gunakan sebagai latar belakang untuk berfoto. Kami menghabiskan waktu dua jam di museum hingga pukul 1 siang. Karena lapar, kami memutuskan untuk makan siang di Eling Bening, destinasi wisata lainnya di Ambarawa. Selain sebagai tempat makan, Eling Bening juga menawarkan spot foto yang beragam dan kegiatan outbound, menjadikannya tempat ramai dan menarik.<\/p>\n<p>Perjalanan dari Museum Kereta Api Ambarawa ke Eling Bening memakan waktu sekitar 15 menit, karena keduanya berdekatan. Setelah tiba, kami memesan makanan dan menikmatinya. Setelah kenyang, kami menjelajahi Eling Bening, mengambil foto di berbagai spot indah yang tersedia, memperlihatkan pemandangan dari ketinggian. Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata berikutnya, yaitu Dusun Semilir, untuk membeli beberapa oleh-oleh.<\/p>\n<p>Perjalanan kembali ke Kota Semarang memakan waktu cukup lama, dan kami memutuskan untuk makan malam di luar hotel. Setelah melihat beberapa tempat makan di Google, kami memutuskan untuk mencoba restoran steak. Namun, saat mencari restoran tersebut, kami tidak menemukannya, bahkan setelah memutar-mutar daerah tersebut dan bertanya kepada warga setempat. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencoba angkringan di daerah Simpang Lima. Setelah sampai, kami memesan beberapa makanan yang ternyata sangat enak, seolah-olah menggantikan pengalaman makan di restoran steak yang tidak dapat kami temukan. Saya dan kakak saya bahkan memesan kembali makanan yang sebelumnya sudah dipesan, dan kami menyantapnya sebanyak dua porsi. Setelah selesai makan dengan lahap dan kenyang, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.<\/p>\n<p>Keesokan harinya, merupakan hari terakhir bagi saya dan keluarga di Semarang. Pukul 7 pagi, saya bangun dan bersiap-siap untuk sarapan. Setelah menyantap sarapan pagi, saya kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk melakukan proses check-out dari hotel. Pada pukul 10 akhirnya, kami menyelesaikan proses check-out dari hotel. Destinasi pertama kami hari ini adalah tempat oleh-oleh khas bandeng. Rasanya tidak lengkap pulang dari Semarang tanpa membawa buah tangan berupa bandeng. Setelah berbelanja ikan bandeng, kami menuju tempat oleh-oleh kedua, di mana terdapat lebih banyak makanan ringan dan toko pakaian di lantai atas. Namun, yang menarik perhatian saya adalah adanya toko mainan yang menjual action figure karakter anime, khususnya action figure Chainsaw Man. Setelah mempertimbangkan dengan cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua action figure Chainsaw Man. Setelah itu, saya kembali bergabung dengan keluarga untuk melanjutkan pembelian oleh-oleh.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Capture-5.jpg\" alt=\"\" width=\"669\" height=\"354\" class=\"aligncenter size-full wp-image-12589\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Capture-5.jpg 669w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Capture-5-300x159.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Capture-5-150x79.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 669px) 100vw, 669px\" \/><\/p>\n<p>Sebelum meninggalkan Kota Semarang, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi destinasi terakhir kami, yaitu Lawang Sewu. Meskipun terdapat aura mistis, kami justru sangat menikmati sejarah yang disajikan di Lawang Sewu. Saat kami berada di sana, ada kegembiraan karena sedang dilakukan pemecahan rekor Miniatur Lokomotif DD5208 terbesar. Kami ikut menyaksikan rangkaian acara pemecahan rekor MURI tersebut. Pengalaman ini menjadi salah satu momen tak terlupakan ketika meninggalkan Kota Semarang. Setelah merasa puas berjalan-jalan dan berfoto-foto di Lawang Sewu, kami memutuskan untuk pulang. Sebelum benar-benar meninggalkan kota, kami juga sempat melihat-lihat daerah Kota Lama Semarang. Meskipun hanya melihat sekilas dari dalam mobil, kami merasa puas dan akhirnya meninggalkan Kota Semarang menuju kota hujan, Bogor, yang merupakan tempat tinggal kami. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Rajwa Shaliha Permata S. Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB JurnalPost.com &#8211; Saat itu, sedang dalam masa liburan semester kuliah, karena memang selama liburan tidak ada agenda apapun baik untuk saya maupun keluarga saya. Dalam kurun waktu yang cukup lama, keluarga kami belum pernah berlibur, dan akhirnya, ayah saya pun mendapatkan ide [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-12587","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-travel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12587"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12587\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}