{"id":11130,"date":"2024-01-30T07:31:23","date_gmt":"2024-01-29T23:31:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=11130"},"modified":"2024-01-30T07:32:16","modified_gmt":"2024-01-29T23:32:16","slug":"rancangan-pengambilan-keputusan-managerial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/rancangan-pengambilan-keputusan-managerial\/11130\/","title":{"rendered":"RANCANGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAGERIAL"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-11131\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-97.jpg\" alt=\"\" width=\"135\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-97.jpg 426w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-97-230x300.jpg 230w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-97-150x195.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-97-300x391.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 135px) 100vw, 135px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Disusun oleh :<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>NAMA : DEDE HERARDI SETIAWAN<\/strong><br \/>\n<strong>NPM : 2315300007<\/strong><br \/>\n<strong>KELAS : MM I A<\/strong><br \/>\n<strong>MATA KULIAH : EKONOMI MANAGERIAL<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN<\/strong><br \/>\n<strong>UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI<\/strong><br \/>\n<strong>TAHUN<\/strong><br \/>\n<strong>2024<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>RANCANGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN<\/strong><br \/>\n<strong>MANAGERIAL<\/strong><\/p>\n<p><strong>A. LATAR BELAKANG<\/strong><br \/>\nKeputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal dari latar belakang masalah, identifikasi masalah hingga kepada terbentuknya kesimpulan atau rekomendasi. Rekomendasi itulah yang selanjutnya dipakai dan digunakan sebagai pedoman basis dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu begitu besarnya pengaruh yang akan terjadi jika seandainya rekomendasi yang dihasilkan tersebut terdapat kekeliruan atau adanya kesalahan-kesalahan yang tersembunyi karena faktor ketidakhati-hatian dalam melakukan pengkajian masalah.<\/p>\n<p><strong>B. PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>1. Tahap-Tahap Pengambilan Keputusan Manager<\/strong><br \/>\nGuna memudahkan pengambilan keputusan maka seorang manager perlu membuat tahap-tahap yang bisa mendorong kepada terciptanya keputusan yang diinginkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah :<\/p>\n<p>a. Mendefinisikan masalah tersebut secara jelas dan gamblang, atau mudah untuk dimengerti.<br \/>\nb. Membuat daftar masalah yang akan dimunculkan, dan menyusunnya secara prioritas dengan maksud agar adanya sistematika yang lebih terarah dan terkendali.<br \/>\nc. Melakukan identifikasi dari setiap masalah tersebut dengan tujuan untuk lebih memberikan gambaran secara lebih tajam dan terarah secara lebih spesifik.<br \/>\nd. Memetakan setiap masalah tersebut berdasarkan kelompoknya masing masing yang kemudian selanjutnya dibarengi dengan menggunakan model atau alat uji yang akan dipakai.<br \/>\ne. Memastikan kembali bahwa alat uji yang dipergunakan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang berlaku pada umumnya.<\/p>\n<p><strong>2. Keputusan Terprogram dan Tidak Terprogram<\/strong><br \/>\nDalam teori pengambilan keputusan dilakukan pengklasifikasian keputusan pada dua jenis, yaitu keputusan yang terprogram dan tidak terprogram. Setiap keputusan tersebut memiliki perbedaannya masing-masing. Untuk lebih detilnya dapat kita jelaskan di bawah ini.<\/p>\n<p>a. Keputusan terprogram<br \/>\nKeputusan yang terprogram dianggap suatu keputusan yang dijalankan secara rutin saja, tanpa ada persoalan-persoalan yang bersifat krusial. Karena setiap pengambilan keputusan yang dilakukan hanya berusaha membuat pekerjaan yang terkerjakan berlangsung secara baik dan stabil. Dalam realita keputusan terprogram mampu diselesaikan ditingkat ini paling rendah tanpa harus membutuhkan masukan keputusan dari pihak sangat terkait, seperti para middle dan top management. Jika dibutuhkan keterlibatan middle management ini hanya pada penelusuran beberapa bagian teknis. Contoh keputusan yang terprogram adalah pekerjaan yang dilaksanakan dengan rancangan SOP ( Standard Operating Procedure) yang sudah dibuat sedemikian rupa. Sehingga dalam pekerjaan di lapangan para bawahan sudah dapat mengerjakannya dengan baik apalagi jika disertai dengan buku panduan operasionalnya, adapun yang menjadi persoalan jika para bawahan belum mengerti secara benar, misalnya ada beberapa bagian yang tidak terjelaskan pada buku panduan tersebut maka diwaktu yang akan datang dilakukan revisi atau semacam penyempurnaan konsep. Pada dasarnya suatu keputusan yang terprogram akan dapat terlaksana dengan baik jika memenuhi beberapa syarat di bawah ini, yaitu:<\/p>\n<p>1) Termilikinya sumber daya manusia yang memenuhi syarat sesuai standar yang diinginkan.<br \/>\n2) Sumber informasi baik yang bersifat kualitatif dan kuantitatif adalah lengkap tersedia, serta informasi yang diterima adalah dapat dipercaya.<br \/>\n3) Pihak organisasi menjamin dari segi ketersediaan dana selama keputusan yang terprogram tersebut dilaksanakan.<br \/>\n4) Aturan dan kondisi eksternal organisasi mendukung terlaksananya keputusan terprogram ini hingga tuntas, seperti peraturan dan berbagai ketentuan lainnya tidak ikut menghalangi, bahkan sebaliknya turut mendukung.<br \/>\n5) Dan lain-lain.<\/p>\n<p>b. Keputusan yang tidak terprogram<br \/>\nBerbeda dengan keputusan yang terprogram, keputusan yang tidak terprogram biasanya diambil dalam usaha memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah dialami sebelumnya, tidak bersifat repetitif, tidak terstruktur, dan sukar mengenali bentuk, hakikat, dan dampaknya. Karena itu Ricky W. Griffin mendefinisikan keputusan tidak terprogram adalah keputusan yang secara relatif tidak terstruktur dan muncul lebih jarang daripada suatu keputusan terprogram. Pada pengambilan keputusan yang tidak terprogram adalah kebanyakan keputusan yang bersifat lebih rumit dan membutuhkan kompetensi khusus untuk menyelesaikannya, seperti top manajemen dan para konsultan dengan ingkat skill tinggi. Contoh keputusan yang tidak terprogram adalah kasus-kasus khusus, kajian strategis, dan berbagai masalah yang membawa dampak besar bagi organisasi.<\/p>\n<p><strong>3. Proses Pengambilan Keputusan Manager<\/strong><br \/>\nMenurut Stephen Robbins dan Mary Coulter proses pengambilan keputusan merupakan serangkaian tahap yang terdiri dari delapan langkah yang meliputi mengidentifikasi masalah, memilih suatu alternatif, dan mengevaluasi keputusan. Adapun proses pengambilan keputusan itu dapat diuraikan sebagai berikut :<br \/>\na. Mengidentifikasi masalah<br \/>\nb. Mengidentifikasi kriteria keputusan<br \/>\nc. Memberi bobot pada kriteria keputusan<br \/>\nd. Mengembangkan alternatif-alternatif<br \/>\ne. Menganalisa alternatif<br \/>\nf. Memilih satu alternatif<br \/>\ng. Melaksanakan satu alternatif<br \/>\nh. Mengevaluasi efektivitas keputusan<br \/>\nUntuk memahami lebih dalam tentang proses pengambilan keputusan manager tersebut ada baiknya kita lihat dua pandangan mengenai proses pengambilan keputusan yang disajikan pada tabel di bawah ini.<\/p>\n<p><strong>Tabel 1.1 Pandangan<\/strong> <strong>Mengenai Proses Pengambilan Keputusan<\/strong><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"37\"><strong>No.<\/strong><\/td>\n<td width=\"114\"><strong>Langkah Pengambilan Keputusan<\/strong><\/td>\n<td width=\"180\"><strong>Rasionalitas Sempurna<\/strong><\/td>\n<td width=\"198\"><strong>Rasionalitas Terbatas<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">1.<\/td>\n<td width=\"114\">Perumusan masalah<\/td>\n<td width=\"180\">Telah teridentifikasi suatu masalah organisasi yang penting dan relevan.<\/td>\n<td width=\"198\">Suatu masalah yang tampak mencerminkan kepentingan-kepentingan dan latar belakang manajer itu telah teridentifikasi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">2.<\/td>\n<td width=\"114\">Identifikasi kriteria keputusan<\/td>\n<td width=\"180\">Semua kriterianya teridentifikasi<\/td>\n<td width=\"198\">Telah teridentifikasiserangkaian terbatas kriteria.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">3.<\/td>\n<td width=\"114\">Alokasi bobot pada kriteria keputusan<\/td>\n<td width=\"180\">Semua kriterianya dievaluasi dan diberi angka dalam rangka pentingnya bagi tujuan organisasi tersebut<\/td>\n<td width=\"198\">Telah dibangun suatu model memeringkatkan kriteria tadi: kepentingan diri pengambil keputusan itu sangat mempengaruhi penilaian-penilaian tadi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">4.<\/td>\n<td width=\"114\">Pengembangan alternatif<\/td>\n<td width=\"180\">Telah dikembangkan secara kreatif suatu daftar lengkap segala alternatif.<\/td>\n<td width=\"198\">Telah teridentifikasi serangkaian terbatas alternatif yang serupa.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">5.<\/td>\n<td width=\"114\">Analisa alternatif<\/td>\n<td width=\"180\">Segala alternatif dinilai keputusan kriteria keputusan tersebut serta bobot-bobotnya: konsekuensi setiap alternatif itu diketahui.<\/td>\n<td width=\"198\">Mulai dengan suatu keputusan yang lebih keputusan yang lebih disukai, alternatif tadi dinilai, satu demi satu, dengan kriteria keputusan itu.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">6.<\/td>\n<td width=\"114\">Pemilih salah satu alternatif<\/td>\n<td width=\"180\">Memaksimalkan keputusan: keputusan denga hasil ekonomis paling tinggi dari segi tujuan organisasi tersebut itulah yang dipilih.<\/td>\n<td width=\"198\">Keputusan yang memadai: pencarian tersebut berlanjut sampai itemukan sesuatu yang memuaskan dan mencukupi, pada waktu itu usaha pencarian berhenti.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">7.<\/td>\n<td width=\"114\">Implementasi alternatif<\/td>\n<td width=\"180\">Karena keputusan tersebut memaksimalkan peluang mencapai satu-satunya tujuan yang telah dirumuskan dengan baik, semua anggota organisasi akan menerima pemecahan itu.<\/td>\n<td width=\"198\">Pertimbangan politik dan kekuasaan akan mempengaruhi sambutan, dan keterlibatan dengan keputusan tadi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"37\">8.<\/td>\n<td width=\"114\">Evaluasi<\/td>\n<td width=\"180\">Hasil keputusan tadi secara objektif dinilai dengan masalah aslinya.<\/td>\n<td width=\"198\">Pengukuran hasil-hasil keputusan itu jarang sedemikian objektif sehingga menghilangkan kepentingan diri penilaiannya; kemungkinan eskalasi sumber-sumber pada komitmen-komitmen terdahulu kendati ada kegagalan sebelumnya dan bukti nyata bahwa alokasi tambahan sumber itu tidak terjamin.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>4. Perubahan Dalam Keputusan Manager<\/strong><br \/>\nDalam proses berlangsungnya suatu keputusan tentu tidak selamanya berlangsung sesuai dengan rencana yang diharapkan. Secara umum dampak perubahan keputusan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok perubahan, yaitu ;<\/p>\n<p>a. Incremental Changes<br \/>\nIncremental Changes merupakan dampak perubahan keputusan yang dapat diperkirakan atau ditaksir berapa persentase perubahan yang akan terjadi ke depannya tentu berdasarkan data-data yang terjadi di masa lalu (historis).<\/p>\n<p>b. Turbulence Change<br \/>\nTurbulence Change merupakan pengambilan keputusan dalam kondisi perubahan yang sulit untuk diperkirakan. Contohnya, bencana alam, perubahan kondisi politik, demonstrasi buruh, dan sebagainya. Walaupun data-data tersebut ada namun kejadian seperti itu belum tentu memiliki kesamaan kondisi dan situasi seperti dulu. Seperti jatuh dan bergantinya presiden i Irak baik sebelum Saddam Hussein maupun pada saat Saddam Husein ditangkap atau diturunkan posisinya dari Presiden Irak secara paksa oleh tentara Amerika dan sekutunya.<\/p>\n<p>5. Kualitas Keputusan Manager<br \/>\nKualitas merupakan mutu dari pekerjaan atau hasil yang telah dicapai dengan proses yang dilakukan. Sehingga kualitas keputusan merupakan mutu yang dihasilkan dari hasil keputusan tersebut yang telah diaplikasikan atau telah diuji secara maksimal dan terlihat hasilnya secara maksimal serta dinilai secara maksimal juga.<\/p>\n<p>Penilaian secara maksimal tentunya akan menjadi lebih jelas dan lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dari pada penilaian secara tidak maksimal tentunya. Maka dari itu untuk menilai suatu kualitas keputusan yang dibuat haruslah diuji secara pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.<\/p>\n<p>Pendekatan keilmuan yang dipakai disini haruslah berdasarkan pada ruang lingkup dimana asal mula proses awal berdirinya keputusan tersebut. Jika keputusan tersebut adalah dipakai untuk bidang ilmu ekonomi, teknik, kedokteran dan sosiologi maka itu harus berlandaskan pada asas-asas dan aturan-aturan pada bidang ilmu yang bersangkutan, dengan maksud nantinya selalu saja keputusan tersebut berpatokan dan tetap berada pada koridor ilmu yang bersangkutan. Ini ditujukan dengan maksud guna menghindari terjadinya tumpang tindih atau kekacauan dalam aplikasi keputusan itu nantinya.<\/p>\n<p>Dimana kita mengetahui bahwa kekacauan yang sering timbul adalah pada saat setiap bidang tersebut tidak bergerak atau juga tidak diberikan keleluasaan bergerak secara \u201cindependent\u201d sesuai dengan garisnya. Dan ini berdampak pada pembentukan keputusan yang tidak berlangsung secara profesionalisme.<\/p>\n<p>6. Solusi Dalam Menyelesaikan Berbagai Masalah di Bidang Pengambilan Keputusan<br \/>\nAda beberapa solusi secara umum yang dapat dilaksanakan untuk menyelesaikan persoalan atau membuat suatu keputusan menjadi jauh lebih baik, yaitu:<br \/>\na. Menerapkan konsep keputusan yang cenderung hati-hati dan memikirkan setiap dampak yang akan timbul secara jangka pendek dan panjang.<br \/>\nb. Menempatkan setiap keputusan berdasarkan alasan-alasan yang bersifat representif. Artinya keputusan yang dibuat tidak dilandaskan karena keinginan satu pihak saja, namun berdasarkan keinginan berbagai pihak. Sehingga pertanggungjawaban keputusan tersebut bersifat pelibatan yang menyeluruh.<br \/>\nc. Menghindari pengambilan keputusan yang bersifat ambigu. Keputusan yang bersifat ambigu artinya keputusan bersifat tidak jelas dan tidak tegas. Sehingga para pihak baik karyawan dan lainnya sulit untuk memahami maksud dari keputusan tersebut.<br \/>\nd. Setiap keputusan yang dibuat oleh seorang pimpinan disebuah perusahaan berdasarkan pada pertimbangan 4 (empat) fungsi manajemen. Dengan pertimbangan empat fungsi manajemen ini diharapkan keputusan yang dibuat menjadi lebih seimbang (balance).<\/p>\n<p><strong>Tabel 1.2 Metode Ilmiah Dan Pengambilan Keputusan Manajemen<\/strong><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"38\"><strong>No.<\/strong><\/td>\n<td width=\"236\"><strong>Metode Ilmiah<\/strong><\/td>\n<td width=\"255\"><strong>Pengambilan Keputusan Manajemen<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">1.<\/td>\n<td width=\"236\">Rumuskan\/definisikan persoalan<\/td>\n<td width=\"255\">Rumuskan persoalan keputusan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">2.<\/td>\n<td width=\"236\">Lakukan penelitian<\/td>\n<td width=\"255\">Kumpulan informasi<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">3.<\/td>\n<td width=\"236\">Kembangkan hipotesis<\/td>\n<td width=\"255\">Cari alternatif tindakan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">4.<\/td>\n<td width=\"236\">Uji hipotesis<\/td>\n<td width=\"255\">Lakukan analisa alternatif yang fleksibel<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">5.<\/td>\n<td width=\"236\">Analisis hasil<\/td>\n<td width=\"255\">Pilih alternatif terbaik<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">6.<\/td>\n<td width=\"236\">Terik kesimpulan<\/td>\n<td width=\"255\">Laksanakan keputusan dan evaluasi hasil<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong><em>Sumber: Stephen P. Robbins dan Mary Coulter<\/em><\/strong><\/p>\n<p>C. KESIMPULAN<br \/>\n1. Seorang manager wajib melakukan perencanaan di awal sebelum memulai pelaksanaan kerja.<br \/>\n2. Tentukan keputusan yang tepat pada program yang direncanakan beserta program yang akan direncanakan.<br \/>\n3. Uraikan keputusan dengan langkah-langkah keputusan yang dipilih.<br \/>\n4. Ciptakan ide-ide yang bernilai tinggi sebagai solusi alternatif dalam melakukan perubahan keputusan program kerja yang direncanakan.<br \/>\n5. Perhatikan setiap keputusan yang ambi serta perhatikan sistem kerja pengambilan keputusan akhir.<br \/>\n6. Lakukan evaluasi setiap pengambilan keputusan sebelum pelaksanaan dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Dermawan, Didit. (2017). <em>Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi<\/em>. Penerbit : PT Jepe Press Media Utama.<br \/>\nSiagian, Sondang. P. (2016). Manajemen Motivasi. Penerbit : Rineka Cipta. Jakarta.<br \/>\nSutrisno, Edy. (2018). <em>Manajemen Sumber Daya Manusia<\/em>. Penerbit : PT Kencana Prenada Media Group. Jakarta<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Disusun oleh : NAMA : DEDE HERARDI SETIAWAN NPM : 2315300007 KELAS : MM I A MATA KULIAH : EKONOMI MANAGERIAL PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI TAHUN 2024 RANCANGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAGERIAL A. LATAR BELAKANG Keputusan adalah proses penelusuran masalah yang berawal dari latar belakang masalah, identifikasi masalah hingga kepada terbentuknya kesimpulan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-11130","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11130","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11130"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11130\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}