{"id":1070,"date":"2023-06-21T11:27:14","date_gmt":"2023-06-21T03:27:14","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=1070"},"modified":"2023-06-22T12:53:05","modified_gmt":"2023-06-22T04:53:05","slug":"analisis-kelayakan-bisnis-bisnis-usaha-pembuatan-tempe-bu-tenah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/analisis-kelayakan-bisnis-bisnis-usaha-pembuatan-tempe-bu-tenah\/1070\/","title":{"rendered":"ANALISIS KELAYAKAN BISNIS Bisnis Usaha Pembuatan Tempe Bu Tenah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Thiflah-Zakiyyah_4120024-Jurnal.docx\"><strong>DOWNLOAD FILE<\/strong><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Thiflah Zakiyyah<\/strong><br \/>\nOrchid id Author: 0009-0008-5721-0283<br \/>\nthiflahzakiyahpkl@gmail.com<br \/>\n<strong>Muhammad Taufiq Abadi, MM<\/strong><br \/>\nOrchid en Lecturer Supervisor: 0000-0001-9705-7756<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Faculty of Economics and Business, State Islamic University K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><strong>Abstract<\/strong><\/em><br \/>\nThis study aims to determine the business feasibility of the Tempe Small Business Industry in the Old Market, to determine the feasibility of non-financial aspects and the feasibility of financial aspects. Feasibility analysis uses the analysis of non-financial aspects, namely production aspects and marketing aspects. Meanwhile, the analytical tools used for financial aspects use HPP analysis to find out whether a business is feasible or not. The results showed that the tempeh business in Pasar Lawas village from the aspect of business production was declared feasible, because the business location was strategic and easily accessible to consumers, the technology used was modern, the production process was easy. The marketing aspect is decent, with high-quality products, because of the imported raw materials, affordable prices, so that everyone can buy them, the distribution is already quite wide, and the promotions that the owner provides are enough to make consumers know the products they sell.<\/p>\n<p>Keywords : <strong>Business Feasibility Study, Small Industry,Marketing Aspects<\/strong><\/p>\n<p><strong>1. PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nSelain berinteraksi dengan orang lain, manusia sebagai makhluk sosial harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya sebaik mungkin. Mereka yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan selalu mengharapkan pendapatan yang mereka terima sepadan dengan tingkat pengorbanan mereka, sementara majikan mengharapkan hasil kerja yang lebih memuaskan. Pengusaha harus membatasi pendapatan mereka sehingga keuntungan tumbuh untuk menumbuhkan bisnis mereka dan meningkatkan kesejahteraan karyawan mereka.<\/p>\n<p>Perekonomian di Indonesia yang saat ini tidak stabil berdampak pada melonjaknya tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia, baik itu yang di PHK ataupun pengangguran terdidik yang belum mendapat pekerjaan. Dalam hal ini menuntut bagi para pemerintah untuk mendapatkan langkah yang cerdas dan solusi yang cepat da tepat untuk mengatasi banyaknya penganguran terdidik dan mengurangi angka kemiskinan indonesia saat ini membutuhkan euntrepreneur muda dan memperbanyak usaha kecil dan menengah atau UMKM untuk bisa menekan sekecil mungkin tingkat kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. (Florentina Br Bangun et al., n.d.)<\/p>\n<p>UMKM adalah jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan usaha tersebut bersifat berdiri sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu sektor yang menopang perekonomian di Indonesia adalah dari sektor UMKM, karena melalui sektor ini semua aspek yang berkaitan dengan pola kehidupan manusia bersumber mulai dari sektor konsumsi pangan dan papan. Maka dari itu UMKM harus mempunyai strategi bersaing diantaranya adalah keunggulan mutu produk yang tinggi serta harga yang bersaing. Keunggulan mutu produk terlihat dari penggunaan bahan baku yang berkualitas, dan harga jual yang tetap bersaing di pasar. Kedua hal tersebut mengacu kepada perhitungan harga pokok produksi (HPP) yang harus dibuat seakurat mungkin. (Chatrine, 2017)(Dan et al., n.d.)<\/p>\n<p>Menurut Ambarwati (1994), industri tempe pada umumnya dikelola dalam bentuk industri rumah tangga, sehingga perkembangannya selalu dihadapkan dengan permasalahan yang menyangkut bahan baku kedelai, ketersediaan dan kualitas faktor produksi, tingkat keuntungan, pemasaran serta permodalan. Pendapatan para pengerajin tempe sangat tergantung dari penjualan dan biaya-biaya produksi yang dikeluarkan.(Siadari et al., n.d.)<\/p>\n<p>Kelayakan berarti bahwa penelitian menyeluruh bertujuan untuk menentukan apakah bisnis yang dioperasikan akan menghasilkan pengembalian yang lebih besar relatif terhadap biaya yang terlibat. Dengan kata lain, profitabilitas berarti bahwa perusahaan yang dikelola memberikan manfaat finansial dan non-finansial sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Menjadi layak berarti mampu menghasilkan keuntungan yang tidak hanya menguntungkan perusahaan dan pengusaha yang mengoperasikannya, tetapi juga investor, kreditor, pemerintah, dan masyarakat luas.<\/p>\n<p>Kita pasti sudah tidak asing dengan makanan yang berbahan utama kedelai yaitu tempe..Tempe memang biasa dikonsumsi di Indonesia, namun kini sudah umum di seluruh dunia. Banyak vegetarian di seluruh dunia menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Itu dibuat tidak hanya di Indonesia tetapi juga di banyak tempat di seluruh dunia. Berbagai penelitian di berbagai negara seperti Jerman, Jepang dan Amerika Serikat. Indonesia kini juga berupaya mengembangkan strain Rhizopus unggul untuk menghasilkan tempe lebih cepat dan dengan kualitas yang lebih baik atau untuk meningkatkan kandungan gizi tempe. Jenis ragi tempe yang unggul telah dipatenkan. Kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum, karena penggunaannya dapat dilindungi oleh undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang paten).<\/p>\n<p>Tempe adalah makanan yang dibuat dengan cara memfermentasi biji kedelai atau bahan lainnya dengan menggunakan biji cetakan Rhizopus seperti Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stronifer (spread mold), atau Rhizopus alidus. umumnya dikenal sebagai &#8220;ragi tempe&#8221;. Nutrisi yang terdapat dalam tempe antara lain vitamin B12, protein, kalsium, karbohidrat, serat dan fosfor.<\/p>\n<p>Industri kecil pembuatan tempe yang ada di Kelurahan Rowokembu Kecamatan Wonopringgo , menghadapi permasalahan seperti modal usaha, teknologi untuk produksi, pemasaran produk, akses informasi pasar dalam pencapaian target pemasaran dan penjualan tempe. Beberapa pengusaha tempe di pasar tradisional terus terhimpit oleh ritel modern seperti sosial media dan makanan cepat saji yang dijual di pasar modern dan supermarket.<\/p>\n<p>Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti tertarik mengambil judul, \u201cAnalisis Studi Kelayakan Usaha dan Strategi Pemasaran Industri Kecil Tempe di Desa Pasar Lawas,Kelurahan Rowokembu,Kecamatan Wonopringgo\u201d.<\/p>\n<p><strong>2. METODE PENELITIAN<\/strong><br \/>\nPenelitian kualitatif merupakan jenis analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Peneliti berfungsi sebagai instrumen kunci dalam metode penelitian kualitatif, yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah. Teknik pengumpulan data dilakukan triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna daripada generalisasi.<\/p>\n<p>Penelitian ini menggunakan 2 jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang bersumber internal yang didapatkan secara langsung melalui pelaksanaan observasi, yaitu pengamatan secara langsung, dan wawancara. Sedangkan data sekunder bersumber eksternal yang didapat melalui referensi dari luar, baik artikel, jurnal, dan lainnya. Data primer dari penelitian ini diperoleh dari hasil observasi sedangkan data sekunder dari penelitian ini didapatkan dari literatur atau referensi seperti jurnal, digital book, dan penelitian terdahulu.<\/p>\n<p><strong>3. HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\n<strong>Analisis Kelayakan terhadap Aspek Pasar dan Pemasaran<\/strong><\/p>\n<p>a. Analisis Minat Konsumen<br \/>\nDilihat dari hasil wawancara terhadap responden yang dilakukan,bahwa minat konsumen terhadap usaha tempe milik ibu Tenah ini sangat banyak mereka menyukai hasil produk usaha tempe ini.<\/p>\n<p>b. Analisis Pesaing<br \/>\nPesaing dari usaha pembuatan tempe bu tenah yang ada didesa pasar lawas yaitu adalah usaha pembuatan tempe milik pak rosid yang berada didesa sebelah yaitu desa sedondong.usaha milik pak rosid juga memiliki kesamaan produk dengan usaha yang dimiliki bu tenah.<br \/>\nc. Analisis Segmentasi, Target Pasar, dan Posisi Pasar<\/p>\n<p>1. Segmentasi<br \/>\nSegmentasi usaha tempe Bu Tenah cukup luas. Hal ini terlihat dari data responden yang tersesebar sebanyak 20 orang, yang menggambarkan bahwa konsumen tempe bu tenah tersebar dari rentang usia muda yakni mulai dari usia belasan tahun, hingga usia tua diatas 30 tahun sekalipun. Usaha tempe miliki bu tenah juga cocok untuk semua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan<\/p>\n<p>2. Target Pasar<br \/>\nDari luasnya segmentasi pasar yang ada, usaha tempe Bu Tenah memilih target pasar yang paling tepat ialah dari kalangan Ibu rumah tangga. Dalam hal ini yang dimaksud kalangan Ibu Rumah Tangga yaitu konsumen dari rentang usia mulai belasan sampai 20-an keatas. Hal ini didukung dari hasil pengamatan dilapangan bahwa konsumen itu mayoritas bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga.<\/p>\n<p>3. Posisi Pasar<br \/>\nUsaha tempe milik Bu Tenah memiliki ciri khas tersendiri mulai dari bahan yang digunakan,proses produksi dan dalam hal pelayanan pembelian kepada konsumen<br \/>\nAnalisis Keuangan (Financial)<\/p>\n<p>a. Rasio Biaya Operasional Terhadap Penjualan<br \/>\nRasio ini mengukur seberapa besar biaya operasional yang dikeluarkan untuk menghasilkan pendapatan. Semakin rendah rasio ini, semakin baik kinerja keuangan perusahaan.<br \/>\nBiaya operasional per bulan = Rp.10 juta<br \/>\nPendapatan Per tahun=Rp.150 juta<br \/>\nBiaya Operasional Per Tahun=Rp.10 juta x 12 =Rp 120 Juta<br \/>\nRasio biaya operasional terhadap penjualan = (Biaya operasional per tahun \u00f7 Pendapatan per tahun) x 100%<br \/>\n(120\u00f7150) x 100% =0,8<\/p>\n<p>b. Rasio Keuntungan Bersih terhadap Penjualan<br \/>\nRasio ini mengukur seberapa besar keuntungan bersih yang dihasilkan perusahaan dari setiap penjualan yang dilakukan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik kinerja keuangan perusahaan.<br \/>\nPendapatan bersih per tahun = Rp. 75 juta<br \/>\nPendapatan per tahun = Rp. 150 juta<br \/>\nRasio keuntungan bersih terhadap penjualan = (Pendapatan bersih per tahun \u00f7 Pendapatan per tahun) x 100%<br \/>\n= (Rp. 75 juta \u00f7 Rp. 150juta) x 100% = 0,5%<\/p>\n<p>c. Analisis NPV<br \/>\nBerikutnya adalah melakukan analisis NPV (Net Present Value) untuk menentukan nilai sekarang dari aliran kas yang dihasilkan oleh usaha tempe bu tenah. Dalam analisis ini, diperkirakan suku bunga diskonto sebesar 10%.<br \/>\nNPV = -6.000.000 + (75.000.000\/(1+0,1)^1) + (75.000.000\/(1+0,1)^2) + (75.000.000\/(1+0,1)^3) + (75.000.000\/(1+0,1)^4) + (75.000.000\/(1+0,1)^5) +(48.000.000\/(1+0,1)^6)+(48.000.000\/(1+0,1)^7) + (75.000.000\/(1+0,1)^8) + (75.000.000\/(1+0,1)^9) = 62181818,2 + 61983471,1 + 56348610,1+ 51226009,2+ 46569099,2 + 27094748,6 + 24631589,7 + 34988053,5 + 31807322,4 =396.830.722<\/p>\n<p><strong>4. KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nAnlisis pasar dan strategi pemasaean menunjukkan bahwa prospek bisnis dibidang industry kecil yaitu usaha pembuatan tempe cukup baik,hal ini dilihat dari permintaan konsumen yang selalu ada setiap harinya tanpa mengalami penurunan yang sangat signifikan. Dengan harga yang terjangkau dan strategi bauran pemasaran yang cukup baik.<\/p>\n<p><strong>5. REFERENSI<\/strong><br \/>\nChatrine, S. (2017). ANALYSIS OF COST OF GOODS SOLD CALCULATION ON TEMPEH (MICRO, SMALL, AND MEDIUM ENTERPRISES CASE STUDY OF MR. LUKMAN). Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pelita Indonesia, 383\u2013395.<br \/>\nDan, A., Chatrine, S., Sekolah, T., Ilmu, T., Pelita, E., Jalan, I., &amp; Yani, J. A. (n.d.). Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Tempe (Studi Kasus UMKM Pak Lukman) (Anton) ANALYSIS OF COST OF GOODS SOLD CALCULATION ON TEMPEH (MICRO, SMALL, AND MEDIUM ENTERPRISES CASE STUDY OF MR. LUKMAN).<br \/>\nFlorentina Br Bangun, C., Yuniar, V., &amp; Wulandari Bugis, S. (n.d.). Transformasi Manageria Journal of Islamic Education Management Analisis Studi Kelayakan Bisnis pada Pengembangan UMKM Usaha Tahu dan Tempe di Desa Pondok Jeruk Ditinjau dari Aspek Produksi, Aspek Pemasaran dan Aspek Keuangan. https:\/\/doi.org\/10.47476\/manageria.v2i2.929<br \/>\nSiadari, M., Sartika, S., &amp; Samosir, J. (n.d.). ANALISIS KELAYAKAN USAHA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL TEMPE (Studi Kasus: Kelurahan Tomuan, Kota Pematangsiantar).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DOWNLOAD FILE Thiflah Zakiyyah Orchid id Author: 0009-0008-5721-0283 thiflahzakiyahpkl@gmail.com Muhammad Taufiq Abadi, MM Orchid en Lecturer Supervisor: 0000-0001-9705-7756 Faculty of Economics and Business, State Islamic University K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Indonesia Abstract This study aims to determine the business feasibility of the Tempe Small Business Industry in the Old Market, to determine the feasibility of [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-1070","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1070","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1070"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1070\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1070"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1070"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1070"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}