{"id":10138,"date":"2023-12-29T20:43:22","date_gmt":"2023-12-29T12:43:22","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=10138"},"modified":"2023-12-29T20:43:22","modified_gmt":"2023-12-29T12:43:22","slug":"makan-bajamba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/makan-bajamba\/10138\/","title":{"rendered":"MAKAN BAJAMBA"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Makan bajamba adalah upacara adat atau tradisi dari suku Minangkabau, Sumatera barat yang merupakan makan bersama di suatu tempat yang sudah ditentukan secara bersama-sama. Budaya Minangkabau, di mana orang-orang duduk bersama dalam satu ruangan dan berbagi makanan dari piring besar. Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari raya Islam dan acara penting lainnya. Peserta duduk melingkar dan makan bersama, perempuan duduk bersila dan laki-laki duduk dengan posisi lebih tegak. Tradisi tersebut mengedepankan nilai kebersamaan, keramahtamahan, dan keadilan dalam berbagi makanan.<\/p>\n<p>Bajamba berasal dari kata \u2018ba\u2019 yang berarti bersama dan \u2018jamba\u2019 yang berarti dulang atau wadah. Jadi, secara keseluruhan, \u201cbajamba\u201d memiliki arti makan bersama dalam satu wadah. Tradisi makan bajamba dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dan dimaksudkan agar semua orang bisa berbaur menjadi satu, tanpa memandang status sosial. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini meliputi kebersamaan, kekeluargaan, dan keadilan dalam pembagian makanan. Tata cara makan bajamba melibatkan aturan-aturan unik, seperti cara makan, cara menghidangkan makanan, dan jenis makanan yang disajikan. Selain itu, tradisi ini juga menunjukkan manajemen jumlah porsi dan nilai keberkahan. Makan bajamba dilakukan dalam satu piring besar, di mana orang-orang duduk bersila secara teratur dan membentuk lingkaran.<\/p>\n<p>Tradisi makan bajamba berasal dari Koto Gadang, kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan diperkirakan telah ada sejak abad ke-7, ketika Islam masuk ke Minangkabau. Tradisi ini dimaksudkan agar semua orang bisa makan bersama dalam satu wadah, tanpa memandang status sosial, dan menunjukkan nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan keadilan dalam pembagian makanan. Tata cara makan bajamba melibatkan aturan-aturan unik, seperti cara makan, cara menghidangkan makanan, dan jenis makanan yang disajikan. Tradisi ini umumnya dilangsungkan pada hari-hari besar agama Islam, berbagai upacara adat, atau pertemuan penting lainnya.<\/p>\n<p>Tradisi makan bajamba memiliki perbedaan dengan makanan lainnya di Minangkabau dalam beberapa aspek, seperti tata cara makan, penyajian makanan, dan makna sosial. Berikut perbedaannya:<\/p>\n<p>Tata Cara Makan :<br \/>\nMakan bajamba melibatkan aturan unik, seperti menyuap nasi ke dalam mulut dengan cara melempar (diambuang), yang memerlukan keterampilan khusus. Hal ini berbeda dengan cara makan biasa di Minangkabau.<\/p>\n<p>Penyajian Makanan :<br \/>\nMakan bajamba disajikan dalam satu piring besar dan mencakup hidangan khas seperti rendang, cancang dagiang, gulai sayur nangka, atau rebung yang dimasak dengan rempah-rempah. Selain itu, terdapat jenis makanan khas lainnya seperti beras pulut, pinyaram, dan kalami<\/p>\n<p>Makna Sosial :Tradisi makan bajamba menekankan pada kebersamaan, kekeluargaan, dan keadilan dalam pembagian makanan, serta memunculkan rasa persatuan tanpa melihat perbedaan status sosial.<\/p>\n<p>Dengan demikian, makan bajamba memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari tradisi makanan lainnya di Minangkabau, baik dari segi tata cara makan, penyajian makanan, maupun makna sosialnya.<\/p>\n<p>Dalam tradisi makan lainnya di Minangkabau, berbagai jenis makanan khas yang disajikan. Berikut adalah beberapa makanan yang umumnya disajikan di rumah makan Padang atau rumah makan urang awam:<\/p>\n<p>\u2022 Rendang : Makanan khas Minangkabau yang memiliki rasa istimewa di lidah. Rendang umumnya berbahan dasar daging sapi dan menggunakan rempah-rempah yang membuatnya lezat.<\/p>\n<p>\u2022 Gulai ayam : Sajian lezat yang mesti dalam tradisi makan bajamba. Gulai ayam menggunakan daging ayam yang masuk kategori daging netral, sehingga cocok sekali disajikan bersama dengan nasi hangat.<\/p>\n<p>\u2022 Asam padeh : Makanan khas Minangkabau yang memiliki rasa asam dan manis. Asam padeh daging umumnya disajikan dengan kuah santan yang kental dan bumbunya yang gurih.<\/p>\n<p>\u2022 Perkedel : Pelengkap makanan yang memiliki berbagai varian, seperti perkedel ikan, perkedel ayam, atau perkedel jagung. Perkedel ini mampu menyempurnakan kelezatan setiap hidangan yang disajikan dalam tradisi makan bajamba.<\/p>\n<p>\u2022 Karupuk tunjuk balado dan balado terung : Makanan khas Minangkabau yang berbahan dasar ikan dan daging sapi. Karupuk ini memiliki rasa manis dan asam, sementara balado terung memiliki rasa pedas dan asam.<\/p>\n<p>\u2022 Ikan pang: Makanan khas Minangkabau yang berbahan dasar ikan. Ikan pang umumnya disajikan goreng dengan kuah santan dan sayuran hijau<\/p>\n<p>Selain itu, ada banyak makanan lainnya yang disajikan di rumah makan Padang atau rumah makan urang awam, seperti ayam dan itik lado ijau, samba lado pukek, samba lado tanak, dan lainnya.<\/p>\n<p>Tujuan makan bajamba bertujuan untuk memupuk tali silaturahmi dan memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat status. Makan bajamba merupakan tradisi makan bersama yang dilaksanakan oleh masyarakat Minangkabau, dimana makan dilakukan bersama-sama di satu piring besar yang disebut pinggan. Beberapa manfaat dari prosesi makan bajamba meliputi:<\/p>\n<p>\u2022 Menghargai dan menghormati orang tua<br \/>\nMakan bajamba mencerminkan hikmah atau dampak positif yang bisa diambil dengan mendahulukan orang lebih tua untuk mengambil makanan dan membagi.<\/p>\n<p>\u2022 Mempersiapkan kesehatan<br \/>\nMakan bajamba tidak menggunakan sendok atau garpu, semua yang ikut makan menggunakan tangan kanan untuk makan. Makan dengan tangan sangat baik untuk kesehatan dan ini sudah dibuktikan dengan berbagai penelitian.<\/p>\n<p>\u2022 Melestarikan budaya<br \/>\nPelaksanaan makan bajamba juga bisa dilihat sebagai upaya melestarikan salah satu budaya dan menjalin tali persatuan agar lebih kuat.<\/p>\n<p>\u2022 Meningkatkan rasa kebersamaan<br \/>\nMakan bajamba memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial<\/p>\n<p>Dalam pelaksanaan makan bajamba, terdapat beberapa aturan unik yang harus dipenuhi, seperti cara makan, cara menghidangkan makanan serta jenis makanan itu sendiri. Hidangan yang disajikan umumnya mencakup rendang, cancang dagiang, gulai sayur nangka atau rebung yang dimasak dengan rempah-rempah, beras pulut, pinyaram, kalami, dan sejumlah makanan khas lainnya.<\/p>\n<p>OLEH<strong> NAJMI RAHMI PUTRI<br \/>\nPENULIS ADALAH MAHASISWA SASTRA JEPANG ANGKATAN 23 UNIVERSITAS ANDALAS <\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Makan bajamba adalah upacara adat atau tradisi dari suku Minangkabau, Sumatera barat yang merupakan makan bersama di suatu tempat yang sudah ditentukan secara bersama-sama. Budaya Minangkabau, di mana orang-orang duduk bersama dalam satu ruangan dan berbagi makanan dari piring besar. Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari raya Islam dan acara penting lainnya. Peserta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10139,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10138"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10138\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}