{"id":1199,"date":"2023-06-28T19:25:18","date_gmt":"2023-06-28T11:25:18","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=1199"},"modified":"2023-06-28T19:25:18","modified_gmt":"2023-06-28T11:25:18","slug":"metode-kompetisi-penerapannya-ternyata-berperan-dalam-proses-pembelajaran-pada-siswa-siswi-sdn-060880-medan-polonia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/metode-kompetisi-penerapannya-ternyata-berperan-dalam-proses-pembelajaran-pada-siswa-siswi-sdn-060880-medan-polonia\/1199\/","title":{"rendered":"Metode Kompetisi: Penerapannya Ternyata Berperan dalam Proses Pembelajaran pada Siswa-siswi SDN 060880 Medan Polonia"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : <strong>Intan Maghdalena<\/strong> <\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik, prosesnya yaitu penyampaian pesan dari guru melalui media tertentu ke penerima pesan atau peserta didik. Guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran, di mana proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001:461).<\/p>\n<p>Dalam istilah pekerjaan sosial, terdapat beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh individu, salah satunya adalah dalam proses pembelajaran berperan sebagai educator (pendidik) diharapkan mempunyai kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan benar serta mudah diterima oleh mereka yang menjadi sasaran perubahan.<\/p>\n<p>Seiring dengan berjalannya proses pembelajaran, pasti ada kalanya siswa mengalami kendala dalam proses penerimaannya. Kendala tersebut ditimbulkan oleh adanya hambatan baik yang berasal dari luar maupun dari dalam yang menyebabkan terhambatnya tujuan belajar. Hal itu merupakan rangkaian hambatan yang melayani seseorang dalam belajar, kendala yang banyak terjadi dalam proses pembelajaran saat ini adalah kurangnya minat belajar, padahal itu merupakan hal yang sangat penting karena tanpa adanya minat siswa maka pembelajaran tidak dapat diterima oleh siswa itu sendiri. Tidak ada minat dari seorang siswa atau anak terhadap pelajaran akan timbul kesulitan belajar.<\/p>\n<p>Dengan itu, sudah seharusnya bagi pendidik untuk mencari sebuah solusi atas permasalahan yang didapatkan, dalam proses pembelajaran seorang pendidik pasti berusaha mencapai tujuan semaksimal mungkin. Salah satu usaha tersebut adalah menggunakan metode mengajar, pendidik yang mengajar dengan menggunakan metode yang efektif dan efisien dapat mempertinggi minat dan perhatian peserta didik serta mencapai tujuan pembelajaran.<\/p>\n<p>Melalui praktikum I yang disandingkan dengan program MBKM yaitu Kampus Mengajar berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Medan, Intan Maghdalena yang merupakan seorang mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) tepatnya di Sekolah Dasar Negeri 060880 Medan Polonia, mencoba untuk membantu menyelesaikan permasalahan dengan peran sebagai educator pada semua peserta didik mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI. Metode yang digunakan adalah metode kompetisi yang lebih sering digunakan atau dipraktikkan pada kelas V sebagai penerima layanan untuk meningkatkan minat belajar siswa-siswi.<\/p>\n<p>Metode kompetisi metode pembelajaran yang memanfaatkan cara kompetisi atau lomba untuk meningkatkan minat belajar, dan mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan oleh siswa atau peserta didik. Di mana dengan penggunaan metode kompetisi ini dilakukan sesuai dengan suasana proses pembelajaran yang berlangsung, praktikan melihat para peserta didik ingin menunjukkan kebolehan mereka masing-masing dan merasa tertarik bahkan termotivasi untuk unggul dari lain, sehingga siswa-siswi yang awalnya tidak semangat menjadi terpengaruh dengan melihat semangat dari temannya yang lain. <\/p>\n<p>Sebelum menggunakan metode tersebut, ada beberapa tahapan umum yang dilakukan praktikan dalam menjalankan peran sebagai educator: <\/p>\n<p>1. <strong>Engagement, Intake, dan Contract<\/strong><br \/>\nTahapan ini dilakukan pada awal pemberian layanan, bahwa praktikan siap untuk memberikan pelayanan dengan melakukan pendekatan kepada siswa-siswi untuk menciptakan relasi yang baik, dengan menyampaikan maksud tujuan yang akan dilakukan dengan harapan akan timbul kepercayaan lalu mengenai perumusan kesepakatan antara praktikan dengan para peserta didik mengenai hal yang harus dilakukan guna memperlancar pencapaian tujuan pemecahan masalah. <\/p>\n<p>2. <strong>Assesment<\/strong><br \/>\nTahapan ini dilakukan pengkajian dengan harapan akan menghasilkan bentuk metode tergantung pada kebutuhan dan keunikan masing-masing peserta didik, diawali dengan pernyataan masalah yang akan dihadapi, relasi dan kerja sama sangat diperlukan untuk tercapai tujuan yang diinginkan artinya partisipasi tetap harus didorong untuk tetap berkembang. Pada saat pengkajian, kelas V terdapat siswa-siswi yang kurang bersemangat dalam belajar, serta ada satu siswi yang masih belum maksimal dalam membaca. <\/p>\n<p>3. <strong>Planning<\/strong><br \/>\nTahapan ini dilakukan dengan mencoba melibatkan para peserta didik atas permasalahan yang mereka hadapi dan bagaimana cara mereka untuk mengatasinya, sehingga di sinilah saatnya untuk memilih metode apa yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat belajar, dengan beberapa opsi serta keinginan para peserta didik mereka menginginkan metode yang berbeda dari biasanya, sehingga sesuai dengan keinginan dan kesepakatan maka diperoleh metode kompetisi untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Sehingga kompetisi yang dimaksud adalah usaha yang timbul pada diri siswa dikarenakan dorongan untuk menunjukkan kemampuan dan keunggulan masing-masing dalam proses pembelajaran. <\/p>\n<p>4. Intervensi<br \/>\nTahapan ini dilakukan setelah assesment dan perencanaan berdasarkan kebutuhan dan keinginan peserta didik, selanjutnya praktikan melakukan intervensi terhadap sisa-siswi dengan tugas utama dari intervensi ini lebih ke arah pendampingan. Dan di sini lah siswa-siswi didorong untuk megembangkan kemampuannya, upaya yang dilakukan lebih ke dalam mengembangkan motivasi klien, dukungan praktikan pun diperlukan untuk membantu berkembangnya self-determination (kemampuan menentukan pilihan sendiri) dari para peserta didik. Pada proses pembelajaran metode kompetisi diterapkan dengan mengadakan kuis, kegiatan seni dengan usaha terbaik, membaca buku secara bergantian dengan menerapkan siapa cepat dia dapat, menampilkan video animasi untuk mendapatkan pembelajaran, serta pendampingan terhadap siswi yang kurang lancar dalam membaca.<\/p>\n<p>5. <strong>Monitoring dan Evaluation<\/strong><br \/>\nTahapan ini dilakukan untuk memantau perubahan yang fokus pada proses pembelajaran, dengan melibatkan perhitungan atas hal yang telah dilakukan, melibatkan pengamatan atas kualitas dari layanan yang telah diberikan. Diikuti dengan evaluasi, untuk dapat mengukur tingkat keberhasilan pada suatu kegiatan pada proses pembelajaran, melihat apa saja yang perlu dikembangkan atau diperbaiki untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Seiring berjalannya proses pembelajaran, terlihat perubahan dari siswa-siswi di mana mereka selalu antusias untuk mengikuti pembelajaran, mereka lebih ekspresif dan lebih berani untuk menyampaikan pendapat mengenai awalan kegiatan yang ingin dilakukan sesuai dengan keinginan mereka, dan siswi yang belum lancar membaca pun dari awalnya malu-malu lebih percaya diri meminta pertolongan dan berusaha untuk melakukan yang terbaik. <\/p>\n<p>6. <strong>Terminasi<\/strong><br \/>\nTahapan ini dilakukan setelah sudah terlihat kemampuan peserta didik untuk mengatasi permasalahan yang ada, serta kemampuan untuk mengatasi kondisi yang mungkin muncul terkait permasalahan tersebut, pemberian layanan juga diakhiri dengan dasar kesepakatan bersama karena sudah adanya tercapai bentuk perilaku yang diharapkan sehingga mendapatkan kemajuan dari kegiatan yang telah dilakukan. Di sini praktikan memberikan pemahaman tentang penghentian proses pemberian pembelajaran atau peran sebagai educator karena memang sudah habis masa praktikum dengan harapan siswa-siswi harus mempertahankan semangat belajar dan terus meningkatkan minat belajar sesuai kemampuan masing-masing dari kegiatan yang telah dilakukan selama proses pemberian layanan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1201\" aria-describedby=\"caption-attachment-1201\" style=\"width: 600px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/dn.webp\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"384\" class=\"size-full wp-image-1201\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/dn.webp 600w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/dn-300x192.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/dn-150x96.webp 150w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1201\" class=\"wp-caption-text\">Foto: Siswa-siswi SDN 060880 Medan Polonia saat melaksanakan pengarahan pagi sebelum memasuki ruang kelas<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dengan dilaksanakannya proses pembelajaran melalui Praktik Kerja Lapangan selama 3 bulan lamanya, pemanfaatan metode kompetisi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa-siswi SDN 060880 bahwa tujuan kegiatan ini telah tercapai meskipun masih terdapat beberapa kekurangan, dengan itu harapannya program Kampus Mengajar agar terus hadir dan berkolaborasi dengan membawa dampak perubahan yang nyata bagi dunia pendidikan serta mendorong para guru yang terlibat untuk menciptakan inovasi dalam pemberian pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.<\/p>\n<p>(Penulis merupakan Mahasiswi Semester 6 Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Sumatera Utara)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Intan Maghdalena JurnalPost.com &#8211; Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dan peserta didik, prosesnya yaitu penyampaian pesan dari guru melalui media tertentu ke penerima pesan atau peserta didik. Guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran, di mana proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1200,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1199"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1199\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1200"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}