{"id":10413,"date":"2024-01-04T18:02:19","date_gmt":"2024-01-04T10:02:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=10413"},"modified":"2024-01-04T18:02:19","modified_gmt":"2024-01-04T10:02:19","slug":"toleransi-bangsa-di-indonesia-antar-umat-beragama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/toleransi-bangsa-di-indonesia-antar-umat-beragama\/10413\/","title":{"rendered":"Toleransi Bangsa Di Indonesia Antar Umat Beragama"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-27.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"465\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10414\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-27.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-27-300x232.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-27-150x116.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Toleransi bukan merupakan hal lagi asing bagi masyarakat di Indonesia. Toleransi sudah sering terdengar oleh masyarakat di Indoenesia, karena Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keberagaman budaya Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika, maka meskipun memiliki keragaman budaya, Indonesia tetap satu. Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah akan terus mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju indonesia yang lebih baik. Pada penelitian yang dilakukan oleh lembaga Setara Institute menunjukkan rata-rata Indeks Kota Toleran (IKT) nasional pada 2022 mencapai nilai 5,03. Penelitian ini menunjukkan bahwa toleransi di indonesia belum mencapai nilai yang signifikan. <\/p>\n<p>Ada tiga tiga kota yang mendapat nilai paling tinggi, yaitu Singkawang (6,58), Salatiga (6,42), dan Bekasi (6,08). Dan kota yang memiliki tingkat toleransi yang rendah adalah Cilegon (3,22), Depok (3,61), dan Padang (4,06). Hitungan ini berskala nilai yang setara dengan 1-7. Dengan adanya survey ini dapat memotivasi masyarakat di Indonesia untuk terus meningkatkan tingkat toleransi. Keberagaman yang seharusnya dapat dibanggakan bisa menjadi hal yang menakutkan. Jika potensi permasalahan ini tidak segera diatasi, bahkan jika masalah tersebut terus berlanjut dalam jangka waktu yang lama tanpa penanganan yang tepat, maka permasalahan ini dapat terus berkembang dan mengancam persatuan dan kesatuan. Indonesia kerap dilanda berbagai konflik bernuansa Suku, Agama, Ras, Antar Golongan (SARA) seperti pemaksaan, intoleransi, diskriminasi di berbagai bidang, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Khusunya pada kasus intoleransi antar agama di Indonesia cukup banyak. Contohnya seperti di yang terjadi pada September 2020 di kota Serang baru sekelompok orang menganggu ibadah jemaat HKBP yang sedang beribadah, sekelompok warga Graha Prima Jonggol menolak ibadah jemaat Gereja Pantekosta Bogor pada 20 September 2020, Kasus kerusushan di Tolikara pada Hari Raya Idul Fitri 2015 dan masih banyak kasus yang lainnya. Presiden Indonesia Joko Widodo juga menyebutkan bahwa masih ditemukaan kasus-kasus intoleransi di Indonesia masih ditemukan dan menjadi perhatian bersama. Memang seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia yang memilki banyak keragaman perlu menanamkan sikap toleransi di dalam diri kita karena kalau tidak akan menimbulkan konflik-konflik yang akan memecahkan persatuan. Intoleransi ini juga merupakan hal yang melanggar nilai-nilai Pancasila seperti pada sila ke 3 yaitu Persatuan Indonesia. Dengan banyaknya kasus intoleransi di Indonesia kita harus mengambil tindakan untuk mengurangi dan mencegah kasus intoleransi di Indonesia.<\/p>\n<p>Menurut saya untuk meningkatkan toleransi di indonesia dapat dilakukan mulai dari pendidikan pada sekolah-sekolah yang memberikan pengetahuan bahwa indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keberagaman budaya, agama dan suku. Lalu dengan diberikan pengetahuan tersebut dapat diberikan pemahaman tentang toleransi yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-sehari. Pemerintah juga dapat bertindak tegas dan mengawasi tindakan-tindakan intoleransi di indonesia. Pemerintah dapat membuat sosialisasi tentang toleransi yang di dalamnya bisa berisikan bahwa setiap agama, suku, dan budaya itu sama tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang buruk. Khususnya tentang masalah intoleransi umat beragama di indonesia pada saat ini bukan hanya dari agama yang berbeda tetapi yang satu agama saja masih ada yang melakukan hal intoleransi seperti pada salah satu universitas islam yang melarang mahasiswinya untuk menggunakan cadar, dengan adanya hal ini sikap toleransi harus terus ditanamkan supaya indonesia bisa bersatu tidak terpecah belah. Selain itu kita juga bisa memulai menanamkan sikap toleransi yang pertama pada diri kita sendiri supaya bisa mengurangi sikap intoleransi di Indonesia dan bangs Indonesia dapat bersatu tanpa terpecah belah.<\/p>\n<p>Oleh: <strong>Annisa Mutiara Rahmadhani Pulungan mahasiswa Universitas Pancasila<\/strong><\/p>\n<p>Sumber :<br \/>\n\u2022\thttps:\/\/www.its.ac.id\/news\/2021\/09\/25\/toleransi-beragama-indonesia-bagaikan-gajah-di-pelupuk-mata\/<br \/>\n\u2022\thttps:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2023\/08\/29\/15321161\/jokowi-masih-ditemukan-beberapa-kasus-intoleransi-ini-harus-jadi-perhatian<br \/>\n\u2022\thttps:\/\/www.voaindonesia.com\/a\/setara-kondisi-toleransi-di-indonesia-masih-stagnan\/7040384.html  <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Toleransi bukan merupakan hal lagi asing bagi masyarakat di Indonesia. Toleransi sudah sering terdengar oleh masyarakat di Indoenesia, karena Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keberagaman budaya Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika, maka meskipun memiliki keragaman budaya, Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10413","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10413","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10413"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10413\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}