{"id":10114,"date":"2023-12-29T12:05:52","date_gmt":"2023-12-29T04:05:52","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=10114"},"modified":"2023-12-29T12:05:52","modified_gmt":"2023-12-29T04:05:52","slug":"peristiwa-traumatik-menjadi-ancaman-pada-remaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/peristiwa-traumatik-menjadi-ancaman-pada-remaja\/10114\/","title":{"rendered":"PERISTIWA TRAUMATIK MENJADI ANCAMAN PADA REMAJA"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-235.jpg\" alt=\"\" width=\"114\" height=\"153\" class=\"aligncenter size-full wp-image-10115\" \/><\/p>\n<p>Maulidia Rahmawati<br \/>\nProgram Studi Ilmu Keperawatan<br \/>\nFakultas Ilmu Kesehatan<br \/>\nUniversitas Muhammadiyah Malang<br \/>\nMaulidiarahma577@gmail.com<\/p>\n<p>Hal-hal yang umum dan biasa dapat memicu trauma yang tidak terduga dan menghancurkan seseorang. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres setelah trauma telah diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan dalam versi terbaru kategorisasi standar penyakit mental profesional kesehatan mental Amerika. Hal ini ditandai dengan berkembangnya gejala khusus setelah terjadinya peristiwa trauma berat yang melibatkan kematian, ancaman kematian, cedera serius, atau ancaman terhadap kekuatan fisik seseorang dan orang lain. Orang yang mengalami trauma tersebut dapat mengancam nyawa seseorang, menimbulkan tekanan psikologis yang parah, menyebabkan gangguan kejiwaan, dan yang paling parah adalah muncul keinginan untuk bunuh diri.<\/p>\n<p>Dalam kebanyakan kasus, remaja yang pernah mengalami pengalaman traumatis kemungkinan besar akan segera mengalami reaksi stres. PTSD pada akhirnya akan berkembang jika reaksi stres ini tidak ditangani sesegera mungkin. Terlebih lagi, jika remaja menjadi korban dari hal-hal seperti perceraian orang tua, perundungan, bencana alam, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Reaksi yang terjadi pada remaja lebih parah dibandingkan pada orang dewasa. Remaja bahkan cenderung lebih nekat dibandingkan orang dewasa karena emosinya yang belum stabil.<\/p>\n<p>Menurut fakta bahwa perempuan mempunyai tingkat PTSD yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang jarang mengalami trauma. Persentase siswa yang mengalami PTSD ditetapkan sebesar 46,74% pada laki-laki, sedangkan pada perempuan sebesar 53,26%. Selain itu, Perempuan pun cenderung menyalahkan diri sendiri saat mendapatkan pengalaman traumatis sehingga lebih mudah terserang penyakit mental.<\/p>\n<p>Remaja yang mengalami gangguan PTSD mungkin mengalami masalah kinerja akademik yang parah dan prestasi akademik yang rendah, sehingga meningkatkan risiko mengulang tahun ajaran baru. Kita dapat mengamati bahwa mimpi buruk sering terjadi pada remaja, ada ketidakpekaan emosional, dan secara sadar menghindari apa pun yang mungkin terjadi. Jika ingat akan salah satu peristiwa traumatis, seringkali berujung terjadinya depresi, perilaku antisosial, keluhan somatik, lagi-lagi penurunan prestasi akademik. Pada siswa PTSD, ditemukan bahwa 18,75% mengalami kesulitan mengingat hal-hal yang telah dipelajari di sekolah, 33,42% mengalami kesulitan berkonsentrasi. Oleh karena itu dapat dijelaskan tingginya angka 71% siswa yang mengalami kemunduran sekolah, masalah tidur, keinginan bunuh diri, itul menunjukkan ciri-ciri gejala PTSD pada anak-anak dan remaja.<\/p>\n<p>Meskipun terdapat ciri khas tertentu dari PTSD pada remaja, ciri-ciri tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh orang dewasa. Karena remaja belum siap menghadapi pengalaman traumatis, mereka lebih mungkin terpapar pengalaman tersebut dibandingkan orang dewasa. Peningkatan trauma tersebut dapat dikarenakan ada masalah di dalam diri mereka, pengaturan emosi yang belum stabil, terutama pada seorang wanita yang lebih sulit mengontrol emosi dan perilaku mereka yang kurang dalam mengatasi gangguan tersebut.<br \/>\nAda beberapa faktor hal yang menjadikan seorang remaja lebih rentan terkena PTSD, yaitu kurang mendapat dukungan dari keluarga dan teman, bahkan pada sebagian remaja tidak menceritakan pengalaman traumatisnya ke orang tua mereka, menderita gangguan mental yang lain, misalnya kecemasan, fobia, dan depresi. Riwayat trauma yang parah atau kronis, riwayat trauma masa kanak-kanak (seperti pelecehan atau penelantaran), ciri-ciri kepribadian (seperti cenderung impulsif), cara otak mengontrol pelepasan bahan kimia dan hormon sebagai reaksi terhadap stres, adanya dari saudara kandung yang sakit jiwa (seperti pasien depresi atau PTSD), dan seterusnya.<\/p>\n<p>Gejala orang yang mengalami PTSD akan mudah terkejut dan takut, selalu waspada pada berbagai hal yang dianggapnya berbahaya, kerap mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, ingatan yang tergganggu, kecemasan yang berlebih dan emosi, munculnya ingatan yang tidak diinginkan secara tiba \u2013 tiba, mengalami mimpi buruk atau kilas balik yang membuat kejadian mengerikan itu muncul kembali ke permukaan, dan reaksi terhadap pengalaman menyedihkan. Selain itu, mereka yang mengalaminya seringkali berusaha menjauhi sesuatu. Hal ini melibatkan menjauhi apa pun yang dapat memunculkan kenangan akan pengalaman traumatis, termasuk orang, tempat, dan kegiatan.<\/p>\n<p>Gejala PTSD ini dapat mengganggu seseorang selama bertahun tahun, namun jika melakukan pengobatan dapat membuat pulih. Terapi perilaku kognitif (CBT) merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang dapat digunakan sebagai pengobatan kecemasan. Ini mengajarkan orang bagaimana mengubah pikiran dan perilaku mereka untuk menghadapi situasi stres. Seorang terapis yang kompeten dapat membimbing seseorang melalui terapi pemaparan, yang secara bertahap memunculkan kenangan dan peristiwa traumatis untuk mengurangi reaksi teror terhadapnya. Dalam Eye Movement Desensitisasi and Reprocessing (EMDR) pasien dihadapkan pada serangkaian rangsangan sentuhan dan visual untuk membantu mereka memproses serta mengatasi emosi dan ingatan yang menyakitkan. Dapat juga dengan Obat-obatan, seperti antidepresan SSRI untuk membantu meringankan gejalanya. Mencari dan menerima dukungan dari orang lain, berusaha menemukan makna yang positif atas trauma yang terjadi, memiliki atau mengembangkan strategi penanggulangan yang positif, dan mampu merasa nyaman dengan tindakan mereka ketika menghadapi kesulitan juga dapat membantu mencegah gejala menjadi lebih buruk. Semakin dini seseorang mendapat pengobatan, semakin besar peluang kesembuhannya.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah penyakit mental yang dapat menyerang siapa saja yang pernah melalui atau menyaksikan peristiwa mengerikan. Hiperarousal, penghindaran, mimpi buruk, dan kilas balik adalah beberapa dampak jangka panjang yang mungkin timbul dari hal ini. Namun, kondisi ini dapat ditangani dan diobati, dan diagnosis serta intervensi dini diperlukan untuk pengobatan yang efektif dan meminimalkan dampak jangka panjang yang terkait dengan PTSD.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Maulidia Rahmawati Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang Maulidiarahma577@gmail.com Hal-hal yang umum dan biasa dapat memicu trauma yang tidak terduga dan menghancurkan seseorang. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres setelah trauma telah diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan dalam versi terbaru kategorisasi standar penyakit mental profesional kesehatan mental Amerika. Hal ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-10114","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10114"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10114\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}