{"id":12583,"date":"2024-03-12T12:19:54","date_gmt":"2024-03-12T04:19:54","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12583"},"modified":"2024-03-12T12:19:54","modified_gmt":"2024-03-12T04:19:54","slug":"bantuan-kemensos-kepada-ibu-baldiah-pengemis-aa-kasihan-aa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/bantuan-kemensos-kepada-ibu-baldiah-pengemis-aa-kasihan-aa\/12583\/","title":{"rendered":"Bantuan Kemensos kepada Ibu Baldiah Pengemis Aa Kasihan Aa"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/20240113_pengemis.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"393\" class=\"aligncenter size-full wp-image-12584\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/20240113_pengemis.jpg 700w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/20240113_pengemis-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/20240113_pengemis-150x84.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/20240113_pengemis-696x391.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Rajwa Shaliha, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB<\/p>\n<p>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kisah Ibu Baldiah, yang menjadi perbincangan di media sosial, menggambarkan sebuah perjalanan dari kehidupan sulit menuju solusi yang diberikan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Namun, di balik bantuan yang diberikan, kita perlu merenung lebih dalam terkait dampak positif dan risiko yang mungkin timbul.<\/p>\n<p>Wawancara dengan seorang Tiktoker membuka tabir tentang alasan Ibu Baldiah mengemis, yaitu atas perintah suaminya yang mengalami keterbatasan sebagai penyandang tunarungu dan tunawicara. Keterbatasan ini menjadi tantangan tersendiri dalam mencari pekerjaan, sehingga Ibu Baldiah terpaksa mengemis sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun, melalui langkah bijak Kemensos, bantuan modal usaha dan dukungan lainnya telah diberikan untuk memberdayakan mereka secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Bantuan modal usaha tidak hanya memberikan solusi finansial, tetapi juga menghentikan kegiatan mengemis Ibu Baldiah. Ini adalah langkah positif yang tidak hanya mengatasi masalah sesaat, tetapi juga memberikan peluang bagi mereka untuk mandiri secara ekonomi. Dukungan dari PKK Desa Ciasihan juga menjadi bukti kolaborasi masyarakat dalam mengembangkan usaha keripik milik Ibu Baldiah.<\/p>\n<p>Namun, perlu diingat bahwa cerita ini juga memunculkan risiko cerita serupa muncul untuk mendapatkan perhatian dan bantuan tanpa memperhatikan latar belakang yang sebenarnya. Kita sebagai masyarakat harus tetap peduli terhadap sesama, tanpa terpengaruh oleh seberapa viral cerita mereka di media sosial. Kepedulian yang tulus harus menjadi landasan dalam memberikan bantuan sosial.<\/p>\n<p>Penting untuk mengapresiasi langkah Kemensos, namun, kita juga perlu merenung tentang bagaimana masyarakat dapat turut berperan aktif dalam membantu sesama tanpa terpengaruh oleh popularitas di dunia maya. Keberlanjutan bantuan dan kolaborasi antarinstansi menjadi kunci untuk memastikan solusi yang diberikan tidak hanya bersifat sementara.<\/p>\n<p>Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk membangun sikap kepedulian dan keadilan yang lebih mendalam, bukan hanya karena viralitas di media sosial. Mari bersama-sama merenung dan berkomitmen untuk membentuk masyarakat yang lebih peduli, adil, dan berdaya. Semoga Kementerian Sosial terus mengambil kebijakan yang bijak, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar mencapai mereka yang membutuhkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Rajwa Shaliha, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB JurnalPost.com &#8211; Kisah Ibu Baldiah, yang menjadi perbincangan di media sosial, menggambarkan sebuah perjalanan dari kehidupan sulit menuju solusi yang diberikan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Namun, di balik bantuan yang diberikan, kita perlu merenung lebih dalam terkait dampak positif dan risiko yang mungkin timbul. Wawancara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-12583","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12583"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12583\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}