{"id":10341,"date":"2024-01-03T13:01:59","date_gmt":"2024-01-03T05:01:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=10341"},"modified":"2024-01-03T18:59:25","modified_gmt":"2024-01-03T10:59:25","slug":"bias-gender-dalam-berita-online","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/bias-gender-dalam-berita-online\/10341\/","title":{"rendered":"Bias Gender Dalam Berita Online"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-16.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"338\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10344\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-16.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-16-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-16-150x84.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Bias gender adalah kondisi yang memihak dan merugikan salah satu gender sehingga menimbulkan diskriminasi gender. Sederhananya, bias gender merupakan kecenderungan untuk lebih memilih salah satu gender daripada yang lain. bias gender terkadang terbentuk tanpa disadari. Ketika seseorang mengaitkan sikap dan stereotip tertentu dengan orang atau kelompok tertentu, tanpa sadar sebenarnya ia telah melakukan bias gender.<\/p>\n<p>Perilaku bias gender muncul karena ketidakadilan gender akibat sistem dan struktur sosial yang menempatkan kaum laki-laki ataupun perempuan pada posisi yang merugikan. Sebagai contoh karena konstruksi sosial, kaum laki-laki dianggap lebih kompeten, lebih mampu, dan lebih superior daripada perempuan. Sebaliknya, perempuan dinilai lebih lemah dan tidak berdaya jika dibandingkan dengan laki-laki. ada berbagai bentuk bias gender yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Berikut diantaranya:<\/p>\n<p>1. Marginalisasi<br \/>\nMarginalisasi merupakan proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang menyebabkan kemiskinan. Konsep ini muncul karena banyak yang memaknai gender sama dengan seks.<\/p>\n<p>Anggapan tersebut menempatkan perempuan bukanlah pencari nafkah utama. Akibatnya, kaum perempuan cenderung mendapatkan gaji lebih rendah daripada laki-laki. Terlebih bagi mereka yang memiliki tingkat pendidikan rendah.<\/p>\n<p>Perempuan juga kerap menjadi sasaran untuk menerima PHK karena kondisi yang dialaminya, yaitu hamil dan melahirkan. Kondisi itu sering kali dinilai dapat membuat mereka kurang fokus terhadap pekerjaan sehingga diberhentikan secara sepihak.<\/p>\n<p>2. Subordinasi<br \/>\nPenilaian bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain disebut dengan subordinasi. Struktur sosial dan budaya di lingkungan masyarakat secara tidak langsung telah memilah-milah peran laki-laki dan perempuan.<br \/>\nPerempuan dianggap bertanggung jawab dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan publik atau produksi. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, hal itu akan dianggap tidak wajar.<\/p>\n<p>3. Stereotip<br \/>\nStereotip adalah anggapan mengenai suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip sering kali dijadikan alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya.<\/p>\n<p>Beberapa stereotip negatif yang sering menimpa kaum perempuan misalnya perempuan dianggap cengeng, tidak rasional, emosional, dan tidak bisa mengambil keputusan penting. Dampaknya, laki-laki menganggap dirinya lebih berkuasa daripada perempuan.<\/p>\n<p>4. Kekerasan<br \/>\nBias gender juga dapat berbentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. Umumnya perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah, lembut, dan penurut.<br \/>\nPandangan itu kerap dijadikan alasan untuk memperlakukan perempuan secara semena-mena. Berbagai tindak kekerasan pun muncul, mulai dari KDRT, pemerkosaan, pelecehan seksual, prostitusi, sampai eksploitasi seks.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-8.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"451\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10343\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-8.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-8-300x225.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar2-8-150x112.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>Bias gender masih sering terjadi di Indonesia salah satunya adalah Misoginis. Misoginis adalah kebencian atau rasa tidak suka terhadap wanita atau anak perempuan, misoginis dapat diwujudkan dalam berbagai cara termasuk diskriminasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan. Seperti contohnya yaitu kasus video 19 detik Gisella Anastasia dan Michael Yukinobu Defretes, dalam berita online yang memberitakan tentang hal tersebut banyak sekali laman berita yang hanya menggunakan nama terang Gisel dan menyangkut pautkan dengan hubungannya yang sudah kandas dengan Gading Martin. Sedangkan pemeran prianya hanya beberapa kali terekspos di laman berita. Hal itu menuai banyak hujatan dari netizen dan hujatan itu banyak tertuju pada gisel saja.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar3-2.jpg\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"337\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10342\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar3-2.jpg 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar3-2-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar3-2-150x84.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>Contoh lainnya ada dari aktor Bio One, berbeda dari contoh yang sebelumnya Bio One ini kerap dianggap Androgini oleh masyarakat luas. Androgini adalah jenis presentasi yang memadukan maskulinitas dan feminitas. Kata itu sendiri menggabungkan kedua konsep tersebut dan berarti seseorang memiliki ciri &#8211; ciri maskulin dan feminim. pria bernama lengkap Juan Bio One Idal Haris Subiantoro Tanevi Proboatmodjo Tan itu sempat mengenakan pakaian wanita berupa kebaya berwarna biru bersama tatanan rambut disanggul. Gaya tak biasa Bio One ala wanita bangsawan Jawa itu memunculkan spekulasi dan komentar warganet. Banyak yang memuji dirinya lantaran dianggap feminim dan tak kalah memesona dari wanita tulen. Tapi muncul kritik karena gayanya dianggap tak pantas, tentunya di Indonesia hal ini menuai pro dan kontra.<\/p>\n<p>Nama Penulis:<br \/>\n<strong>Rizky Pratama<br \/>\nDwiki Aprilia Samporno<br \/>\nVlaga Billyum Fenata <\/strong><br \/>\nDosen Pengampu:<br \/>\n<strong>Dr. Merry Fridha Tripalupi., M,Si<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Bias gender adalah kondisi yang memihak dan merugikan salah satu gender sehingga menimbulkan diskriminasi gender. Sederhananya, bias gender merupakan kecenderungan untuk lebih memilih salah satu gender daripada yang lain. bias gender terkadang terbentuk tanpa disadari. Ketika seseorang mengaitkan sikap dan stereotip tertentu dengan orang atau kelompok tertentu, tanpa sadar sebenarnya ia telah melakukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10341","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10341"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10341\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}