{"id":10283,"date":"2024-01-02T15:29:16","date_gmt":"2024-01-02T07:29:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=10283"},"modified":"2024-01-02T15:29:16","modified_gmt":"2024-01-02T07:29:16","slug":"asal-usul-nama-minangkabau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/asal-usul-nama-minangkabau\/10283\/","title":{"rendered":"Asal-Usul Nama Minangkabau"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6.jpg\" alt=\"\" width=\"338\" height=\"250\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10284\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6.jpg 338w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-300x222.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Gambar1-6-150x111.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 338px) 100vw, 338px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Minangkabau merupakan suku yang sudah tak lagi terdengar asing di telinga kita semua, secara suku Minangkabau sendiri termasuk dalam sepuluh suku terbanyak di tanah air Indonesia ini. Minangkabau sendiri adalah suku yang mendiami sebagian besar wilayah di Sumatera Barat, meskipun begitu suku Minang sudah pasti orang Padang, hal ini disebabkan oleh suku Nias lah yang lebih dahulu mendiami wilayah Padang. Minangkabau adalah etnik atau suku yang mendiami bagian tengah dari Pulau Sumatera, Indonesia. <\/p>\n<p>Nama Minangkabau sendiri diambil dari kata \u2018manang\u2019 dan \u2018kabau\u2019 yang berarti memenangkan kerbau dalam Bahasa Minang. Asal mula nama Minangkabau ini sendiri berasal dari legenda yang sangat menarik, dimana sebuah kerajaan yang memiliki nama Kerajaan Pagaruyung, kerajaan ini berdiri ketika pasukan dari kerajaan Majapahit sedang gencar-gencarnya menyerang wilayah lain untuk memperluas wilayah mereka. <\/p>\n<p>Ketika kerajaan Majapahit tiba di perbatasan Pagaruyung, mereka langsung mempersiapkan strategi untuk membuat kerajaan Pagaruyung tunduk di bawah kaki mereka. Tetapi, situasi tersebut tidak membuat para kepala daerah dan yang dituakan menjadi panik, mereka dengan tenang. Alih-alih berperang para kepala daerah mengusulkan untuk berunding guna mengurangi jatuhnya korban jiwa.<\/p>\n<p>Dari perundingan kedua belah pihak, menghasilkan bahwa mereka akan melakukan adu kerbau alih alih berperang, dengan syarat jika kerbau dari kerajaan Majapahit yang menang, maka kerajaan Majapahit bisa menguasai kerajaan Pagaruyung, dan kerajaan Pagaruyung akan menyerah tanpa syarat. Namun jika kerbau dari kerajaan Pagaruyung yang menang, maka seluruh prajurit dari kerajaan Majapahit harus mundur tanpa syarat dan harus segera kembali ke kerajaan mereka.<\/p>\n<p>Hari yang ditetapkan untuk mengadu kerbau pun tiba. Kerajaan Majapahit memilih kerbau jantan yang gagah dan terlihat agresif dan juga ganas sebagai perwakilan dari mereka. Sedangkan, dari sisi Kerajaan Pagaruyung, mereka memilih kerbau yang masih kecil \u2014 anak kerbau yang bahkan masih menyusu dari sang induk, sebagai perwakilan, meskipun begitu, anak kerbau ini telah diasah tanduknya sehingga membuat tanduk anak kerbau tersebut menjadi runcing, anak kerbau ini pun telah dipisahkan dari induknya selama tiga hari, dan membuat anak kerbau ini kehausan.<\/p>\n<p>Namun, berbeda dari yang disangka, kerbau yang merupakan perwakilan dari Kerajaan Majapahit menolak untuk di adu dengan anak kerbau, dia justru bergerak dengan liar di lapangan, berharap menemukan lawan sepadan untuknya. Disisi lain, kerbau dari Kerajaan Pagaruyung justru mendekati kerbau jantan Kerajaan Majapahit, karena kehausan dia pun mendekat dan mengendus endus perut Kerbau kerajaan Majapahit.<\/p>\n<p>Dikarenakan kerbau perwakilan Majapahit masih bergerak liar untuk mencari lawan, membuat perut sang kerbau tertusuk oleh tanduk si anak kerbau yang masih mengendus mencari susu, tanduk  yang tajam karena diasah itu membuat kerbau yang tadinya besar dan gagah itu tumbang dengan perut terkoyak.<\/p>\n<p>Hal ini membuat Kerajaan Pagaruyung menang, dan sesuai perjanjian yang telah disepakati, akhirnya Kerajaan Majapahit mundur tanpa syarat dari wilayah kerajaan dan kembali ke daerah asal mereka. Kemenangan ini membuat para rakyat di kerajaan Pagaruyung bersorak bergembira, dan mereka juga mengucapkan kata &#8216;Manang Kabau&#8217; berulang ulang. Hal ini juga membuat tanduk kerbau memiliki arti kemenangan di tanah Minang.<\/p>\n<p>Kemenangan ini akhirnya menyebar dari mulut ke mulut, satu orang ke orang lainnya, membuat cerita ini terdengar sampai kemana-mana. Dan seiring berjalannya waktu, kata &#8216;Manang Kabau&#8217; berubah menjadi Minangkabau. Dan sejak saat itulah  wilayah Sumatera Barat dikenal juga dengan daerah Ranah Minangkabau.<\/p>\n<p>Dari cerita ini juga dapat dilihat dari bentuk atap rumah tradisional dari Sumatera Barat yang disebut juga dengan Rumah Gadang, bangunan yang sekilas terlihat mirip dengan perahu dan dibuat tinggi,  dan juga atapnya yang melengkung sehingga membuatnya terlihat seperti tanduk kerbau. <\/p>\n<p>Bentuk atap yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini juga diesebut dengan bentuk gonjong, bentuk gonjong ini membuat bentuk atap rumah tradisional Minangkabau ini berbentuk runcing ke atas. Bentuk rumahnya juga tak kalah unik, dengan alas atau bagian bawah rumah yang berbentuk persegi panjang yang semakin keatas semakin lebar. Lalu atapnya yang terbuat dari bahan alami, yaitu ijuk, ijuk sendiri adalah serat alami yang berasal dari pohon aren, daun ijuk sendiri adalah bahan yang tahan lama karena tidak mudah berjamur dan juga tak mudah terurai. Bantuk rumah gadang sendiri dibentuk demikian juga berkaitan dengan kondisi geografis di Sumatera Barat itu sendiri yang merupakan daerah rawan gempa, selain itu desain rumah ini juga dibuat se fleksibel mungkin dengan meletakkan batu sebagai penopang bagian pilar utama pada Rumah Gadang.<\/p>\n<p>Selain itu, bentuk tanduk kerbau juga bisa terlihat pada pakaian tradisional yang banyak terlihat dipakai oleh wanita dari suku Minangkabau. Bagian itu terlihat dari penutup kepala yang disebut juga dengan Kain Kuluak Runciang. Kain Kuluak Runciang dibentuk seperti tanduk kerbau, hal ini juga berpengaruh pada penamaan penutup kepala itu sendiri, dimana kata Runciang itu sendiri berasal dari kata runcing yang melambangkan menangnya anak kerbau Pagaruyung ketika melawan Kerbau dari Majapahit.<\/p>\n<p> Kain Kuluak Runciang biasanya terbuat dari kain songket tenunan yang tebal sehingga mudah dibentuk dan biasanya memiliki warna merah atau warna emas yang merupakan warna khas yang ada di pakaian tradisional Minangkabau, dan biasanya dibagian belakangnya diberi hiasan berupa kain yang menjulur bebas.<\/p>\n<p>Kain Kuluak Runciang memiliki makna bahwa wanita di ranah Minangkabau memiliki kedudukan sebagai Bundo Kanduang atau bisa juga diartikan sebagai Wanita minangkabau sebagai pemilik rumah gadang itu sendiri.<\/p>\n<p>Ditulis Oleh : <strong>Naila Fauziah, mahasiswa Sastra Jepang Universitas Andalas.<\/strong><br \/>\nIlustrasi oleh : <strong>Naila Fauziah, Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang, Universitas Andalas.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Minangkabau merupakan suku yang sudah tak lagi terdengar asing di telinga kita semua, secara suku Minangkabau sendiri termasuk dalam sepuluh suku terbanyak di tanah air Indonesia ini. Minangkabau sendiri adalah suku yang mendiami sebagian besar wilayah di Sumatera Barat, meskipun begitu suku Minang sudah pasti orang Padang, hal ini disebabkan oleh suku Nias [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10283","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10283\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}