{"id":12479,"date":"2024-03-09T19:42:17","date_gmt":"2024-03-09T11:42:17","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=12479"},"modified":"2024-03-09T19:42:17","modified_gmt":"2024-03-09T11:42:17","slug":"inovasi-yang-memanipulasi-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/inovasi-yang-memanipulasi-demokrasi\/12479\/","title":{"rendered":"Inovasi yang Memanipulasi Demokrasi"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-10.jpg\" alt=\"\" width=\"801\" height=\"532\" class=\"aligncenter size-full wp-image-12480\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-10.jpg 801w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-10-300x199.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-10-768x510.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-10-150x100.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Gambar1-10-696x462.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 801px) 100vw, 801px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Awal tahun 2024, masyarakat Indonesia sudah bersiap untuk menyambut pesta demokrasi. Semarak pemilu 2024 semakin mewarnai suasana sekitar kita. Jika berjalan keluar rumah, pasti kita sudah menemukan berbagai macam baliho, spanduk, dan bendera partai di sepanjang jalan. Para pasangan capres dan cawapres bahkan calon pemangku kepentingan di pemerintahan berbondong-bondong menunjukkan citra diri, visi-misi, dan program kerjanya saat masa kampanye berlangsung. <\/p>\n<p>Tahun-tahun sebelumnya, media kampanye yang banyak digunakan adalah media konvensional, seperti baliho, spanduk, dan lain sebagainya. Kini sedikit berbeda, kampanye 2024 diramaikan dengan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Inovasi teknologi, seperti artificial intelligence, selalu mengalami perubahan seiring dengan banyaknya penemuan-penemuan dan terobosan baru. <\/p>\n<p>Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi ini bertujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Meskipun banyak menghadirkan sisi positif dalam berbagai bidang, masih ada hal yang perlu ditimbang kembali. Apakah penggunaan AI sangat dibutuhkan dalam kampanye politik? Apakah penggunaan AI sudah sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku? Sebenarnya, masih ada celah dari penggunaan AI sehingga kurang tepat jika digunakan sebagai media kampanye.<\/p>\n<p>Salah satu permasalahan yang kerap muncul di era digital adalah penyebaran hoax dan disinformasi. Arus informasi yang semakin menerpa masyarakat menyebabkan kemungkinan terjadinya penyebaran disinformasi menjadi tak tertanggulangi. Apalagi dengan adanya targeted campaign melalui perhitungan algoritma, menyebabkan pihak tertentu dapat membuat narasi-narasi palsu, propaganda menggunakan AI dan memungkinkan berita hoax semakin marak tersebar di kalangan netizen. Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia memiliki tingkat literasi yang masih dibilang rendah. Jika masyarakat tidak memilah informasi, bukan tidak mungkin mereka akan menelan bulat-bulat informasi dan memercayai berita hoax. Ada pula pembuatan citra diri menggunakan teknologi kecerdasan buatan dengan cara berlebihan. Itu sama saja dengan melakukan manipulasi demi meraih suara rakyat.<\/p>\n<p>Kita juga kerap kali menemui pemanfaatan teknologi AI untuk membuat ilustrasi gambar atau foto. Bahkan sampai dapat membentuk branding kampanye AI yang kuat di mata publik. Penggunaan gambar AI sebenarnya menimbulkan kontroversi tersendiri. Tidak etis saja jika AI digunakan untuk konten kampanye di saat para seniman sedang ramai menggaungkan aksi tolak gambar AI. Para seniman sudah sering menyerukan aksi protes ini melalui media sosial, seperti X atau Twitter. Tagar TolakGambarAI pun menduduki puncak tren di media sosial tersebut. Aksi ini menjadi tanda bahwa kehadiran AI menimbulkan kekhawatiran serius bagi para seniman.<\/p>\n<p>Tak dapat dibantahkan jika kecerdasan buatan menyebabkan rusaknya industri kreatif dan mengancam pekerjaan seniman. Nilai seni dan kreativitas pun menjadi tidak ada harga dirinya. Ketika gambar dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan, muncul pertanyaan dalam benak publik terkait siapa sebenarnya yang memegang hak kepemilikan untuk karya tersebut.<br \/>\nPadahal, jika tidak menggunakan AI image generator, hal ini dapat menjadi tanda bahwa calon pemimpin menyatakan bentuk apresiasinya kepada pekerja industri kreatif. Berkali-kali pula masyarakat Indonesia mengingatkan dan menyarankan untuk menggunakan ilustrasi hasil kerja manusia. Bukankah sudah seyogianya calon wakil rakyat peka terhadap aspirasi masyarakat? Bila mereka mau mendengarkan pendapat, itu bisa menjadi poin plus di mata masyarakat. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mendengarkan suara masyarakat dan melaksanakan aksi nyata untuk mewujudkan aspirasi rakyat. <\/p>\n<p>Kecerdasan buatan sudah banyak dimanfaatkan dalam kampanye politik. Di sisi lain, belum ada regulasi pasti mengenai penggunaan AI dan batasannya untuk kampanye. Regulasi yang ada hanya memperbolehkan calon legislatif maupun calon presiden &#038; wakil presiden menggunakan media sosial. Ketentuannya, yaitu maksimal penggunaan 20 akun untuk setiap platform media sosial. Ketiadaan regulasi yang jelas dapat mengancam kerahasiaan data penduduk sehingga wajar saja masyarakat patut resah. Filter bubble AI bekerja dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data informasi masyarakat tanpa disadari oleh kita. Masih ada probabilitas jika data tersebut digunakan untuk hal yang tidak semestinya. <\/p>\n<p>Oleh karena itu, pembuatan kebijakan dan Undang-Undang yang mengatur penggunaan &#038; pemanfaatan artificial intelligence harus diperkuat sesegera mungkin. Di masa depan, kecerdasan buatan akan mengalami perkembangan yang signifikan dan bisa saja menjadi ancaman serius. Dengan adanya regulasi, seluruh masyarakat dapat dibentengi dari dampak negatifnya. Demokrasi pun akan berjalan aman dan tentram sebagaimana mestinya. (Alexandre Rachel Lowu).<\/p>\n<p>Penulis: A<strong>lexandre Rachel Lowu<\/strong><br \/>\nSV IPB University, Program studi Komunikasi Digital dan Media<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Awal tahun 2024, masyarakat Indonesia sudah bersiap untuk menyambut pesta demokrasi. Semarak pemilu 2024 semakin mewarnai suasana sekitar kita. Jika berjalan keluar rumah, pasti kita sudah menemukan berbagai macam baliho, spanduk, dan bendera partai di sepanjang jalan. Para pasangan capres dan cawapres bahkan calon pemangku kepentingan di pemerintahan berbondong-bondong menunjukkan citra diri, visi-misi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-12479","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12479"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12479\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}