{"id":10608,"date":"2024-01-08T22:11:18","date_gmt":"2024-01-08T14:11:18","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=10608"},"modified":"2024-01-08T22:11:18","modified_gmt":"2024-01-08T14:11:18","slug":"bias-gender-host-channel-youtube-pendidikan-tumbuh-kembang-anak-anak-ini-menjadi-bahan-objektifikasi-perempuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/bias-gender-host-channel-youtube-pendidikan-tumbuh-kembang-anak-anak-ini-menjadi-bahan-objektifikasi-perempuan\/10608\/","title":{"rendered":"Bias Gender Host Channel Youtube Pendidikan Tumbuh Kembang Anak-Anak ini Menjadi Bahan Objektifikasi Perempuan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6.png\" alt=\"\" width=\"1146\" height=\"639\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10610\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6.png 1146w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-300x167.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-1024x571.png 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-768x428.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-150x84.png 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-696x388.png 696w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-1068x596.png 1068w\" sizes=\"(max-width: 1146px) 100vw, 1146px\" \/><\/p>\n<p><strong>SURABAYA, JurnalPost.com<\/strong> \u2013 Channel Youtube kinderflix adalah salah satu kanal Youtube yang menyediakan konten edukasi bagi bayi yang berumur kurang dari lima tahun (balita), dengan menonton video dari channel Youtube tersebut anak dapat melatih motorik, serta bisa melatih pendengaran dengan lagu-lagu yang interaktif. Tetapi siapa sangka host dari channel Youtube Kinderflix tersebut banyak menerima komentar-komentar yang dipenuhi oleh pria dewasa, banyak komentar yang mengarah ke hal-hal yang negatif bahkan mengarah pada seksualitas. Oleh karena itu Penulis, Naufal Rizqi Rahman Putra Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya, dengan Dosen Pengampu Dr. Merry Fridha Tripalupi., M.Si akan memberikan opini terhadap hal tersebut.<\/p>\n<p>Hal tersebut masuk kedalam masalah biar gender. Bias gender sendiri adalah kecenderungan atau prasangka terhadap jenis kelamin tertentu yang mengakibatkan ketidakadilan gender (Maulana Khusen, 2014:120). Bias gender sering kali merugikan, membatasi, atau memberikan perlakuan tidak adil terhadap individu berdasarkan gender mereka, baik sebagai perempuan atau laki-laki. Bias gender dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk di dalam norma sosial, kebijakan, media, dan interaksi sehari-hari.<\/p>\n<p>Dalam kasus channel Youtube Kinderflix ini termasuk bias gender objektifikasi wanita. Objektifikasi wanita sendiri adalah Penyajian perempuan dalam media atau iklan hanya sebagai objek seksual, mengabaikan aspek-aspek intelektual atau profesional mereka. Ini menciptakan pandangan yang membatasi peran perempuan dalam masyarakat.<\/p>\n<p>Host tersebut mendapatkan banyak komentar negatif di Tiktok, karena kolom komentar di channel Youtube Kinderflix telah di tutup. Di salah satu unggahan Tiktok Kinderflix terdapat 5675 komentar, dan rata-rata komentar yang di utarakan termasuk komentar yang mengarah ke objektifikasi perempuan. Meskipun host channel Youtube Kinderflix ini telah memakai pakaian yang tertutup dan memakai hijab, tidak memungkiri pelecehan tersebut dapat terjadi.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-16.jpg\" alt=\"\" width=\"213\" height=\"379\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10609\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-16.jpg 213w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-16-169x300.jpg 169w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-16-150x267.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 213px) 100vw, 213px\" \/><\/p>\n<p>\u201cBalita (bapak-bapak liat wanita),\u201d tulis seorang pengguna.<br \/>\n\u201cAnak balita pada kumpul, (dibawah lima puluh tahun),\u201d ujar seorang pengguna<br \/>\n\u201cMAKIN BANYAK AYAH YANG MENEMANI ANAKNYA MENONTON KINDERFLIX,\u201d ungkap seorang pengguna<br \/>\n\u201cIdaman balita 19 \u2013 25 tahun,\u201d tulis seorang pengguna<br \/>\nHal tersebut menjadi contoh bahwa tidak semua masyarakat telah memahami bahwa tindakan tersebut tidak boleh dilakukan. Objektifikasi wanita dapat terjadi kepada seluruh wanita.<br \/>\nTetapi tidak hanya komentar negatif beberapa komentar postif dan mendukung juga ada dari beberapa netizen yang paham bahwa hal tersebut tidak benar.<\/p>\n<p>\u201cJika masih meresahkan mendapat komentar negatif yang berbau mengarah pelecehan secara tertulis dikolom komentar kakak @kinderflix.idn bisa perkarakan pelaku ini menggunakan pasal UU ITE penecemaran nama baik dan pasal UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Sesual) pasal yg mengenai melecehkan secara pelecahan seksual di media sosial, semangat kakak dan semoga pelaku pelecehan seksual secara tertulis dikolom komentar bisa jera jika kakak mau perkarakan ini ke ranah huku\u201d tulis seorang pengguna<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA, JurnalPost.com \u2013 Channel Youtube kinderflix adalah salah satu kanal Youtube yang menyediakan konten edukasi bagi bayi yang berumur kurang dari lima tahun (balita), dengan menonton video dari channel Youtube tersebut anak dapat melatih motorik, serta bisa melatih pendengaran dengan lagu-lagu yang interaktif. Tetapi siapa sangka host dari channel Youtube Kinderflix tersebut banyak menerima komentar-komentar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10608","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10608","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10608"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10608\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10608"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10608"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10608"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}