Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Wilayah 3T Minimnya Informasi dalam Era Digital

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 6 Maret 2024

Oleh: Nabila Ayu Ambarini
Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University
Program Studi Komunikasi Digital dan Media

JurnalPost.com – Seperti yang sudah kita sadari bahwa saat ini kita sudah masuk di zaman digital yang dimana semua kegiatan dapat kita lakukan dengan akses yang mudah,cepat dan sangat cangghih apabila teknologi yang kita miliki memadai. Era digital adalah zaman yang di dalamnya sudah memiliki kondisi perkembangan begitu maju hingga semua kegiatan penting bisa dilakukan secara digital hal ini merujuk pada periode di mana teknologi digital mendominasi kehidupan manusia dalam berbagai aspek, seperti komunikasi, informasi, bisnis, dan hiburan. Ini ditandai oleh peningkatan penggunaan dan ketergantungan pada perangkat dan teknologi digital, seperti komputer, internet, smartphone, dan media sosial. Era digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, belajar, dan berkomunikasi secara fundamental, menciptakan peluang baru serta tantangan dalam berbagai bidang kehidupan. dengan bantuan teknologi. Perkembangan era digital juga semakin lama semakin berjalan begitu cepat hingga tak bisa dihentikan oleh manusia.

Teknologi menurut prayitno dalam Ilyyas (2001) — teknologi adalah seluruh perangkat ide, metode, teknik dan benda-benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat tertentu maupun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Perkembangan teknologi dari masa ke masa merujuk pada proses evolusi dan inovasi teknologi yang terjadi sepanjang sejarah manusia. Ini mencakup berbagai perubahan dan kemajuan dalam berbagai bidang, seperti komunikasi, transportasi, kesehatan, industri, dan komputasi. Perkembangan teknologi ini sering kali didorong oleh kebutuhan manusia untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas hidup.

Teknologi, informasi dan komunikasi adalah sistem atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil, memindahkan, menganalisis, menyajikan, menyimpan dan menyampaikan data menjadi sebuah informasi banyak orang rela membayar mahal untuk mendapatkan sebuah informasi. Informasi menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya.
Seperti yang diungkapkan Hartono (1990:7) bahwa informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh organisasi sehingga jika suatu system kurang mendapatkan informasi maka akan menjadi luruh, kerdil dan akhirnya mati. Era digital yang kini telah menjadi bagian kehidupan keseharian masyarakat,nkhususnya generasi muda memang akan mengubah pola kehidupan. Termasuk pola belajar dan pola penyebaran informasi.

Era informasi, yang dimulai sekitar pertengahan abad ke-20, ditandai oleh kemajuan dalam komputasi dan teknologi digital. Ini mencakup perkembangan komputer, internet, telekomunikasi, dan perangkat lunak yang mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan hidup sehari-hari. nformasi sangat dibutuhkan orang untuk menambah wawasan, memperbarui pengetahuan, dan sebagai bahan beropini. Bahkan, tak jarang informasi digunakan sebagai bahan dasar dalam membuat keputusan. Saat ini, telah banyak ditemukan media media yang beragam menyampaikan informasi melalui media online dikarenakan faktor perubahan massa ke massa, dan mudah nya menyebar luaskan informasi tersebut.

Perubahan tersebut berdampak pada beberapa pihak tepatnya pada wilayah tertentu yang kesulitan dalam mengakses dan mengikuti perkembangan zaman sering kita sebut yaitu 3T (Tertinggal, terdepan, dan terluar.) Tertinggal berarti memiliki kualitas pembangunan yang rendah, dimana masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Lalu dari sisi geografis berada di daerah terdepan dan terluar wilayah Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah, Nias (Sumatera Utara), Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat), Musi Rawas Utara (Sumatera Selatan), Lombok Utara (Nusa Tenggara Barat), Sumba Tengah & Alor (Nusa Tenggara Timur), Donggala (Sulawesi Tengah), Pulau Talibau (Maluku Utara), Nabire & Asmat (Papua), serta Teluk Wondoma & Pegunungan Arfak (Papua Barat).

Tertinggalnya akses informasi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) di Indonesia memiliki dampak yang signifikan, antara lain: Kesenjangan Pembangunan: Ketidaksetaraan akses informasi antara wilayah 3T dengan wilayah lainnya dapat memperdalam kesenjangan pembangunan. Kurangnya akses informasi menghambat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di wilayah-wilayah ini. Kurangnya Peluang Ekonomi,Keterbatasan akses informasi dapat menghambat peluang ekonomi di wilayah 3T. Penduduk mungkin kesulitan untuk mengakses informasi tentang peluang kerja, pelatihan keterampilan, atau peluang bisnis yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi mereka.

Ketergantungan pada Informasi Tidak Resmi,Kurangnya akses ke informasi resmi dapat menyebabkan masyarakat bergantung pada sumber informasi tidak resmi yang mungkin tidak dapat dipercaya. Hal ini dapat memperburuk ketidakpastian dan menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan.

Solusi yang dapat dilakukan untuk wilayah 3T tang dapat dilakukan adalah seperti, Infrastruktur Telekomunikasi, Pemerintah perlu menginvestasikan dalam Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T, termasuk penyediaan jaringan telepon seluler, internet broadband, dan listrik yang stabil. Hal ini akan memastikan akses yang lebih baik ke teknologi dan informasi digital. Program Pelatihan Teknologi,Mengadakan program pelatihan dan pelatihan teknologi bagi penduduk wilayah 3T, termasuk pelatihan penggunaan perangkat teknologi, pengoperasian internet, dan pengembangan keterampilan digital. Ini akan membantu meningkatkan literasi digital masyarakat setempat. Akses ke Perangkat Teknologi,Memberikan akses yang terjangkau dan mudah di wilayah 3T terhadap perangkat teknologi seperti ponsel cerdas, tablet, dan komputer. Program subsidi atau bantuan perangkat dapat membantu mengatasi hambatan akses.

Salah satu upaya pemerintah dalam mendukung percepatan transformasi digital adalah dengan menyediakan satelit multifungsi di daerah pelosok Indonesia. Satelit ini bertajuk SATRIA-1 yang direncanakan dapat 150.000 titik pelayanan publik. Sebanyak hamper 50.000 titik kantor pemerintahan daerah hingga unit desa akan dijangkau oleh satelit ini. Pemerintah, melalui Badan Layanan Umum Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BLU BAKTI) Kementerian Kominfo, juga akan membangun 9.113 Base Transceiver Station (BTS) di wilayah 3T. Dilakukan Kontrak Kerja Sama Penyediaan Layanan Seluler BTS yang merupakan upaya perwujudan proyek tersebut. Selain itu, pemerintah juga berupaya berkoordinasi dengan operator-operator seluler agar tidak membiarkan wilayah 3T terbengkalai tanpa akses.

Manfaat yang didapat oleh wilayang 3T apabila, Solusi yang ada di kerjakan dengan baik dan benar maka mereka mendapatkan manfaat dari teknologi tersebut, Kemudahan Akses,Teknologi memungkinkan akses mudah dan cepat ke berbagai sumber informasi melalui internet. Pertukaran Informasi, Teknologi memfasilitasi pertukaran informasi dua arah antara pembuat konten dan audiensnya. Skala Global,Teknologi digital memungkinkan penyebaran informasi secara instan dan ke seluruh dunia. Pesan, berita, dan konten lainnya dapat dengan mudah disebarkan melalui platform online dan media sosial. Kecepatan Berita,Berkat teknologi, berita dapat disiarkan secara langsung dan diperbarui secara real-time melalui platform berita daring dan media sosial.

Dengan demikian, teknologi dalam era digital saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran informasi, memengaruhi cara kita mengakses, berbagi, dan merespons informasi yang kita terima, serta membentuk persepsi dan pandangan kita terhadap dunia di sekitar kita

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/wilayah-3t-minimnya-informasi-dalam-era-digital/12391/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 04:02.