{"id":11028,"date":"2024-01-22T16:01:44","date_gmt":"2024-01-22T08:01:44","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=11028"},"modified":"2024-01-22T16:01:44","modified_gmt":"2024-01-22T08:01:44","slug":"perspektif-geopolitik-dalam-penolakan-berkelanjutan-keanggotaan-rumania-di-schengen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/perspektif-geopolitik-dalam-penolakan-berkelanjutan-keanggotaan-rumania-di-schengen\/11028\/","title":{"rendered":"Perspektif Geopolitik Dalam Penolakan Berkelanjutan Keanggotaan Rumania Di Schengen"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Zona Schengen adalah kawasan bebas visa yang terdiri dari 27 negara anggota Uni Eropa. Kawasan ini memungkinkan warga negara dari negara anggota untuk bepergian tanpa paspor atau visa. Perkembangan Zona Schengen diawali pada tahun 1985 oleh lima negara Eropa yaitu Prancis, Jerman Barat, Belanda, dan Luksemburg yang menandatangani Perjanjian Schengen. Keanggotaan Schengen kemudian mengalami perluasan secara bertahap dengan bergabungnya negara-negara anggota baru. Keuntungan menjadi anggota Schengen antara lain menghapuskan kontrol perbatasan antar negara anggota sehingga memudahkan pergerakan penduduk dan bisnis di seluruh wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Rumania telah menjadi anggota Uni Eropa sejak 2007, namun hingga kini Rumania belum diterima menjadi anggota Zona Schengen. Penolakan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti masalah korupsi, kejahatan terorganisir, dan keamanan perbatasan yang belum memenuhi standar. Rumania telah mengajukan permohonan keanggotaan Schengen sejak 1993, namun ditolak oleh beberapa negara anggota termasuk Jerman, Prancis, dan Belanda karena dinilai belum memenuhi persyaratan.  <\/p>\n<p>Hingga saat ini, resistensi terhadap penerimaan Rumania ke Zona Schengen masih berlanjut. Hal ini disebabkan kekhawatiran dari pemerintah dan negara anggota Schengen bahwa penerimaan Rumania dapat melemahkan keamanan dan stabilitas kawasan. Masalah korupsi dan kejahatan terorganisir yang cukup serius di Rumania, ditambah posisi geografisnya yang berbatasan dengan beberapa negara yang tidak stabil, menimbulkan kekhawatiran bahwa Rumania akan kesulitan menjaga keamanan perbatasannya. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh kejahatan terorganisir dan terorisme untuk memasuki kawasan Schengen serta melakukan penyelundupan, perdagangan manusia, dan aksi terorisme.<\/p>\n<p>Sir Halford J. Mackinder, seorang ahli geografi Inggris, dalam makalahnya yang berjudul &#8220;The Geographical Pivot of History&#8221; pada tahun 1904 mengemukakan gagasan bahwa pengendalian wilayah Eropa Timur sangat penting untuk mengendalikan dunia (Rosenberg, 2018). Gagasan ini menyatakan bahwa siapapun yang dapat menguasai wilayah inti (heartland) akan dapat memerintah \u201cPulau Dunia\u201d (Schouten &#038; Nugroho). Heartland merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan mineral sehingga negara yang menguasainya akan menjadi kekuatan global. Meskipun jarang digunakan karena dianggap terlalu deterministik secara geografis, teori Heartland masih menjadi topik diskusi dalam kajian geopolitik kontemporer.<\/p>\n<p>Mackinder membagi dunia menjadi tiga wilayah geografis utama yaitu Pulau Dunia (World Island), Pulau Pesisir (Coastal Islands), dan Pulau Pinggiran (Periphery Islands). Ia menyebut Pulau Dunia sebagai massa daratan terbesar yang mencakup Eropa, Asia, dan Afrika, dihuni oleh sekitar 87% populasi dunia, dan merupakan wilayah dengan sumber daya terkaya. Jepang dan Kepulauan Inggris disebut sebagai Pulau Pesisir, sementara Amerika Utara, Amerika Selatan dan Australia termasuk Pulau Pinggiran. Eropa Timur dianggap sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Heartland, memungkinkannya memanfaatkan sumber daya Heartland. Mackinder menyebut Heartland sebagai \u201czona poros\u201d yang sulit diinvasi karena dilindungi oleh pegunungan dan laut. Teori Mackinder menggabungkan faktor letak geografis, kekuasaan politik, dan strategi perang, ditambah dengan kekuatan demografi dan ekonomi, untuk menjelaskan pentingnya menguasai Heartland guna mengendalikan dunia. Meskipun banyak dikritik, beberapa strategis tetap mempertanyakan dan menganggap landasan permainan geopolitik global didasarkan pada teori ini.<\/p>\n<p>Sejak tahun 1993, Rumania telah berupaya bergabung dengan Zona Schengen, namun hingga saat ini belum berhasil diterima. Negara-negara anggota Schengen, seperti Jerman, Prancis, dan Belanda, menolak dengan berbagai alasan, termasuk masalah korupsi, kejahatan terorganisir, dan keamanan perbatasan yang dinilai belum memenuhi standar. Penolakan ini mencerminkan perspektif geopolitik Mackinder dalam Teori Heartland, yang menekankan pentingnya mengontrol wilayah Heartland untuk menguasai Eurasia dan dunia. Rumania&#8217;s potensi keanggotaan dalam Schengen dianggap dapat melemahkan stabilitas dan keamanan kawasan tersebut, mengingat situasi internal Rumania sendiri. Negara-negara Schengen khawatir bahwa keanggotaan Rumania dapat dimanfaatkan oleh kejahatan terorganisir dan terorisme untuk masuk ke wilayah Schengen. Oleh karena itu, penolakan terhadap keanggotaan Rumania dapat dilihat sebagai bagian dari upaya negara-negara anggota Schengen untuk menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah geopolitik yang strategis ini.<\/p>\n<p><strong>David Hermawan Putra<br \/>\nMahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional<br \/>\nUniversitas Teknologi Yogyakarta<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Zona Schengen adalah kawasan bebas visa yang terdiri dari 27 negara anggota Uni Eropa. Kawasan ini memungkinkan warga negara dari negara anggota untuk bepergian tanpa paspor atau visa. Perkembangan Zona Schengen diawali pada tahun 1985 oleh lima negara Eropa yaitu Prancis, Jerman Barat, Belanda, dan Luksemburg yang menandatangani Perjanjian Schengen. Keanggotaan Schengen kemudian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-11028","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11028","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11028"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11028\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}